Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Iblis Paris oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 03 Feb 2008

Ya, jika pada malam yang liar dan panas, kekasihmu tiba-tiba menusukkan moncong pistol ke lambungmu, sebaiknya dengarlah kisah brengsekku ini

Segalanya begitu cepat berubah setelah Khun Sa meninggal. Aku, boneka kencana Raja Opium Segitiga Emas yang disembunyikan dan kelak kau kenal sebagai Zita, memang tidak mungkin mengikuti upacara kremasi bersama-sama gerilyawan Shan. Aku tak mungkin mencium harum abu kekasih atau sekadar membayangkan mati perkasa dalam amuk api percintaan. Aku juga tak mungkin berjalan tertatih-tatih di belakang keranda dan mencoba menembakkan pistol di jidat sebelum kekasih lain mempertontonkan kesetiaan hanya dengan menangis sesenggukan. Sejak 1996 yang menyakitkan, Pangeran Kematian memang menyuruhku menghilang ke Prancis. Ia yakin benar Mong Thay Army, serdadu kepercayaannya, tak mungkin bisa melindungiku dari kekejaman para petinggi junta, sehingga memintaku menyingkir ke negeri yang tak terjangkau oleh bedil dan penjara Burma.

”Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan Maria di Lourdes? Bukankah kau ingin mendapatkan tuah Bernadette Soubirous?”

Tak memilih tanah indah bagi para peziarah itu, sambil memanggul kekecewaan yang teramat sangat, aku terbang ke Lyon. Di kota penuh katedral itu, ia membelikan aku rumah kuno dan segera kusulap bangunan mirip kastil seram milik Pangeran Kelelawar itu menjadi hotel sederhana. Jika suatu saat tersesat di Jalan Saint Michel, percayalah, kau akan menemukan aku dan Anjeli, adik perempuanku, mengelola hotel untuk para turis miskin itu.

”Di negeri Napoleon, kau tak perlu berbisnis heroin lagi, Zita. Percayalah, sampai aku mati, hotel itu akan tetap berdiri.”

Tanpa ia berkata semacam itu, aku memang berniat membebaskan diri dari apa pun yang mengingatkan aku pada segala yang kulakukan bersama 25.000 serdadu di hutan perbatasan Thailand, Laos, dan Burma. Aku tak ingin lagi dikejar-kejar oleh para cecunguk sialan yang mau dibayar murah untuk memenggal kepalaku. Jika harus membela bangsa Shan, aku tak ingin lagi mengirimkan serbuk iblis ke berbagai penjuru dunia. Ya, ya, aku toh bisa menggunakan cara lain untuk menghabisi para serdadu bengis itu Kerling mata, jari lentik, dan gairah yang meletup-letup saat aku menari, kurasa cukup menjadi senjata.

Hanya, aku heran mengapa ia tak mengembalikan aku ke Dhaka. Ke kota kali pertama ia memungutku saat aku bermain-main dengan Anjeli di Sungai Buriganga setelah banjir muson reda. Aku masih ingat pada 1971—saat kotaku menjadi ibu kota Banglades—Khun Sa meminta ayahku, Ghuslan, agar mengurus bisnis heroin di perbatasan Thailand-Burma. Karena tak ingin berpisah dari keluarga, ayah mengajak ibu dan kedua anak perempuan bergabung.

”Masa depan kita bukan di negeri ini,” kata ayah kepada ibuku, Katra.

Aku yang waktu itu masih berusia tujuh tahun sama sekali tak mengerti maksud ayah. Yang kutahu setahun sebelum peristiwa itu ayah dan ibu tak pernah lagi mengajak aku dan Anjeli ke gereja, tak suka lagi mempercakapkan sayap malaikat, dan juga tak mengenakan kalung salib di leher.

”Cepat atau lambat, kita akan terusir,” kata ayah, ”Karena itu, ada baiknya kita terima saja tawaran Khun Sa. Percayalah, ini hanya sementara, Katra. Setelah punya cukup bekal, kita akan berimigrasi ke Prancis. Bukankah kau ingin hidup berlumur kasih Maria di Lourdes?”

Antara lupa dan ingat, setahuku ibu tak menjawab. Hanya, malam itu juga dijemput sebuah jip, kami kemudian meninggalkan Dhaka. Meninggalkan alunan musik Gombhira-Bhatiali-Bhawaiya dan Delta Gangga-Brahmaputra yang subur. Belakangan aku baru tahu, kami juga harus menghapus kenangan pada angin tropis dengan musim dingin yang sejuk pada Oktober-Maret dan musim panas Maret-Juni. Dan yang tak mungkin kulupakan tentu saja musim monsun yang hangat dan lembab serta Kota Chittagong yang memiliki pantai terpanjang di dunia. Andai saat itu boleh memilih, aku tentu tak ingin jauh dari Kuil Dakeshwari, Istana Bara Katra, Hoseni Dalan, dan Benteng Lal Bagh yang membuatku bangga sebagai putri Banglades.

Rupa-rupanya ayah tak menduga setelah malam itu kami hanya akan hidup di hutan bersama pasukan bangsa Shan. Akan tetapi, jangan membayangkan dikepung pepohonan kami tak mengenal dunia. Khun Sa tak membiarkan putri-putri indah seperti kami tak bisa menghitung jumlah bintang di langit. Dengan mengundang guru privat dari Inggris dan legiun asing dari Prancis, ia juga tak membuat kami asing dari peta, kata-kata, dan bahkan senjata dari berbagai bangsa. Dan yang tak terduga, para istri pangeran pendiam itu, mengajari kami menari, mengenal bahasa tubuh, erang dahsyat percumbuan, serta memahami keindahan melawan kekejaman para junta.

Karena itu, tak perlu heran pada usiaku yang kedua puluh, aku telah mahir membunuh apa pun yang berkelebat dengan pistol andalan. Juga tak perlu kaget pada usiaku yang kedua puluh lima, Khun Sa memintaku menjadi kekasih tersembunyi.

”Siapa pun tak akan pernah tahu bahwa kau telah menjadi pewaris tunggal kekuasaanku. Kelak junta boleh menghabisiku, tapi kau tak akan pernah tersentuh. Kelak aku mungkin akan pura-pura menyerah, tetapi kau akan menyelamatkan bangsa Shan dari penindasan,” desis Khun Sa sambil terus-menerus mencakar punggungku.

Ah, menjadi kekasih tersembunyi, sangat makan hati. Dengan cara apa pun, kau akan kesulitan mengekspresikan rasa cinta. Hanya memandang takjub keperkasaan kekasih pujaan di hadapan serdadu lain, kau akan kesulitan. Hanya mencuri-curi pandang saat pria yang seharusnya lebih pas jadi ayahku memberikan maklumat kepada pasukan, mata-mata lain akan memelototimu. Karena itu, aku hanya hidup dalam rahasia sedih sang kekasih. Hanya ketika ia mengajakku—juga secara sembunyi-sembunyi—ke negeri-negeri yang jauh aku bisa merebahkan tubuh di dadanya. Hanya ketika ia meninggalkan puluhan kekasih di Burma aku bisa mengukuhkan diriku sebagai sisihan.

”Pada akhirnya aku akan tua, Zita. Pada akhirnya hanya kau yang bisa meneruskan perjuangan bangsa Shan,” kata dia sesaat sebelum memintaku berimigrasi ke Prancis, ”Dan aku tak memintamu kembali ke Dhaka karena kau tak mungkin bisa memimpin pergerakan di negeri yang hanya memberimu keindahan…”

Keindahan? Ah, aku telah melupakan keindahan sejak hanya kukenal pertempuran dengan para polisi yang mengejar-ngejar kami dari hutan ke hutan. Aku telah melupakan keindahan sejak para junta memaksa kami untuk segera menyerah dan memaksa tinggal di Rangoon tanpa kebanggaan sebagai pejuang. Aku tak lagi mengenal keindahan sejak cintaku kepada sang Pangeran Kematian hanya bisa disembunyikan di rerimbun dahan. Keindahan, kau tahu, hanya muncul, sesaat ketika bulan seiris jeruk memancarkan sinar tepat di pucuk Katedral Saint Jean. Dan sayang, sebagai orang yang terpenjara oleh pekerjaan rutin sebagai pengelola hotel, sungguh tak mudah dan butuh perjuangan panjang agar sampai ke situs peribadatan tak jauh dari Fourviere itu. Paling tidak aku harus berjalan kaki dengan tertatih-tatih ke Stasiun Saxe Gambetta, berganti-ganti kereta bawah tanah yang disesaki para imigran, untuk pada akhirnya merangkak ke tebing yang nyaris tegak lurus dengan langit dengan funicular, dengan kereta yang lebih mirip sebagai ular melata menembus lorong-lorong gedung sunyi selalu kubayangkan penuh kelelawar itu.

Kau mungkin menyangka setelah riwayat Khun Sa habis, berakhir pula nasib hotel tua dan sepasang perempuan yang kesepian. Oo, justru kini kehidupan yang sebenarnya sedang dimulai. Tak terikat pada siapa pun, aku justru berani berbisnis serbuk iblis kembali. Tak mungkin menggerakkan perjuangan melawan kekejaman junta hanya dengan mengandalkan doa para biksu dan duit keropos dari tabungan para pejuang Shan. Aku juga mulai tak suka pada kelembekan Aung San Suu Kyi yang tidak segera habis-habisan menghajar para junta dengan bayonet atau sekadar cakar. Karena itu, ketika bercermin, aku kerap membayangkan diri sebagai serdadu lagi, dan mencoreng-coreng wajah dengan water colour warna hijau. Aku juga mulai berkhayal menganggap semua gedung kuno di Lyon sebagai pohon-pohon raksasa di perbatasan Thailand-Burma. Serba hitam, magis, dan penuh ular yang bisa memangsa musuh yang terjebak dan kehilangan cara untuk menemukan sinar matahari kembali.

Tentu aku masih sangat mencintai Khun Sa, meskipun kurir heroin keturunan Aljazair-Spanyol, Aljir Duarte, yang memang bermata nakal, mulai berani meremas pantat dan mengajakku mandi bersama dalam kucuran shower yang sering macet, atau memelukku dari belakang ketika aku sedang berdandan di depan cermin buram, di kamar pribadiku yang berdekatan dengan gudang.

Dan mencintai Khun Sa, kau tahu, haruslah selalu menganggap diri sebagai pisau atau pistol mematikan bagi para musuh almarhum. Karena itu, kepada siapa pun aku tak pernah bercerita mengenai burung-burung dan ratusan angsa Khun Sa yang ribut tak keruan setiap mendengar derap kaki kuda kami beradu dengan tanah berdebu atau saat melihat kami bercumbu di rerimbun pohon penuh benalu.

Juga kepada Duarte, aku selalu waspada dan tak pernah kukatakan mengapa aku tak pernah mau tinggal di Paris atau sekadar berdoa di Katedral Notre Dame dan menikmati panas matahari musim dingin dari Sungai Seine.

”Paris adalah neraka. Iblis manis akan membunuhmu jika kau bermimpi tinggal di kota brengsek itu. Ketahuilah, Zita, sejak salah seorang kepercayaanku mengetahui aku mencintaimu, saat itu pula ia berniat membunuhmu. Kau dianggap akan melemahkan perjuangan. Karena itu, begitu tahu kau akan berimigrasi ke Prancis, saat itu pula ia mengirim pembunuhmu ke Prancis. Jadi, percayalah kepadaku, Zita, jangan pernah ke Paris. Dan jika aku sudah mati, jangan juga pernah bercinta dengan laki-laki dari kota penuh iblis itu.”

Dulu aku tertawa keras-keras saat Khun Sa mendesiskan kata-kata busuk itu ke telingaku. Dan kini aku juga tertawa terpingkal-pingkal ketika Duarte memamerkan rumah mungil di kawasan bekas biara di Jalan Notre Dame yang di foto terlihat seperti gang penuh reptil, kodok, pengemis, dan sepeda bobrok itu.

”Ayolah, Zita, aku akan mengubah segala yang tampak seperti neraka sebagai surga. Setiap hari akan kuajak kau bercinta dalam boat putih sebelum badai tiba,” dengus Duarte sambil menyeretku ke gudang penuh debu.

Hmm, pada mulanya aku memang agak tergoda untuk meninggalkan Lyon. Aku juga mulai berpikir untuk mengakhiri segala urusanku dengan bangsa Shan. Namun, selalu saja ketika dengus napas Duarte mulai memburu, aku selalu membayangkan lelaki kencana itu berubah menjadi iblis bersayap merah dengan moncong anjing yang melelehkan air liur bacin. Selalu saja aku tak sanggup memeluk atau sekadar mencium kening lelaki indah yang telah malih rupa jadi hewan berbulu runcing itu.

Kalau sudah begitu, Khun Sa akan muncul dari cermin dan membisikkan kata-kata aneh serupa mantra dari Negeri Kematian dan menyuruhku mengusir Duarte.

”Kau yakin, dia yang akan membunuhku?” desisku sambil berharap Khun Sa akan menggeleng.

Khun Sa bergeming. Ia tidak menggeleng, tetapi juga tidak mengangguk.

”Kau yakin, dia musuh terakhir yang harus kubunuh?” kataku sambil merogoh pistol yang selalu kusimpan di pinggang.

Dan karena dengan sangat cepat aku mengacungkan pistol ke kening Duarte, lelaki yang hendak mencumbuku dengan berahi yang meluap-luap itu kulihat menggigil ketakutan.

Menggigil ketakutan? Tidak! Tidak! Matakulah yang lamur. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia merebut pistol yang siap kuletuskan. Kini ganti Duartelah yang menusukkan ujung pistol itu ke perutku.

”Ya, sudah lama aku menguntitmu, Zita. Sudah lama aku akan membunuhmu. Tapi Khun Sa telah mati. Jenderal-jenderal lain juga sudah kabur ke negeri tetangga, apalagi yang akan kita bela?”

Tak kujawab pertanyaan Duarte. Kupejamkan mataku dan di layar serbahitam itu, kulihat Khun Sa bersama ratusan serdadu berkuda meletuskan seluruh senapan ke jantung Duarte yang tak terlindung oleh apa pun.

Dan karena peristiwa itu terjadi berulang-ulang—juga ketika Duarte serius meminangku—kini aku kian yakin, di Paris, aku tak akan pernah meninggalkan sepasang sandal, sehelai gaun, dan cincin pengantin.

Di Paris, kau tahu, hanya ada iblis yang tergesa-gesa mengetuk pintu dan menusukkan pistol di lambungku yang ringkih tanpa kendhit pengaman.

Sudah mati jugakah Thian?

Paris September 2007- Sydney Januari 2008

Triyanto Triwikromo (3 Februari 2008)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme