Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sang Mertua oleh Wilson Nadeak

Posted on Ming, 07 Sep 2008

Baru satu hari tiba di Yogya dan bermalam di hotel, kepalaku terasa pusing. Rombongan pertemuan wanita baru saja pergi dan aku tinggal sendiri karena kurasa wajahku sebelah terasa nyeri dibarengi kepala yang berat. Kucoba merendam diri di kamar mandi, tetapi rasa nyeri itu tidak hilang juga. Kukira karena perjalanan jauh naik kereta api dari Jakarta-Yogya. Sebelum malam jauh, aku membeli obat sakit kepala, namun sepanjang malam keadaan tidak bertambah baik. Keesokan harinya kukatakan kepada rombonganku bahwa aku tidak dapat mengikuti pertemuan wanita dan pamit pulang ke Jakarta. Rasa pening kepala makin menjadi-jadi, dan sebagian wajahku, pipi sebelah kanan rasanya seperti kaku, demikian Marice menuturkan awal penderitaannya.

Suamiku terkejut melihat aku sudah kembali begitu cepat. Kuceritakan bahwa aku merasa tidak enak badan. Sepanjang dua hari kepalaku nyut-nyutan dan mata sebelah seperti tidak sinkron dengan yang sebelah lagi. Suamiku tampak cemas dan mengajakku pergi ke dokter. Digandengnya aku ke dalam mobil dan sore itu dokter memeriksa wajahku sebelah kanan. Dengan jarinya ia menekan pipiku dan mengatakan adanya pembengkakan. Ia memintaku untuk menceritakan awal mula rasa sakitku. Kututurkan semua gejala yang kurasakan dan kemudian dokter merujuk aku ke rumah sakit.

Pelbagai macam obat kutelan yang membuat rasa nyeri menjadi hilang, tetapi suamiku mengatakan bahwa pipi kananku agak membengkak. Secara patologis aku merasa sakit dan dinyatakan oleh dokter memang sakit, namun apa penyakitku belum diketahui dengan jelas. Berbulan-bulan aku menjadi pasien beberapa rumah sakit dan gonta-ganti dokter, namun keadaanku belumlah membaik. Suatu saat, ketika aku merasa agak baikan, aku minta pulang ke rumah.

Aku cemas jika suamiku menghiburku, jangan-jangan ia tertarik kepada wanita lain mengingat wajahku yang semakin tidak berbentuk. Kuingat masa pacaran dahulu, ketika aku memutuskan hubungan dengannya sekadar untuk menguji sejauh mana cintanya, membuatnya menderita demam. Mengapa aku ”memutuskan” tali cinta sebagai uji coba, karena kudengar darinya bahwa saudara-saudaranya dan orangtuanya tidak setuju mendengar kami menjalin cinta kasih, karena berbeda suku. Konon, ibunya mengatakan bahwa seorang gadis sedang menunggunya di kampung halaman dan menyuruhnya segera kembali. Nyatanya, ia mencintaiku dan kami menikah. Pesan ibuku kepadaku, juga sebagai nasihat yang kupegang teguh, ialah:

Nak, kalau nanti menikah, perlakukan suamimu seperti tuanmu, apa pun pangkat dan jabatanmu. Layani ia di meja makan kalaupun terlambat pulang ke rumah, sediakan makanan untuknya dan duduk di dekatnya. Tunggu ia sampai selesai makan. Perhatikan, jika makan, jangan berikan sisa makanan untuknya. Bila ia belum kembali dan terpaksa kau lebih dahulu makan, atau entah dengan siapa di rumahmu, selalulah pisahkan untuknya. Bila kau bangun tidur, bereskan tempat tidurmu. Jangan sekali-kali biarkan pembantu rumah tangga membenahi tempat tidurmu. Dan itu semua kulakukan dengan penuh perhatian sehingga suamiku merasa selalu diperhatikan. Akankah cintanya akan berkurang karena kini melihat wajahku sangat berbeda? Bengkak sebelah karena daging tumbuh yang nyaris menutupi seluruh kupingku sebelah kanan?

Dari hari ke hari suamiku selalu pulang ke rumah tepat waktunya dan selalu duduk di dekatku sambil membelai punggungku. Kuingat, pernah sekali kami berjalan mendaki bukit bersama rombongan. Entah karena licin, aku tergelincir dan segera ditangkap suamiku yang berjalan di belakang dan kemudian membopongku sampai ke atas. Kawan-kawan yang lain yang sesuku dengan suamiku tersenyum-senyum. Kutanyakan kepada suamiku mengapa mereka tersenyum-senyum, seolah-olah ada sesuatu yang menggelikan? Suamiku menjawab bahwa di tengah-tengah suku mereka tidak lazim suami memangku istri di tengah-tengah orang lain. Oh, kalau di tempat sunyi, boleh? jawabku. Untuk menjawab aku, suamiku tidak langsung berkata kepadaku, melainkan kepada kawan serombongan, mengatakan bahwa lebih baik aku menyelamatkan istriku dengan menggendongnya daripada ia cedera dan masuk rumah sakit. Toh saya juga yang rugi, bukan? katanya. Kawan-kawan serombongan tetap saja tersenyum-senyum, sambil mengangguk-angguk.

Setahun kemudian aku memeriksakan diri ke rumah sakit khusus kanker dan hasilnya mencengangkan. Menurut pemeriksaan laboratorium, aku divonis stadium tiga. Dokter berulang-ulang memerhatikan gambar hasil potret daging tumbuh di pipiku, hasilnya selalu dinyatakan dengan geleng-geleng kepala. Kami tidak sanggup, katanya. Akarnya telah merambat ke mana-mana. Mereka angkat tangan, padahal dokternya sudah profesor yang terkenal ke mana-mana di bidangnya.

Aku bertekad dalam hati, tidak mau mati. Anak-anakku dan suamiku sangat memerlukan kasih sayangku. Aku berdoa dan berdoa kepada Tuhan agar mukjizat diturunkan kepadaku. Dalam keadaan sulit seperti ini, datang surat dari kampung halaman suamiku. Dalam suratnya yang panjang lebar itu, ada sebuah kalimat yang menyentuh hatiku: Barangkali istrimu ada kesalahan kepada Ibunda yang jarang dijenguknya…. Ya, Tuhan! kucoba kutelusuri lubuk hatiku, mungkin ada kesalahan kata, maklum mulutku rica-rica (mengucapkan kata yang pedas), atau kesalahanku kepada saudara-saudara pria dan wanita dari kerabat suamiku. Kurasa tidak ada. Tetapi, apa salahnya kalau aku datang menemui mertua perempuan yang tinggal sendiri dan meminta ampun kepadanya karena jarang kujenguk dan suami selalu terlalu sibuk. Katanya, perilaku demikian juga adalah wujud dari rasa tidak sopan dan tidak tahu ”adat”. Suku suamiku memang keras dengan adatnya.

Walaupun dalam keadaan sakit kukatakan kepada suamiku supaya pulang kampung. Ibu mertuaku pun sedang sakit dan pernah kukirim sesuatu kepadanya. Suamiku terharu dan merangkulku sambil bertanya, ”Kau bisa berjalan ke sana?” Kujawab, ya. Apa pun akan kulakukan dengan kesehatan mertua dan kesehatan jiwaku juga. Bahkan, kalau diminta untuk mencium kakinya, aku mau.

Sebuah kerinduan yang timbul dalam diriku, kalau aku minta ampun kepada ibu mertua, penyakitnya mungkin akan sembuh dan barangkali Tuhan juga akan mengampuniku dan memberi kesembuhan kepadaku. Dalam keyakinanku, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Dan perjalanan pulang kampung halaman pun dimulai. Di Medan aku terpaksa masuk rumah sakit beberapa hari. Dokter memberikan obat untuk menahan rasa nyeri. Perjalanan pulang ke kampung, seperti kata suamiku, adalah perjalanan sulit yang pertama kali kulakukan. Di kampungku sendiri tidak ada perjalanan sesulit ini. Delapan jam perjalanan! Jalan yang berliku-liku dan menikung, antara gunung dengan lembah, dan jurang yang dalam. Suamiku memelukku sepanjang jalan yang membuat penumpang lain tersipu-sipu, mungkin mereka menganggapku perempuan yang manja. Entahlah. Perjalanan ini benar-benar melelahkan bagiku.

Menjelang senja kami tiba. Rumah mertuaku yang cukup besar membuat hatiku lega. Tapi, jangan tanyakan soal kenyamanan untuk mandi dan membuang hajat. Itu di luar pemikiran orang kota. Tetapi, tidak apalah. Aku harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi.

Ibu mertuaku tersenyum menyambut kedatanganku. Ia tidak bisa berdiri. Duduk pun susah. Segera aku bersimpuh di dekat tempat tidurnya yang beralasan tikar. Kupegang tangannya dan kusapa ia dengan bahasanya (yang kupelajari dari suamiku sebelumnya), yang membuatnya agak kaget. Ia meraba wajahku sambil mengangguk-angguk. Aku memohon maaf kepadanya karena lama tidak pernah menjenguknya. Rupanya, keadaan ibu sudah cukup parah sehingga ia sulit bangun dari tempat tidur.

Paginya, aku memasak air panas dan memandikan ibu. Kusuapi ia dengan makanan pagi. Ia mengunyahnya. Wajahnya berseri-seri. Kutanyakan kepada saudara perempuan suamiku apakah selama ini Ibunda mau makan, mereka menjawab, tidak. Rupanya, setiap kali diberi makan, mereka hanya menaruh makanan di dekat ibu dan membiarkannya makan sendiri. Mula-mula ia dapat makan sendiri, tetapi lama-kelamaan ia tidak mampu bangun, dan membiarkan makanan dingin di sampingnya. Kutanyakan mengapa tidak dialas dengan kasur, mereka menjawab bahwa kasurnya sering basah dan akhirnya rusak. Kubeli kasur baru untuknya, dan setiap hari kuberi makan dan kuganti pakaiannya.

Seminggu kemudian Ibunda sudah dapat duduk dan nafsu makannya pulih kembali.

Pada suatu hari ibu mertuaku mengatakan bahwa ia ingin makan kue dan aku membawakan kue untuknya. Saudara-saudara perempuan suamiku menjadi amat ramah kepadaku, tetapi mereka sering tertawa cekikikan kalau suamiku duduk di sampingku sambil memberi makan ibu. Apalagi kalau suamiku menggandengku di dekat ibu, mereka tertawa tersipu-sipu. Melihat itu, ibuku tidak berkata apa-apa. Kesehatan ibu mertuaku semakin membaik. Sekalipun sibuk, aku dapat tidur dengan nyenyak. Kalau hendak makan, suamiku selalu menungguku, sampai selesai mengurus ibu.

Senyum saudara-saudara suamiku, yang lelaki dan perempuan, selalu mengembang setiap kali suamiku duduk di sampingku, atau duduk di tangan kursi yang kududuki. Akhirnya aku memberanikan diri dan bertanya kepada mereka, ”Apa ada yang keliru dengan kami berdua?” Mereka akhirnya menjawab dengan senyum dikulum, ”Kalian suami-istri yang mesra….”

Oh, tanpa kami sadari lingkungan kami, kami bersikap seperti di rumah sendiri. Dan itu menggelikan bagi mereka. Tetapi, salah seorang dari saudara perempuan suamiku bercerita di beranda, ketika ibu mertuaku sudah lelah di kamar, katanya:

Menurut ayah kita, almarhum, ibu adalah seorang yang keras. Kerasnya bagaikan batu cadas, kata ayah. Kalau ibu mengatakan tidak, ya tidak. Sekalipun gempa bergoyang-goyang, dia tidak akan goyah….

Maksudnya? tanyaku tidak sabaran.

Ayah menikah dengan ibu karena dijodohkan orangtua masing-masing. Ibu sendiri tidak menolak pernikahan itu. Pesta meriah diadakan. Semua gembira dan senang. Setelah pernikahan itu, ayahlah yang menjadi tidak senang. Ibu selalu menghindar dari ayah. Bukan satu minggu, dua minggu, bahkan berbulan-bulan. Untung ayah seorang pemuda yang sabar dan penuh dengan pertimbangan. Enam bulan berlalu, ibu selalu menghindari ayah.

Lepas bulan keenam, ayah mengajak ibu ke kebun untuk menggarap kebun. Rupanya, di kebun itulah ibu mengenal ayah sebagai suami, dan sejak itu keduanya tidak dapat dipisahkan, siang malam.

Dan setiap tahun, anaknya lahir….

Ketika ayah meninggal dunia, bertahun-tahun ibu merasa kehilangan yang amat sangat, yang membuat kesehatannya semakin merosot. Dan, kehadiran kalian berdua membuat semangatnya hidup kembali, kemesraan kalian itulah!

Aku menatap suamiku, dan suamiku mengeratkan tangan kirinya di pinggangku, sementara saudara-saudaranya menatap lurus ke depan, entah memandang siapa.

Setahun kemudian kuperiksakan penyakitku ke dokter lain di kota lain, sang dokter membaca hasil rontgen, lalu berkata, ”Kita akan operasi,” Dan ternyata, gumpalan daging dan akar-akarnya semua dicabut. Dokter mengatakan semuanya bersih!

Wajahku dijahit kembali dengan lapisan dari kulit perutku. Beberapa minggu kemudian suamiku datang dan memelukku. Kutanyakan, ”Apakah kau tetap mencintaiku?” Jawabnya, Tetap!

Pelukannya mengingatkan aku kepada Sang Mertua.

Bandung, 11 Juni 2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme