Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gading Om Jenderal oleh Gesit Ariyanto

Posted on Kam, 17 Mar 2022

Bosan dan jenuh sangat, rutinitas robotik di meja komputer membawa Jacky melarikan diri ke pasar riuh itu. Melangkah di lorong-lorong sempit yang mulai ramai, ia serasa menemukan oase, berjarak dari diskusi kantor yang melulu seputar situasi ekonomi nasional, politik yang memanas, hingga rapat-rapat performa bisnis perusahaan.

Tengah hari itu, ia hempaskan tubuhnya di anak tangga semen di sisi belakang pasar aksesoris mobil dan sepatu tiruan alias KW, tepat di muka kios sohibnya, Bang Jago. Si abang sedang menerima telepon, ketika melihatnya muncul. Lambaian tangan menandai kontak keduanya.

Kios itu sempit saja, 1,5 meter x 1,5 meter dengan satu lemari kaca beroda dan rak-rak kayu. Aneka jam tangan lawas bermerek, pulpen branded, Zippo orisinal buatan AS, kacamata BL RayBan, cincin, gelang, kalung perak 912, dan buckle gesper Harley Davidson vintage terpajang. Tas selempang, clutch, hingga tas bermerek simbol kemakmuran, di antaranya Gucci dan LV, berjejer di rak.

Orisinal atau tidak, yang pasti bukan ”kaleng-kaleng” kalau orang Medan bilang. Kalaupun KW, masuk kategori KW superlah. Semua barang preloved, tidak ada yang baru, tapi masih layak pakai. Pelanggan si abang lintas kalangan, tua-muda, laki-perempuan, dari mereka yang wangi pengguna barang bermerek berani bayar tinggi hingga yang asal menawar.

Entah berapa kali Jacky mendapat barang branded orisinal seken dari sana. Kacamata, sabuk kulit, pipa cangklong lawas, jam tangan rusia, hingga cincin perak kesayangan. Banyak handai tolan memberi testimoni ”keren dan unik”. Padahal, harganya murah. Lebih tepatnya bukan harga, karena Bang Jago tak mematok tarif padanya. Mereka sudah berkarib sejak si abang melapak di trotoar jalan yang kini steril.

Bukannya Jacky tak mampu membeli baru dan asli dari barang-barang seken bermerek itu. Gajinya di perusahaan konsultan bisnis dan keuangan lebih dari cukup. Berkali-kali lipat dari standar Ibu Kota. Kantornya punya reputasi dan integritas tinggi, memberi upah dan bonus besar, apalagi padanya yang dua puluh tahun mengabdi dengan jabatan pula.

Namun, pasar itu, keriuhan itu, kios sempit si abang itu, berikut suasana khas itu menyediakan yang ia perlu. Jacky menemukan alter ego, sisi lain dirinya, keluar dari iklim serba formal kantoran, lalu menjadi bagian realitas masyarakat kota, membicarakan isu atau banyolan khas warga Ibu Kota yang ”tak dianggap”, jauh dari itungan pengambil kebijakan kota. Sebutan ”elu” dan ”gue” adalah tanda kesetaraan di sana.

”Sebentar, yak,” seru Bang Jago di sela menelepon.

”Lanjuuttt,” balasnya.

Tak jengah Jacky menunggu. Dua pekan ia tak singgah karena pekerjaan. Rasanya nyaman berdiam di antara seliweran manusia dan musik berdentum dari kios-kios servis tape mobil. Jacky ada tapi seperti tiada. Warga pasar tak tahu status berikut embel-embel posisi di kantornya.

”Siapa telepon. Serius amat?” Jacky siap menyeruput panas kopi sachetan.

”Om jenderal, pelanggan baru.”

”Wow, jenderal beneran?”

”Bukan, naga bonar…”

Lalu, mereka ngakak bersama. Bercanda acak tak pernah absen setiap mereka bersua. Bahasan apa saja jadi bahan lelucon. Bebas lepas. Tak ada murung-murungnya.

Entah kenapa mereka cocok. Padahal, segalanya beda. Usia, pendidikan, pekerjaan, kota asal, budaya, hingga suku dan bahasa daerahnya. Namun, bukan halangan. Tawa keduanya pecah, sama-sama kencang.

”Ini jenderal beneran. Baju coklat, boosss.”

”Plokis, polisi?”

”Si om kontak gue pake telpon si Uda,” Bang Jago merujuk calo barang antik asal Padang.

”Oh, cari apaan om naga?”

”Itu tuuh,” telunjuk bang Jago mengarah ke salah satu rak.

Tatakan lilin artnouveau vintage enam lengan produk Eropa dipajang, lengkungannya khas era 1920-an. Barang collector item itu diperoleh dari keluarga mantan diplomat yang sudah tiada.

Beberapa peminat menawar, tetapi masih di bawah harga. Si abang minta belasan juta rupiah, karena kelangkaan, kadar perak, kondisi, dan usianya. Barang antik memang tak ada patokan harga. Lebih didasari kesenangan dan kesepakatan.

”Kalau deal, boleh tuh,” Jacky nyeletuk.

”Makan enak kitaaa…”

Kios boleh kecil, tapi transaksi jutaan rupiah tidak asing bagi si abang. Keahliannya menilai barang seken dan kadar perak, emas, hingga batu mulia cukup diakui. Itu pula yang membuatnya mendulang rupiah dari barang bekas, bahkan rusak, yang oleh para ahli warisnya dinilai tak cukup berharga.

Entah berapa kali Jacky mendapat barang branded orisinal seken dari sana. Kacamata, sabuk kulit, pipa cangklong lawas, jam tangan rusia, hingga cincin perak kesayangan. Banyak handai tolan memberi testimoni ”keren dan unik”. Padahal, harganya murah. Lebih tepatnya bukan harga, karena Bang Jago tak mematok tarif padanya. Mereka sudah berkarib sejak si abang melapak di trotoar jalan yang kini steril.

Dari keahliannya itu pula, selain menjual barang preloved, ia mampu bayar sewa kios ”seuprit” Rp 40 juta setahun. Dari sana ia hidupi keluarganya, istri dan dua anak yang beranjak dewasa.

Bukan ujug-ujug, instan, jika Bang Jago sampai pada level sekarang. Sejatinya ia ulet dan tahan banting. Keras, tapi kalem. Malah cenderung cengengesan.

Sebelum sewa kios di pasar itu, dua kali ia pindah tempat. Awalnya menggelar pernak-pernik di taman kota sebelah pasar sepatu saat ini. Ditertibkan, ia bergeser ke trotoar dan emperan toko, yang kemudian digusur lagi. Hingga akhirnya lima tahun lalu ia ”naik kelas” menyewa kios bermodal keberanian. Ternyata hoki dan cuan.

Medio tahun 2000-an adalah fase getir karier jual beli barang antik seken. Bang Jago yang kala itu belum kenal Jacky ditangkap polisi atas tuduhan memperdagangkan gading gajah. Padahal, itu barang titipan Ipin, kenalannya yang bilang sedang menunggu pembeli dua hari lagi.

Apa lacur, nasi sudah jadi bubur. Polisi mendatangi rumah kontrakannya malam hari di kawasan Tanah Kusir dan sebatang gading tua bermotif Afrika itu ada di sana. ”Itu barang titipan, pak”. ”Punya teman, pak.” ”Saya tidak tahu, pak.” Sialan, di mana Ipin!!

”Ikut kami dulu, nanti dijelaskan di kantor,” gertak salah satu polisi tak berseragam. Ternyata mereka bertiga anggota korps sidik sakti menindaklanjuti laporan barang ilegal diperjualbelikan.

Dua hari tidur di sel tahanan dengan tuduhan penadah barang curian dan memperjualbelikan barang terlarang, si abang belum kunjung diproses. Istrinya tak henti meratap saat menjenguknya. Tebus Rp 30 juta, suamimu bebas, itulah tawaran ”solusi” aparat.

”Uang dari mana kita, bang.”

”Biar aku dihukum saja, dik.”

Tangis Idah, istrinya, tak tertahan. Dua anaknya masih kecil. Bang Jago hanya penjual barang-barang ”rongsokan” di trotoar. Tidak ada pula sumber pemasukan lain. Ia, ibu rumah tangga, tanpa pekerjaan menghasilkan.

Hati si abang berantakan. Ia mungkin pekerja ulet dan keras pada dirinya sendiri. Tapi, sungguh tak tahan untuk tak larut terbawa emosi. Dua anaknya membutuhkan kehadiran dan nafkah darinya. Ia mencoba berpikir jernih dan menahan emosi, tapi tetap saja kalut tak karuan.

Dengan menjual vespa antiknya, televisi, sepeda anaknya, dan koleksi-koleksi perak tuanya yang belum seberapa, diganjal pinjaman sana-sini, besaran tebusan itu akhirnya terpenuhi. Hari ketujuh, ia dibebaskan dengan pesan mulia, ”Jauhi tindak pidana”. Ingin muntah rasanya mendengar wejangan itu. Makan uang puluhan juta rupiah dari keluarga tak mampu seperti dirinya tanpa tanda terima. Si abang tetap merasa bukan penadah. Bukan pencuri. Hanya sial ketitipan barang!

***

”Ayo ikut gue ke rumah om jenderal,” Bang Jago mengemas tatakan lilin.

”Sekarang?”

”Bukan, kemarin. Ia tergelak.

Jacky mengekor, meloncat ke boncengan lebar sepeda motor N-Max. Pekerjaan sedang longgar siang itu. Penasaran juga ia dengan sosok om jenderal. Tiba di tujuan, Uda calo sedang berbincang di pos jaga. Jasa perantara lazim dalam transaksi jual-beli barang antik, apalagi pembelinya figur publik atau pejabat.

Rumah di Jakarta Selatan itu berpagar tinggi dengan halaman cukup luas dijaga dua aparat berkaos coklat. Memasuki ruang tamu, interiornya kalem, apik, rapi, dan bersih. Cenderung eklektik modern. Lukisan perempuan bermata gelap khas Jeihan dan lukisan suasana Eropa tempo dulu menggantung di dinding krem, berbagi ruang dengan foto-foto wisata keluarga dan sejumlah tanda penghargaan penugasan dinas di dalam dan luar negeri. Satu set kursi tamu tua berbusa tebal dan lemari pajang ukir antik kayu eiken tinggalan era Hindia Belanda mempertegas selera berkelas empunya rumah.

Bang Jago dan Uda menemui om jenderal di ruang kerja, sedangkan Jacky sendiri menikmati atmosfer interior ruang tamu besar itu. Harimau awetan menyeringai kokoh, membeku di sudut ruangan. Sangat terawat. Lantai ubin kuning tua bermotif sangat mengilap, jauh dari debu-debu.

Setengah jam, mereka keluar, tanpa om jenderal. Satu amplop putih tebal dalam genggaman si abang belum sempat dimasukkan ke tas selempang Gucci lawasnya. Ia cengar-cengir.

Di ruang tengah, si abang tiba-tiba berbelok langkah, mengarah ke meja marmer kecil. Di atasnya, gading Afrika rebah disangga kayu keras berukir orientalan. Ia cermati sesaat, lalu bergegas berbalik langkah. Rahangnya mengeras, mukanya tegang. Cengar-cengirnya hilang, berubah mendung.

”Ayo keluar.” Langkahnya cepat, napasnya juga.

Jacky tertegun. Uda mematung. Lalu, bergegas menyusul.

Memori Bang Jago kembali ke sel tahanan, pada kekalutan dan tangisan Idah beberapa tahun lalu. Gading itu dikenalnya, barang titipan Ipin sialan biang masalah.

Catatan:

Naga Bonar: film komedi perang kemerdekaan tahun 1980-an.

Plokis: Bahasa pergaulan merujuk polisi.

***

Gesit Ariyanto adalah pekerja media dan penikmat sastra yang tinggal di Tangerang Selatan.

sumber : kompas.id, 17 Mar 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme