Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Reptilia Berjenggot oleh Husnun Nadhifah

Posted on Sab, 19 Mar 2022

Ruang berukuran 3×4 itu disinari temaram cahaya dari jendela kamar yang terbuka. Rimbun dedaunan pohon sirsak menutupi sinar mentari yang menerangi kamar dan membuat suasana tampak sendu. Senada dengan suasana di dalam kamar berdinding bambu itu.

Beberapa mata menatap Karima dengan iba. Perempuan berusia 29 tahun itu terbaring lemah tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Namun terdengar rintihan dari mulut mungilnya. Desisan itu tak henti-hentinya menggambarkan begitu hebat rasa sakit yang diderita. Terkadang terdengar jeritan tertahan. Jeritan yang mengiris hati setiap telinga yang mendengarnya.

Semua yang datang menjenguk tak tega melihat Karima. Kondisinya membuat sesak dada. Sebelumnya mereka belum pernah menemui kondisi seperti yang dialami Karima saat ini. Perempuan berparas ayu itu hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas dipan sambil meremas perutnya.

Aji, suaminya, tak putus asa memberikan semangat agar Karima kuat menghadapi masa-masa sulit yang biasa dialami perempuan pada umumnya. Tangannya menggenggam erat jemari istrinya. Sesekali dia membisikkan sesuatu sambil mengusap lembut rambut tebal Karima.

Emaknya, bik Yati, juga yu Kah ikut menunggui Karima yang telentang tak berdaya di atas dipan kayu beralaskan kasur tipis berbahan kapuk. Sudah lebih dari 3×24 jam Karima merasakan nyeri hebat di perutnya. Beberapa kali kontraksi semakin lama semakin sering. Namun, belum ada tanda-tanda kelahiran.

Kemarin sore sudah dipanggilkan mbah Tum untuk mengurut perut Karima. Barangkali ada sesuatu yang tidak beres yang bisa segera dikondisikan. Dukun beranak yang biasa menolong persalinan itu memberikan pertolongan semampunya. Perempuan paruh baya itu tidak menemukan apa pun di dalam perut Karima. Dia merasa ada yang ganjil. Yang dia tahu Karima sedang mengandung dan waktu melahirkan sudah lewat beberapa minggu dari perhitungannya. Namun, dia masih mampu menenangkan hatinya sendiri karena ada juga orang yang mengandung sampai usia kandungaannya berumur 12 bulan lebih.

Karima merasa sedikit nyaman setelah mendapat sentuhan tangan mbah Tum. Dia bisa terlelap beberapa saat. Dukun beranak yang bersahaja itu pulang dan berjanji akan menengoknya lagi. Rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah pasangan muda itu. Dia akan mengecek lebih teliti lagi memastikan dugaannya tadi salah.

**

”Mbah, tolong saya ya,” pinta Karima pada mbah Ponira suatu hari. Dia rela menempuh jarak lebih dari 30 kilometer untuk mendatangi tukang urut itu. Jalanan berbatu yang terjal tak menyurutkan niatnya untuk mendatangi dukun beranak yang sudah berkali-kali menolongnya.

”Wegah!” jawab mbah Ponirah cepat. ”Opo maneh alasanmu?” lanjutnya sambil mengunyah sirih.

”Kulo dereng siap, Mbah. Kang Aji kerjone dereng ajeg,” keluhnya.

”Tiga kali kau minta tolong dengan alasan tak ada lelaki yang mau bertanggung jawab. Sekarang kau sudah bersuami yang mau bertanggung jawab tapi kau punya alasan lain lagi,” ujar mbah Ponira.

”Anu, Mbah!” tambah Karima gugup.

”Anu-anu opo? Kamu juga beberapa kali minta tolong aku karena masih ingin menikmati kabahagiaanmu tanpa diganggu tangisan bayi,” sahut mbah Ponira.

”Mbah, ngopeni anak niku butuh biaya besar. Saya enggak mau anak saya kurang gizi seperti anak lain gara-gara orang tuanya enggak bisa memenuhi kebutuhannya,” lanjut Karima.

”Suamimu kerja apa?”

”Horog-horog asem, Mbah.”

Di luar rumah beratap jerami itu Aji mendengarkan percakapan istrinya dengan mbah Ponira. Dia hanya bisa menahan napas berat. Dia heran mengapa istrinya pintar sekali mengarang cerita. Aji sebenarnya tidak mau mengantarkan Karima ke tempat ini. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh dengan jalanan menanjak, berbatu dan terjal. Tapi karena dia sudah sangat menginginkan momongan, darah dagingnya.

Dia ingin ketika pulang dari pasar ada bocah kecil dan lucu yang menyambutnya. Tentu rasa capeknya akan hilang seketika. Pikirannya melayang jauh membayangkan rumahnya ramai oleh gelak tawa bocah juga suara tangisnya.

”Aku jane wes tobat, Nduk! Wes gak ngelayani urut maneh,” ujar mbah Ponira sambil meletakkan sirihnya di tempat berbahan kuningan di dekatnya.

”Sekali ini saja, Mbah!” rengek Karima.

Mbah Ponira tak menjawab. Hening beberapa saat.

”Mbah,” panggil Karima sambil mengeluarkan bungkusan dari tasnya.

”Bar ngene kowe siap?” tanya mbah Ponira.

”Nggih! siap, Mbah!” sahut Karimah dengan mata berbinar.

Akhirnya di malam berkabut itu Karima duduk di boncengan sepeda pancal suaminya dengan bersimbah darah. Dia meringis menahan nyeri di perutnya. Jalanan berbatu mengguncang sepeda tua itu. Di tengah perjalanan dia sempat ganti jarik dan membuang jarik kotornya ke sungai berair jernih yang mengalir deras.

Aji merasakan separuh hatinya ikut hanyut bersama jarik berbau anyir itu. Cairan bening merembes di ujung netranya mengiringi darah dagingnya yang pergi meninggalkannya.

Bayangan beberapa waktu lalu itu berkelebat kembali di benak Karima. Ada penyesalan di sudut hatinya. Tapi dia masih membenarkan alasannya waktu itu. Alasan yang tak pernah disetujui suaminya.

**

Karima merintih lagi. Kali terdengar semakin pilu menyayat hati. Rintih dan tangis perempuan itu melukiskan irisan rasa sakit tak terperi. Tubuhnya tinggal tulang dengan wajah seputih salju. Rambutnya berantakan karena sering dijambak sendiri.

Tidak ada sesuap pun makanan yang masuk ke dalam perutnya selama dua hari ini. Berkali-kali keluarga dan tetangganya menyuapi sesuatu. Namun, Karima tak mau membuka mulutnya. Tidak ada selera makan karena siksaan rasa sakit yang dideritanya.

Karima merasa sedikit nyaman setelah mendapat sentuhan tangan mbah Tum. Dia bisa terlelap beberapa saat. Dukun beranak yang bersahaja itu pulang dan berjanji akan menengoknya lagi. Rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah pasangan muda itu. Dia akan mengecek lebih teliti lagi memastikan dugaannya tadi salah.

Yu Kah, tetangganya, mengusulkan untuk membawa Karima ke kota. Tapi jarak tempuh yang jauh menjadi salah satu pertimbangannya. Lagi pula, pak Sobri, satu-satunya orang yang mempunyai kendaraan roda empat di kampungnya sedang pergi ke luar kota. Tak seorang pun yang tahu kapan kembalinya.

Sementara beberapa penduduk yang mempunyai kendaraan roda dua tak berani ambil risiko membawa Karima dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Tak ada lagi pilihan selain mengharap keajaiban tangan dingin mbah Tum untuk menolong persalinannya.

Menjelang sore hari mbah Tum kembali ke rumah itu lagi. Dengan langkah hati-hati perempuan berambut putih itu memasuki kamar Karima. Dia membuka kain yang menutupi perut buncit itu. Mengoleskan minyak kelapa buatannya sendiri ke seluruh bagian perut Karima. Setelah itu mbah Tum mengurut dan meraba dengan ketelitian tingkat tinggi. Mencoba mendeteksi kondisi janin yang berada di alam misal sana.

Beberapa kali mbah Tum mengulagi urutannya. Dia merasa belum menemukan letak kepala atau bagian tubuh lainnya dari janin yang dikandung Karima. Butir-butir keringat membasahi pelipisnya. Dengan gerakan kasar mbah Tum mengusap dengan lengan kirinya.

Kedua matanya mengarah ke atap rumah berbahan genting itu. Tangannya tetap meraba-raba seluruh permukaan perut Karima. Mengoleskan minyak kembali. Kali ini lebih banyak untuk memudahkan pekerjaannya menemukan letak janin dengan cepat dan tepat.

Mbah Tum terbelalak dengan mulut terbuka tanpa suara ketika kedua tangannya menyentuh sesuatu dalam perut Karima. Dia merasakan ada benda asing yang bergerak-gerak di bawah pusar. Seketika bulu kuduknya berdiri. Dia tak mau berspekulasi, menduga-duga sesuatu. Praduga yang didominasi pikiran negatif itu segera ditepisnya. Mbah Tum tak mampu menyampaikan sepatah kata pun kepada keluarga Karima.

Akhirnya, dia mengusulkan sesuatu pada Aji. Dia duduk sesaat menyandarkan punggung pada tiang bambu di dekat pembaringan sambil menyeruput teh hangat yang sudah disajikan. Mbah Tum menata napas yang keluar masuk tak beraturan.

Beberapa saat berikutnya sebagian keluarga juga tetangga dekat berkumpul di ruang tengah. Mereka datang dengan baju bersih. Duduk bersila berjajar dengan rapi dan siap membacakan kitab suci Al Quran untuk sedikit membantu psikis Karima. Alunan syahdu ayat suci itu sedikit membawa kedamaian di hati keluarga yang berharap-harap cemas menunggu hasil kerja mbah Tum.

Tiba-tiba terdengar suara yang keras sekali dari mulut Karima. Teriakan yang melebihi tujuh oktaf itu membuat semua yang hadir di rumah itu tercengang. Mereka menghentikan aktivitasnya untuk sementara waktu. Menunggu kelanjutan peristiwa dari dalam kamar pengap di sebelah ruang tengah.

Kemarin sore sudah dipanggilkan mbah Tum untuk mengurut perut Karima. Barangkali ada sesuatu yang tidak beres yang bisa segera dikondisikan. Dukun beranak yang biasa menolong persalinan itu memberikan pertolongan semampunya.

Mbah Tum meletakkan cangkirnya demi mendengar jeritan Karima. Kemudian bangkit menghampiri Karima yang mendadak terdiam. Dia membuka jarik yang menutupi bagian bawah tubuh Karima. Untuk kedua kalinya, mbah Tum ternganga tak percaya. Dia sampai terlonjak dari tempat berpijaknya.

Dia melihat ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir Karima. Sesuatu itu nongol seperti kepala sebesar kepalan tangan bocah berusia satu tahun. Mbah Tum menarik tangan Aji, mengajak pria itu melihat bersama apa sebenarnya yang terjadi. Mereka berdua mengamati lebih jeli sesuatu yang bergerak-gerak itu semakin lama semakin tampak jelas.

Tubuh Aji gemetaran terhuyung ke kanan. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Seketika pandangannya berkunang-kunang. Tangannya meraba-raba mencari pegangan agar tak terjerembab ke tanah. Mulut Aji menggumamkan istighfar berkali-kali. Mukanya basah oleh cairan bening yang merembes dari ujung kedua matanya.

Seekor ular merayap keluar dari jalan lahir dan melewati kedua kaki jenjang karima. Anehnya, ular berwarna hitam mengkilat itu berjenggot sekitar lima centi. Binatang reptilia itu turun dari dipan dan terus merayap di tanah dingin ruangan itu.

Semua yang hadir mendengungkan Asma Allah. Bacaan istighfar tak henti-henti memenuhi ruangan. Mereka berpegangan tangan sambil melihat makhluk aneh itu dengan rasa takut yang bercampur penasaran.

Adik lelaki Aji dan beberapa tetangga lelaki lainnya mengikuti ular tersebut yang merayap perlahan meninggalkan rumah joglo itu. Mereka membawa obor menyusuri jalanan gelap yang disinari cahaya rembulan tanggal lima belas.

Sementara di atas dipan, Karima tergeletak tak bergerak lagi. Darah merah kehitaman mengucur deras dari jalan lahirnya. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang dibuatnya. Mbah Tum dan emak Karima segera membersihkan tubuh Karima yang anyir dengan kain basah.

**

Keesokan harinya ketika warga Desa Negara Bathin Kecamatan Braja Selebah sedang bergotong royong mendirikan gapura peringatan HUT ke-32 RI, salah satu di antara mereka menemukan mayat di pekarangan belakang rumah penduduk. Tubuh mbah Ponira tergeletak di samping pohon pisang. Darah merah kehitaman yang mengental keluar dari leher kirinya.

Tak jauh dari tempat itu, seekor ular hitam mengkilat sedang menjulurkan kepalanya. Warga tercengang melihat makhluk aneh itu. Sorot mata tajam yang memancarkan cahaya biru keluar dari reptilia berjenggot itu. Cahaya itu menembus gelapnya pagi yang perlahan meninggalkan malam. Mulutnya bersimbah darah yang serupa dengan di leher Mbah Ponira. Warga bergidik menyaksikan peristiwa ganjil di pagi itu.

Catatan

– Wegah : ungkapan yang digunakan sebagai bentuk penolakan

– Opo maneh alasanmu: apa lagi alasanmu

– Kulo dereng siap: saya belum siap

-Kerjone dereng ajeg: kerjanya belum rutin

– Ngopeni anak niku: merawat anak itu

– Horog-horog asem: ungkapan yang digunakan untuk menyatakan seseorang yang kadang kerja kadang tidak.

– Aku jane wes tobat, Nduk! Wes gak ngelayani urut maneh: sebenarnya aku sudah tobat. Tidak melayani pijat lagi.

– Bar ngene kowe siap?: setelah ini kamu siap?

– Nggih: iya

*** Husnun Nadhifah, Pengajar Bahasa Indonesia di SMP Pomosda Tanjunganom, Nganjuk.

sumber : kompas.id, 19 Mar 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme