Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mereka yang Mati di Malam Pengantin oleh Salehati

Posted on Ming, 10 Apr 2022

Kawin, bagi kami, adalah misi bunuh diri yang berakhir di malam pengantin.

Kematian datang sebagai fase hidup yang alami, tentu saja. Sebagai hukum alam. Sebagai kodrat. Dan itulah yang membuat kematian yang niscaya itu, bagi kami, terasa sial. Sebab kematian memeluk kami di saat kawin.

Entah apa kesalahan leluhur kami di masa lalu hingga kami, penerus-penerusnya, harus menanggungkan siklus hidup yang begini sial. Tak satu pun di antara kami pernah bertemu dengan ayahnya. Kami hanya mengenal ibu. Semua anak hanya mengenal ibunya saja.

Anak-anak tumbuh dengan hanya mengenal para ibu sebagai sosok dewasa, sebagai pihak yang dituakan. Setiap kelahiran disambut dengan sukacita. Namun, kelahiran anak jantan juga berarti mempersiapkan kematian yang datang lebih cepat. Bayi-bayi jantan itu tidak akan dibunuh. Tidak. Kami tidak seperti itu. Akan kuceritakan padamu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa kukatakan bahwa hidup kami begini terkutuk. Sial, seolah tak ada lagi yang lebih sial.

Awal mula pergolakan batin ini dimulai ketika memasuki usia dewasa. Siklus hidup dan keadaan fisiologis kami telah bersekongkol dan mendesak kami untuk segera mencari betina, lantas kawin. Angan-agan seperti ini seharusnya cukup menggairahkan dan memotivasi kami untuk tumbuh dewasa secepat mungkin. Membayangkan akan kawin dengan betina yang kami sukai, lantas berkembang biak, tentulah meyenangkan.

Itulah masalahnya!

Tidak seekor pejantan yang pernah kawin pun pernah kami temui lagi. Desas-desus mengatakan mereka kabur. Ada juga yang mengatakan mereka mati ketika kawin. Selebihnya meyakini bahwa setelah kawin, para pejantan itu pergi untuk menghalau manusia-manusia yang akan menghancurkan tempat tinggal kami. Sebagai jantan remaja, kami lebih memercayai desas-desus yang terakhir. Sebab terdengar lebih patriotik, tentu saja.

Meski demikian, kami sebenarnya belum juga merasa puas. Alhasil, rasa penasaran kami itu kemudian membawa kami bertanya kepada pengantin betina perihal hilangnya si pejantan. Namun, mereka juga tidak pernah memberikan jawaban-jawaban yang memuaskan mengapa pejantan-pejantan yang telah kawin tidak pernah kami temui lagi. Jika tidak direspons dengan sikap diam, jawaban singkat yang kami terima dari pengantin betina hanya sebatas ”dia pejantan yang bertanggung jawab. Dia tahu apa yang harus dilakukan”.

Tapi, apa sebenarnya ”yang harus dilakukan” itu? Sebagai jantan remaja, kami masih selalu bertanya-tanya.

Bertanya kepada para ibu adalah hal yang tidak mungkin. Jika nasib ayah-ayah kami pun tak pernah secuil pun diungkit, peduli setan dengan nasib jantan-jantan lainnya, tentu saja. Mereka tidak akan peduli.

Ketidakramahan lingkungan seperti ini membuatku berhenti berangan-angan tentang kehidupan masa dewasa. Menjadi dewasa, jatuh cinta, lantas kawin. Imajinasiku berhenti di situ. Sebuah gang buntu. Tak ada jalan ke mana-mana. Tak ada lagi kelanjutannya.

Seolah menemui titik terang, pada suatu hari, datanglah kawan-kawanku, si Tungkai Panjang dan si Tungkai Pendek. Dinamai demikian karena salah satu tungkai mereka memang tidak selaras, lebih panjang dan lebih pendek dibandingkan dengan tungkai-tungkai yang lain.

”Kau harus ikut dengan kami!” sahut si Tungkai Panjang.

”Kita akan menemui si Mata Tajam,” lanjutnya.

Aku menyambut ajakannya dengan semangat. Si Mata Tajam adalah legenda yang sejauh ini hanya kami ketahui namanya. Dinamakan demikian sebab di masa mudanya, ia terkenal pandai berburu dengan penglihatannya yang lebih baik dari jantan kebanyakan. Setidaknya, begitulah desas-desus yang sampai kepada kami.

Jika tidak salah, usia si Mata Tajam mungkin telah memasuki empat belas purnama. Jauh lebih tua dibandingkan dengan aku dan kawan-kawanku yang baru berusia tiga purnama.

Akhirnya, kami bertiga berangkat untuk menemui si Mata Tajam. Aku tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Setelah terbang ke sana kemari, menghindari perdu tinggi dan ranting-ranting, tibalah kami di sebuah pohon jambu tempat si Mata Tajam, menurut kabarnya, bermukim.

Benar! Dialah legenda yang kami cari. Si Mata Tajam yang usianya ternyata telah memasuki enam belas purnama, dan bukannya empat belas purnama. Setidaknya, begitulah penuturannya sendiri langsung dari mulutnya.

Si Mata Tajam menyambut kami dengan baik, dan entah apakah karena menyadari ajalnya sudah dekat, setidaknya, ia sendiri meyakini umurnya tidak lama pagi, sehingga ia sungguh begitu bijaksananya kepada kami. Dihujaninya kami dengan taktik-taktik pertahanan diri agar kelak kami bertiga tidak cepat mati dalam kehidupan soliter kami masing-masing nanti.

Aku gugup. Semua petuah beliau kurasa penting. Namun, ada yang lebih penting. Lebih mendesak untuk kuketahui kebenarannya, batinku.

”Apa yang sebenarnya terjadi pada para pejantan dewasa ketika mereka kawin?” Aku tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Tungkai Panjang dan Tungkai Pendek mengangguk padaku bersamaan, menyatakan kesepahaman.

”Mereka mati,” jawab si Mata Tajam datar.

”Hah?!”

Kami bertiga terkejut dan kembali berpandangan satu sama lain. Apakah itu artinya bahwa ketika mereka kawin, mereka akan mati pada saat itu juga? Bagaimana sebenarnya mereka mati? Apakah kami hanya akan bisa kawin sekali dalam seumur hidup? Itu pun tak ubahnya menggali kuburan sendiri. Pikiranku semakin tak karuan.

Spesies kita adalah makhluk hidup yang diciptakan dengan siklus hidup yang seperti itu. Entah apa kesalahan leluhur-leluhur kita sebelumnya, namun demikianlah adanya, tutur si Mata Tajam.

”Kematian memeluk kita di saat kawin,” lanjutnya.

”Tapi, tidak semua pejantan benar-benar mati di saat kawin, bukan?! Kau sendiri pun tidak mati,” sahut si Tungkai Pendek.

”Benar. Sebagian dari mereka mati, sebab memang sulit untuk melawan betina lapar yang ukuran tubuhnya bisa dua hingga tiga kali lebih besar dari ukuran kita, pejantan. Sedangkan yang lainnya bisa lolos dari maut dengan taktik tertentu. Itulah mengapa aku belum mati juga sehingga bisa bertemu kalian.”

Kami bertiga kembali berpandangan. Kenyataan bahwa ukuran tubuh kami jauh lebih kecil dari para spesies betina membuat penjelasan si Mata Tajam masuk akal bagi kami. Ada kemungkinan para pejantan memang mati saat kawin sebab tak mampu melawan betina lapar hingga berujung menjadi santapan.

Fase hidup kami sebagai pejantan kurasa begitu sial, sungguh sial, seolah tak ada lagi yang lebih sial. Kami harus kawin dalam bayangan kematian dan menjadi korban kanibalisme betina. Inikah yang para betina maksudkan sebagai ”apa yang harus dilakukan” itu? Mengorbankan nyawa kami demi cinta pada betina yang kami kawini? Benar-benar wujud nyata dari cinta mati. Dalam artian, kami, pejantan, benar-benar akan mati.

”Apa taktiknya, Pak Tua? Tolong beri tahu kami.” Suara si Tungkai Panjang memecah lamunanku.

Si Mata Tajam memberikan kepada kami semua taktik bertahan hidup yang harus kami ketahui sebelum memasuki fase hidup dewasa kami pada purnama selanjutnya. Juga agar kami bisa berumur panjang seperti dirinya. Bisa hidup hingga enam belas purnama adalah sebuah usia hidup yang sungguh panjang dalam spesies kami.

Aku dan kedua kawanku mendengarkan dengan penuh takzim. Jika fase hidup kami sebagai pejantan memanglah begini sialnya, setidaknya kami bertekad untuk hidup selama mungkin.

”Lalu, apa yang terjadi pada para pejantan yang berhasil lolos dari maut ketika mereka kawin itu?” tanyaku.

”Mereka hidup lebih lama, tentu saja. Seperti aku. Beberapa akhirnya mati ketika mereka kawin lagi untuk kedua atau ketiga kali, atau kesekian kali. Ada juga yang menjadi mangsa spesies lain. Dan tak jarang yang mati oleh racun semprot manusia, juga kebakaran ladang di Utara pada fase bulan mati yang lalu.”

Ladang di Utara yang dimaksud Pak Tua si Mata Tajam adalah tanah yang dikeramatkan oleh sekelompok manusia yang bermukim di tepi hutan. Ladang itu disengketakan oleh kelompok manusia lainnya yang datang dengan membawa benda-benda keras raksasa yang bunyinya meraung memekakkan telinga.

Mereka bertengkar dan tidak kunjung sepaham. Kelompok manusia yang sebelumnya bermukim dekat ladang itu diusir paksa dan ladang itu dibakar dengan sengaja. Alhasil, pejantan-pejantan dari spesies kami yang bermukim di situ banyak yang kemudian mati. Sungguh sebuah jalan hidup yang tak dapat dihindari. Kemudian benda-benda keras dan bising itu mengeruk tanah sebanyak-banyaknya dan mengangkutnya entah ke mana. Seperti itulah kami kehilangan spesies dan habitat kami bersamaan.

Bukan hanya kami, kelompok manusia yang sebelumnya bermukim di sana pun kehilangan hidup dan penghidupan mereka. Jika kanibalisme dalam spesies kami adalah kodrat, rupanya manusia tidak harus menjadi kanibal untuk mematikan manusia lainnya.

Mati dalam kawin, ataukah bertahan hidup lebih lama untuk kemudian menjadi makanan spesies lain, mati terkena racun semprot manusia atau menjadi korban kebakaran, ujung siklus hidup kami tetap saja sama, yaitu mati. Sekarang kau mengerti mengapa kukatakan bahwa siklus hidup kami begitu sialnya?!

Kami bertiga berpamitan pulang. Si Mata Tajam melepas kami dengan hangat. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku masih menekuri fase hidup kami yang begini sial. Bagaimanapun jalannya, bagaimanapun kami berkilah, tetap akan mati juga. Meski begitu, bisa hidup hingga sepuluh purnama saja akan kurasai sebagai keajaiban.

Usiaku kini tiga purnama. Satu atau dua purnama lagi aku akan dewasa. Dan akan selalu kuingat taktik yang dinasihatkan si Mata Tajam agar bisa lolos dari maut perkawinan. Aku tak ingin menjadi pejantan belalang sembah yang mati di malam pengantin.

Polewali Mandar, Agustus 2021

Salehati, menyelesaikan pendidikan jurusan ilmu hubungan internasional di FISIP Universitas Hasanuddin. Menggemari sastra, filsafat, dan politik. Dia aktif menulis puisi, opini, dan ulasan buku untuk diri sendiri.

Yuswantoro Adi, lahir di Semarang, 11 November 1966. Pelukis pemenang Grand Prize Winner Philip Morris ASEAN Art Award 1997 di Manila, Filipina. Selain melukis juga menulis, mengajar, dan memberi pelatihan serta sesekali jadi narasumber seni rupa.

sumber : harian Kompas edisi 10 April 2022 di halaman 10 dengan judul “Mereka yang Mati di Malam Pengantin”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme