Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Burung-burung yang Menghilang dari Kampung Kami oleh A. Warits Rovi

Posted on Jum, 22 Apr 2022

Dalam keadaan terbaring lemas dengan suhu tubuh yang panas, kakek masih menyuruhku membuat olahan getah perekat untuk menangkap burung. Napasnya berat dan dalam. Suaranya serak dan sangat lirih, ia hanya bisa bicara sambil terpejam.

”Ambil getah pohon karet atau pohon nangka atau pohon benda. Rebus dengan oli bekas hingga mendidih, lalu dinginkan sampai kental dan likat. Tunggu burung cendet itu berbunyi di samping dapur. Jika sudah terdengar, oleskan getah itu pada sepotong ranting yang di bagian ujungnya terikat serangga. Biarkan burung itu datang bertengger. Kakinya akan lekat meski sekuat apa pun ia meronta. Di sisi batu penggiling jagung yang kutaruh di pojok dapur, telah kusiapkan sangkar untuknya.”

Nenek tiba-tiba melinangkan air mata. Tangannya mencelupkan selembar kain ke dalam gelas berisi air perasan pucuk asam. Lalu ia angkat dan dikompreskan ke dahi kakek. Aku hanya bisa menunduk sambil terisak.

Sedang ibu yang duduk di samping kakek terus mengaji. Sesekali meniup ubun-ubun kakek dengan serapal doa. Tak lama, setelah ruang kami hanya dilanda isak dan lantunan ayat suci, kakek kembali mengulangi kata-katanya; menyuruhku membuat lem perekat dari getah untuk menangkap burung cendet. Aku tidak tahu apakah kata-kata kakek itu hanya igauan atau memang sadar. Ia masih terpejam.

Saat kuelus pipinya, telapak tanganku merasakan panas yang sangat. Aku menoleh ke arah jendela, ke arah beranda yang usuk-usuknya penuh kawat bergantung kurung aneka rupa, berisi beragam jenis burung langka yang sebagian dilindungi pemerintah. Burung itu tak seperti hari-hari biasanya. Ia jarang berkicau sejak kakek sakit.

”Coba kau lepas burung-burung itu, Mid. Siapa tahu sakit kakekmu karena tulah burung itu, karena burung-burung itu termasuk burung langka,” pinta nenek kepadaku. Aku cemas hendak menjawab apa, mengingat burung-burung itu bernilai ratusan juta rupiah dan tentu saja kakek masih menyayanginya.

#

Sekitar sebulan sebelum kakek sakit, nenek sering mengomel di depan kami yang sedang mendidihkan getah nangka dan getah benda di atas tungku. Nenek minta kami berhenti menangkap burung karena dari beberapa burung yang kami tangkap termasuk burung yang sudah langka di pulau kami.

”Burung kepodang, cendet, dan burung jalak sudah jarang kita lihat di ladang dan di jalan-jalan. Burung-burung itu kini sudah langka. Mestinya Aki tidak menangkapnya,” ucap nenek kesekian kalinya sambil berdiri di depan kakek yang sibuk menuangkan cairan oli bekas ke dalam kuali yang sudah berisi getah.

”Justru karena langka aku menangkapnya, karena harganya semakin mahal, Ni!” jawab kakek di sela-sela batuknya karena diambung asap perapian.

”Pikiranmu kok terbalik sih, Ki? Kalau langka mestinya jangan ditangkap, biar bisa berkembang biak, biar banyak lagi, biar keturunan kita bisa menikmati bunyinya sepanjang zaman.”

”Lho? Pikiranmu yang kebalik. Kelangkaan ini mestinya kita manfaatkan biar burung yang tinggal sedikit itu hanya jadi milik kita. Kita akan kaya raya nanti, hahaha.” Tawa kakek mengiringi suara retakan kayu bakar yang ia sorong.

”Aki memang bisa meraup uang banyak dari burung-burung itu, tapi alam akan miskin tanpa burung-burung itu. Kekayaan di tengah alam yang miskin tak ada gunanya, Ki.”

”Haha! Sok bijak kau, Ni!”

Aku hanya bisa mendengar perang mulut keduanya sambil terus mengaduk getah dari pelepah daun siwalan.

”Hai, Ki!. Ingat ya! Menangkap burung langka itu membahayakan hidupmu, Ki?”

”Kenapa?”

”Jika itu seekor indukan, kasihan anak-anaknya yang tak bisa makan dan pasti mati. Kamu yang dosa,” suara nenek lebih keras. Jari telunjuknya lurus ke wajah kakek.

Kakek hanya tertawa. Wajah nenek tampak semakin marah.

”Dan jika itu termasuk burung yang dilindungi. Kamu bisa dipenjara, Ki!” nenek berkacak pinggang. Tawa kakek kian nyaring hingga tubuhnya berguncang-guncang dan gigi depannya yang hitam dan tinggal saparuh tampak menyembul. ”Apa pun yang terjadi, pokoknya burung-burung dengan kicau emasnya itu harus kutangkap,” ungkapnya kemudian sambil mengganti pelepah yang kupegang dan ia mengaduk perlahan seraya menghidu asapnya untuk memastikan apakah getah itu sudah jadi lem atau belum.

Pikiranmu kok terbalik sih, Ki? Kalau langka mestinya jangan ditangkap, biar bisa berkembang biak, biar banyak lagi, biar keturunan kita bisa menikmati bunyinya sepanjang zaman.

”Mid! Sebaiknya kamu berhenti ikut kakekmu menangkap burung, biar tidak tertular dosanya,” pesan nenek sebelum lekas bergegas masuk kamar.

”Jangan dengar apa kata nenekmu. Tidak akan terjadi apa-apa. Di lereng hutan Rongkorong aku masih sempat melihat burung jalak dan burung cendet, nanti sore kita ke sana,” bujuk kakek sambil menurunkan kuali dari tungku. Harum getah yang matang bercampur bau oli, menyatu dalam pembauanku-mengingatkanku pada burung-burung nelangsa yang telah terperangkap lekat di ujung ranting; hanya bisa pasrah, berkelepak lemah dengan mata yang redup menyerah.

#

Sore ini, sebagaimana waktu-waktu sebelumnya, saat pergi menggetah burung, kakek pasti berjalan di depan. Memakai sepatu bot yang bagian atasnya sudah robek. Ia memanggul sangkar darurat sebagai tempat hasil buruan. Wajahnya kerap mendongak ke arah dahan dan ranting. Sedang aku berjalan di belakangnya, melangkahi rumput dan semak penuh awas; khawatir ada ular atau duri.

Kakek menyarankanku tidak bicara, kecuali bila penting, itu pun dengan kalimat singkat dan lirih. Lebih ekstrem lagi, kadang kakek membuat kode dari jari untuk memudahkan berkomunikasi tanpa mengeluarkan suara.

Entah kenapa semakin hari aku merasakan hal yang berbeda; burung-burung incaran semakin sulit ditemui. Tingkah kepodang yang biasanya melepas kicau merdunya dari dahan-dahan kesambi sudah tidak ada. Burung cendet yang sering memanja telinga dengan kicau merdunya tak melintas seekor pun. Begitu juga dengan jalak, aku tak bisa melihatnya lagi melompat dan menari sambil berkicau di ranting-ranting akasia.

Sepanjang perjalanan, kami hanya disuguhi kersik angin dan bising mesin penebang kayu. Alam seperti kehilangan suara merdunya. Hingga tiba di sebuah persimpangan, ketika kami duduk melepas lelah di tonggak kayu, kuutarakan segala cemasku pada kakek.

”Benar juga kata nenek ya, Kek. Burung cendet, kepodang, dan jalak sudah jarang kita temui sejak sering ditangkap. Tanpa suara burung-burung itu, alam seperti kehilangan lagu indahnya.”

”Lantas?” kakek memotong dengan intonasi tanya.

”Lebih baik kita tidak menangkap jenis burung itu, Kek!”

”Hai, Mid. Dengar baik-baik ya, kamu bisa hidup dan bisa makan itu karena usaha kakek menjual burung langka. Andai tak begitu, sudah pasti kamu mati. Ayahmu sejak menikah lagi tak pernah membiayai hidupmu.”

Kata-kata kakek membuatku menunduk, umpama puluhan jarum yang ditusukkan berkali-kali ke dalam dada. Tak kutemukan kalimat yang pantas untuk meresponnya. Kami sama-sama diam di antara sela bunyi guguran daun dan kecius angin.

”Ayo! Kita lanjutkan perjalanan. Kau jangan terpengaruh kata-kata nenekmu!”

Aku pun lanjut mengikuti langkah kakek, melibas rimbun semak di jalan setapak yang jarang dilalui orang. Kadang menanjak, kadang menurun, kadang berumput, kadang berbatu hingga kami berhenti di lereng hutan saat ada seekor burung cendet sedang bertengger di carang bambu.

Kakek memintaku membuka tutup wadah getah, kemudian jarinya yang bersarung plastik dicelupkan ke dalam getah, lalu dioles rata ke seluruh ranting yang di ujungnya telah dipasang umpan berupa seekor jangkrik yang diikat kuat pada polesan getah.

Kakek menancapkan ranting itu di area yang mudah dilihat oleh si burung. Kami lalu sembunyi di balik semak-semak. Burung cendet yang seperti tinggal satu-satunya di bumi itu pun mulai mengarahkan pandangannya ke arah jangkrik yang sedang bergerak-gerak. Tak lama kemudian terbang menukik ke arah ranting bergetah dan menyambar jangkrik dengan cepat.

”Sialan!” pisuh kakek karena burung itu tidak lekat pada ranting dan berhasil lepas membawa jangkrik. Aku sebenarnya bahagia melihat burung itu selamat. Tapi pura-pura jengkel juga demi menarik perhatian kakek. Kami mengejarnya dari pohon ke pohon hingga mendekat ke rumah kami. Anehnya, burung itu terbang ke arah pohon di dekat dapur dan menghilang di pohon itu. Tentu saja hal itu membuat kakek seperti ditantang oleh burung cendet itu. Kakek semakin marah sampai meninjukan tangannya ke pangkal pohon sambil mengancam untuk terus mengincar si burung hingga tertangkap.

Sejak peristiwa itu, hari-hari kakek seperti diliputi dendam pada burung itu. Ia terus mengajakku mencari burung-burung langka, terutama cendet yang sempat mencuri umpan kakek itu, tapi pencarian sia-sia; burung kepodang, cendet, dan jalak sudah tak ada di kampung kami. Lem getah berubah kering karena terlalu lama di penyimpanan. Kakek frustasi dan jatuh sakit. Dalam keadaan sakit parah, ia terus mengancam burung cendet di dekat dapur sambil menyuruhku membuat lem getah.

#

Setelah semua obat dan ramuan tak bisa membuatnya sembuh, akhirnya aku menuruti permintaan nenek untuk melepas burung-burung langka kakek dari sangkarnya satu per satu. Burung-burung itu terbang riang seperti tahanan yang menemukan kebebasannya kembali. Aku pun punya kesimpulan; mungkin kakek kena tulah burung-burung itu.

Hari setelah burung dilepas, pada suatu malam yang gerimis aku menemukan keanehan terjadi pada kakek. Ia tiba-tiba bisa duduk dengan wajah yang berbinar. Lantas ia bercerita kepadaku bahwa sebelumnya—saat dirinya sedang lelap—ia merasakan ada tujuh ekor burung langka terbang memasuki tubuhnya dan bertengger di pangkal jantungnya. Ketika burung-burung itu berkicau, pada saat itulah dirinya merasa kekuatan dirinya kembali pulih. Tentu saja cerita kakek itu sangat tidak masuk akal, tapi aku bahagia karena kakek sudah bisa duduk dengan wajah yang cerah.

”Burung-burung itu sama persis seperti burung kakek yang ada di beranda. O, ya. Apa burung kakek di beranda itu masih baik semua?” tanya kakek membuatku terkejut. Setelah sejenak membisu, lalu kujawab dengan tenang, ”Burung-burung itu sudah pindah ke dalam tubuh kakek,” jawabku tak kalah absurd dengan pernyataan kakek tadi.

Kakek tersenyum dan berterima kasih.

Gaptim, 2022

***

A Warits Rovi lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media, antara lain Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, MAJAS, Sindo, dan Femina. Memenangi beberapa lomba karya tulis sastra. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sementara buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangi lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020.

sumber : kompas.id, 22 Apr 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme