Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wanita Bertato Ular oleh Daisy Rahmi

Posted on Sab, 26 Mar 2022

Sambil meneguk air es di gelas, ketika melintas dekat jendela, sebelah tanganku menyibak gorden. Semburat merah di ufuk barat. Lalu lalang kendaraan tak lagi sepadat siang tadi, tapi wanita itu masih di sana. Sosok bergaun biru bagai manequin di keremangan senja. Topi bertepi lebar dan kacamata hitam membuat wajahnya sulit dikenali. Aku merasa ia sedang menatapku meski tak bisa kulihat matanya.

”Ada apa?” tanya Senna. Ia menjenguk dari balik bahuku. ”Apa yang kau lihat?”

”Wanita itu. Dia mengawasiku.”

Senna mengamati perempuan yang duduk di halte seberang jalan.

”Kenapa?”

”Entah. Itu menggangguku.”

”Laporkan saja pada polisi.”

”Apa yang dilaporkan? Dia tak melakukan apa pun selain duduk di sana sepanjang hari.”

Langkah kaki mendekat, pemiliknya berhenti di ambang pintu. Kemunculan Angga menyela sekaligus mengakhiri percakapan. Aku menggeram kesal dalam hati. Lelaki itu selalu tahu kapan waktunya ikut campur.

”Waktunya pulang, Senna,” ucapnya disertai tatapan menegur.

”Tentu. Tunggulah di mobil. Aku segera datang.”

Seketika laki-laki tersebut berbalik pergi tanpa sekali pun memandangku. Terdengar pintu depan dibuka dan ditutup kembali.

”Aku pergi sekarang.”

Kutandaskan sisa air dalam gelas lalu menaruh wadah yang telah kosong ke meja.

”Dia tidak menyukaiku. Kenapa?”

”Abaikan. Dia tak bisa mencegahku bertemu denganmu.”

Kuantar Senna keluar rumah. Dapat aku rasakan mata yang mengawasi lewat kaca spion. Kendaraan yang terparkir tersebut dinyalakan, Angga duduk di belakang kemudi. Deru mesin mobil menggambarkan dengan jelas perasaan si lelaki kepadaku.

”Dia pergi,” gumam Senna.

”Siapa?”

”Wanita itu.”

Mataku mengikuti arah pandang Senna. Tidak ada lagi sosok bergaun biru yang duduk di halte seberang jalan. Senja berganti malam. Gelap yang datang sedikit terusir oleh nyala lampu. Senna menatapku. Kecemasan membayang di matanya.

”Perasaanku tak enak. Menginaplah di rumah kami beberapa hari.”

Dengan tegas kutolak sarannya. Berjam-jam menerima sorotan mata penuh curiga Angga. Membayangkannya saja aku jengkel.

”Senna!”

Angga mulai hilang sabar. Tak lagi sekedar memainkan gas, pria tersebut menurunkan jendela mobil dan memanggil si gadis dengan nada memerintah. Senna menatapnya sekilas.

”Sampai nanti,” ucapnya padaku.

”Jangan biarkan dia mengatur hidupmu.”

Gadis di hadapanku tersenyum kecil.

”Tidak akan.”

Aku masuk ke rumah bersamaan dengan mobil yang meluncur pergi. Pintu kukunci lalu membuka wadah plastik yang dibawa Senna. Aku makan malam sambil melamun. Tiga minggu berlalu sejak aku membuka mata di rumah sakit tanpa memori. Benarkah aku kenal Senna? Aku ragu meski si gadis menyakinkanku tentang hal itu. Bagaimana dengan Angga? Dia jelas-jelas tak menyukaiku dan mengekor Senna seperti bayangan.

Kubuang sisa makanan ke tempat sampah setelah lelah berpikir lalu mencuci tempatnya. Besok, paling lambat lusa Senna pasti datang lagi. Aku pastikan semua pintu dan jendela telah terkunci sebelum tidur, kebiasaan yang baru dilakukan dua hari belakangan. Keberadaan wanita bergaun biru membuatku waspada. Aku yakin ia masih mengawasi meski tak lagi duduk di halte seberang jalan.

***

Bukan Senna yang mengetuk pintu rumah dua hari kemudian, tapi Angga. Lelaki tersebut tak tampil serapi biasa. Bulu-bulu halus tumbuh di dagu dan pipinya tanda belum bercukur. Dengan malas kuhadapi dia di ambang pintu, sama sekali tak berniat menyilakan masuk.

”Senna tidak ada di sini.”

”Aku tahu.”

Alisku terangkat.

”Untuk apa ke sini? Kusangka kau asisten pribadi yang membuntutinya 24 jam.”

Lelaki itu tak menggubris sindiranku.

”Ayo ikut.”

Melihatku bergeming, dipegangnya sikuku dan berbisik.

”Jangan kira aku tak akan bersikap kasar hanya karena kau perempuan.”

Mata kami bertemu. Aku bergidik, dingin merambat di tulang belakang. Meski tahu Angga tak menyukaiku baru kali ini aku lihat kebencian meluap-luap di matanya. Kuikuti dia ke mobil tanpa sepatah kata. Sesaat berselang kendaraan tersebut melaju dengan aku yang duduk beku di samping sopir. Angga mengabaikan aku saat mengemudi melintasi jalan-jalan yang tak kukenal.

”Kenapa kembali?” tanya Angga tanpa mengalihkan pandangan.

Tercengang, kutatap ia lekat. Aku kembali? Kembali dari mana?

”Aku tak mengerti maksudmu,” jawabku.

Angga mendengus. Kakinya menginjak gas. Jarum speedometer bergerak cepat ke kanan. Lelaki itu mengemudikan mobil seperti kesetanan. Aku panik dan ketakutan. Kesepuluh jari tangan mencengkeram pinggiran tempat duduk. Tubuhku basah oleh keringat dingin. Berbagai pikiran buruk melintas.

”Hentikan!” jeritku.

Mobil berhenti mendadak. Diriku, yang tidak memakai sabuk pengaman, terdorong maju. Kepala nyaris terantuk ke kaca depan. Angga mendahului bicara sebelum aku bereaksi. Suaranya tajam mengiris.

”Ini peringatan pertama dan terakhir. Senna adikku, jangan coba-coba melakukan sesuatu padanya seperti yang kau lakukan padaku.”

”Tunggu dulu!” tukasku marah, ”Aku benar-benar tak tahu yang kau bicarakan. Apa yang sudah kulakukan?”

Ekspresinya ganjil saat memandangku. Detik berikutnya Angga terbahak. Tawanya keras membahana, tubuhnya sampai terguncang-guncang. Aku terkejut, bingung, dan waspada. Pria ini tidak waras rupanya.

”Siapa yang hendak kau tipu, eh?” ucapnya di sela gelak.

Mataku berkilat marah. Kutatap laki-laki tersebut tanpa bicara. Dari sikap Angga, percuma saja menjelaskan aku tak ingat peristiwa sebelum tiga minggu lalu. Lawan bicaraku menyeringai.

”Kau menikmati ini? Baiklah. Anggap saja begitu. Ingat baik-baik satu hal, aku tahu siapa sebenarnya dirimu.”

Raut jijik terbayang jelas di wajahnya saat menatapku.

”Keluar,” perintahnya.

”Apa?”

”Keluar!” bentak Angga.

”Kau gila,” umpatku sambil bergegas turun.

Roda-roda mobil berputar menggilas jalan, meninggalkan aku yang kembali mengumpat. Kesulitan mencari taksi karena tempat turun bukan jalan raya, aku baru menemukannya lima menit kemudian. Diriku duduk melamun di kursi belakang selama perjalanan pulang. Kemarahan Angga membuktikan satu hal: aku memang kenal Senna.

***

Selama beberapa hari aku lupa tentang si wanita bergaun biru, insiden dengan Angga mengalihkan pikiranku darinya. Baru teringat lagi ketika melihat dirinya suatu sore. Melihatku keluar rumah dan menyeberang jalan, perempuan yang semula duduk itu bangkit. Aku percepat langkah melihat gelagat hendak pergi. Kecurigaanku terbukti, ia memang mengawasiku.

”Tunggu!”

Seruanku tak diacuhkan. Wanita itu berusaha lari, tapi kalah cepat. Pergelangan tangannya berhasil kucekal yang seketika kulepaskan. Rasa panas menjalar dari kulitnya yang bersentuhan dengan kulitku. Aku terpana melihat rajah berbentuk ular di pergelangan tangannya. Melingkar seperti gelang, tato itu membara dalam cahaya senja. Sekilas tampak lidah bercabang ular yang menjulur mengancam sebelum perempuan bertato tersebut lari.

Tak banyak orang yang berpapasan denganku sore itu. Satu dua pejalan kaki yang melintas dan seorang penjaga toko menatap heran melihatku mengejar wanita bergaun biru. Yang kuikuti lari tanpa kesulitan, kebalikan denganku. Napas mulai memburu, titik-titik peluh bermunculan di dahi. Sesaat kemudian perempuan tersebut berbelok dan lenyap dari pandangan.

Jalan itu diampit deretan bangunan di kanan kiri, sebagian berpagar besi kokoh. Mataku menangkap kelebat gaun biru sebelum menghilang di balik pintu. Sosok yang kukejar masuk ke bangunan paling ujung. Kemungkinan besar perangkap tapi tak ada jalan lain mencari tahu. Dengan dugaan itu, aku tidak terkejut saat pintu menutup dengan bunyi keras di belakangku.

Diriku bermandikan cahaya lampu yang dinyalakan tiba-tiba. Aku ada di tempat yang dindingnya kusam, retak dan berjamur. Di sudut ruangan terdapat tangga spiral menuju balkon. Aku mendongak, memandang si wanita yang berdiri di sana. Tanpa kacamata hitam, terlihat bentuk matanya serupa mata kucing dengan pupil kecil.

”Siapa kau?” tanyaku, ”Mengapa mengawasiku?”

Hening.

Jari wanita tersebut menekan sebuah tombol dan keempat sisi dinding lenyap digantikan puluhan cermin yang mengurung diriku. Pergelangan tanganku terasa terbakar dalam waktu yang sama. Aku meringis kesakitan dan jatuh terduduk, terbelalak ketika rajah berbentuk ular perlahan muncul di pergelangan tangan. Pantulan di cermin merupakan kejutan kedua. Rambut pendekku berubah putih panjang. Wajah tua yang sama sekali asing, bentuk mata mirip mata kucing….

Kata-kata Angga terngiang di telinga, aku tahu siapa sebenarnya dirimu….

***

Daisy Rahmi kelahiran Manado. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta.

sumber : kompas.id, 26 Mar 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme