Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Doa Burung-burung oleh Nur Hadi

Posted on Sab, 30 Apr 2022

Jika kalian pernah lewat ke dusun yang sekarang terkenal dengan sebutan Ringinjajar, kalian mungkin pernah mendengar cerita indah ini. Cerita yang bisa saja kalian dengar dari burung-burung yang bercuit kala pagi hari di pekarangan rumahmu. Tentu saja kalian takkan bisa memahami bahasa kami. Raja Sulaiman tak mewariskan kemampuan itu kepada siapa pun. Tapi, bahasa kebaikan selalu akan mudah dibaca dan dirasakan oleh siapa pun. Betapapun yang membawanya adalah rombongan burung-burung.

Cerita ini dimulai dari sebuah makam baru yang terletak hampir di pinggiran perkuburan itu. Diawali oleh seorang bocah lelaki yang sering mengunjungi makam ibunya.

”Aku akan selalu mengingat pesan-pesan ibu,” ujar bocah lelaki itu pada kunjungan pertamanya. Dalam suasana haru.

Pertama kali menemukannya, aku langsung merasa tertarik untuk terus mengikuti gerak-geriknya. Bukan lantaran ia selalu sendirian saat berkunjung ke makam itu. Entah mengapa di mataku dia terlihat menyenangkan dan memiliki tingkah laku yang takkan mudah dilupa. Dikumpulkannya aneka bunga cantik di perkuburan untuk kemudian ditaburkan di atas makam ibunya. Tak peduli rerumputan yang mempersembahkan untuknya.

”Ini adalah batu pertama yang kuhadiahkan padamu, Bu,” ujarnya, sambil meletakkan sebuah batu di sisi makam ibunya. Batu biasa, sejempol kaki orang dewasa. ”Hari ini aku sudah tidak menangisi kepergianmu lagi. Hari ini aku sudah tumbuh dewasa.”

Di kunjungan berikutnya, aku pun masih tertarik untuk terus mengawasi gerak-geriknya. Seperti terkena sihir. Atau barangkali lantaran efek empati kesamaan nasib. Aku pun ditinggalkan ibuku sejak pertama kali belajar terbang. Bukan ditinggalkan—mungkin lebih tepatnya seleksi alam. Ulah pemburu. Dan, aku bahkan kami tidak tahu bagaimana nasib ibuku kemudian. Bisa jadi saat itu ibuku sengaja mengumpankan diri agar si pemburu melewatkan sarang kami. Padahal, di sana masih ada aku seorang diri.

Oh, bocah malang itu membawa sepasang bibit pohon. Ditanamnya bibit tanaman itu di ujung kaki dan kepala makam ibunya. Mungkin untuk menandai agar makam mudah dilihat.

”Ini adalah batu kedua yang kuhadiahkan kepadamu, Bu,” ujarnya, sambil meletakkan sebuah batu (lagi) di sisi batu yang kemarin. Besarnya sama.

”Hari ini adalah hari pertama aku bekerja, Bu. Mulanya, aku ditolak di gudang meubelnya Kang Arif. Kamu masih kecil, bisa apa? katanya. Pabrik rotannya Pak Sono juga tidak mau menerimaku. Aku lalu minta pekerjaan ke Haji Nurdin. Syukurlah, beliau menerimaku untuk bekerja apa saja—sesuai kebisaanku apa di rumahnya,” ceritanya berhenti sejenak. Ia lalu meneruskan, ”Aku butuh makan, Bu. Butuh jajan juga. Biaya sekolah. Bukankah meminta-minta itu tak baik?” ujarnya kepada makam ibunya yang tak pernah menjawab. Seperti orang gila.

Oh, tidak-tidak. Aku pun dulu seperti itu. Sering berbicara dengan angin. Tak peduli akan ditanggapi seperti apa.

Lantaran tertarik sekaligus penasaran (atau bisa saja memang soal empati), aku pun menceritakan perihal bocah itu kepada teman-temanku. Salah satu temanku bilang, anak itu sebenarnya masih dilanda kesedihan. Itulah mengapa dia jadi bertingkah sedemikian rupa. Nanti, pada saatnya dia juga akan lupa dengan makam itu. Sebagaimana makam-makam lainnya yang ditelantarkan oleh keluarganya. Tapi, aku punya pendapat lain.

Aku sangat senang ketika hari-hari berikutnya masih bisa melihat kunjungannya. Seperti tak punya lelah. Seolah ibunya masih hidup. Dan seperti biasa, setelah menaburkan aneka bunga yang ia petik dan kumpulkan dari area pekuburan, ia menyambung barisan batu yang telah ia buat.

”Kemarin aku dituduh mencuri, Bu. Kecuali Haji Nurdin, hampir semua orang di rumah itu menuduhku. Tapi aku sungguh tidak mencuri, Bu. Jika aku mencuri, aku pasti akan sangat malu kepadamu. Untuk apa aku selalu menanam janji kepadamu kalau di luar sana aku khianati sendiri?”

Sepasang pohon yang ia tanam di ujung kepala dan kaki makam ibunya telah setinggi leher. Belum berbunga. Dan ia masih setia mengunjungi makam ibunya. Melihat daun-daunnya, aku yakin itu adalah pohon beringin. Aku tahu persis, lantaran pohon beringin termasuk tempat favorit kawanan kami. Kerindangannya amat cocok untuk meletakkan sarang. Kami juga sering berburu ulat di pohon beringin. Sesekali kami juga singgah di dahan sepasang pohon itu. Sekadar mampir untuk mencari dahan yang lebih tinggi dan rindang.

Lihat, dia masih mengunjungi makam ibunya, kataku kepada teman yang dulu pernah meragukannya. Pada sebuah kunjungan berikutnya, bocah lelaki yang telah beranjak remaja itu cerita bahwa ia telah keluar dari rumahnya Pak Haji Nurdin. Oya, pencuri yang pernah diceritakannya di sini waktu itu ternyata adalah pembantu Haji Nurdin yang baru setahun bekerja di sana. Setelah terbukti tidak bersalah, akhirnya dia malah dijadikan orang kepercayaan. Haji Nurdin memintanya untuk mengurus salah satu toko kelontongnya di pasar.

”Aku tidak dendam kepada siapa pun, Bu. Bukankah Tuhan sudah membalasnya?” ceritanya, sambil meletakkan sebuah batu lagi, melanjutkan barisan batu yang ia buat. Apakah batu-batu itu memang sengaja ia susun dengan maksud tertentu? O, aku semakin tertawan.

Dan setelah sepuluh tahun lewat, pemuda itu bercerita bahwa dia hendak memulai usahanya sendiri. Aku masih mengikutinya. Ada yang masih belum terjawab tentangnya.

”Aku ingin buka toko sendiri, Bu. Aku mau jual macam-macam olahan berbahan ayam,” ujarnya, di hadapan makam ibunya. Ditanamnya lagi sebuah batu di sisi makam, hingga bentuknya mulai terlihat. Rapi mengelilingi makam. Tapi kurasa, bukanlah keindahan semata tujuannya.

Tentu saja agar beda dengan makam yang lain, komentar temanku yang merasa rasa penasaranku terlalu berlebihan. Cinta buta memang berbahaya. Kesia-siaan pun dianggap ada guna, komentar temanku lagi. Aku kadung tak peduli.

Sayangnya, baru saja membalikkan badan, dua orang lelaki telah menunggunya di pintu pekuburan.

”Kami cuma mau bilang, pohon beringin di makam ibumu itu harus ditebang lantaran sudah terlalu besar,” ujar salah seorang lelaki itu. ”Coba kau lihat, bukankah makam ibumu justru hampir hilang?”

Kalimat terakhir lelaki itu tak sepenuhnya benar. Memang, beringin kembar itu telah membesar dan akan terlihat berdempetan saat diperhatikan dari kejauhan. Tapi mereka mengingkari adanya keajaiban akar-akar yang terbentuk sedemikian rupa hingga tak menutupi makam sepenuhnya. Area itulah yang dipenuhi batu-batu yang rutin ditanam. Tentu saja itu adalah hasil kerja pemuda kita.

”Mengapa harus ditebang? Bukankah lantaran pohon beringin itu, area permakaman justru menjadi teduh?”

”Kami hanya menjalankan perintah. Tadi para pengurus makam telah mengadakan rapat di masjid. Kami kemudian diutus untuk mengabarimu,” ujar lelaki yang satunya.

Tak bisa membantah. Wajah pemuda kita kentara sekali menyembunyikan kecewa. Tapi, yang sebenarnya terjadi bukan hanya dia yang kecewa. Kami justru paling bersedih. Pasalnya, beberapa tahun ini pohon beringin itu telah menjadi bagian dari kehidupan kami. Kami sering mencari makanan di situ. Beberapa dari kami juga telah membuat sarang di situ. Walhasil, kawanan kami menjadi gelisah.

Oh, kini aku mulai mengerti apa keistimewaan pemuda itu yang membuatmu jatuh cinta kepadanya, ujar temanku yang sudah sama-sama renta. Sebuah kesadaran yang hampir terlambat.

Dan, kami memang tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan sepasang pohon itu. Pun anak-anak kami yang telah mendengarkan warisan cerita. Kami hanya bisa ramai-ramai berdoa, meniru ketabahan pemuda kita. Langit pun seperti turut bersedih. Sepanjang malam itu, hujan turun begitu deras sekali, tiada henti. Hujan yang seperti kesedihan menderu-deru.

Pagi harinya kami dikagetkan dengan sebuah kejadian luar biasa. Sehabis subuh, banjir bandang menyapu semua. Tanah lumer mengalir dari hulu dengan derasnya. Sebagian tanah pekuburan juga turut tersapu hingga hanya menyisakan separuhnya—tak jauh dari lokasi makam ibunda pemuda kita.

Dari kejauhan kami bisa melihat puluhan kerangka manusia yang turut tersapu banjir. Aliran lumpur mengalir deras menuju ke hilir. Dan akar sepasang pohon beringin yang saling melilit seperti ular itulah yang ternyata menahan tanah di sekitarnya sehingga tak turut tersapu banjir. Makam ibunda pemuda kita selamat.

Hari itu rupanya doa kami terkabul. Meski terjadi sebuah musibah, tapi rumah kami tak jadi atau mungkin tunda ditebang. Tanah pekuburan yang tinggal separuh itu akhirnya dibiarkan begitu saja. Rencananya, permakaman itu justru akan diperbaiki. Sementara dua beringin yang berjajar kemudian dikeramatkan dan dijadikan nama dusun. Konon, hal itu atas usul beberapa keluarga yang makam keluarganya terselamatkan.

Nasib puluhan kerangka hanyut yang berhasil diselamatkan dipindahkan ke permakaman baru di perbatasan desa. Hari berikutnya, kami pun masih bisa menjumpai pemuda kita yang masih rutin menziarahi makam ibundanya. Kami selalu bernyanyi riang saat melihat kedatangannya. Terutama anak-anakku, yang sudah kupersiapkan untuk menerima kepergianku yang sebentar lagi. Lihatlah selalu pemuda itu, nasihatku setiap waktu.

”Seperti yang pernah Ibu katakan kepadaku dulu, setiap perbuatan baik pasti akan mendapatkan balasan berlipat ganda. Aku meniru Haji Nurdin, Bu. Hari ini aku mengambil anak yatim yang mau membantuku kerja di toko,” cerita pemuda kita, sambil menanam sebuah batu lagi.

Batu yang ditanam rupanya telah genap melingkari makam sang ibunda. Makam itu jadi terlihat indah dan beda dari makam yang lain. Batu-batu menandai jumlah kunjungan, doa-doa, janji, sekaligus kepedulian.

Jika kalian kebetulan lewat dusun yang sekarang sering disebut Ringinjajar, cobalah mampir sejenak ke pemakaman itu. Siapa tahu kalian bisa bertemu dengan pemuda kita atau sekadar melihat keriuhan kami di antara rimbun dahan pohon beringin. Kami yang turut berdoa tiap kali melihat kedatangan pemuda saleh itu.

****

Cerpen ini merupakan versi “sastra” dari cerpen anak yang saya garap dengan judul serupa dan memenangi juara harapan di sebuah lomba.

*** Nur Hadi memiliki nama pena Adi Zam-Zam. Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, menang juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA. Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan ‘Akademi Menulis Jepara’.

sumber : kompas.id, 30 Apr 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme