Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perempuan Tua dan Kupu-kupu oleh Acik Giliraja

Posted on Sab, 09 Apr 2022

Perempuan tua itu berbaring seorang diri, tak ada yang dinanti selain maut. Pun terasa sudah cukup baginya hidup seorang diri, tanpa suami, tak ada anak-anak yang menemani.

Suaminya mati karena penyakit lambung sepuluh tahun lampau. Begitu kata dokter di rumah sakit umum. Lalu ketiga anaknya mulai meninggalkan rumah satu per satu, membangun keluarga baru, seolah mereka tak punya waktu lagi untuk bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya dan menyapihnya dari waktu ke waktu.

Anak-anak memiliki kehidupannya sendiri-sendiri, demikian yang selalu terpikir tiap kali dia merenungkan kesendiriannya. Memang, lengannya terlampau pendek bagi anak-anaknya yang tumbuh dewasa dengan cepat.

Sudah tak terbilang kesepian dirasakannya malam-malam atau tengah hari. Ubun-ubun yang selalu hangat karena tak henti termenung-menung, uban-uban yang lekas jadi penuh, kepala yang sering sakit, bergantian dengan perutnya yang selalu nyeri, dan kedua mata yang nyaris tak berkedip saat kenangan demi kenangan lindap. Dan suara-suara, berulang-ulang dia mendengar suara-suara, seolah suara-suara itu berderak dari bawah bantalnya, muncul dari kamar anak-anak, dari dalam lemari yang hanya berisi pakaian mendiang suaminya dan milik anak-anaknya yang ditinggalkan di sana, sebab sudah lusuh dan tidak muat di badan. Sudah berapa kali perempuan tua itu membaui pakaian demi pakaian, menghirup aroma kenangan yang tertinggal di serat-serat kain dalam-dalam, dan tak ada yang berubah selain matanya yang mudah memerah—karena air mata.

***

Minggu sebelumnya, di siang yang tidak begitu menyengat, sengaja perempuan tua itu jalan-jalan di sekitaran. Ingin melihat-lihat pekarangan dan orang-orangnya, katanya. Namun, tidak saja melihat-lihat, dia mampir ke rumah-rumah. Dan dia tidak sekadar mampir ke tetangga kiri dan kanan, melainkan juga bercakap-cakap sambil minum teh suguhan tuan rumah, jika ada.

Di rumah Sulastri, teman mainnya waktu kanak-kanak, tetapi lebih muda tiga tahun darinya, dia mengenang sedikit demi sedikit masa muda. Sulastri juga memang suka bercanda. Jadi mereka kemudian tertawa-tawa seolah lupa usia. Agak lama dia bertamu di rumah Sulastri, sebab dia merasa ada rasa nyaman bila berada dekat dengan temannya itu. Suatu keakraban yang tidak luntur.

Lalu dia bertolak ke rumah Rasuli yang biasa menerima pesanan nisan. Pada Rasuli dia memesan nisan untuk dirinya sendiri. Dia sengaja membawa KTP dan menyodorkannya pada Rasuli untuk disimpan, dan tak lupa dia selipkan beberapa lembar rupiah sebagai ongkos pembuatan nisan. ”Tulis saja namaku persis seperti itu, juga tanggal lahir dan tahunnya,” katanya.

”Yang benar saja,” kata Rasuli seakan tak percaya.

Sementara di rumah Lismina si perias mayat, dia berseloroh tentang dirinya yang tidak akan lama lagi dirias oleh tangannya.

”Bisakah nanti aku tampak lebih muda dari usiaku, Lis?” katanya seraya ketawa diselingi batuk-batuk. Lismina tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu—atau sesungguhnya dia tidak tahu hendak berkata apa.

Akhirnya dia berujar, ”Jadi Emak ingin dirias juga?”

”Ah, Lis, seingatku aku hanya dirias saat jadi pengantin dulu. Aku sangat cantik kata suamiku. Itu membuatku bahagia. Mungkin aku bisa kembali cantik waktu bertemu dengannya lagi di alam sana karena kau rias.” Kini dia tidak tertawa. Dan Lismina mau tak mau terpana atas jawaban itu. Namun, dia lekas-lekas tersenyum di hadapan perempuan itu.

”Apa benar Emak mau mati?” pikir Lismina kemudian seraya menggenggam uang pemberian perempuan tua itu.

Di luar pintu pagar rumah Lismina, dia hendak meneruskan langkahnya ke rumah pak kiai. Tapi dia urungkan setelah dipikir-pikir kembali. Dia pun melangkah pulang.

***

Sepulangnya dari jalan-jalan itu, dia merasa dingin sekujur badan. Padahal malam juga belum tiba, itu sebuah sore yang mendung. Perempuan tua naik ke lincak di ruang tengah dan berbaring.

Beberapa saat kemudian Rumina datang membawa sepiring nasi. Meski tidak sering, perempuan beranak dua yang rumahnya paling dekat dengan perempuan tua itu, biasa datang ke rumahnya membawa apa saja yang bisa dibawa, semisal kue-kue atau dua atau tiga kepal roti. Diketuk-ketuk pintu rumah perempuan tua itu, dipanggilnya berulang-ulang, sampai terdengar suara dari dalam, suara perempuan tua yang lemah itu. ”Kau itu Rumina. Teruslah masuk.”

Rumina masuk dan betapa kagetnya dia manakala di lincak terbaring ringkih perempuan tua itu berselimut kain sarung.

”Kau sakit, Mak?” ucap Rumina.

”Tak tahulah, tiba-tiba dingin sekujur badan,” ucapnya. Dia hendak bangkit, tapi segera dicegah Rumina. ”Sempat kuingin menyalakan kayu di tungku, lalu duduk di depannya. Tapi tubuhku serasa lemah sekali, Rum, untuk sekadar turun dari lincak lagi.”

”Ah, Mak, begini benar. Kuambilkan minyak gosok dulu ya, Mak. Kau tetaplah berbaring.”

Rumina meletakkan sepiring nasi itu di lincak tempat Rumina dan suaminya dan anak-anaknya dulu makan bersama, ditutupi mangkok beling, supaya tidak dihampiri cicak atau kecoak.

***

Rumina tidak hanya kembali membawa minyak gosok, melainkan beserta seorang perawat setempat. Tanpa mengetuk pintu mereka masuk ke dalam rumah. Setelah si perawat menyapa perempuan tua itu, yang dibalas dengan anggukan lemah, dia langsung mengeluarkan tensimeter dari dalam tas gendongnya. Lantas dimulailah pemeriksaan, dan itu tidak membutuhkan waktu lama.

Usai itu dia berkata, ”Tidak masalah, normal-normal saja. Ibu hanya perlu mengosongkan pikiran. Cukup itu saja.” Perempuan tua itu hanya mengangguk.

Selagi duduk di lincak, si perawat mengemasi peralatan medisnya ke dalam tas kemudian, dengan cekatan dia memilah pil-pil yang bertumpuk-tumpuk dalam tasnya itu untuk pasien yang tengah berbaring di hadapannya.

”Nah,” katanya, ”berikan pil-pil ini. Tiga kali sehari perbutir sesudah makan.” Dia menyodorkan bungkusan kecil berisi pil pada Rumina.

Ketika perawat itu berdiri hendak pulang, perempuan tua membalikkan punggungnya pelan-pelan. Si perawat sudah akan pamit, dan menggendong tasnya, tetapi perempuan tua itu lebih dulu berkata, ”Aku merasa kalau aku akan segera mati, Rum. Tak apa. Aku memang telah menantikannya sejak dulu-dulu. Aku tidak akan merepotkan siapa-siapa lagi.” Perempuan itu berkata tanpa memandang keduanya. Dia meringkuk memejamkan matanya memunggungi Rumina dan perawat itu. Setitik air jatuh dari sudut matanya tanpa siapa pun tahu.

Rumina tercekat, juga perawat itu. Lalu perawat itu pamit dan Rumina mengantarnya sampai pintu.

Rumina memutuskan tinggal beberapa saat dan mulai menuangkan minyak gosok ke telapak tangannya, dia memijat leher dan punggung perempuan itu. Besoknya Rumina datang lagi, juga tetangga-tetangganya yang lain demi menjenguk dirinya. Empat hari kemudian, dia telah terlihat kembali di halaman, dan di belakang rumahnya. Orang-orang menyangka kalau perempuan tua itu sudah pulih dari sakitnya.

***

Sungguh tak ada lagi yang perempuan tua itu tunggu, selain maut, maut yang juga menjumpai ibu.

Hari itu masih sebuah sore yang sama seperti minggu sebelumnya, agak mendung, dan Rumina beserta yang lain-lain tak pernah menduga kalau perempuan tua itu akan bertemu ajalnya.

Di luar ayam-ayam miliknya keriapan di halaman, burung-burung kecil berwarna hitam terbang tinggi di angkasa seolah hendak menggapai langit dengan sayap-sayapnya yang kecil itu. Lalu seekor kupu-kupu terbang rendah; dari tanah lapang ke halaman; mengepak dan menuju teras; menyelinap masuk melalui lubang-lubang angin; berkitar sebentar di atas langit-langit lalu hinggap di tepi lincak perempuan tua itu berbaring. Perempuan tua itu tahu seekor kupu-kupu ada bersamanya, dia memperhatikan sejak mula kedatangannya.

Begitu saja perempuan tua itu membayangkan dirinya menyusut jadi kecil, alangkah kecil, kemudian terayun-ayun di lengan seorang perempuan yang dipanggilnya ibu—melangkah bergandengan di talon belakang rumah, awan-awan putih bagai kapuk diterbang angin, cahaya matahari sore tampak begitu lembut menerpa dirinya, dan betapa kupu-kupu berwarna kuning terbang di atas kepalanya. Dia mematung memandangi kupu-kupu itu. Ibunya juga berhenti karena dirinya yang tersihir kepakan sayap kupu-kupu itu—yang entah ke mana pergi akhirnya.

Lalu ibunya menuntunnya ke bawah pohon srikaya yang cukup lebat buahnya—ada banyak pohon srikaya tumbuh di tanah itu. Pohon itu tidak begitu tinggi, cabang-cabangnya memuat ranting-ranting yang mencuat ke mana-mana, dan daun-daunnya hijau, buah-buahnya yang menempel di batang-batang pohon seperti dirinya yang kecil, menelusup ke lengan-lengan ibu. Ibunya melihat ke atas mencari-cari sela daun-daun yang menyungkup itu. Lantas tangannya terjulur begitu panjang memetik buah srikaya yang matang di pohonnya, ibu mengenali dengan baik mana buah yang matang dan yang tidak, dan memberikannya padanya. Dia meraih buah srikaya itu dengan sepasang mata ceria.

Perempuan tua itu tidak pernah menyangka, kenangan perihal dirinya dengan ibunya di masa silam kembali ke dalam ingatannya begitu mudah ketika dirinya terbaring di ambang kematian. Dan dia begitu bahagia karena kenangan itu, di belakang rumah, berdua dengan ibunya melihat kejadian demi kejadian, dan keajaiban di sepasang sayap kupu-kupu yang baginya begitu indah. Pada yang demikian, betapa dia merasa bahwa ingatan itu datang di waktu yang sangat tepat.

”Seperti khayalan,” bisiknya kemudian ketika dia mendapati kupu-kupu itu makin dekat ke sisi-sinya.

Namun itu bukan khayalan, atau mimpi. Kupu-kupu itu jelas ada, dan seperti bayi, dia merangkak menuju padanya. Ah, kedua telapak tangan perempuan itu membuka bagai kelopak-kelopak mawar merekah, dan kupu-kupu itu akhirnya berdiam di sana—suatu pemandangan ganjil seandainya seseorang memperhatikannya.

Tapi, perempuan tua itu sekarat, dan tak ada siapa-siapa, hanya seekor kupu-kupu di telapak tangannya.

***

”Sudah berapa lama dia terbujur tanpa nyawa?” pagi harinya seorang kiai setempat yang biasa ditunjuk manyampaikan belasungkawa dan sedikit khotbah di atas kuburan bertanya-tanya pada diri sendiri di rumah duka, sementara beberapa orang juga terlihat di sana, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi jenazah perempuan tua itu.

Dan perempuan tua itu diam dalam kebisuan yang paling bisu—di telapak tangan kanannya yang terbuka kupu-kupu itu juga mati, seolah keduanya ditakdirkan mati bersama. Jasadnya telah kaku dan semut-semut hitam memanjang di tubuhnya, sebelum dibersihkan. Binatang itu lebih dulu tahu kalau perempuan tua itu telah tak bernyawa. Semut-semut mampu mencium aroma orang mati begitu cepat.

Jelas tak ada yang tahu bagaimana dia meregang nyawa, juga tak sesiapa pun, lebih-lebih ketiga anaknya, mendengar bisiknya sebelum napasnya berhenti. ”Lekaslah, bawalah aku selekasnya,” bisiknya begitu lirih—entah kepada siapa dia berbisik—selirih angin berembus dari lubang-lubang angin di atas jendela, namun Tuhan tahu segalanya.

Warung-Jakarta, 2022.

***

Acik Giliraja. Lahir dan besar di Sumenep. Menyukai puisi dan cerita pendek. Saat ini tinggal di Jakarta.

sumber : kompas.id, 09 Apr 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme