Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pantura oleh Danarto

Posted on Ming, 23 Mar 2008

Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat. Banjir masih juga melanda Pati, Jawa Tengah, meski sudah dua minggu, air tak juga surut. Sementara di Riau dan Jambi, hutan terbakar. Tapi apa peduliku, sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini, dari Pati ke Rembang, untuk menemui Kiai Zaim Zaman, barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda pesantren di desa kami. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km yang terdiri dari truk, mobil-mobil pribadi, kontainer, bus, maupun motor karena tak mampu menembus banjir.

Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas, sawah-sawah yang siap panen, perumahan, perkebunan, tambak, kolam ikan, dan pertokoan, meliputi kota-kota Demak, Kudus, Rembang, Pati, Jepara, Juwana, Tuban. Tapi, apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir.

Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Terdengar gelak-tawa seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Mendadak mendung datang menyergap disusul hujan lebat. Subhanallah. Saya yang satu minggu kehujanan terus, rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Tubuh saya menggigil dan saya sudah tak tahu jalan. Gelap gulita. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Rasanya tubuh ini beku.

Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Mendadak laju rakit ini terhenti. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar, namun tak kunjung muncul. Wahai, cahaya perak, cahaya perak. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Masya Allah, saya meraba tubuh orang. Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Saya semakin menggigil. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini mungkin tidak sedikit jumlahnya. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih banyak lagi korban. Ibu, ayah, dan anak-anak, juga nenek-kakek, cucu, cicit, ke mana mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan.

Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Hanya bukit yang cukup sulit didaki karena licin dan terjal. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan.

”Kalau ibumu ini mati,” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat, ”Cepat kuburkan.”

”Ah, ibu kok ngomong begitu,” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.

”Jaga adik-adikmu.”

”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Saya mau cari nafkah di Jakarta.”

”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu.”

”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik.”

Di atas atap dapur, ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Maka ketika banjir surut, kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu, ayah, dan kedua adik ke Jakarta. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Tapi mereka tak betah di Jakarta. Terlalu bising, katanya. Lalu boyongan kembali ke desa, meski selalu kekurangan tapi cukup bahagia, katanya.

Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Benar saja. Banjir yang lebih besar kali ini datang, ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan di rumah bertingkat kami. Alhamdulillah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan itu bermanfaat bagi sesama. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana-mana, sejauh mata memandang, air, air, air melulu yang tampak.

Tiba-tiba rakit mentok, sampai saya terjatuh. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit ini berhenti. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan.

Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga mempertajam tetes hujan bagai jarum. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan air lalu kembali tenggelam. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat teriknya. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk, di atap masjid itu tidak hanya baju, tubuh saya juga mengering. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini, alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta.

Di mana Pati, di mana Rembang, kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya, di mana para santri, putra maupun putri, berseliweran berlarian, bermain maupun berdebat soal jodoh, juga Tuhan, yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Rumah tertutup pohon mangga yang sangat rindang, manalagi, nama yang mengingatkan orang sehabis menikmati sebuah lalu minta lagi, manis dari akarnya. Seorang kiai dengan pohon mangga yang lebat buahnya, merupakan perpaduan yang elok, dalam ukuran apa pun.

Karena panas tak tertahankan, saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Meski sangat kesukaran, saya berhasil masuk ke ruang salat. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu air banjir, saya tertidur tanpa diawali kantuk. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. Waktu bangun, saya kaget bukan alang kepalang, Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. Saya bangun dengan sigap, mencium tangannya, menanyakan kesehatannya, meminta doa, berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.

”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu,” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik, ”Maka cepat-cepat saya menemuimu.”

”Subhanallah,” seru saya.

”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali.”

”Subhanallah.”

”Orang-orang modern bisa juga kesurupan, ya.”

”Subhanallah.”

”Salamualaikum,“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi.

”Pak Kiai,” seru saya sambil mengejar beliau, ada hal-hal yang perlu saya tanyakan.

Di luar, Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya, menjauh. Di dalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai yang mumpuni ini. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasa-jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman sekeluarga turun-temurun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau, tangan yang dua lengan itu, kaki yang dua jenjang itu, sementara di luar sana, orang-orang berteriak meminta tolong, banyak sekali, ya, banyak sekali.

Ketika saya kembali ke dalam, di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang banyak sekali. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini, dari imbalan yang bisa disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata, orang-orang pernah berduyun-duyun menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut:

”Saya bukan Kiai Zaim Zaman,” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu, ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau.”

Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar, saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Saya mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun, ke sebuah dusun yang sunyi, kepada ibu, ayah, dan kedua adik saya, yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.

Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek-kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk oleh sejawatnya yang selalu mengganggu, diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru.

Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu, saya pasrah setulus mungkin.

”Ya, Allah, semuanya ini milik-Mu,” doa saya.

Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh, ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!”

Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak, ”Gue ude konglomerat. Lo aja ambil yang masih kere!”

Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk-menimpuk sejadi-jadinya. Keadaan jadi kacau dan meriah. Penuh banyolan dan semprotan kata-kata konyol. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam.

”Ya, Allah, bukakan mata mereka. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya,” doa saya dengan kenceng.

Anehnya para sopir dan kenek itu, subhanallah, menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Saya tertegun. Seperti mati berdiri. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari, uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Bukan uang mainan. Masya Allah. Tuhan punya rencana.

Sesampai di rumah, ibu, ayah, kedua adik saya, dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita.

Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu, menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Menurut ibu, itu uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Dalam hati saya menyesal, kenapa saya tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya.

Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Persediaan makanan habis sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Dengan sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang, semakin kentara kami butuh bantuan yang tak kunjung datang.

Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu, ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub.

Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Subhanallah.

Tangerang, 14 Februari 2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme