Ruang berukuran 3×4 itu disinari temaram cahaya dari jendela kamar yang terbuka. Rimbun dedaunan pohon sirsak menutupi sinar mentari yang menerangi kamar dan membuat suasana tampak sendu. Senada dengan suasana di dalam kamar berdinding bambu itu.
Beberapa mata menatap Karima dengan iba. Perempuan berusia 29 tahun itu terbaring lemah tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Namun terdengar rintihan dari mulut mungilnya. Desisan itu tak henti-hentinya menggambarkan begitu hebat rasa sakit yang diderita. Terkadang terdengar jeritan tertahan. Jeritan yang mengiris hati setiap telinga yang mendengarnya.
Semua yang datang menjenguk tak tega melihat Karima. Kondisinya membuat sesak dada. Sebelumnya mereka belum pernah menemui kondisi seperti yang dialami Karima saat ini. Perempuan berparas ayu itu hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas dipan sambil meremas perutnya.
Aji, suaminya, tak putus asa memberikan semangat agar Karima kuat menghadapi masa-masa sulit yang biasa dialami perempuan pada umumnya. Tangannya menggenggam erat jemari istrinya. Sesekali dia membisikkan sesuatu sambil mengusap lembut rambut tebal Karima.
Emaknya, bik Yati, juga yu Kah ikut menunggui Karima yang telentang tak berdaya di atas dipan kayu beralaskan kasur tipis berbahan kapuk. Sudah lebih dari 3×24 jam Karima merasakan nyeri hebat di perutnya. Beberapa kali kontraksi semakin lama semakin sering. Namun, belum ada tanda-tanda kelahiran.
Kemarin sore sudah dipanggilkan mbah Tum untuk mengurut perut Karima. Barangkali ada sesuatu yang tidak beres yang bisa segera dikondisikan. Dukun beranak yang biasa menolong persalinan itu memberikan pertolongan semampunya. Perempuan paruh baya itu tidak menemukan apa pun di dalam perut Karima. Dia merasa ada yang ganjil. Yang dia tahu Karima sedang mengandung dan waktu melahirkan sudah lewat beberapa minggu dari perhitungannya. Namun, dia masih mampu menenangkan hatinya sendiri karena ada juga orang yang mengandung sampai usia kandungaannya berumur 12 bulan lebih.
Karima merasa sedikit nyaman setelah mendapat sentuhan tangan mbah Tum. Dia bisa terlelap beberapa saat. Dukun beranak yang bersahaja itu pulang dan berjanji akan menengoknya lagi. Rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah pasangan muda itu. Dia akan mengecek lebih teliti lagi memastikan dugaannya tadi salah.
**
”Mbah, tolong saya ya,” pinta Karima pada mbah Ponira suatu hari. Dia rela menempuh jarak lebih dari 30 kilometer untuk mendatangi tukang urut itu. Jalanan berbatu yang terjal tak menyurutkan niatnya untuk mendatangi dukun beranak yang sudah berkali-kali menolongnya.
”Wegah!” jawab mbah Ponirah cepat. ”Opo maneh alasanmu?” lanjutnya sambil mengunyah sirih.
”Kulo dereng siap, Mbah. Kang Aji kerjone dereng ajeg,” keluhnya.
”Tiga kali kau minta tolong dengan alasan tak ada lelaki yang mau bertanggung jawab. Sekarang kau sudah bersuami yang mau bertanggung jawab tapi kau punya alasan lain lagi,” ujar mbah Ponira.
”Anu, Mbah!” tambah Karima gugup.
”Anu-anu opo? Kamu juga beberapa kali minta tolong aku karena masih ingin menikmati kabahagiaanmu tanpa diganggu tangisan bayi,” sahut mbah Ponira.
”Mbah, ngopeni anak niku butuh biaya besar. Saya enggak mau anak saya kurang gizi seperti anak lain gara-gara orang tuanya enggak bisa memenuhi kebutuhannya,” lanjut Karima.
”Suamimu kerja apa?”
”Horog-horog asem, Mbah.”
Di luar rumah beratap jerami itu Aji mendengarkan percakapan istrinya dengan mbah Ponira. Dia hanya bisa menahan napas berat. Dia heran mengapa istrinya pintar sekali mengarang cerita. Aji sebenarnya tidak mau mengantarkan Karima ke tempat ini. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh dengan jalanan menanjak, berbatu dan terjal. Tapi karena dia sudah sangat menginginkan momongan, darah dagingnya.
Dia ingin ketika pulang dari pasar ada bocah kecil dan lucu yang menyambutnya. Tentu rasa capeknya akan hilang seketika. Pikirannya melayang jauh membayangkan rumahnya ramai oleh gelak tawa bocah juga suara tangisnya.
”Aku jane wes tobat, Nduk! Wes gak ngelayani urut maneh,” ujar mbah Ponira sambil meletakkan sirihnya di tempat berbahan kuningan di dekatnya.
”Sekali ini saja, Mbah!” rengek Karima.
Mbah Ponira tak menjawab. Hening beberapa saat.
”Mbah,” panggil Karima sambil mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
”Bar ngene kowe siap?” tanya mbah Ponira.
”Nggih! siap, Mbah!” sahut Karimah dengan mata berbinar.
Akhirnya di malam berkabut itu Karima duduk di boncengan sepeda pancal suaminya dengan bersimbah darah. Dia meringis menahan nyeri di perutnya. Jalanan berbatu mengguncang sepeda tua itu. Di tengah perjalanan dia sempat ganti jarik dan membuang jarik kotornya ke sungai berair jernih yang mengalir deras.
Aji merasakan separuh hatinya ikut hanyut bersama jarik berbau anyir itu. Cairan bening merembes di ujung netranya mengiringi darah dagingnya yang pergi meninggalkannya.
Bayangan beberapa waktu lalu itu berkelebat kembali di benak Karima. Ada penyesalan di sudut hatinya. Tapi dia masih membenarkan alasannya waktu itu. Alasan yang tak pernah disetujui suaminya.
**
Karima merintih lagi. Kali terdengar semakin pilu menyayat hati. Rintih dan tangis perempuan itu melukiskan irisan rasa sakit tak terperi. Tubuhnya tinggal tulang dengan wajah seputih salju. Rambutnya berantakan karena sering dijambak sendiri.
Tidak ada sesuap pun makanan yang masuk ke dalam perutnya selama dua hari ini. Berkali-kali keluarga dan tetangganya menyuapi sesuatu. Namun, Karima tak mau membuka mulutnya. Tidak ada selera makan karena siksaan rasa sakit yang dideritanya.
Karima merasa sedikit nyaman setelah mendapat sentuhan tangan mbah Tum. Dia bisa terlelap beberapa saat. Dukun beranak yang bersahaja itu pulang dan berjanji akan menengoknya lagi. Rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah pasangan muda itu. Dia akan mengecek lebih teliti lagi memastikan dugaannya tadi salah.
Yu Kah, tetangganya, mengusulkan untuk membawa Karima ke kota. Tapi jarak tempuh yang jauh menjadi salah satu pertimbangannya. Lagi pula, pak Sobri, satu-satunya orang yang mempunyai kendaraan roda empat di kampungnya sedang pergi ke luar kota. Tak seorang pun yang tahu kapan kembalinya.
Sementara beberapa penduduk yang mempunyai kendaraan roda dua tak berani ambil risiko membawa Karima dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Tak ada lagi pilihan selain mengharap keajaiban tangan dingin mbah Tum untuk menolong persalinannya.
Menjelang sore hari mbah Tum kembali ke rumah itu lagi. Dengan langkah hati-hati perempuan berambut putih itu memasuki kamar Karima. Dia membuka kain yang menutupi perut buncit itu. Mengoleskan minyak kelapa buatannya sendiri ke seluruh bagian perut Karima. Setelah itu mbah Tum mengurut dan meraba dengan ketelitian tingkat tinggi. Mencoba mendeteksi kondisi janin yang berada di alam misal sana.
Beberapa kali mbah Tum mengulagi urutannya. Dia merasa belum menemukan letak kepala atau bagian tubuh lainnya dari janin yang dikandung Karima. Butir-butir keringat membasahi pelipisnya. Dengan gerakan kasar mbah Tum mengusap dengan lengan kirinya.
Kedua matanya mengarah ke atap rumah berbahan genting itu. Tangannya tetap meraba-raba seluruh permukaan perut Karima. Mengoleskan minyak kembali. Kali ini lebih banyak untuk memudahkan pekerjaannya menemukan letak janin dengan cepat dan tepat.
Mbah Tum terbelalak dengan mulut terbuka tanpa suara ketika kedua tangannya menyentuh sesuatu dalam perut Karima. Dia merasakan ada benda asing yang bergerak-gerak di bawah pusar. Seketika bulu kuduknya berdiri. Dia tak mau berspekulasi, menduga-duga sesuatu. Praduga yang didominasi pikiran negatif itu segera ditepisnya. Mbah Tum tak mampu menyampaikan sepatah kata pun kepada keluarga Karima.
Akhirnya, dia mengusulkan sesuatu pada Aji. Dia duduk sesaat menyandarkan punggung pada tiang bambu di dekat pembaringan sambil menyeruput teh hangat yang sudah disajikan. Mbah Tum menata napas yang keluar masuk tak beraturan.
Beberapa saat berikutnya sebagian keluarga juga tetangga dekat berkumpul di ruang tengah. Mereka datang dengan baju bersih. Duduk bersila berjajar dengan rapi dan siap membacakan kitab suci Al Quran untuk sedikit membantu psikis Karima. Alunan syahdu ayat suci itu sedikit membawa kedamaian di hati keluarga yang berharap-harap cemas menunggu hasil kerja mbah Tum.
Tiba-tiba terdengar suara yang keras sekali dari mulut Karima. Teriakan yang melebihi tujuh oktaf itu membuat semua yang hadir di rumah itu tercengang. Mereka menghentikan aktivitasnya untuk sementara waktu. Menunggu kelanjutan peristiwa dari dalam kamar pengap di sebelah ruang tengah.
Kemarin sore sudah dipanggilkan mbah Tum untuk mengurut perut Karima. Barangkali ada sesuatu yang tidak beres yang bisa segera dikondisikan. Dukun beranak yang biasa menolong persalinan itu memberikan pertolongan semampunya.
Mbah Tum meletakkan cangkirnya demi mendengar jeritan Karima. Kemudian bangkit menghampiri Karima yang mendadak terdiam. Dia membuka jarik yang menutupi bagian bawah tubuh Karima. Untuk kedua kalinya, mbah Tum ternganga tak percaya. Dia sampai terlonjak dari tempat berpijaknya.
Dia melihat ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir Karima. Sesuatu itu nongol seperti kepala sebesar kepalan tangan bocah berusia satu tahun. Mbah Tum menarik tangan Aji, mengajak pria itu melihat bersama apa sebenarnya yang terjadi. Mereka berdua mengamati lebih jeli sesuatu yang bergerak-gerak itu semakin lama semakin tampak jelas.
Tubuh Aji gemetaran terhuyung ke kanan. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Seketika pandangannya berkunang-kunang. Tangannya meraba-raba mencari pegangan agar tak terjerembab ke tanah. Mulut Aji menggumamkan istighfar berkali-kali. Mukanya basah oleh cairan bening yang merembes dari ujung kedua matanya.
Seekor ular merayap keluar dari jalan lahir dan melewati kedua kaki jenjang karima. Anehnya, ular berwarna hitam mengkilat itu berjenggot sekitar lima centi. Binatang reptilia itu turun dari dipan dan terus merayap di tanah dingin ruangan itu.
Semua yang hadir mendengungkan Asma Allah. Bacaan istighfar tak henti-henti memenuhi ruangan. Mereka berpegangan tangan sambil melihat makhluk aneh itu dengan rasa takut yang bercampur penasaran.
Adik lelaki Aji dan beberapa tetangga lelaki lainnya mengikuti ular tersebut yang merayap perlahan meninggalkan rumah joglo itu. Mereka membawa obor menyusuri jalanan gelap yang disinari cahaya rembulan tanggal lima belas.
Sementara di atas dipan, Karima tergeletak tak bergerak lagi. Darah merah kehitaman mengucur deras dari jalan lahirnya. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang dibuatnya. Mbah Tum dan emak Karima segera membersihkan tubuh Karima yang anyir dengan kain basah.
**
Keesokan harinya ketika warga Desa Negara Bathin Kecamatan Braja Selebah sedang bergotong royong mendirikan gapura peringatan HUT ke-32 RI, salah satu di antara mereka menemukan mayat di pekarangan belakang rumah penduduk. Tubuh mbah Ponira tergeletak di samping pohon pisang. Darah merah kehitaman yang mengental keluar dari leher kirinya.
Tak jauh dari tempat itu, seekor ular hitam mengkilat sedang menjulurkan kepalanya. Warga tercengang melihat makhluk aneh itu. Sorot mata tajam yang memancarkan cahaya biru keluar dari reptilia berjenggot itu. Cahaya itu menembus gelapnya pagi yang perlahan meninggalkan malam. Mulutnya bersimbah darah yang serupa dengan di leher Mbah Ponira. Warga bergidik menyaksikan peristiwa ganjil di pagi itu.
Catatan
– Wegah : ungkapan yang digunakan sebagai bentuk penolakan
– Opo maneh alasanmu: apa lagi alasanmu
– Kulo dereng siap: saya belum siap
-Kerjone dereng ajeg: kerjanya belum rutin
– Ngopeni anak niku: merawat anak itu
– Horog-horog asem: ungkapan yang digunakan untuk menyatakan seseorang yang kadang kerja kadang tidak.
– Aku jane wes tobat, Nduk! Wes gak ngelayani urut maneh: sebenarnya aku sudah tobat. Tidak melayani pijat lagi.
– Bar ngene kowe siap?: setelah ini kamu siap?
– Nggih: iya
*** Husnun Nadhifah, Pengajar Bahasa Indonesia di SMP Pomosda Tanjunganom, Nganjuk.
sumber : kompas.id, 19 Mar 2022.