Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kiriman Laut yang Terlambat oleh Beni Setia

Posted on Ming, 09 Mar 2008

Bila malam menjejak, memanjang sampai mau beranjak di penghujung lain, seiring dengan pasang naik, dari zona pesisir sebelum jalan membelok ke pedalaman, dari salah satu rumah yang dialingi pohon-pohon bakau dari tangan lautan itu akan bangkit tembang pilu mirip lolong. Mungkin juga bukan tembang, karena hanya ada satu kalimat yang diserukan dan diulang-ulang dari awal malam dan sempurna sampai mau pagi—seperti yang diceritakan Marklopo. Di rentang waktu saat para lelaki pergi melaut, ketika pasang mengapungkan perahu dari rangkulan lumpur, sampai saat terakhir untuk mendarat sebelum laut surut dan meninggalkan satu kilometer pantai berlumpur bau amis.

Lelaki rembulan yang berpedati. Lelaki rembulan yang berpedati,” katanya—dilantunkan oleh suara panjang melengking di tengah rintihan dan gerung tangisan. Lalu sunyi, dan suara angin hanya mendesus membuat daun-daun meriap di tengah sedu sedan dan isak kecil. Sebuah jeda emosi sebelum kembali mengeras menyerukan teriakan melengking, tidak ritmik tapi dalam melodi tajam yang diulang-ulang, semacam blues atau pekikan rock yang paling distortif—dan karenanya menyiksa yang mendengar. Tapi apa memang ada perempuan yang dikurung dan dibungkam lelaki, yang diam-diam mencari kesempatan pertolongan rahasia dari para perempuan dan anak-anak? Seperti si putri yang ditawan di menara oleh penyihir dan dijaga naga yang selalu tertidur bila malam tiba?

Mau petang di hari ketiga Perdadu mampir di rumah ujung, di dekat jembatan sebelum jalan membelok ke pedalaman menjauhi bibir pantai, pura-pura mencari air buat mengempukkan dedak campur ampas tahu dalam ritus memberi makan kuda dalam tahang. Ia menggulung tembakau mole dalam lembaran daun kawung, sambil menunggu Dojala, nelayan teman akrabnya, mendekat dan menyapa. Perdadu memberi tawaran tembakau dan irisan tiga perempat telapak tangan daun kawung kering, dan sambil duduk di pagar jembatan bercerita tentang panen hui yang berhasil dan musim berburu babi yang direncanakan bulan depan. ”Kamu ikut?” katanya. Angin berembus. Dojala mengisap rokoknya dan menggeleng. Perdadu melirik. ”Apa ada kaitan dengan perempuan yang menangis malam-malam itu?”

Dojala tak menjawab. Perdadu tak bertanya lagi. Angin reda. Membuat aroma amis ikan-ikan laut yang didodet dan dijemur tapi belum kering didera sergah panas matahari itu merajalela mengisi kampung, mengundang lalat dan serangga. Lalu angin bangkit, daun meriap dan sesekali ada derit batang yang bergesekan. Disusul bunyi anjing menggonggong, suara ayam berkotek kaget, merentet dan menendang-nendang ketenangan seperti pukulan panik penjaga malam pada lonceng pipa besi digantung dalam irama minta bantuan dari warga kampung. Kemudian segala reda, dan Dojala bercerita tentang Masteri, yang 12 tahun menduda dan sekarang selalu melaut dengan meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci. ”Tidak seperti biasanya,” kata Perdadu. ”Tidak seperti biasanya,” kata Dojala, membenarkan.

Obrolan itu jadi informasi tak lengkap, meski telah menjelaskan semuanya—tak akan lebih lengkap lagi sampai Masteri mau bercerita. Beredar ke pedalaman, ke sekitar 40 kampung dan lima desa dalam rentangan 50 kilometer. Disebarkan dari orang ke orang di warung, diperkuat oleh pertemuan di Pasar Bayah, 19 kilometer dari jembatan tempat omongan pertama dicetuskan. Lalu orang-orang yang saling bertanya, yang saling melengkapi, yang saling memperkuat dugaan dan khawatir itu tiba pada kesimpulan: Kenapa orang-orang di Kampung Paru itu tak mendobrak rumah Masteri, memintanya melepaskan kurungan dan siksaan pada si perempuan, mengembalikan kepada orangtuanya dan—bila bergairah—melamar dan mengawininya sehingga bisa bebas menyiksanya?

Raspulen, yang membuka warung nasi uduk dan jadi jujugan di pasar—selain Nisoto dan Wargepuk—membuat simpul baru. Perempuan itu bukan apa-apanya Masteri, tapi dititipkan Lokrapu di sebelah, yang tak mempunyai kamar untuk menampung karena anaknya lima. ”Tapi kenapa mau?” kata banyak orang. Raspulen mengangkat bahu. Dan ketidaklengkapan itu membuat orang-orang makin penasaran, membuat orang-orang diam-diam melakukan penyelidikan. Hasilnya masih nihil, hasilnya hanya berputar pada misteri informasi pertama yang tak lengkap. Seseorang bercerita pada polisi dan polisi itu mengangkat bahu. ”Itu ada dalam lingkaran keluarga, dan mungkin menyangkut aib keluarga atau kehormatan keluarga yang kudu dijaga sehingga kasusnya setengah disembunyikan,” kata Tokpentung sambil lembut menyeruput kopi. Orang-orang menatap dan membungkam. Apa ia dapat suap?

Pada hari kelima Kunpenyu mulai membangun persekongkolan. Ia, yang istrinya asli dari Kampung Paru, menghubungi setiap orang di Lelang Ikan, dan diam-diam minta tolong dan dukungan untuk menyerbu rumah Masteri, karena ia tahu kalau orang-orang—terutama para perempuan dan anak-anak—sudah tak kuat dengan lolong tangis dan lengking minta tolong dari rumah Masteri itu. ”Kenapa si Dojala, Nucumi dan Palkepiting itu hanya diam saja?” kata banyak orang. Kunpenyu celingukan. Seakan-akan takut kalau tiba-tiba Masteri di sana, muncul entah dari mana dan langsung menggampar, karena beranggapan telah menebarkan aib keluarga. Dengan separuh berbisik ia bercerita kalau lolong tangis dan teriakan perempuan itu hanya muncul kalau malam turun dan para lelaki telah melaut, memanjang sampai tiba saat para lelaki mendarat.

”Awalnya tidak ada yang tahu selain para perempuan dan anak-anak, mereka mendatangi rumah Masteri dan menemukan semuanya terkunci—dan begitu didekati suara tangis dan teriakan itu berhenti, tak menjawab meski pintu dan jendela diketuki. Baru tiga hari yang lalu para lelaki mengerti, mau tahu, dan meski rumah ditinggal Masteri melaut tapi para lelaki tidak berani mendobraknya karena begitu didekati suara tangis dan teriakan itu berhenti. Perempuan itu ketakutan.”

”Jadi …?”

”Kita bikin ia berani dengan mengalahkan Masteri.”

”Caranya?”

”Senin depan, setelah lelang ikan, kami akan menyerbu rumah Masteri. Ikut?”

Perahu ditambatkan dan terbenam dalam lumpur ketika pasang surut. Bau amis bangkit, menjadi pertanda beristirahat sebelum pasang naik tiba dan perahu itu dibangkitkan seperti zombies dimunculkan dari kubur dan bergerak kaku dituntut si pemilik mantra. Orang-orang mengangkat keranjang-keranjang ikan ke tepian, yang langsung didatangi para pengepul dari Pasar Bayah dan kampung-kampung pedalaman. Transaksi terkadang berlangsung singkat, karena setiap orang hanya bertemu dengan langganannya. Sedangkan ikan-ikan sisa akan diambil ibu-ibu kampung buat dimakan sendiri atau didodet dibuang isi perutnya sebelum dihamparkan dalam rak penjemuran—sehingga bau amis seperti tidak ada habisnya. Orang-orang bercakap. Menunggu Masteri menghabiskan sarapan dan segelas kopi di warung. Mengikutinya diam-diam dan begitu ia masuk rumah, seusai membuka kunci gembok, orang-orang segera mengepung dan melempari rumah itu dengan batu dan potongan kayu.

Masteri tersentak. Dengan membawa dayung rompal ia meloncat ke halaman.

”Ini apa? Ada apa?” teriaknya. Atap rumahnya runtuh semua. Cahaya matahari leluasa di seluruh kamar. Dojala mendekat. ”Terus terang saja, Ri,” katanya, ”Kamu menyembunyikan siapa? Kamu apain perempuan itu sehingga hanya bisa menangis sepanjang malam dan mengganggu orang kampung?” Masteri terbelalak. Mengawasi orang satu per satu. Berbalik. ”Tuturkeun …,” katanya, sambil mendahului, membimbing memasuki kamar demi kamar dan membukai jendela demi jendela—bahkan pintu dapur di mana banyak orang menunggu seseorang melarikan diri ke situ. ”Tak ada siapa-siapa di sini. Tidak ada apa-apa di rumah ini meski seminggu ini, tiap ditinggal melaut selalu saja berantakan seperti ada yang muring-muring mengobrak-abrik tempat ini. Aku curiga pada semua orang tapi apa untungnya masuk ke sini? Maka kukunci rumah, dan hasilnya tetap berantakan—malah sekarang hancur lebur,” katanya.

”Maaf.”

”Tapi tahukah kamu kalau dari rumahmu selalu ada perempuan menangis dan berteriak minta tolong semalaman?”

Masteri menggeleng. Dan orang-orang tersenyum. Nucumi menggulung rokok kawung, menyulutnya dan memberikannya pada Masteri. Si lelaki yang hanya berkaus kutang, dengan celana bekas melaut yang kedua pipanya basah itu menerima sodoran lintingan itu. Dojala bercerita tentang kegelisahan, ketakutan serta simpati para perempuan dan anak-anak akan perempuan yang disangkanya dikurung di rumah Masteri, sehingga hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong—sambil seseorang menirukan teriakan melengking dan melodius yang minimalis diulang-ulang. Mata Masteri berkilau oleh takjub, tidak percaya dan ingin tahu. ”Kenapa kalian nggak mendobrak rumahku?” Mereka menggeleng. Bilang kalau suara itu selalu hilang begitu didekati dan berubah jadi senyap saar jendela dan pintu diketuki dan namanya dipanggili. ”Maafkan kami, Ri. Kami pikir si perempuan itu ketakutan dan tak berani karena kamu kasar…” kata Dojala. Masteri bungkam.

Siang itu ia pindah istirahat di rumah Dojala—menunggu janji orang-orang yang akan membangun rumah di ladang di belakang rumah Dojala, seberang jalan selepas jembatan dan belokan di dekat tebing sungai. Tapi ia tak bisa beristirahat, orang-orang sekampung dan yang dari pelelangan ikan berurutan datang, membawa penganan dan minta maaf dengan tulus. Masteri mengiyakannya. Kemudian orang-orang yang dari Pasar Bayah dan akan pulang ke kampung di pedalaman mampir menyimak cerita sambil menunggu sais dokar dan pedati beristirahat dan memberi ransum kuda di dekat jembatan di depan rumah Dojala. ”Sesungguhnya itu apaan? Kenapa bisa tiba-tiba muncul padahal selama 45 tahun dan 12 tahun menduda aku tidak menemukan hal aneh di situ?” kata Masteri. Orang-orang mengangkat bahu. Bertanya tentang jimat, akik atau barang pusaka warisan yang dimiliki Masteri. Yang ditanya menggeleng. Jadi apa?

Malam hari tangis dan teriakan itu muncul dan saat didekati senyap. Siangnya seluruh papan dinding dan daun pintu dan jendela dicopoti, dan malamnya mereka mengintip dari jauh saat si perempuan itu muncul sebagai suara tanpa ujud—berteriak minta tolong. Suara tangisan dan teriakan itu muncul dari kolong rumah, merayap naik ke atas dan bergaung di ruang kamar rumah panggung yang malam sebelumnya bersekat. Tapi apa yang ditangisi, siapa yang menangis, dan kenapa terdampar di situ tak pernah jelas. Dan ketika mereka bersiap akan memindahkan kerangka rumah, setelah seluruh papan lantai diangkat, di kolong rumah itu mereka menemukan kepala busuk perempuan berambut ikal yang kuping, hidung, kedua bibir, dan kedua matanya habis dicuil. Itu mungkin diapungkan pasang naik dan kemudian digondol anjing-anjing kampung ke kolong rumah Masteri—yang bilang, di seminggu lalu anjing ramai berebutan makanan di kolong rumah, dan tak mau pergi saat diusur dengan jejakan kuat di lantai papan.

Tanpa banyak cakap mereka menyiapkan penguburan sempurna, memakamkannya di tempat di mana kepala itu ditemukan. Sejak saat itu suara tangis dan teriakan minta tolong tak terdengar lagi, meski setahun sekali, tepat semalam sebelum hari pasang naik luar kelaziman yang mendamparkan kepala itu ke Kampung Paru—entah dari mana—perempuan akan menangis dan berteriak minta tolong sepanjang malam. Tapi orang-orang sudah terbiasa dengan tangis dan teriakan itu. Bahkan sebulan setelah seluruh kerangka rumahnya diusung, dipindahkan dan ditegakkan di tebing sungai Masteri nandur bibit bakau di bekas rumahnya, yang tanahnya selalu lembab karena resapan pasang naik, sehingga kuburan itu segera terkurung jajaran bakau yang rapat sepanjang pantai— empat rumah yang tersisa diam-diam dipindahkan ke seberang jalan.

Dan seluruh pantai itu kini ditumbuhi bakau, dan anak-anak generasi kemudian lebih percaya kalau semua itu suara angin di batang bakau bila setahun sekali si perempuan itu mulai menangis dan berteriak minta tolong.

Catatan:
tahang: ember kayu diperkuat beberapa cincin besi
mole: tembakau rajangan yang belum diberi bumbu
jujugan: tempat yang dijadikan acuan/tujuan datang
kudu: harus
rompal: sisinya tak lagi rata, rusak karena dipakai
muring-muring: uring-uringan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme