Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Durak Melawan Dunia oleh D Hardi

Posted on Ming, 20 Mar 2022

Bedil itu seketika berpindah tangan padanya. Sebelum adegan berganti sesal, Saudara semua, ya, Saudara pembaca sekalian mesti memahami seutuhnya musabab yang melatarbelakangi kenekatan tokoh utama kita.

”Mungkin lebih baik jika aku ikut mampus,” lenguhnya dengan napas derit rem terakhir kereta.

Sebelum menjual daging, Durak adalah seorang tukang jagal yang sigap menjagal apa pun jenis daging; satire yang saya dapat dari orang pasar. Pasar Njagali namanya. Klop. Mungkin di masa lawas sebelum berdiri di tanahnya sekarang ketika masih berupa hutan dan tanah rawa yang banyak dihuni dedemit, pernah berlangsung ritual jagal-menjagal yang sengit dan kompetitif, di mana para penjagal berlomba-lomba menjagal setiap korbannya yang tak berdaya lewat aturan sederhana; siapa dengan cepat, senyap, nan mantap menjagal lawannya, dialah kampiun paling pantas diarak seantero alun-alun.

”Saya tidak menjagal manusia!” tegas Durak bulat-bulat sewaktu pertama kali saya temui di lapas.

”Selalu ada asap pada api yang menyulut,” kata saya, menyalakan rokok lalu melemparkan sebungkus lain buatnya. Dia melengos. Saya sebut nama Laela, panggilan akrab Nurlaela si kembang pasar, raut mukanya ganti seketika bagai menang Porkas.

”Di mana dia sekarang?” todongnya.

”Justru saya ingin tahu darimu. Dia bisa menolongmu,” kata saya, ”ada petunjuk?”

Durak melenguh lagi dengan napas derit kereta—kereta usang penuh karat.

”Dua orang mati di tanganmu; tangan yang menggenggam sepucuk bedil panas di hadapan orang-orang. Itu bisa vonis mati!”

”Akar persoalannya tak sederhana,” Durak memotong. ”Orang-orang pun tampak mematung saja. Mereka sudah bertungkus lumus dengan kerasnya hidup setiap hari, mana sudi berurusan ke pengadilan.”

Saya melirik sipir yang tadi menerima dengan kesan agak rikuh dua slop keretek agar kami punya waktu lebih. Sekian pewarta pasti mendekatinya. Sebelum menyebut Laela, bibir dan sorot mata Durak banyak membungkam. Wajahnya mudah terpampang di koran lampu merah dengan judul bombastis: ”Buset!Dua Lelaki Bangsat Rontok Mampus Disenggol Bacok Tukang Jagal Gara-Gara Rebutan Pacar”.Saya tak mau setengah-setengah. Saya tahu, setelah Boni dan Jarot mati, Laela menghilang. Saya juga tahu, beberapa hari setelah jemala begundal kakap bernama Seno remuk dan tewas dengan leher nyaris terpenggal, adalah waktu ketika Jarot tiba-tiba muncul untuk pertama kalinya di pasar. Ada cerita sahih penghubung dua peristiwa itu, saya sedang mencari tahu.

Durak berkisah, Jarot terlalu mencolok sebagai tukang arloji. Dia membuka lapak persis di dekat pintu masuk yang tak jauh dari lapaknya. Buat lelaki berumur, bahunya kelihatan tegap. Selain lup, calak, obeng, dan perkakas lain, Jarot kerap menyisipkan belati Rambo di balik sepatu boots. ”Jaga-jaga, kau kan punya golok,” selorohnya, ”pasar ibarat rimba Jon, kau mesti waspada setiap detik, siapa mangsa siapa pemangsa.” Semua orang dipanggil Jon. Semua diamati. Dia pandai mereparasi dan merakit apa saja, termasuk bedil yang pernah suatu hari diam-diam ia tampakkan di balik jaket kulit. ”Bisa jadi uang,” bisiknya. Dia berlagak intel Melayu yang sedang menyelidiki kasus. Kalau memang terkait dengan matinya Seno, orang pertama yang patut dicurigai adalah Boni, satu-satunya gali tersisa. Hanya sesama gali yang bisa membunuh kawan sendiri. Mungkin faktor mabuk atau soal pembagian uang siapa tahu; Boni menarik pungutan dan menyetornya ke Seno, lantas merasa kian dongkol selalu di bawah ketiaknya. Pikiran dangkal, memang.

”Semua pedagang dipajaki kecuali kamu,” pancing saya.

”Mungkin jiper lihat golok daging.” Ia mengisap rokok seadanya.

”Saya penasaran,” tanya saya, ”kenapa orang-orang menjulukimu ’tukang jagal’?”

Durak terdiam sejenak. ”Siapa lagi, tiada bukan pasti Rohim. Menurutnya, anak komunis selamanya anak komunis.” Ia menggeram. ”Bapak guru sekolah biasa, tapi dituduh macam-macam, kata mereka, Bapak selamat karena berkhianat, hanya komunis yang bisa membunuh kawan sendiri. Ajaib betul. Rohim itu penjual sembako, masih kerabat Laela. Sepupuan. Laela dimodali warung kopi, tak jauh dari lapak saya. Dia gadis yatim. Matanya teduh. Rambutnya hitam arang. Bibirnya serona jambu air. Suaranya, bagai sembilu angin kesepian. Dada saya panas setiap kali gerombolan Boni ongkang-ongkang ngopi sambil iseng menggodanya meski ditanggapi sedingin es, kecuali pada saya. Laela melihat saya seperti saya melihatnya. Diam-diam kami kerap jalan di luaran. Sesekali saya traktir bakso, es teler, atau ke bioskop lama nonton film-film Barry Prima. Laela suka film laga. Saya suka aroma samponya di bahu saya.”

”Kamu jatuh cinta?”

”Saya belum pernah merasakan ini semenjak ibunya Durak meninggal,” jawabnya.

”Tunggu, Durak, maksudmu?”

”Anak saya di kampung, istri yang kasih nama serupa nama saya, mungkin dikiranya saya tak bakal hidup lama, ternyata….” Durak melenguh lagi, kecut. Ia benamkan sisa rokok di asbak. ”Istri saya dulunya incaran Rohim, tapi lebih memilih saya.”

Saya mengangguk paham.

”Lama-lama Rohim tahu hubungan kami, tatapannya penuh jijik setiap kali berserobok, namun begitu lain jika kedatangan Sapin, wajahnya ramah sumringah persis mental oknum jajahan terhadap penjajah.”

”Sapin?” Saya dapat satu nama lagi.

”Sapin tangan kanan seorang calon kepala daerah, tokoh pemuda yang mudah tepergok secara kasatmata sesungguhnya tak muda lagi, malah menjelang kisut!” Nada Durak melonjak. Ia bertaruh, Rohim tak bakal keberatan bila Sapin melamar Laela, bahkan buat jadi istri kedua. Sapin sering mampir ke lapak Rohim seraya mencuri-curi pandang ke warung Laela. Jika kebetulan Boni ngejogrok di sana, Sapin urung berlagak pesan kopi. Suatu hari calon dukungannya datang berkampanye. Ia berjanji akan mengubah pasar, seperti pasar-pasar modern yang tertata apik, resik, dan steril dari pungutan liar, dari para preman yang siapa pun telah mafhum merujuk ke gerombolan Boni. Saya dengar Boni mencak-mencak dan melancarkan ancaman jika siapa pun berani memilih calon bawaan Sapin. Lelaki yang pelipisnya tergores codet melintang itu ingin kekuasaan total tanpa tawar-menawar.

Oke, secara status quo Boni butuh pasar. Sedang Sapin ditugasi membersihkan pasar—membersihkan di sini seperti mengamankan dalam tanda kutip. Saya mulai meraba sesuatu. Apa hubungannya dengan Jarot?

”Perkiraan saya salah soal Jarot,” Durak menyisir rambut yang awur-awuran dengan jemari, ”dia memang mata-mata, tetapi bukan aparat yang menyelidiki kematian Seno. Justru dia penjagalnya!” Saya terperanjat. Dada saya berdesir.

”Di malam bergairah itu, Laela menguak segalanya,” lanjut Durak. ”Bergelagat cemas, di tepi ranjang yang masih hangat dia peluk saya dari belakang. ’Aku menyaksikan tanpa sengaja malam itu,’ dia bilang, ’Jarot menebas leher Seno dengan belatinya tanpa ampun. Begundal tatoan itu menggelepar, hingga selang detik kemudian berhenti. Pasar begitu sunyi. Hanya hening dan tak lama datang seseorang dengan seringai menjijikkan. Sapin. Dia tak bakal dirindukan siapa pun, pasar ini mesti bersih dari kecoak, ucapnya dingin pada Jarot.’”

***

Saya mendengarkan Durak terus berkisah ketika sipir lapas memberi sinyal, sudah hampir satu jam. Tak bisa lebih. ”Besok di jam segini, saya masih jaga,” sahutnya berbisik dengan kumis bergetar. Saya lihat wajah Durak plong, bagai tuntas memuntahkan lahar panas. ”Kabarkan ini pada dunia,” pisah Durak menjauhkan jarak, lalu menghilang. Dunia mana, fiksi atau nyata?

Sipir lapas menutup pintu besi. Metromini lewat, saya berjalan saja susuri kota. Menaiki jembatan. Melewati pedagang kaki lima. Menelusuri gang-gang sempit, sekumpulan bocah—yang lolos dari program KB—mengerubungi abang penjual gulali yang mencetak hati pelangi. Kali besar membelah jalur kendaraan, airnya gelap pekat; seperti kehidupan, seperti jalanan. Seperti kota rimba, ketika orang-orangnya beradu kuat saling terkam, sekaligus eksotis, bagai poster-poster syur film lokal yang bertahan dari serbuan Cynthia Rothrock dan Chuck Norris.

Benak saya masih terngiang-ngiang di lapas. Kematian Seno nyatanya tak membikin begundal lain macam Boni gentar. Para begundal pun saling tengkar: antara si kerah biru dan putih. Hingga tiba hari naas itu; Boni yang mabuk kelewat batas menggoda Laela dengan meraba-raba bokongnya tepat di depan mata kepala Durak. Jarot pun tiba-tiba muncul. Dalam hitungan detik, Boni-Jarot-Durak terpaut niat rantai saling menghabisi.

Laela berlari ke arah Durak. Boni hendak mencabut pisau dari pinggang ketika, cap! Golok daging telah menancap di batok kepalanya. Durak meneriaki Laela untuk lari. Jarot menyerang Durak bertubi-tubi dengan belati Rambo-nya meski berhasil dielak sampai jatuh. Keduanya bergumul hebat. Giliran Jarot akan mencabut bedil, Durak berhasil mendepaknya hingga mereka berguling-guling di tanah basah dan bedil itu seketika berpindah tangan padanya; menempel di jidat Jarot yang memohon ampun. Tetapi tak ada ampunan gratis hari itu.

”Memangsa atau dimangsa,” cetus Durak. Bedil meletus.

Laela seharusnya dapat bersaksi. Namun, dia menghilang sejak kejadian itu. Berbulan-bulan lewat, ada gosip bilang Laela telah dinikahi siri oleh Sapin dan Rohim pura-pura tak tahu. Tetapi Rohim sepertinya jujur; di suatu subuh depan lapaknya, tiba-tiba tergeletak seorang bayi mungil tanpa siapa pun mengakui. Hidungnya mirip Durak. Matanya mirip Laela.

Bojongsoang, November 2021

D Hardi, banyak mengarang cerpen. Tinggal di Bandung. Karyanya telah tersiar di berbagai media cetak dan digital, seperti Basabasi.co, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Detik.com, dan Bacapetra.co. Buku kumpulan cerpen berjudul Palindrom (Poiesis/2021) telah terbit.

Suharmanto, kelahiran Bantul tahun 1976. Lulusan Fakultas Seni Rupa ISI yogyakarta. Empat kali pameran tunggal dan sudah lebih dari 60 kali pameran bersama. Beberapa kali menerima penghargaan, antara lain Karya Terbaik Pameran Refleksi Zaman, ISI Yogyakarta, tahun 1998 dan 10 Besar Terbaik Peksiminas IV, BSMI Yogyakarta.

sumber : harian Kompas edisi 20 Maret 2022 di halaman 10 dengan judul “Durak Melawan Dunia”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme