Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cinta pada Sebuah Pagi oleh Eep Saefulloh Fatah

Posted on Ming, 25 Mei 2008

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.

Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya.

Rambut lebat Asti dibiarkan memanjang menjuntai di punggungnya hingga nyaris ke pinggul. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan Arnando.

”Tak apa-apa hidungmu pesek. Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata Arnando sambil menyentuh lembut salah satu bukit yang menjulang di dada Asti, pada sebuah pagi yang lain.

”Lebih baik daripada apa…?” sela Asti merajuk.

”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di bawahnya.”

Arnando tergelak. Asti hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti inilah yang sangat disukai Arnando. Karena itu, ia gemar menggoda Asti terutama pada setiap pagi yang jadi milik mereka.

Kadang-kadang Arnando berpikir bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan kepasrahan korban buruan.

Asti adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari. Sepanjang minggu. Sepanjang tahun.

Arnando membayangkan. Seperti itulah ibunya dulu selagi muda bekerja di rumah masa kecilnya di Yogyakarta. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan tertata. Mengurus suami, ayah Arnando, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik enam orang anak laki-laki yang sungguh susah diatur. Tanpa pernah mengeluh. Satu kali pun.

Asti pun tak banyak menuntut. Menyangkut materi, permintaannya selalu sederhana. Minta daster baru. Minta dicarikan sepatu tali yang lebih kuat. Ketika butuh tas, ia tak minta tas kulit mahal, tapi tas dari plastik atau kulit imitasi, asal cukup kuat untuk bepergian. Benda sedikit berharga yang pernah dimintanya adalah radio-tape untuk di kamar. Pernah ia minta dibelikan gelang emas 10 gram. Itu pun dimintanya dengan tersipu. Bukannya dipakai dan dipamerkan, Asti malah menyembunyikan gelang itu di dalam laci lemarinya yang selalu terkunci.

Untuk banyak alasan, yang tentu saja disetujui Arnando, Asti memang tak pernah memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberian Arnando. Ia menyimpan dengan rapi barang-barang itu serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.

Arnando adalah burung hantu yang setia hinggap di dahan yang sama di tiap malam. Lelaki rumahan. Inilah pula yang disukai Asti. Arnando selalu tersedia baginya. Setiap saat.

Dengan Arnando yang selalu tersedia, Asti tak pernah merasa tertimbun dalam tumpukan pekerjaan. Baginya, hari-hari di rumah adalah saat-saat menyenangkan. Ia tak merasa terpenjara. Ia merasa seperti berdiam di sebuah istana.

Melukis adalah satu-satunya pekerjaan yang Arnando lakukan. Ia menghabiskan sebagian besar hari-harinya di studio. Hidupnya seperti lalu lintas di antara studionya yang berantakan, ruang makan, dan tempat tidur.

Uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Arnando tak punya penghasilan rutin seperti orang kantoran. Ia sendiri tak pernah mau mengurus keuangan. Ia tak terlalu peduli apakah uang mereka sedang melimpah atau mereka sedang bangkrut. Untunglah, di rumah ia tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang.

Untunglah pula, Arnando termasuk produktif. Berpameran setidaknya dua kali setiap setahun. Satu pameran tunggal dan satu lagi bersama koleganya, satu atau beberapa pelukis lain. Dari penjualan lukisan di setiap pameran itulah ia mendapatkan uang yang lumayan. Setidaknya, cukup untuk hidup bersahaja sepanjang tahun.

Belakangan, ketika lukisannya mulai dilirik kolektor, kadang-kadang uang datang sendiri bersama para pemburu lukisannya. Ketika namanya makin banyak disebut oleh para kurator dan peresensi seni rupa, ia sendiri jadi makin tak yakin apakah yang diburu lukisannya atau guratan tegas namanya, ”Arnando Mahoni”, di sudut kanan atau kiri bawah tiap lukisan itu.

Arnando merasa hidupnya lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat Asti, ternyata rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah.

Bisa mengatur sendiri hidupnya, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal rutin lain, adalah kemewahan lain milik Arnando. Ia merasa hidupnya sudah selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamnya itu.

Pagi ini, Arnando masih berkutat dengan lukisan yang tak juga usai itu. Lukisan 1 x 1 meter yang kelihatannya akan dicengkeram warna biru muram.

”Nggak sarapan dulu?”

Tiba-tiba suara Asti menyereruput punggung telinganya. Dua bilah tangan putih melingkari pinggang Arnando. Asti merapatkan badannya di punggung Arnando. Wangi-pagi-hari tubuh berkeringat Asti yang khas membuat Arnando segera berbalik.

Asti dan Arnando saling merapat dalam balutan ”pakaian dinas pagi” masing-masing. Asti dalam dasternya. Arnando dengan kaus oblong dan sarungnya. Keduanya seperti sepasang merpati yang saling mencari pagutan di tengah puncak musim kawin.

Seperti pada pagi-pagi lainnya, setelah sebuah ciuman panjang yang tak terputus, mereka beringsut dari studio menuju kamar di sebelahnya. Tanpa banyak bicara. Pada pagi yang masih belia, Asti dan Arnando bercinta. Seperti pada hampir setiap pagi lainnya. Kecuali pada akhir pekan atau liburan. Tentu saja.

Ketukan di pintu itulah yang akhirnya membangunkan Asti dan Arnando dari letih yang nyaris melelapkan. Jumlah dan nada ketukan itu sudah memberi tahu keduanya siapa yang datang pagi itu.

Asti dengan sigap membereskan tempat tidurnya. Lalu, menyelinap keluar kamar sambil meninggalkan senyum penuh arti untuk Arnando. Semacam terima kasih yang tak terucap untuk tiap kenikmatan yang baru saja mereka reguk. Sosoknya hilang ditelan daun pintu, melangkah sedikit tergesa ke pintu depan.

Arnando mengenakan sarung sekenanya. Lalu, kembali ke studio di sisi kamar itu.

Sepi menyergap sesaat hingga pecah oleh suara kesibukan Asti di dapur. Rupanya, Asti sudah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Samar-samar, Arnando mendengar langkah yang sudah sangat dikenalnya. ”Mas, berkas-berkasku tertinggal. Selalu saja begini kalo aku terburu-buru. Ini aku belikan sarapan kesukaanmu….” Suara lembut Ratih terdengar persis di punggung Arnando.

”Makasih sayang.” Arnando mengambil kotak makanan dari tangan Ratih dan membiarkan perempuan itu segera berbalik pergi setelah mencium bibirnya sekelebatan.

”Aku langsung buru-buru balik ke kantor lagi ya… Love you!” Suara Ratih dan tubuh rampingnya berkelebat. Lalu menghilang.

”Love you too…”

Pagi sudah tak lagi belia ketika Arnando mendengar suara mesin cuci mulai dinyalakan Asti. Sementara ia masih mematung, berdiri di depan sang calon lukisan biru muram yang tak juga usai.

Pagi masih belum beranjak, ketika suara mobil Ratih mulai terdengar. Lalu, melamat makin menjauh. Arnando tahu persis, suara mobil istrinya itu akan kembali datang kala malam bertandang kelak.

Bintaro Jaya, 3 April 2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme