Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sesudu Senyum-senyum oleh Sasti Gotama

Posted on Ming, 03 Apr 2022

Moi, sulur merah dedar itu berasal dari Langit. Bumi hitam diam ini pun dari Langit. Merah kental asin di lengan saya juga milik Langit. Ada ribuan nama Langit, yang diucap lidah saya, lidah kamu, lidah sesiapa saja. Namun, kita tahu hanya ada satu Langit. Sambil baring di bumi lembab ini, saya bertanya-tanya: jika kita berasal dari yang Satu, mengapa dada kita sulut api?

Saya masih ingat, ketika badan saya masih sepinggang bapa, kamu menapakan kakimu yang cokelat terang itu di tanah kami. Di tengah debu yang melayang-layang seperti serpuk pala, kamu menyepak batu-batu jalan sambil senyum-senyum di belakang bapamu yang mendorong gerobak beroda. Mamamu membawa tas rajut biru gendut, sedangkan adik perempuanmu suka senyum-senyum sambil mengangguk-angguk kepada sesiapa saja yang duduk-duduk di beranda. Di belakang adikmu, serombongan bapa dan mama yang belum terlalu tua membawa ana-ana.

Kata bapa, kalian berasal dari pulau berapi. Gempa berkali-kali dan tampaknya akan segera muntah api. Kalian diminta pergi ke tanah yang bertetangga dengan kami. Surat perintah telah kalian terima dari bapa tua di kota, dan kalian pun membangun rumah papan di tanah ini.

Sebelum petang, jika bapamu tak suruh tanam jagung dan kacang, kamu dan kawan-kawanmu main di lapangan. Kita beradu bola kaki di bawah matahari yang membuat badan kita bau dan berdaki. Tapi bukan kelihaianmu yang buat saya rajin ke lapangan berdebu ini. Adik perempuanmu yang suka senyum-senyum itu selalu rajin bawa air dan ubi rebus. Ia duduk di tepi lapangan sambil tebar senyum-senyum yang seperti kapuk ditiup angin nakal.

Usai main bola, kamu ajak saya duduk dekat alang-alang sambil makan ubi yang tercemar senyum-senyum adikmu itu. Gara-gara itu, saya ketularan. Saya jadi suka senyum-senyum juga. Kamu tanya, kenapa saya senyum-senyum sendiri. Karena malu, saya hanya tertawa.

Lalu kamu berkata, ”Sekarang saya susah senyum-senyum e. Mungkin saya rindu sama rumah lama. Baunya seperti campuran cengkih dan pala. Kamu tahu e, kadang saya mimpi bau. Saya pikir orang tak bisa mimpi bau, tapi anehnya, saya bisa.”

Saya ingin cerita kalau saya juga punya mimpi-mimpi tak biasa. Saya mimpi senyum-senyum adik kamu. Gara-gara itu saya bangun sambil senyum-senyum juga. Mama saya sampai bingung dan suruh guyur saya pu muka. Tapi saya tak bisa bilang. Nanti kamu bisa ejek saya dan bikin teman-teman ikut tertawa.

Saya tepuk punggungmu. ”Sejak kamu injak tanah ini, jadilah ini rumahmu juga. Kamu mau tak ingat lagi bau rumah? Sini, coba cium ketiak saya. Mungkin kamu bisa lupa bau rumah lama.” Kamu tertawa dan pukul lembut saya pu bahu.

Tetapi kamu tak tertawa lagi ketika kita main bola. Kamu jatuh dekat gawang karena kaki Bastian yang menyilang. Temanmu yang berbadan besar lalu dorong Bastian hingga jatuh. Karena itu, Suleman tak terima dan pukul hidung teman kamu yang besar itu hingga ia mengaduh. Suasana jadi ricuh.

Saya lihat adik kamu tak lagi senyum-senyum di tepi lapangan. Saya tak suka jika ia tak senyum-senyum. Saya beri tangan saya ke kamu dan bantu kamu berdiri. Saya bantu kamu jalan ke tepi. Saya kompres kaki kamu yang bengkak dan saya katakan ini bukan masalah. Nanti malam kamu pu kaki perlu dibebat dan digantung lebih tinggi.

Kamu mulai senyum-senyum lagi. Adik kamu juga senyum-senyum lagi. Senyum-senyum itu menular dan yang di lapangan pun berhenti baku hantam. Mereka pun ikut senyum-senyum dan saya suka jika kita semua senyum-senyum seperti itu.

Itu tujuh belas tahun lalu waktu kita cuma pakai celana pendek dan main bola tanpa alas kaki. Sekarang kita jarang jumpa karena kamu belajar di ibu kota. Tapi saya dengar, kamu pulang pekan ini. Saya ingin jumpa. Ada yang saya ingin utarakan. Saya yakin kamu akan senyum-senyum jika telah dengar.

Namun, malam itu, di halaman depan rumah, banyak bapa-bapa tua berkumpul. Mereka tak ada yang senyum-senyum. Mereka duduk-duduk di kursi kayu sambil minum kopi. Ada nama kampungmu disebut. Saya coba mendekat. Bapa malah suruh saya ikut dalam debat.

”Orang kota bikin surat. Aturan baru katanya. Tanah-tanah katong digabung tanah sana. Padahal sumpah leluhur berkata tanah ini harus jadi satu. Ini bukan sekadar tanah. Ini adalah tanah dari Langit. Tanah tempat kita tumbuh dan mengakar, dan kelak jadi tempat tubuh kita dipendam,” seru Bapa. Di matanya ada api.

”Tanah itu punya katong. Apa kata leluhur? Katong pertahankan!”

Lalu mereka bersorak, tapi tak senyum-senyum. Mereka berdiri dengan tangan terkepal. Mereka bawa tombak. Mereka bawa api. Mereka bawa nyali.

Bapa berkata, ”Katong jaga batas desa! Jangan ada yang masuk!” Bapa lalu menoleh pada saya. ”Jaga rumah dan mama e.” Lalu mereka pun berangkat.

Di rumah, saya tak bisa tenang. Saya takut bapa kenapa-kenapa saat berjaga. Tiba-tiba saya lihat langit semu jingga. Ada asap meliuk-liuk seperti ular merah marah. Karena penasaran, saya panjat pohon depan rumah. Asal asap bukan dari gerbang desa, tapi dari kampungmu. Saya takut dan ingin ke tempatmu, tapi tadi bapa suruh saya jaga mama.

Tiba-tiba saya dengar suara bapa dan para tua. Mereka jalan buru-buru ke halaman rumah. Wajah mereka tampak tegang. Saya tanya, kenapa sampai bakar-bakar desa tetangga. Bapa lihat saya seolah-olah saya baru makan kecubung.

”Katong juga baru lihat ada asap. Katong hanya berjaga di gerbang desa. Tak ada yang pergi ke sana!”

”Lalu siapa?” cecar saya.

Bapa jawab ia tidak tahu. Bapa yakin yang buat itu bukan orang kita. Tapi kata bapa, ini bisa bikin orang desa sebelah marah. Bisa jadi mereka pikir kami yang buat. Bapa lalu kumpulkan bapa-bapa tua dan muda-muda. Bapa bilang kita harus kuatkan penjagaan. Jika saya, bapa, dan yang lain-lain ke gereja, Suleman dan kawan-kawannya yang jaga. Begitu juga sebaliknya, jika Suleman dan kawan-kawan sedang jumatan, kami yang jaga.

Lalu malam itu, tiba-tiba kamu datang. Rupanya penjagaan di perbatasan sudah dilumpuhkan. Kamu datang tak sendiri, tapi dengan bapa-bapa lain yang bawa pedang, tombak, dan parang. Kamu bawa api di tangan. Matamu merah.

Kamu lempar obor ke atap rumah. Api berkobar. Mama dan bapa saya segera keluar dan berteriak kepada saya untuk pergi dan menggengam tombak. Tapi saya ingin bicara. Ada apa? Kenapa kita tak bicara sambil senyum-senyum seperti saat kakimu dulu bengkak gara-gara beradu bola?

”Apakah karena Langit katong beda, orang desamu lempar api ke rumah saya?” Kamu teriak seperti kesurupan.

Saya geleng kepala. Saya katakan, tak ada dari kami yang lempar api. Tadi malam mereka hanya jaga desa. Lagipula ini bukan masalah Langit. Langit kita mungkin beda nama, tetapi kita percaya hanya ada satu. Ini masalah bumi: tanah kami. Bumi bagi kami bukan sekadar tanah. Bumi itu diam. Bumi diinjak oleh banyak orang tetapi tetap diam. Api, air, angin, ada dalam bumi, tapi bumi memendam. Bumi tidak congkak. Bumi hanya meledak jika ada yang menancapkan tombak.

”Gara-gara itu, adik saya pergi ke Langit. Rumah jadi api! Kayu besar jatuh ke—” Kamu berhenti bicara, lalu meraung-raung sambil acungkan tombak.

Oh, Moi! Saya turut sedih. Tak ada lagi adikmu yang suka senyum-senyum itu. Ia tak bisa menulari saya senyum-senyum lagi. Mungkin saya tak akan bisa senyum-senyum lagi seumur hidup saya. Jika itu yang terjadi, saya mungkin tak perlu bumi. Untuk apa bumi jika tak ada adikmu yang senyum-senyum lagi?

Tiba-tiba ada yang tepuk bahu saya. Saya tersadar. Suasana sudah kacau. Ada tangis ana-ana, ada jerit mama-mama. Ada teriakan bapa-bapa. Semua suara jadi sabur. Lalu saya dengar bapa bentak saya, suruh saya lari ke hutan. Hutan adalah bumi. Tetapi bumi tanpa senyum-senyum adikmu apa punya arti? Saya lari sambil bertanya-tanya. Saya lari sambil menguras air mata. Lalu saya rasa ada sesuatu yang menancap di lengan saya. Tapi saya tak menoleh. Bapa suruh saya terus lari.

Sudah beberapa hari kami jauh dari rumah. Dari atas bukit, saya lihat sulur-sulur dedar dari kampung kami jilat-jilat angkasa. Saya jadi ingat matamu yang merah. Sekarang mata saya juga merah. Lengan saya juga koyak dan merah. Kenapa kita harus merah jika itu bisa kita bilas dengan senyum-senyum sebagaimana senyum-senyum adikmu bilas hati saya? Kenapa kita tak bisa duduk, berbincang, dan saling tertular senyum-senyum?

Malam ini saya dengar, orang-orang luar pulau datang seperti air bah. Sebab selebaran liar yang terbang ke pelosok-pelosok desa seberang, mereka angkat tombak dan senapan. Mereka pikir baku hantam ini karena Langit kita yang berbeda penyebutan. Entah di mana letak selisih paham. Seharusnya ini hanya masalah bumi—tanah leluhur kami, kenapa bisa berubah jadi runyam?

Saya berbaring di atas rumput basah dan menatap awan gelap dengan latar hitam. Ada bintik-bintik putih cahaya yang merubung langit seperti nyamuk malaria. Angkasa gelap tampak damai, indah dan tenang. Angkasa memiliki segalanya, tetapi tak memiliki senyum-senyum adikmu.

Saya jadi ingat adikmu saat saya beri ia selembar surat berisi sajak yang saya buat dua malam sampai baju pekat keringat. Saat terima itu, ia senyum-senyum. Bisa jadi, 3 bulan lagi bapa dan mama saya akan datang ke rumahmu sambil senyum-senyum. Dan saya yakin kamu pun akan senyum-senyum. Saya pikir, jika kamu senyum-senyum dan adikmu senyum-senyum dan bapa mamamu senyum-senyum, Langit pun akan senyum-senyum. Tapi, sekarang tak ada senyum-senyum.

Apakah senyum-senyum bisa dicairkan? Jika iya, saya harap Langit beri saya sesudu saja. Akan saya percikkan ke dadamu, dada bapa mama, dada para muda-tua yang tak lagi punya senyum-senyum. Jika kamu dan semua yang ada di tanah leluhur ini terinfeksi, lalu senyum-senyum dan tak lagi angkat obor dan tombak, saya yakin Langit akan senyum-senyum.

Catatan

Ana-ana: Anak-anak

Sasti Gotama. Penulis. Kumpulan cerpennya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam? (Diva Press, 2020), menjadi salah satu buku rekomendasi Tempo 2020, nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra ”Rasa” 2022. Buku terbarunya berjudul B telah diterbitkan oleh Diva Press awal tahun 2022 ini.

Putu Sutawijaya, perupa kelahiran Tabanan, Bali, lulusan ISI Yogyakarta. Ia menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sangkring Art Space sebagai ruang berkebudayaan para seniman. Memperoleh penghargaan Lempad Prize dari Sanggar Dewata tahun 2000.

sumber : harian Kompas edisi 03 April 2022 di halaman 10 dengan judul “Sesudu Senyum-senyum “.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme