Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Serenade Kunang-kunang oleh Agus Noor

Posted on Ming, 18 Mei 2008

Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.

Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.

Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian…”

Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.

”Dan yang ini?”

Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil…

”Laki-laki yang romantis rupanya!”

Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang kepingin yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.

”Busyet!!”

Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?

”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta.”

Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.

”Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!”

Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi—entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.

”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…”

Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi…

Maaf, aku mesti pergi.

”Mau ke mana?”

Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.

”Kau suka kunang-kunang?”

”Hmm.”

”Aku suka kunang-kunang…”

”Hmm.”

”Aku suka matamu…”

”Hmm”

“Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.”

”Hmm…”

Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya kemari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.

Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku kemari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di zaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.

Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpan kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.

”Kau lihat kunang-kunang itu?!”

”Hmm…”

Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu—mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota…

”Enggak tidur?” Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.

Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.

Seperti jeritan yang teredam, handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih handphone itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.

”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. ”Anakku sakit …”

Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi, aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.

Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri….

Jakarta, 2005-2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme