Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kisah Sepasang Mata oleh Indrian Koto

Posted on Sab, 12 Mar 2022

Baiklah, baik! Aku akan bercerita padamu. Kali ini bukan tentang Khima, gadis yang ditemukan mati tergeletak kaku di tepi telaga dengan leher koyak*. Ya, aku tahu kau begitu menyukai kisah itu. Tetapi aku capek dan malas tiap kali mengulang cerita yang sama berkali-kali.

Dan baiklah, aku akan bercerita padamu. Ah, aku sudah tak peduli apakah kau akan tahan mendengar atau tidak. Bosan, lalu diam-diam meninggalkanku yang terus bergumam. Terserah.

Lupakan saja kalau kau mulai bosan.

Dia tidak bernama Khima. Tetapi oleh satu hal kedua bola matanya telah buta dan menjadikan ia serupa Khima. Tentu ini sedikit menyedihkan, karena ia keburu pernah melihat langit, matahari, bunga, laut, dan awan. Ia terlanjur mengingat bentuk dan warna sebelum akhirnya, saat bangun pagi-pagi sekali, ia benar-benar tak bisa melihat apa-apa lagi. Buta. Tentu bukan begitu saja.

Sebenarnya, ya. Entah karena apa, ketika malam –rentetan dari sore yang jahanam itu–dia demam dan suhu tubuhnya meninggi. Panas dingin. Sepanjang siang dia hanya melamun di bawah pohon beringin besar–yang akarnya menjuntai menyentuh tanah. Banyak orang tentu sepakat, di antara akar yang menggantung, batangnya yang rimbun, tentu dihuni makhluk-makhluk asing yang tak terlihat mata telanjang. Dan malam itu ia menggigau. Tubuhnya basah oleh keringat dan ketakutan.

Dia menduga hanya sedikit lelah atau barangkali memang tersapa. Dia sadar, berlindung di bawah bayang-bayang pohon yang tegak lurus saat matahari tepat di atas kepala, adalah waktu yang paling celaka. Begitu nasihat orang-orang tua. Itu termasuk seburuk-buruknya waktu, selain hujan panas dan saat petang yang pulang kandang. Di tempatnya tinggal ada keharusan-keharusan yang tak boleh dilanggar. Tetapi, ah… tidakkah orang yang dilamun rindu-dendam bisa lupa apa saja, bahkan isyarat dan bertanda?

Lalu pagi itu dia menemukan tubuhnya terkapar di tempat tidur. Ia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. ”Barangkali masih mengantuk,” pikirnya. Tetapi tidak. Ketika berdiri dan mulai berjalan, tanpa sadar telah menjatuhkan meja kecil di sisi ranjangnya dan menyenggol sebuah lukisan sebelum membentur dinding kamar. Tersungkur di lantai, telapak kakinya berdarah oleh pecahan gelas, kepala dan keningnya terasa sakit bercampur nyeri luka.

Dia telah menjadi buta seketika. Lalu menangislah ia sejadi-jadinya.

Air mata memang tak membantumu menyelesaikan soal dan mengembalikan apa yang hilang. Tetapi selalu saja orang perlu menangis untuk hal-hal baru dan semacam perayaan atas kehilangan. Dan dia, telah kehilangan penglihatannya di sebuah pagi dengan begitu saja.

Siapa yang tidak berduka melihat sepasang mata indah itu tak mampu lagi melihat. Kedua kantong mata itu membengkak dan menjadi hitam, lebam dan legam. Orang-orang ikut menangis, ikut kehilangan. Gadis itu dan sepasang matanya adalah matahari sekaligus bulan, malam sekaligus siang. Mata itu embun dan sekaligus daun. Mata itu pagi dan juga petang. Sepasang indah yang menyejukan. Dua kesempurnaan sekaligus, tubuh dan kecantikannya. Dan nyaris tidak ada orang yang tak menyukai dua hal yang dimilikinya itu.

Begitu saja, kau bayangkan, mata itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengerikan. Bengkak, hitam di sekelilingnya, mengeluarkan bau menyengat. Orang-orang mencoba mengobati sebisa mungkin dengan segala mantra dan ramuan. Segala kemampuan dan kekuatan dikerahkan untuk menyembuhkan–tentu saja dengan suka rela–tetapi sama sekali tak ada perubahan. Mata itu kian bengkak dan membesar, semakin hitam, semakin lebam, semakin legam. Di hari ketiga ia telah mengeluarkan lendir dan air yang berbau anyir.

Orang-orang mulai menyalahkan pohon beringin itu, tidak sedikit di antara mereka yang merasa khawatir dan dihantui ketakutan.

Dan tentu saja kehilangan.

Lama kemudian orang-orang mulai melupakan gadis buta yang malang itu. Keseharian yang sibuk tak lagi sempat membuat ingatan terasa basah. Ladang-sawah, hutan-rimba harus ditaklukan sepanjang pagi sampai petang. Hidup tak ditakdirkan untuk mengasah kenangan dan kepahitan. Maka, tetaplah gadis malang itu sendirian dengan segudang kesakitan dan kehilangan.

Selain penglihatan ia kehilangan seseorang. Seseorang yang merenggut masa kini dan masa depannya. Seseorang itu tak datang-datang.

Kau tahu, dia adalah gadis dengan sepasang mata yang indah. Tidak hanya mata, segala sempurna itu nyaris dimilikinya. Apa saja. Siapa yang tidak mengenal dan menyukai dia di sepanjang kampung di kaki gunung tempat ia tinggal? Ada saja yang membicarakan kecantikannya. Laki-laki muda berkisah tentang kesempurnaannya dengan decak kagum, diikuti anggukan perempuan dengan iri dan sedikit tidak rela. Tidak hanya di kedai kopi, sepanjang pantai, muara, jalan ke ladang, tetapi juga di tepian. Tak hanya di jenjang rumah tetapi juga di tengah sawah.

Dan gadis itu tetaplah sepasang keindahan yang tanpa celah. Sikapnya yang mana yang tidak disukai orang-orang? Sepasang tumitnya yang putih dan lembut, betisnya yang ramping dibiarkan bermandi lumpur sawah. Suaranya yang merdu melengking dari dalam surau kampung melenakan tidur orang-orang setelah bekerja seharian. Tak ada orang yang tidak mengenal dan tidak dikenalnya. Ah, mengerti benar dia akan rasa dan periksa. Begitu anggun dan tertata. Kau pasti terpesona melihat rambutnya meriap dibelai angin, ketika sore di tengah ladang atau lihatlah kaki rampingnya meniti pematang sawah. Perempuan di tepian akan merasa kagum dengan lekuk tubuh yang sempurna yang membayang di antara kain basahan. Ah, tapi tak sedikit pula yang cemburu dan merasa kalah. Tetapi bukankah itu biasa?

Di balik kelembutan sikapnya, ia tetaplah anak seorang janda yang sudah tua. Tiga kakak lagi-lakinya telah lama meninggalkan kampung dan tenggelam di tanah rantau. ”Kehilangan jalan pulang,” katanya setengah bercanda.

Tetapi dia tetaplah seorang perempuan, dan tentu kesepian. Usia yang terus tumbuh menyajikan kegelisahan yang lain. Uh, tidur yang sendiri di malam yang dingin menawarkan gelisah yang asing. Rasa yang lain.

Tetapi siapa yang berani menyentuh porselin mahal dan berharga itu?

Baca juga: Seekor Anjing yang Kunamai Namamu

Dan inilah, semua orang merasa memilikinya dan diam-diam turut menjaganya. Kurasa kau bisa merasakan bagaimana jika setiap pasang mata selalu mengikutimu diam-diam. Tak satu gerak pun yang luput dari intaian. Gadis itu milik mereka dan perlu dijaga. Jadilah dia sekuntum kembang yang tertawan. Ahai, siapa yang berani mendekati perempuan lembut itu? Seringkali, anak-anak muda membayangkan akan datang seseorang dari luar–dengan bau keringat yang berbeda–menggunggung perempuan itu jauh-jauh ke sebalik bukit yang lain, atau menghanyutkan diri ke muara. Betapa mereka cemburu dan kehilangan.

Tidak. Tak satupun yang sudi melepaskan keindahan milik mereka itu. Mereka harus menjaga lebih teliti, jangan sampai ada orang-orang asing yang tiba-tiba datang meminang. Apakah dia akan bisa menjaga, seperti yang orang-orang kampung lakukan?

Benar kata seorang kawan, kecantikan kadang begitu menyiksa. Ia bisa jadi semacam hukuman jika tidak bisa disebut kutukan. Di sebuah kampung kecil, di tempat orang-orang bergumul dengan amis ikan dan lumpur sawah, perempuan itu adalah mata air yang melenakan.

Tetapi itu dulu, sebelum sepasang matanya buta dan orang-orang mulai melupakan. ** Ah, bagaimana aku hendak menceritakan pertemuan yang diam-diam? Kurasa kau bisa bayangkan, atau barangkali kau pernah rasakan.

Dan ia, gadis itu–aduh, betapa enggannya aku untuk sekedar menyebut nama–memulai pertemuan diam-diam. Bagaimana bisa laki-laki asing–kata pemuda kampungnya–itu nyaman duduk di beranda rumah di ujung minggu jika di halaman orang-orang berkerumunan? Bagaimana mereka bisa melihat bulan di antara semak kecil jika puluhan pasang mata terus mengintai? Terlalu sulit memulai sesuatu yang wajar. Tidak hanya buat lelaki nekat itu, tapi juga buat perempuan. Ah, sedikit kesalahan tak urung mendatangkan gunjingan.

Maka satu-satunya jalan adalah pertemuan yang diam-diam. Jika sore datang–pada waktu yang dijanjikan–perempuan itu sudah duduk di bawah pohon beringin besar di pinggir hutan. Lalu laki-laki itu datang, menjelang senja pertemuan itu selesailah. Menyisakan ciuman dan sedikit rabaan untuk mereka bawa pulang, pemanis tidur malam-malam.

Tidak biasanya–pada hari celaka itu–perempuan itu merasa tidak sabar ingin bertemu lelakinya. Ia menunggu sejak siang. Siapa tahu sang kekasih merasakan degup yang sama dan telah pula menunggu di sana. Bukankah orang-orang yang jatuh cinta bersikap sedikit bodoh dan kekanakan?

Dan inilah sumber celaka itu. Peristiwa itu terjadi di tengah kemarau panjang di kampung itu. Tiap sebentar gadis itu menatap ke jalan. Berputar dari beringin ke tepi jalan setapak, melongkok kalau-kalau pujaannya segera memberi kejutan. Laki-laki itu tak juga datang.

Hal yang luput dari perhatian orang-orang. Sebuah rahasia yang tidak akan pernah dia katakan. Bahwa sesungguhnya saat menunggu itu ia sempat terjatuh, kepalanya menghantam akar beringin yang menonjol di permukaan. Tak sampai di situ. Debu-debu yang berterbangan–ah, kau bisa membayangkan suasana kemarau panjang di kaki gunung–masuk ke matanya.

Aku tak perlu mengatakan ketika kerinduan itu mencapai puncak, orang tak lagi merasakan apapun. Begitu juga dengan dia. Debu-debu itu, akar beringin itu telah membuat kedua matanya menjadi perih dan buta. Sepanjang penantiannya, ia sibuk menggosok biji matanya yang perih atau barangkali memang pohon beringin itu ditunggui makhluk halus dan berniat mencelakainya. Segalanya menjadi begitu mungkin.

Ia terus menunggu laki-lakinya dan orang-orang mulai melupakan dia dan kesakitannya. Berbulan-bulan ia larut dengan rasa sakit dan kehilangan. Ibunya, satu-satunya yang ia miliki, tak sanggup membawanya ke rumah sakit besar di kota. Tak ada yang bisa dijual, tak ada yang bisa digadai. Pada akhirnya, kesadaran memang terlambat datang. Kampung itu riuh menjelang petang. Orang-orang menyesali diri masing-masing yang telah mengabaikan perawan malang yang kehilangan penglihatan. Mereka menyesali diri yang gampang lupa dan terbiasa. Tetapi gadis malang itu telah pergi, mungkin lantaran kesepian, mungkin penyakit yang tak semestinya dia tanggung dan berbagai kemungkinan lain. Ah, mati tak memiliki banyak alasan.

Sementara laki-laki itu tak datang-datang. Bahkan ketika tubuh itu telah tidur di dalam tanah, melepas semua sakit dan penantiannya. **

Aku ingin menghentikan di sini saja. Tetapi kau terus memaksaku untuk melanjutkannya. Sungguh, aku merasa harusnya berhenti di sini saja. Tapi baiklah, izinkan aku bertanya tanpa perlu kau jawab. Kau percaya pada kebetulan-kebetulan?

Akan kukatakan padamu apa sesungguhnya terjadi. Siang itu–kau masih ingat saat perempuan itu tengah menunggu di bawah pohon beringin?–laki-laki itu sebenarnya telah datang duluan. Tetapi sebuah rencana lain telah disiapkan untuknya. Ia diseret orang-orang, ditarik ke pinggir sungai, dipukul beramai-ramai sampai tubuhnya lebam dan ingat apa-apa. Tubuh yang tak berdaya itu di dibenamkan ke tengah arus.

Aku memahami betul apa yang orang-orang lakukan kepada laki-laki itu. Sudah kukatakan, perempuan itu adalah sekuntum kembang yang tumbuh atas pengawasan orang-orang. Mereka seakan tak rela jika kembang itu dicuri diam-diam. Kekhawatiran yang wajar. Siapa tahu laki-laki itu seorang celaka yang berniat buruk. Kecurigaan yang muncul begitu saja. Tapi tak satu pun dari mereka, orang-orang yang melindungi itu berani mendekati si perempuan. Mereka merasa tidak pantas. Satu-satunya cara adalah menjaganya, hanya itu yang mereka tahu.

Aku tahu kau bisa membaca hal itu. Memiliki si perempuan adalah sebuah kekonyolan yang rasanya tak masuk akal, tetapi membiarkan orang lain datang sama saja membiarkan tubuh mereka ditelanjangi. Kau tahu nasib laki-laki itu selanjutnya?

Ya, ya. Katakanlah ia bajingan. Laki-laki itupun mengutuk dirinya sebagai pecundang yang malang. Suatu ketika, saat ia membuka mata, ia menemukan tubuhnya dipenuhi perban. Ia mengutuk balutan-balutan putih yang telah memenjarakannya sekian lama. Seorang nelayan menemukannnya mengapung di pintu muara. Berbulan-bulan dia tidak bisa berjalan. Lumpuh. Sepasang kakinya diamputasi. Hari-harinya ada pada roda-roda yang menggerakkan tubuhnya. Sampai dia menemukan seorang perempuan lain yang punya derita yang sama dengan gadisnya. Kau. ***

Catatan * Kau tentu menemukan Khima, gadis buta pemain biola itu dalam cerpen Gunawan Maryanto yang sempat kubacakan padamu dari koran-koran minggu. Cerpen-cerpen itu di antaranya berjudul Lubdaka Khima dan Galigi. Cerpen itu juga termuat dalam kumpulan cerpen Bon Suwung. Cerita ini sekaligus sebuah persembahan untuknya yang sudah lebih dulu berpulang.***

Indrian Koto, Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Lansano, sebuah kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Tinggal di Yogyakarta dan mengelola jualbukusastra.com dan Penerbit JBS Kontak: 0818-0271-7528

sumber : kompas.id, 12 Mar 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme