Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kegemparan di Kota Zo oleh Ni Komang Ariani

Posted on Ming, 13 Mar 2022

Kematian-kematian misterius mengguncangkan kedamaian di kota Zo. Kematian yang datang kali ini bukan kematian biasa. Kematian yang diam-diam. Di apartemen yang sunyi dengan pemilik tunggal. Tanpa rasa sakit. Dilakukan oleh orang-orang muda, yang terlihat bugar dalam kesehariannya. Pada setiap kematian itu, anak-anak muda itu akan menulis selembar surat wasiat. ”Saya mati tanpa rasa sakit dan tidak disebabkan oleh siapa pun. Kematian saya bukan merupakan kehilangan bagi kota Zo yang saya cintai ini. Saya memilih kematian yang saya rasa lebih tepat untuk saya.”

”Kami menduga ada sebuah zat terlarang yang telah beredar di tengah-tengah masyarakat.” Kapten polisi memberi keterangan kepada wartawan.

”Zat terlarang apa kapten?”

”Kami belum dapat mendefinisikannya. Kami masih dalam proses menyelidikinya. Yang jelas, zat terlarang inilah yang diminum oleh anak-anak muda yang memutuskan bunuh diri ini.”

Wali Kota Zo juga mengeluarkan pernyataan yang sama. ”Kami menduga ada sindikat aliran sesat yang menyebarkan ajaran bunuh diri massal di kalangan anak muda. Kami masih terus menelusuri kasus ini.”

”Apakah sudah ada petunjuk siapakah pimpinan aliran ini?” tanya salah seorang wartawan.

”Kami sudah mendapatkan sebuah petunjuk. Namun, kami belum bisa mengumumkan kepada publik.”

Bunuh diri sporadis yang semakin bertambah di setiap distrik ini membuat orang-orang di kota Zo tidak bertingkah seperti biasanya. Seperti ada tulang nyangkut di pangkal tenggorokan. Hampir semua penduduk dewasa kota Zo mengetahuinya, namun tak seorang pun membicarakan. Mereka berharap dapat meniadakannya, dengan tidak membicarakannnya.

Orang-orang kota Zo terlihat sibuk seperti biasanya. Terlalu sibuk untuk memperhatikan segala sesuatu; selalu berakrobat dengan waktu, untuk suatu tujuan di masa depan. Di Kota Zo, orang-orang tidak punya waktu untuk beristirahat. Anak-anak balita sampai kakek nenek, semua sibuk dengan urusannya. Anak-anak bersekolah semakin awal. Anak-anak umur dua tahun sudah mulai mengenyam bangku sekolah. Konon untuk merekayasa masa depan mereka yang penuh dengan kesibukan. Seperti orang tua dan kakek-nenek mereka sekarang. Di masa depan, satu kepala manusia harus memiliki daya kreasi dan artistik yang melampaui robot, agar robot tak bisa merebut pekerjaan mereka. Pertumbuhan jumlah robot yang dibuat manusia-manusia cerdas kota Zo semakin banyak. Robot tukang masak pizza, robot tukang masak steak, robot pembersih ruangan, robot penyapa tamu restoran, robot penjaga gedung; mungkin kelak juga ada robot super pencipta robot.

Di hari-hari yang sibuk itu, orang-orang kota Zo tidak punya waktu untuk murung pada kematian. Aku tidak tahu, apakah ini sejenis spritualitas yang dimiliki kota Zo untuk menghadapi kematian. Kematian dibiarkan datang mengendap-ngendap sebagai bagian dari kehidupan. Di masa lalu, orang-orang kota Zo hanya memandang sekilas kematian yang datang kepada mereka. Seorang ibu mati di kereta api. Seorang tukang parkir mati tersengat listrik. Dua orang anak hanyut dalam acara sekolah. Seorang pemuda meloncat dari jendela apartemen. Aku merasa semua kematian itu menyeramkan. Namun, orang-orang terlihat tenang-tenang saja. Seorang tetangga di apartemenku menunjukkan muka sedih beberapa jenak, sebelum bergegas untuk mengejar taksinya yang menunggu di bawah. ”Angus meninggal. Kamu tidak ingin datang ke memorialnya?” Tommy menoleh sekilas. ”Aku tidak ingat yang mana Angus. Apa menurutmu tidak aneh aku datang ke memorialnya?” Tenggorokanku menyempit. Angus dan Tommy memang tidak kenal baik. Mungkin hanya pernah bertemu sekilas di acara bazar apartemen. Kau tak datang ke pemakaman orang yang tidak kau kenal bukan? Aku tersenyum pahit dalam hati.

Orang-orang kota Zo lebih sibuk berpikir tentang masa depan. Berpikir tentang investasi. Berpikir tentang legasi untuk ditinggalkan. Mereka melewati hari ini dengan tidak banyak bergembira. Mereka jarang bergembira dari kecil sampai remaja. Jadwal sekolah yang padat dari pagi dan sore, di tambah les-les tambahan di malam hari. Orang tua mencarikan sekolah-sekolah termahal dan terbagus untuk anak-anaknya. Jika mereka bernasib buruk menjadi orang biasa, anak-anak mereka harus memutus nasib buruk itu. Suami dan istri bekerja setidaknya sepuluh jam dalam sehari, dan di akhir pekan mereka mempunyai pekerjaan sampingan. Aku tidak tahu mana yang duluan, semangat kerja keras orang-orang kota Zo atau apa, namun biaya hidup di kota Zo memang cukup mahal. Biaya sewa apartemen, biaya makan, harga makanan di restoran, semuanya mahal. Keluarga kota Zo setidaknya menghabiskan satu kali makan di restoran bagus setiap hari Sabtu. Itulah satu-satunya kesenangan keluarga di kota Zo. Namun, makan setiap akhir pekan itu setidaknya menghabiskan dua puluh persen dari penghasilan mereka sebulan.

**

Aku dan pacarku mungkin dua orang yang paling aneh di kota Zo. Kami berdua jarang sekali memikirkan masa depan. Kami juga kadang-kadang menganggur. Aku desainer lepas, yang hanya bekerja kalau membutuhkan uang. Pacarku, Nami seorang make-up artis yang hanya menerima order ketika ia sedang mood. Kami hidup normal dengan memasak makanan sederhana setiap hari. Kami jarang makan di restoran mahal, karena itu akan membuat kami bekerja jauh lebih keras dari seharusnya. Orang-orang menyebut kami sepasang yang tidak berguna. Kami sering terkekeh-kekeh menanggapinya.

”Aku mungkin saja berubah pikiran besok, enam bulan lagi atau 15 tahun lagi.” Kata Nami. ”Pikiranku sering berubah. Aku merasa bebas karenanya.”

”Kita juga tidak tahu besok akan kiamat atau tidak. Ada tornado atau tidak. Ada tanah bergeser atau tidak. Kita betul-betul tidak tahu. Semut juga tidak tahu akan tersapu ke dalam wastafel sebelum air menerjang mereka. Bagaimana kalau kita mati mendadak besok.” Timpalku tidak kalah sengit. Kemudian kami akan menyesap gelas-gelas kecil wine kami dengan santai.

**

Pukul enam pagi. Tubuhku masih lemas luar biasa ketika ada ketukan beruntun di apartemen kami. Tiga ketukan berulang yang sangat teratur. Membangunkan, tanpa mengagetkan orang yang tinggal dibalik pintu. Manusia macam apa yang bisa membuat ketukan seperti itu.

”Kenapa dengan mukamu, Hector? Seperti melihat hantu.”

”Kamu ingat bunuh diri massal akhir-akhir ini. Aliran sesat menyasar orang-orang yang tidak berguna seperti kita?”

”Lho bukannya korbannya penghuni tunggal di apartemen?”

Suara ting-tong masih terus terdengar. Masih berulang dengan keteraturan yang sama. Sepertinya dilakukan oleh seseorang yang sangat penyabar, sekaligus ambisius.

”Aku merasa bukan itu. Mereka orang-orang muda. Segar-bugar. Kamu ingat isi surat wasiat mereka. ’Kematian saya bukan merupakan kehilangan bagi kota Zo yang saya cintai ini. Saya memilih kematian yang saya rasa lebih tepat untuk saya.’ Menurutku itu surat wasiat yang paling mengerikan yang dapat ditulis oleh seseorang.”

Suara bel belum berhenti sedetik pun.

”Kita lihat dulu aja siapa yang datang.”

Aku membuka lubang kecil di pintu dan mengamati sosok tamu yang ada di hadapan kami.

Dia seorang laki-laki dengan dengan wajah yang amat simetris. Jarak antara hidung, mata, dan telinga seperti dibuat dengan penggaris. Kulitnya terlihat bersih dan terawat. Umurnya mungkin 50 tahunan dengan jas yang terlihat mahal. Kalau bertemu di area perkantoran, aku akan menduga orang ini seorang CEO. Namun, CEO macam apa yang mengetuk pintu rumah apartemen orang asing seperti ini. Pekerjaan rendahan seperti ini biasanya dilakukan seorang sales.

”Anda siapa?”

”Saya mencari Hector Reddy.”

”Untuk apa ya?”

”Saya ada penawaran untuk Hector Reddy.”

”Saya belum mau mati.” Kataku setengah berteriak.

”Anda Hector?”

”Bukan. Tapi saya belum mau mati.”

”Proposal saya tidak ada hubungannya dengan kematian.”

”Jadi ada hubungannya dengan apa?”

”Saya ingin membantu Anda menjalani hidup yang lebih baik.”

”Hidup saya baik-baik saja.”

”Tidak demikian yang saya dengar.”

”Dari mana Anda mendengar tentang saya.”

”Kami mempunyai datanya. Jadi Anda mengaku Anda sendiri adalah Hector Reddy.”

”Kalau kalian sudah punya datanya, Anda tentu tahu saya Hector. Perrgiii…. Sebelum saya panggil keamanan apartemen.” Kataku berteriak keras. Nami merangkul untuk menenangkanku.

Laki-laki berwajah simetris itu terlihat ragu-ragu.

”Perrgiiii….!” Kataku dengan suara yang lebih kencang lagi. Aku memencet alarm bahaya apartemen untuk memanggil petugas keamanan apartemen.

Laki-laki itu menyeret langkahnya pergi dengan muka terpaksa. Lima petugas keamanan apartemen tiba 2 menit kemudian.

”Ada apa Pak Hector?” tanya salah seorang petugas sambil membaca buku catatannya.

”Tadi sindikat aliran sesat hampir merayu saya untuk bunuh diri.”

Wajah kelima petugas itu tampak tercengang.

”Gawat. Bisa Anda deskripsikan ciri-cirinya?”

Aku menyebutkan ciri laki-laki berjas berwajah simetris. Salah seorang dari mereka membuat sketsa sederhana.

”Baiklah, segera akan kami laporkan ke polisi. Anda yakin, orang ini anggota sindikat aliran sesat.”

Aku mengangguk yakin. Nami memandangku dengan agak bingung.

”Bagaimana kamu bisa yakin orang itu adalah anggota sindikat aliran sesat.”

”Aku yakin.”

Muka Nami masih kelihatan bingung namun ia membiarkanku. Aku memang tidak punya bukti bahwa laki-laki simetri berjas adalah anggota sindikat terlarang, tapi aku yakin. Firasatku mengatakan begitu. Aku selalu curiga dengan orang-orang yang menawari untuk membuat hidupku lebih baik.

Ni Komang Ariani

Penulis kelahiran Gianyar, Bali. Ia telah menulis tujuh buku tunggal, yaitu Lidah, Senjakala, Bukan Permaisuri, Jas Putih, Ketut Rapti, Marigold, dan Telikung. Ia memenangi Lomba Menulis Cerbung Femina pada tahun 2008 dan tiga kali masuk buku Cerpen Pilihan Kompas. Cerpen-cerpennya bisa dinikmati di www.nikomangariani.com. Selain menulis, saat ini ia bekerja sebagai dosen.

Indra Gunadharma lahir di Bandung, lulusan DKV FSRD ITB. Pelukis, guru gambar/lukis, desainer grafis, dan desainer artwork interior di studio Indra Artwork. Tinggal di Tangsel. IG: indra_gunadharma

sumber : harian Kompas edisi 13 Maret 2022 di halaman 10 dengan judul “Kegemparan di Kota Zo”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme