Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : “Hatoban” oleh Budi P. Hatees

Posted on Ming, 13 Apr 2008

Tak usahlah kusebut nama gadis yang aku cintai itu. Ia sudah pergi dan semua ini hanya kenangan. Cukup aku jelaskan serba sedikit: ia sangat cantik, tetapi kecantikannya pudar tersebabkan suatu hal yang tidak bisa diubahnya; disebabkan karena ia hatoban.

Seribu tahun lalu leluhur margaku, panusunan bulung, menaklukkan leluhur marganya dalam sebuah drama pertempuran yang kolosal. Leluhur margaku berhasil menggiring leluhur marganya ke tepi Aek Lappesong yang deras dan berbatu-batu di mana sebuah jurang menganga dan mengaum garang. Hanya ada dua pilihan bagi leluhur marganya, meloncat ke mulut jurang dengan risiko berkeping-keping dicabik batu cadas, atau takluk kepada leluhur margaku dengan risiko hidup sebagai hatoban.

Pilihan kedua yang dipilih leluhur marganya, entah apa alasannya. Aku meyesalkan pilihan leluhur marganya itu. Kalau saja ia memilih pilihan pertama, tak akan kualami kisah ini. Tapi tidak, ia pilih pilihan kedua. Sejak itulah cerita ini bermula dan hingga hari ini keturunan leluhur marganya tetap menjadi hatoban. Dengan sendirinya dirinya pun menjadi hatoban.

”Kau tak bisa mengubah itu,” kata Inang ketika aku cerita betapa ia, gadis yang aku cintai itu, telah merebut hatiku dengan cara yang sangat lembut. ”Bagaimana mungkin keluarga panusunan bulung menikahi hatoban.”

Alamak! Vonis Inang betul-betul meruntuhkan hatiku. Kenapa Inang membuat semuanya menjadi begitu berat. Padahal Inang tinggal merestui hubungan kami. Habis perkara. Tetapi aku tak berani mendebat Inang. Bisa kualat aku. Aku diam saja ketika Inang mewanti-wanti agar aku jangan pernah lagi memikirkannya. ”Kau mau semua hatobangon di kampong ini memusuhi kita,” ancam Inang.

Amang seperti biasa tak banyak cakap. Ia menatapku dengan cara yang sangat aneh.

Tak kutanggapi kemarahan Inang, tak kumasukkan ke hati tatapan Amang. Aku diam saja meskipun dalam hati aku merencanakan akan menemui gadis yang aku cintai itu secara sembunyi-sembunyi. Maka aku temuilah ia secara sembunyi-sembunyi. Kami berkasih-kasihan secara sembunyi-sembunyi, sehingga hubungan kami menjadi sangat akrab dan kami berencana akan menikah. Lalu rencana itu pun tebersit; kami akan marlojong.

Tetapi ketika tiba hari yang kami rencanakan untuk marlojong, tiba-tiba Amanguda, adik kedua Amang, mencegat kami saat melewati jalan setapak menuju kota kecamatan. Tidak banyak cakap ia dan langsung menghantam hidungku dengan tinjunya. Sakitnya minta ampun. Kepalaku pusing bukan main, tetapi aku diam saja. ”Dasar kau tak tahu adat. Kau mau merusak paradaton. Kau itu anak raja.” Amangudaku diam. ”Kau ditunggu Mangaraja Marulam di rumah. Habislah kau kali ini!!!” Amangudaku menyebut nama Amang, lalu berbalik kepada perempuan yang aku cintai. Ia terlipat ketakutan. Ia menyembunyikan wajahnya pada lututnya. Aku kasihan sekali padanya. Amangudaku menyemprotnya dengan makian-makian yang memerihkan hatiku. ”Dasar hatoban. Tak tahu diri kau. Anjing kau. Babi kau….”

”Amanguda!” Aku melawan. ”Dia sama seperti aku, kami sama-sama manusia.”

Sesungguhnya hubungan kami sudah berlangsung sangat lama, sejak kami kecil. Kami lahir pada hari yang sama, tetapi jamnya yang berbeda. Aku lebih tua tiga jam. Perbedaan yang lain, aku lahir dibantu seorang bidan. Ia lahir dibantu Ompu Erna, seorang datu beranak. Aku lahir di puskesmas, sedang ia lahir pada salah satu kamar di belakang rumahku.

Di kamar itu Inang dan Amangnya tinggal sebagai pembantu kami. Entah sejak kapan mereka tinggal bersama kami. Kedua orangtuanya sangat baik kepadaku. Mereka memperlakukan aku seperti kepada anaknya sendiri, apalagi aku sangat akrab dengan putri mereka. Keakrabanku tak pernah dipersoalkan siapa pun, termasuk Inang maupun Amang. Barangkali karena mereka mengira kami masih anak-anak dan semua keakraban kami hanya sebatas hubungan anak-anak.

Tetapi mereka keliru. Itulah hubungan yang menumbuhkan perasaan membahagiakan. Setiap kali bersama perempuan yang aku cintai itu, aku merasa sangat hidup. Aku menjadi seorang laki-laki dewasa yang dirongrong oleh perasaan ingin selalu melindunginya. Rupanya ia tahu aku sangat menyayanginya dan begitu melindunginya. Ia bangga sekali mendapat perlakuan seperti itu dariku. Aku menyadarinya karena ia selalu berusaha memberi peran besar kepadaku agar aku tetap berusaha melindunginya.

Begitulah kami selalu bersama sejak kecil. Ketika beranjak dewasa, aku mulai memiliki perasaan yang luar biasa ketika berdekatan dengannya. Ada debar dalam jantung aku setiap kali kami bersitatap. Matanya yang bulat dan bercahaya itu betul-betul meruntuhkan jiwaku. Ketika itulah aku susah payah menata kata untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Aku juga kepayahan menyusun keberanian untuk mengungkapkan kata-kata cintaku.

Setelah bertahun-tahun, setelah kami sama-sama bersekolah di SMA, barulah kata-kata itu tersusun rapi bersama dengan menguatnya keberanianku. Maka, sepulang dari sekolah, saat kami berjalan berdua di bukit padang lalang menuju perkampungan—satu-satunya SMA hanya ada di kota kecamatan—aku minta ia berhenti karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Saat itu kami berada di puncak bukit, dan dari tempat itu kami bisa melihat matahari menggeser tubuhnya ke barat secara perlahan-lahan. Aku bilang padanya bahwa aku jatuh cinta dan tidak akan bisa menjalani kehidupan ini tanpa dirinya. Aku berdebar-debar menunggu jawabannya. Aku sangat takut ia menolak. Tetapi ia tak menolak, hanya mengangguk pelan. Aku lihat kulit pipinya yang putih bersih itu memerah seperti bunga kincung. Sore itu aku melihatnya seperti bidadari yang baru keluar dari dongengngan. Lalu aku peluk tubuhnya, aku cium keningnya dengan keriangan yang luar biasa.

Sejak itu kami berkasih-kasihan. Semakin hari, semakin dalam aku masuk ke hatinya. Semakin dalam pula ia menyusup ke hatiku, mengendap sari-sari jiwanya di darahku. Karena keriangan yang luar biasa, aku pun mengungkapkannya kepada Inang. Dengan kening berkerut, Inang berkata, ”Dia hatoban dan sampai kapan pun tetap hatoban. Kau tidak bisa dekat dengannya.”

Seharusnya tak kusampaikan kepada Inang tentang perasaanku kepada gadis yang aku cintai itu. Tetapi aku terlalu bahagia dan sangat ingin agar orang lain ikut menikmati kebahagiaanku. Tetapi keputusan aku itu ternyata jadi petaka. Sejak Inang tahu, ia melarangku berdekatan dengan gadis yang aku cintai itu. Malah, suatu hari Inang menghardik orangtua gadis yang aku cintai itu dengan sangat kasar. Aku tak tahu bagaimana dan kapan kejadiannya. Mungkin saat kami sedang berkasih-kasihan secara sembunyi-sembunyi di pinggir Aek Lappesong, atau saat kami sedang di sekolah. Yang jelas, orangtua gadis yang aku cintai itu meminta dengan sangat kepadaku agar menjauhi putri mereka. Aku bilang tidak bisa. ”Aku mencintainya, sangat mencintainya,” kataku.

Orangtua gadis yang aku cintai itu menangis. Mereka memohon. Aku bersikeras. Saat itulah muncul gagasan itu. ”Kalau begitu, kami akan marlojong,” kataku.

Mereka kaget. ”Jangan!”

Aku tak peduli. Malam itu pun aku mengajak gadis yang kucintai itu marlojong. Ia mengangguk. Kami pun membuat rencana. Dan ketika rencana itu final, kami pun bergerak. Sayang, Amangudaku mengetahuinya. Lalu….

Semua harapanku kandas. Dengan cara yang sangat kasar Amang mengusir aku dari kampong. ”Kau tak bisa menjaga adat,” katanya.

”Inang sudah mengingatkanmu,” timpal Inang.

Aku diam saja. Ada kemarahan meledak, tetapi aku tahankan. Juga ketika aku melangkah meninggalkan kampong mengikuti perintah Amang. Ia seorang yang keras, kaku, dan tidak boleh dibantah. Maklum, ia seorang raja, raja dalam trah marga kami, panusunan bulung. Apa pun yang ia katakan adalah titah. Panusunan bulung itu turunan langsung dari mulajadi nabolon. Aku, anak tunggalnya yang juga pewaris panusunan bulung, hanya bisa menunduk meninggalkan kampong.

Aku diwajibkan ke Jakarta, ke rumah Inangboruku, adik perempuan Amang. Ketika aku tiba di rumah Inangboruku yang luas dan megah di Jakarta Selatan, ia langsung mewanti-wanti dengan sekian banyak peraturan dalam rumah yang tak boleh aku langgar. Aku sudah membayangkan akan menjalani hidup yang kerontang, setidaknya mirip kehidupan yang dijalani Inangboruku.

Inangboruku menikah dengan orang dari Mandailing, tetapi aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Orang Mandailing itu, Amangboruku, konon kabarnya tidak terlalu peduli dengan situasi Inangboruku dan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Ia seorang polisi laut, bekerja di Pelabuhan Tanjung Priok, dan banyak menghabiskan waktunya di sejumlah hotel dan bar bersama para pengusaha pengiriman barang. Mereka sengaja menjamu Amangboruku dan membuatnya merasa dihargai agar Amangboruku tidak perlu memeriksa jenis-jenis barang yang mau keluar maupun yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Amangboruku memang tidak memeriksanya, tetapi dengan syarat para pengusaha itu menyisakan saham di perusahaan mereka masing-masing 20% untuk dimilikinya. Itu sebabnya Amangboruku sangat kaya, sangat kaya. Tetapi aku yakin, suatu saat ia akan jadi sasaran petugas yang bekerja di Komisi Pemberantasan Korupsi. Suatu saat pasti. Karena hidup Amangbaruku dengan mobil yang selalu baru dan Inangboruku selalu mempertontonkannya kepada setiap orang dalam acara arisan yang penuh percikan ludah basi, sangat terkesan seolah-olah mereka punya saham juga di PT Perusahaan Uang Republik Indonesia (Peruri).

Aku tak terlalu memusingkan itu. Aku cuma pusing oleh bayangan gadis yang aku cintai itu. Ia tidak pernah redup. Seperti bola lampu yang terbuat dari cahaya keabadian, ia berpijar-pijar dalam diriku. Ia menyala-nyala dalam hatiku. Tetapi entah di mana ia saat ini.

Sejak Amangudaku menangkap tangan kami saat mau marlojong, ia mendapat perlakuan yang tidak baik dari setiap orang di kampong. Perlakuan yang lebih kurang seperti diberikan Amangudaku saat menangkap tangan kami. Dan, karena kasihan pada dirinya, orangtuanya mengajaknya pindah ke tempat lain tanpa memberitahuku ke mana.

Itulah salah satu alasan aku menerima perintah Amang agar pergi ke Jakarta.

Namun, aku selalu memikirkan gadis yang aku cintai itu selama bertahun-tahun. Ia tak tergantikan oleh apa pun, oleh siapa pun. Semakin tahun ia semakin berpijar-pijar. Nyalanya lebih terang dari matahari, lebih indah dari rembulan. Sampai bertahun-tahun kemudian aku kembali ke kampong saat tidak muda lagi. Tapi aku tetap saja seorang pemuda dengan jantung yang berdebar-debar seperti dulu sembari membayangkan aku akan bertemu dengannya.

Meskipun aku tak yakin ia akan ada di sana mengingat bagaimana ia sangat disakiti orang kampong sehingga memutuskan pergi. Entahlah, dadaku berdebar-debar sepanjang perjalanan pulang. Aku menata kata-kata yang pas untuk disampaikan kepadanya. Situasi ini sama persis seperti bertahun-tahun lalu ketika aku akan mengatakan cinta kepadanya.

Dan tiba-tiba semua seperti baru dimulai, seperti tidak pernah ada yang berubah.

Tak usahlah kusebut nama gadis yang aku cintai itu. Cukup aku jelaskan serba sedikit: ia sangat cantik, tetapi kecantikannya pudar tersebabkan suatu hal yang tidak bisa diubahnya. Juga saat aku temui ia kembali, beberapa tahun kemudian. Ia berdiri di tempat kami sering berkasih-kasihan, di pinggir Aek Lappesong yang tak dialiri air lagi. Di sana tak ada batu-batu cadas karena orang-orang menambangnya. Tetapi yang sangat menarik bagiku adalah sosoknya. Ia tidak berubah sama sekali, juga kecantikannya. Waktu tak membuatnya lebih tua. ”Kau?” kataku.

Ia tersenyum. ”Ya, aku. Aku menunggumu di sini bertahun-tahun. Aku yakin suatu saat kau akan menepati janjimu.”

Catatan:

Hatoban: Budak. Sebagian masyarakat adat Batak Angkola Sipirok menyebut mereka jappurut. Ini status sosial yang diterima seseorang sebagai bagian dari garis darah ayah, dan tidak ada situasi apa pun yang bisa mengubahnya. Status ini didapat sekelompok marga karena warisan, di mana leluhur mereka kalah dalam perang marga yang menjadi tradisi di lingkungan masyarakat adat Batak Angkola Sipirok untuk memperluas daerah kekuasaan.

Hatobangon: para tetua adat.

Panusunan bulung: pembuka perkampungan masyarakat Batak Angkola Sipirok.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme