Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tungku Kematian oleh Zainul Muttaqin

Posted on Sab, 16 Apr 2022

Tergesa-gesa Muna, tangan kirinya menyingkap ujung rok yang ia kenakan. Lekas ia berjalan, mengenakan sandal jepit, bunyinya terdengar mirip suara kaki kuda yang sedang ketipak-ketipuk. Orang-orang yang berpapasan dengannya menampakkan raut panik, pasti ada yang meninggal, begitu dugaan semua orang.

Ketika Muna bertemu seorang ibu di tengah jalan, bertanyalah ia pada Muna.

”Mau ke mana kau Mun?”

”Ke rumah Bun Saliha.”

”Siapa yang meninggal?”

Muna tidak punya banyak waktu, tak sempat ia menjawab pertanyaan itu, keburu pergi. Matahari belum sepenuhnya naik ke permukaan langit. Basah embun di atas daun tembakau, dingin masih mengancam.

Seorang lelaki setengah tua yang bersiap naik ke atas pohon siwalan, menyadap nira, tak mengenakan baju, kebal tubuh dari serangan dingin maupun panas. Ia tercengang melihat Muna yang terburu-buru, ingin bertanya pada Muna, ke mana hendak membuat tungku? Tapi melihat gerak tubuh Muna yang seolah tak ingin diganggu, urung ia melontarkan tanya, tersenyum saja ia pada Muna.

Pelan lelaki setengah tua itu memanjat, membawa ember yang terbuat dari daun siwalan. Sesampainya di atas pohon, ke bawah ia melihat, curam sekali dalam pandangannya. Jika ia terjatuh, kemungkinan kecil bisa bernapas lagi dan mungkin Muna akan membuatkan tungku kematian untuknya.

Ngeri sekali lelaki setengah tua itu membayangkan kematiannya sendiri. Ia bertaruh nyawa demi keluarga, hidup dari menjual gula merah adalah takdir yang harus ia jalani. Bila pun ia harus mati, inginnya mati dalam keadaan mencari nafkah, tidak mati sia-sia.

Dari atas pohon siwalan menjulang tinggi, angin menggoyang, tak goyah nyali lelaki setengah tua itu, tetap menyadap nira. Terlihat tubuh Muna olehnya, kecil dalam penglihatannya dari atas pohon. Lambat laun Muna menghilang ditelan pengkolan jalan, turun ia membawa air nira sebanyak dua ember.

Muna sudah tiba di rumah duka, subuh tadi seseorang datang ke rumahnya, minta bantuan dibuatkan tungku. Muna bilang akan segera menyusul, pergilah orang suruhan dari rumah duka. Sekitar lima belas menit kemudian Muna membuka pintu, keluar rumah menuju rumah duka.

Langkah Muna terhenti di halaman, sang suami mencegahnya. Dul Gappar, demikian orang memanggil nama suami dari Muna. Lelaki berkumis tipis, jenggot tinggal lima helai, dan hitam legam kulitnya bertanya pada Muna yang hendak pergi pagi-pagi sekali.

”Mau ke mana kamu?”

”Ke rumah Bun Saliha.”

”Untuk apa?”

”Apa perlu saya jelaskan lagi pekerjaan saya?”

”Membuat tungku?”

”Iya.” Muna ingin segera pergi, tapi suaminya masih terus melontarkan tanya.

”Apa tidak ada orang lain selain kamu yang bisa buat tungku di kampung sana?”

”Tidak ada.”

Muna harus pergi ke kampung sebelah, cukup jauh jaraknya ke rumah duka. Dul Gappar masih berdiri di hadapannya seperti seorang polisi yang memeriksa kelengkapan surat-surat pengendara.

”Jangan lama-lama,” tegas Dul Gappar bicara.

”Kalau sudah selesai saya pasti langsung pulang.”

”Saya lapar. Apa kau sudah masak?”

”Kau hanya pulang ketika lapar. Begitu kenyang kau pergi lagi.”

Tidak lagi peduli Muna tentang suaminya yang masih mengoceh. Dul Gappar pulang dari rumah istri keduanya yang dinikahi satu tahun silam. Sebelum menikah untuk kedua kalinya, bicara memang Dul Gappar pada Muna. Tapi pembicaraan itu bukan meminta persetujuan, melainkan pemberitahuan.

Seakan jantung terlepas dari tangkainya, Muna mendengar pengakuan dari Dul Gappar bahwa ia telah menikah. Dul Gappar menjelaskannya rinci sekali, tidak kurang tidak lebih. Ia menikahi seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya. Suami dari perempuan itu adalah kawan dekat Dul Gappar. Kasihan Dul Gappar melihat perempuan itu berjuang sendiri, menghidupi dua anaknya yang masih kecil.

Kecantikan perempuan itu sungguh luar biasa, meskipun sudah anak dua. Dul Gappar bilang pada Muna, semua itu dilakukan semata karena menolong si janda itu sebagaimana yang dilakukan nabi. Muna tidak banyak membantah, percuma melawan suaminya, khawatir juga dibilang istri durhaka.

Hari itu juga Muna ingin berpisah dari Dul Gappar, meminta sang suami menceraikan saja. Dul Gappar menolak, Muna tak berdaya. Sebanyak apa pun kalimat cerai diucap Muna, tidak akan pernah terjadi talak. Ia pun menjalani garis takdir yang menjerat hidupnya. Seiring berjalannya waktu, Dul Gappar sering di rumah istri keduanya.

Kecantikan perempuan itu sungguh luar biasa, meskipun sudah anak dua. Dul Gappar bilang pada Muna, semua itu dilakukan semata karena menolong si janda itu sebagaimana yang dilakukan nabi. Muna tidak banyak membantah, percuma melawan suaminya, khawatir juga dibilang istri durhaka.

”Mun.” Seorang perempuan, salah seorang keluarga almarhum, menepuk pundak Muna. Kaget Muna, buyar lamunannya.

Orang-orang berkumpul di rumah Bun Saliha, membikin dapur sementara di belakang rumah. Terop dari terpal dipasang di halaman. Kematian suami Bun Saliha mengundang semua tetangga berdatangan, tanpa diminta, ikhlas membantu sebagaimana suami Bun Saliha semasa hidup yang selalu sigap menolong tetangga.

Sebagian lelaki mengupas kelapa, sebagian lagi bersiap menyembelih seekor sapi. Gaduh suara para perempuan mengobrol di dapur, mengulek bumbu dengan cobek yang dibawa dari rumah masih-masing. Satu tungku pun belum dibuat, orang-orang melihat Muna seperti banyak pikiran.

Muna harus menyelesaikan tungku itu dengan cepat. Tungku-tungku itu nantinya akan digunakan untuk memasak daging, menanak nasi dan segala kebutuhan yang akan disuguhkan kepada pelayat saat pemakaman nanti sore.

Muna bertanya pada keluarga almarhum, ”Berapa banyak tungku yang harus saya buat?”

”Empat,” jawabnya.

”Jangan,” kata Muna.

”Kenapa?”

”Harus ganjil.”

”Ya sudah lima.”

Suami Bun Saliha adalah pedagang sapi yang sukses. Ia juga memiliki sepuluh ekor sapi, dua dipelihara sendiri, sisanya dipelihara orang dengan sistem bagi hasil. Satu ekor sapi disembelih untuk kematiannya sekarang. Mengaluh sapi itu, ngorok terdengar suaranya saat putus urat nadi di lehernya.

Muna mengaduk-aduk tanah, dicampurnya dengan takaran air yang pas, tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Tidak sembarangan membuat tungku, butuh keahlian khusus membuatnya. Muna satu-satunya orang yang hingga kini pandai membuat tungku. Namun, orang-orang tidak ingin Muna datang ke rumah mereka membuat tungku, sebab itu artinya ada yang meninggal di rumah tersebut.

Cepat Muna membuat tungku, tiga selesai sudah, tinggal dua lagi. Muna membayangkan membuat tungku untuk kematian istri kedua suaminya, lelah berbagi cinta dengan perempuan lain. Seandainya, Muna mulai berandai-andai seraya tangannya mengucek tanah, mungkin Dul Gappar tidak akan menikah lagi jika ada seorang anak dalam keluarganya.

Sepasang paha sapi dibawa ke dalam dapur, digantung sungsang. Semua tungku telah selesai dibuat, Muna membasuh tangan. Kematian dirayakan, kata Bun Saliha semua itu untuk yang meninggal. Sapi yang disembelih dan semua hidangan istimewa yang diberikan tuan rumah semata pahala dihaturkan pada yang meninggal.

Orang-orang kampung kini tak memiliki satu pun tungku di dalam dapur, tidak seperti zaman dulu. Kompor gas adalah pilihan praktis, tidak repot mencari kayu bakar. Tungku hanya dibuat ketika ada kematian atau hajatan pernikahan.

”Kau mau langsung pulang Mun?” Tanya seorang perempuan, keluarga almarhum.

”Tidak. Saya mau ikut bantu-bantu dulu.”

Kemudian Muna ikut duduk bersama perempuan-perempuan lainnya, mengupas bawang, mengulek bumbu. Diam-diam ada yang ngobrolin Muna, lirih mereka bicara agar tidak kedengaran Muna. Mereka bilang, Muna itu sabar menghadapi suaminya yang menikah lagi, dan yang lain bilang Muna itu bodoh karena masih mau dengan Dul Gappar.

Muna tidak menanggapi, diam saja ia meskipun jelas mendengar obrolan mereka. Muna masuk ke dalam dapurnya Bun Saliha, betul tidak ada tungku di sana, terlihat satu kompor gas saja. Muna sendiri juga tidak punya tungku. Ia menggunakan kompor gas sebagaimana orang-orang kampung lainnya.

Sebelum ashar Muna pamit pulang pada tuan rumah, menolak ia ketika diselipkan uang untuk upah dirinya membuat tungku. Muna tidak pernah menerima uang sepeser pun bila ia membuat tungku untuk kematian. Sembako saja yang ia terima, itu pun setelah dipaksakan.

Muna pulang membawa langkahnya pelan, lelah sudah melingkari wajahnya. Sesampainya di rumah, Muna tidak melihat suaminya. Padahal lelaki itu biasanya duduk selonjor kaki di atas meja, mengisap sebatang rokok. Muna memanggil nama suaminya berulang kali, tidak ada jawaban.

Seorang tetangga yang melihat Muna kebingungan, bilang pada Muna, ”Barusan suamimu pergi. Katanya mau ke rumah Masyari.”

Tanpa Muna bertanya, orang itu menjelaskan, ”Tadi ada orang ke sini menjemput Dul Gappar. Katanya Masyari jatuh di kamar mandi. Dul Gappar langsung pergi bersama orang itu.”

Masyari adalah nama istri kedua Dul Gappar. Orang itu pergi, barulah kemudian Muna duduk pada kursi kayu, di beranda rumahnya. Angin datang dari timur membelai tubuh Muna sampai ia terlelap cukup lama, terbangun tiba-tiba karena bermimpi Masyari minta dibuatkan tungku.

Tiga puluh menit lagi matahari akan tenggelam, Dul Gappar belum juga datang. Muna semakin gelisah, teringat dengan mimpinya barusan. Dengan menahan sesak dada, Muna terpaksa berangkat ke rumah Masyari. Belum pernah selama ini Muna bertandang ke rumah Masyari karena sempat bersumpah Muna bahwa tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah Masyari, kecuali istri kedua suaminya itu meninggal dunia.

Mengenakan rok batik bunga warna merah, tergesa-gesa Muna membawa langkahnya ke rumah Masyari. Orang-orang yang berpapasan dengannya pasti mengira Muna akan membuat tungku untuk kematian seseorang. Gelap mulai mengancam di depan mata, Muna gegas melangkah.

”Ke mana lagi kau akan membuat tungku Mun?”

”Di rumah Masyari.”

”Masyari meninggal?”

”Iya.”

Kedatangan Muna di rumah Masyari membuat orang-orang berpandangan aneh. Pikiran mereka bermacam-macam dan bertanya-tanya sendiri dalam hati. Untuk apa Muna datang ke rumah Masyari? Bukankah ia telah bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di rumah istri kedua suaminya?

Muna langsung minta seseorang menemaninya pergi ke belakang rumah Masyari. Diterangi lampu teplok, Muna membuat tungku. Ia bahagia sekali membuatnya, sumringah wajahnya. Tiga tungku yang dibuatnya selesai dengan cepat.

Mendadak Dul Gappar muncul dari balik pohon pisang, menyeringai giginya. Menodong istrinya dengan pertanyaan, ”Untuk apa kau buat tungku-tungku ini?”

”Saya membuatnya tanpa perlu kau minta. Apakah kau masih bilang saya membenci Masyari? Di hari kematian dia saja, saya membuatkan tungku untuknya. Nanti atau besok orang-orang bisa langsung memasak, menanak nasi di tungku ini tanpa perlu memanggil saya lagi. Saya membuatkan tungku ini dengan hati yang ikhlas.”

”Masyari masih hidup.” Dul Gappar berkacak pinggang, matanya menyala seperti seekor kucing dalam gelap.

”Tapi tungku-tungku ini sudah selesai dibuat. Lagi pula bukankah Masyari sedang tidak sadarkan diri. Mungkin sebentar lagi dia akan mati.”

Muna mengucapkannya enteng sekali, tanpa merasa bersalah. Dul Gappar hanya bisa menahan amarah.

Pulau Garam, Agustus 2021

***

Zainul Muttaqin lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura Jawa Timur, pada 18 November 1991. Kini ia tinggal di Pamekasan, Madura. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, 2019).

sumber : kompas.id, 16 Apr 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme