Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mimpi-Mimpi Bissu oleh Wawan Kurniawan

Posted on Ming, 13 Mar 2022

Sahar tak sadar jika ia tengah bermimpi. Tapi seperti calon bissu1 lainnya, akhir dari mimpinya akan menjawab pertanyaan pantas atau tidaknya Sahar menjadi seorang bissu. Walaupun di luar mimpi Sahar belumlah jadi seorang bissu, di dalam mimpinya Sahar kemungkinan mengalami hal sebaliknya. Saat Sahar terbangun dari mimpi panjangnya, dia melihat apa yang tak dilihat oleh ibunya sendiri.

—

SEBELUM menjadi bissu, beberapa bissu lainnya mengalami peristiwa dalam mimpinya masing-masing. Sahar sendiri harus melihat Gerakan DI/TII yang datang memberangus para bissu pada masa itu. Kejadian ketika sekelompok anggota DI/TII memaksa para bissu untuk kembali menjadi lelaki yang sesungguhnya membuat para bissu tertekan. Jika menolak, nyawa jadi taruhannya.

Para bissu bahkan dipaksa untuk bekerja di sawah dan meninggalkan ritualnya yang dianggap berhala. Tak jarang, Sahar melihat satu atau dua bissu harus mengorbankan nyawa demi mempertahankan keyakinannya. Jika tak bermimpi tentang tragedi bissu itu, Sahar akan bertemu seseorang yang mengenakan jubah putih yang menggunakan bahasa bissu, bahasa langit yang hanya akan dikuasai oleh para bissu. Jika bukan tentang itu, Sahar akan melihat dirinya berada dalam sebuah ritual yang sakral.

Mimpi Sahar

Malam itu di bola ridie2, sebuah ritual bagi seorang bissu baru hendak dimulai, suara gendang dan seruling diikuti nyanyian sejumlah bissu kepada dewa terus dilantunkan. Sahar memejamkan mata sembari merapalkan doa, tak terasa dirinya menitikkan air mata. Puang matoa3 memandangi sepasang potto ulaweng4 yang diletakkan di atas bosara5. Potto ulaweng itu bergerak dengan sendirinya. Menghasilkan suara-suara kecil di tepi bosara.

”Sudah, sebentar lagi para dewa akan tiba,” pesan puang matoa beberapa saat setelah pusaka itu kembali terdiam. Para bissu yang duduk bersila membentuk lingkaran terus melanjutkan lantunannya. Aroma dupa tersebar ke seluruh ruangan. Setelah ritual ini berakhir, akan ada ritual lain yang ingin dilaksanakan. Sudah tiba waktunya, puang matoa akan digantikan oleh bissu yang dianggap mampu melanjutkan hubungan bissu dengan dewa. Dan semakin dekat pergantian itu, air mata Sahar mengalir tak terbendung. Ada yang terkenang di ingatan Sahar. Malam itu purnama tampak sempurna, sebuah ramalan hendak menjadi kenyataan. Ramalan tentang dirinya, jauh sebelum dia dinisbahkan menjadi seorang bissu.

***

Ketika Sahar masih berusia sepuluh tahun, saat dirinya pertama kali mengunjungi pamannya di Bone. Saat itu juga tak jauh dari rumah pamannya itu, tengah berlangsung ritual para bissu saat hendak merayakan musim panen. Mendengar riuh suara keramaian, dia berlari keluar rumah pamannya mengikuti suara-suara itu. Tubuhnya yang masih kecil membuatnya dengan mudah melewati kerumunan. Menyelip melewati satu demi satu tubuh orang dewasa yang menjadi dinding untuk Sahar.

Di kesempatan itu pulalah, pertama kalinya dia melihat seorang bissu yang menari dengan lincah dan indah. Hingga salah seorang bissu menusuk lehernya dengan ujung keris, Sahar terkesima. Bunyi dentuman gong membuat bissu itu semakin keras menekan keris di lehernya dan juga matanya. Suara gendang, pui-pui seruling yang nyaring, serta simbal semakin membuat bissu itu seakan hilang kendali. Meskipun bissu itu menekan keris, setetes darah sama sekali tak keluar dari atas kulitnya. Melihat itu, mulut Sahar menganga seakan tak percaya. Hingga tarian bissu selesai, dia masih berdiri mematung.

Sahar baru pulang setelah pamannya datang menjemputnya. Saat itu juga, dia melihat pamannya berbincang dengan salah seorang bissu. Mereka tampak akrab. Alis Sahar berkerut setelah mendengar percakapan mereka dengan bahasa yang tak dimengerti. Dilihatnya pakaian putih bissu itu dengan serban putih melilit di kepala seperti mahkota ala raja. Saat Sahar masih memperhatikan paras bissu yang berbicara dengan pamannya itu, bissu itu kemudian berhenti lalu menyapa Sahar, ”Kau mirip sekali dengan puang lolo6 waktu beliau masih kecil, kulit putihmu, lesung pipimu, dan tatapanmu, mirip sekali! Kelak kau bisa jadi bissu seperti kami.”

Begitu banyak pertanyaan di kepala Sahar waktu itu, namun dipendamnya hingga bertahun-tahun lamanya. ”Mengapa mereka menusuk dirinya sendiri?” pertanyaan itu kemudian baru dilontarkan pada seorang bissu di bola ridie, sembilan tahun setelah melihat ritual kejadian itu di Bone. ”Di Soppeng, bissu tidak ditakdirkan untuk belajar maggirik7. Sudah menjadi ketentuan jika Bone mewarisi keberanian, sedangkan Soppeng mewarisi kesejahteraan atas kehidupan.”

Tiap kali Sahar datang berkunjung, puang matoa merasakan kesenangan yang luar biasa, bahagia melihat seorang pemuda yang bersemangat mempelajari tentang bissu. Dari mata Sahar tampak kesungguhan yang tak biasa. Kedatangan Sahar selalu disertai dengan sejumlah pertanyaan yang membuat puang matoa bercerita panjang lebar. Puang matoa dengan senang hati menyalakan lampu pessepelleng8 sebelum dia memulai ceritanya yang panjang.

Diceritakanlah Sahar tentang silsilah para raja, masa lampau bissu yang hidup dalam istana, sejumlah pusaka yang terjaga. Sahar tak lama lagi akan dilantik sebagai seorang bissu, namun sebelumnya dia diminta untuk ikut melaksanakan ritual massapo wanua9. Namun, tiga hari sebelum ritual itu dimulai, sebuah kabar dari Bone membuatnya bersedih. Pamannya meninggal setelah diserang penyakit yang tak diketahui penyebabnya. Hanya Sahar yang mengetahui segala kebenaran yang menimpa pamannya itu.

Sejak kecil hingga menjelang dewasa, Sahar kemudian rutin mengunjungi pamannya yang hidup seorang diri di Bone. Jarak tempuh Soppeng dan Bone tak terasa jauh lagi bagi Sahar. Hubungan mereka berdua kemudian tampak semakin dekat. Ibu Sahar, yang merupakan kakak kandung dari pamannya, memercayakan Sahar membantu saudaranya itu yang bekerja sebagai perias pengantin di Bone. Bahkan Sahar sempat diminta untuk menetap di Bone, namun ayah Sahar tak memberi restu. Dia tak ingin nasib Sahar mengulang nasib pamannya. Sahar bahkan harus menerima tamparan keras dari ayahnya saat dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang bissu. Sebulan berselang setelah murka ayahnya meledak, tubuh ayah Sahar ditemukan kaku tak bernyawa setelah digigit ular di kebunnya.

Mimpi Sahar II

Kejadian ganjil yang menimpa Sahar membuatnya terus merenung. Jika hatinya merasa waswas dan gagal menemukan rasa damai, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah berkunjung ke bola ridie. Di sanalah Sahar akan melepas resah dan mencoba menenangkan dirinya. Tapi kala itu, bukannya rasa damai yang dia dapatkan, sesuatu yang tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh Sahar. Ketika sebagian dari dirinya pun tampak semakin nyata dan belum sepenuhnya dia kenali.

Seusai Sahar bercerita tentang ayah dan pamannya, puang matoa dengan serius menanggapi dan memberikan pandangannya yang mungkin membantu Sahar.

”Kau harus lebih sabar. Begitulah, Nak, kau sudah ditakdirkan jadi seorang bissu.” Seperti itulah yang Sahar dengarkan dari puang matoa saat menceritakan ayahnya. Belum lagi saat Sahar menceritakan kisah tentang pamannya di Bone. Bahwa pamannya begitu akrab dengan para bissu yang ada di Bone, tapi belum sempat dia menjadi seorang bissu, ajal telah menjemputnya.

Sejenak puang matoa terdiam setelah mendengar cerita tentang paman Sahar yang di Bone. Seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri, puang matoa lalu menjelaskan sesuatu yang sulit diterima oleh Sahar. Puang matoa bercerita jikalau masalah yang menimpa paman Sahar itu akibat dari gagalnya menjalani ritual menjadi bissu.

”Bagaimana Puang Matoa bisa tahu kejadian itu?” Sahar sendiri tak menyangka jika ritual bissu itu punya risiko yang tinggi.

”Jika tidak berhasil, hanya ada dua pilihan. Pertama dia akan meninggal, yang kedua dia akan gila. Beruntung dia tak meninggal seketika.”

”Apa harus seperti itu, Puang?”

Di mimpi yang lain, pamannya pernah datang sembari memintanya untuk mengurungkan niat menjadi seorang bissu. ”Jika kau tak lagi suci, ritual itu hanya akan membuat menderita seperti aku,” pesan pamannya. ”Apa yang kita lakukan saat kau menemaniku waktu itu tidak akan membuatmu berhasil melewatinya.” Sahar terus terbayang dengan peristiwa malam itu dengan pamannya. Saat mereka tindih-menindih dan membiarkan nafsu menjadi raja.

Lamunan itu hilang setelah puang matoa kembali bertanya, ”Pamanmu di Bone gila setelah gagal melewati ritual. Apakah kau ingin ikut gila seperti pamanmu itu?”

Sahar menjawab dalam hati. Puang Matoa… aku sudah mendapati mimpi ini berkali-kali. Pertanyaan pamanku juga telah menghantuiku sejak lama. Jika harus mengulang nasib pamanku itu, aku yakin dewa punya rencana lain yang lebih baik. Aku menyesal membiarkan tubuhku ditindih oleh pamanku sendiri. Dan gagal menahan diri kala itu. Tapi dewa telah memanggilku untuk berada di tempat ini, atau mungkin hendak menghukum kami berdua. Aku dan pamanku.

Puang matoa masih menunggu jawaban Sahar, tapi dia masih membisu, lalu menangis tanpa menitikkan air mata.

***

Saat pagi tiba, ibu Sahar mengetuk pintu kamar anaknya yang dari luar terdengar berisik. Lantaran tak ada jawaban, dia masuk lalu melihat anaknya itu tertawa melihat bantalnya lalu menunjuk bantalnya yang basah karena air mata, Sahar berteriak-teriak sambil melompat-lompat di atas kasur, ”Darah… darah… darah….” lalu tak lama setelah itu, dia menangis terisak. Saat itu ibu Sahar terkenang almarhum adiknya yang semestinya tak perlu dia pertemukan dengan anak semata wayangnya, Sahar. Malam nanti Sahar akan kembali bermimpi menjadi bissu. (*)

Catatan:

1. bissu: pendeta Bugis kuno yang menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan dewa

2. bola ridie: rumah pusaka para bissu di Soppeng

3. puang matoa: pimpinan bissu

4. potto ulaweng: gelang emas, salah satu pusaka di Bola Ridie

5. bosara: wadah yang digunakan suku Bugis untuk menyimpan kue atau persembahan

6. puang lolo: sebutan untuk wakil dari pimpinan bissu

7. maggirik: salah satu kekuatan kebal para bissu

8. pessepelleng: lampu bissu yang terbuat dari kemiri dan kapas

9. massapo wanua: ritual tolak bala di Soppeng

 

WAWAN KURNIAWAN : Menulis puisi, cerpen, esai, novel, dan menerjemahkan. Buku puisinya Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Aku Mengeong (2021) adalah kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan Indonesia Tera.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 13 Maret 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme