Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ropponggi oleh Ain Siynora

Posted on Ming, 02 Mar 2008

Stasiun Nagoya terlihat sangat sibuk, bahkan di siang hari. Aku melangkah gontai menuju bangunan depannya yang berwarna pualam dengan relief lengkung sebagai pintu masuk utamanya. Aku seperti mengenal tempat ini dengan lebih baik daripada tempatku bekerja. Dan sebulan terakhir ini tampaknya menjadi kenangan yang indah antara aku dan Stasiun Nagoya, yang akan berakhir hari ini.

Ketika sudah berada di atas kereta Shinkansen dalam perjalanan kembali ke Tokyo, aku tiba-tiba mengerti arti sebuah kalimat di apartemen kecilku yang lebih merupakan perangkap daripada sekadar tempat tinggal. Kalimat yang ditinggalkan penghuni sebelumnya. Dia mencoret-coret dengan kasar pada pintu toilet sebuah kalimat sederhana tetapi tidak sesederhana itu. ”Tuhan itu Adil, tetapi Dunia Tidak!” pesan singkat dari surga atau dari korban kehidupan Dunia.

Iming-iming tangga sukses yang menunjuk langit membuatku melakukan gerakan banting setir yang berbahaya. Kutinggalkan bertahun-tahun latihanku untuk menjadi seorang art director yang hebat dan beralih menjadi seorang penata cahaya pertunjukan. Cahaya yang bernama Tokyo itu sungguh telah menyilaukan mataku. Menutupi perasaanku. Dan sekarang semua kegetiran ini harus kutanggung sendiri.

Kutekan mata dengan lenganku, berusaha menghapus ingatan dan impian. Hancur sudah kerja keras selama tiga tahun. Selama itu aku tidak tidur dengan baik, tidak makan dengan baik agar bisa mendapatkan hari seperti hari ini.

Tetapi Nagoya tidak berpihak padaku. Hari ini aku dipertunjukkan sebuah citra tersembunyi tentang kehidupan binal para seniman cahaya seperti diriku. Karyaku dibajak, sebuah masterpiece kehidupan yang tercipta dari kepalaku telah dicuri. Aku yang begitu suci, berontak, amarahku meluap, mataku membuta, seingatku kujatuhkan semua orang di hadapanku dengan sumpah serapah dan aku pun menjadi seorang tertuduh. Martabatku yang ganti dijatuhkan dan aku memilih pergi. Mulai sekarang aku harus memasang papan nama ”sumpah serapah” di depan dadaku setiap kali aku ingin tahu ke mana kesempatan dan impian itu pergi.

Lalu sesosok bayangan muncul di permukaan Danau Hana-Miya. Dan sejak tiga tahun lalu aku selalu berdiri di sini, berdampingan dengan pohon sakura Hana-Miya. Pohon sakura kesukaan Hagu-chan, sahabat terbaikku di tempat nan asing dan dingin ini

Ini hampir akhir bulan Maret. Dan seluruh kota Tokyo sebentar lagi akan menggelar Festival Hanami yang diadakan untuk melihat dan menikmati sakura mekar. Orang akan menggelar tikar di taman-taman yang ditumbuhi pohon sakura jenis Shomei-yoshino yang paling terkenal di Tokyo. Pemerintah Jepang sudah mengumumkan prediksi mereka bahwa tahun ini sakura akan mekar selama 11 hari.

Jika sakura mekar, berarti Hagumi akan segera terbang kemari dari mana pun dia berada. Dia adalah contoh gadis pemberani. Dia kabur dari apartemen mahal orangtuanya di Central Park West Manhattan demi mengejar impiannya di negaranya sendiri. Dia juga seorang yang berhasil keluar dari kegetiran stres pascatrauma yang dialaminya akibat ”kesadaran anesthesia” ketika dia masih berusia 10 tahun. Siapa pun pasti bergidik ketika membayangkan kondisi di mana pasien tetap sadar penuh selama operasi berlangsung meski sudah mendapat anesthesia (obat bius). Kisah Hagu berhasil membetotku keluar dari ruang hidupku yang kecil. Dia pernah mengutip sebuah kalimat, ”Jepang itu seperti bubur budaya yang mendidih, yang tak pernah berhenti membakar agar mereka tetap ada”. Lalu dia pun membawaku keluar ke semua tempat itu, ditemani Yuji-san, kekasihnya yang seorang pemain saham yang beruntung.

Sebuah pesan singkat muncul di ponselku. Hagu memintaku bertemu di tempat biasa, Ropponggi. Hatiku seakan berbunga, terlupa kalau aku baru saja terhukum, terpojok pada dinding. Aku bergegas menuju subway jalur Hibiya agar bisa secepatnya sampai di Stasiun Ropponggi.

Roppongi. Sebuah image hedonisme dunia malam di kota Tokyo. Aku biasa ke sini jika aku rindu sate atau rendang, atau sekadar mengusir penat dengan berjalan-jalan seputar Ropponggi Hills, atau ketika aku mulai bermimpi lagi, sedang menata cahaya sebuah pertunjukan di Suntory Hall, auditorium musik terbaik di dunia, atau ketika kuingin memasuki Vanilla, Gaspanic dan Velfare, klub malam terbaik di Ropponggi untuk sebuah tujuan mahal bernama inspirasi.

Velfare adalah tempat tujuanku, kami biasa berkumpul di sini. Klub dengan kapasitas 2.000 orang dan memiliki Superbe– Lighting System. Cahaya indah yang selalu membuatku kagum seakan sedang jatuh cinta.

Tapi Velfare sedikit muram malam ini. Aku memilih duduk di bar ketika tak kutemui Hagu atau Yuji di sana. Ken’ichi atau Kenny, bartender yang sudah sangat kukenal, memandangku sejurus lalu mengatakan kalau aku sudah ditunggu sejak tadi. Lalu menunjuk orang yang duduk di sampingku. Aku berusaha mengenalinya, tetapi belum apa-apa, sorot mata tajamnya mencabikku tanpa ampun. Aku pun bergidik.

Kenny menjelaskan bahwa dia adalah teman Hagu dan Yuji. Seorang penata cahaya tersohor di Jepang, pernah menerbitkan buku tentang penataan cahaya, dan salah satu karyanya adalah tempat ini. Velfare.

”Apa Anda sedang mengerjakan proyek di Nagoya?” tanyanya begitu tiba-tiba yang kujawab dengan gelengan kepala penuh rasa panik dan bingung. Lantas tanpa sungkan dia bertanya, ”Apa kau menjiplak karya orang lain?!” Aku pun berontak dan berteriak ”Omong kosong apa ini!!” lalu bergegas pergi. Namun dengan cepat orang itu mencengkeram tanganku sambil berujar, ”Aku yang mendiskualifikasi karyamu. Apa kau tidak tahu bedanya membuat karya sendiri dan meniru pekerjaan orang lain?!” Aku tidak bisa bicara hanya bisa berteriak dalam hati lalu berlari, menabrak tubuh-tubuh berpeluh dengan bau parfum yang wanginya lebih memabukkan daripada alkohol. Orang itu masih tetap mengejar. Aku menerobos keluar tak peduli tatapan aneh dari orang-orang. Pria itu menggapai pundakku dan membalikkan tubuhku dengan kasar dan berteriak lagi, ”Haruskah kau kutampar agar bisa sadar!!” Aku lelah dituduh.

”Aku tidak meniru. Orang lainlah yang membajak karyaku. Aku… aku…” Ropponggi yang gelap di malam hari jadi semakin gelap.

Sebersit cahaya satu-satu menyentuh kelopak mataku, membangunkan kesadaranku. Ruangan yang dipenuhi jejak cahaya yang ditata indah menyorot seperti lampu mercusuar yang menindas tubuh-tubuh yang tergeletak di sampingku. Hagu dan Yuji, juga sesosok tubuh yang berdiri di depan pintu. Aku mengenalnya, aku membaca bukunya, aku fans terbesarnya. Ryusuke Sekiguchi, sang Maestro Cahaya. Dia menulis bahwa ”Cahaya itu punya sebuah rahasia. Dia akan terlihat lebih indah di kegelapan. Dan sosok yang tersorot cahaya itu akan terlihat seperti bidadari yang terselubung gemerlap bintang”. Dan pria itu baru saja memaksaku memuntahkan sepotong kesalahpahaman pikiran yang telah kutelan bertahun-tahun. Lewat senyumnya dia berusaha memberi tahu kalau Ropponggi hanyalah sebuah kota terselubung cahaya dengan berbagai image-nya yang berkilau, dan tak lebih dari itu.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme