Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dongeng Tanah Rantau oleh Ratna Nisrina

Posted on Sab, 07 Mei 2022

Kupandangi kamar berukuran kecil ini. Bau pengap terasa menggelitik di hidung. Hanya secuil jendela tampak menghias di sudut kamar. Kecil, hingga cahaya pun enggan masuk menyapa. Aku pun terduduk penuh tanya. Mungkin akan kuhabiskan hari-hariku di sini. Bersama muramnya dinding rumah yang mulai mengelupas termakan usia. Semoga apa yang menjadi pilihanku kini tak berubah menjadi simalakama. Entahlah, lihat saja apa yang akan terjadi esok.

Sebuah pilihan dan tentu saja spekulatif sekali. Inilah yang kuputuskan selepas tamat SMA. Berbekal ijazah SMA dan tentu saja kenekatan. Kenekatan yang tak berdasar. Aku memutuskan untuk mengadu nasib di ibu kota Jakarta. Ya, sudah kuputuskan untuk datang ke tanah rantau ini. Sungguh, ini adalah sebuah perjudian. Kalau berhasil dan sukses, kupikir bisa menyisihkan beberapa rupiah untuk ibuku di kampung. Kalau pun gagal, aku cukup kembali ke kampung. Aku hanya berpikir sebatas itu. Tak pernah terpikir hal lain dalam kepalaku. Pemikiran naif dari pemuda 18 tahun yang baru kemarin sore menata mimpi.

Tentu saja keputusanku ini tak kubuat atas inisiatif pribadi. Para perantau yang ada di kampungku menjadi alasan mengapa aku pergi ke ibu kota. Tiap Lebaran tiba, aku merasa kagum dengan segala kemewahan yang mereka bawa. Mereka berduyun-duyun datang, tampak gagah dengan tunggangan masing-masing. Mobil-mobil tampak mengilap berjejer di halaman rumah mereka. Aku kagum dengan kesuksesan mereka di tanah rantau.

Sering kali para perantau ini membagikan amplop dan bingkisan sembako kepada tetangga di kampung. Semakin menasbihkan diri mereka sebagai orang yang sukses dan tajir. Terkhusus salah seorang dari mereka yang biasa kupanggil Pakde Parjo. Aku sampai tak bisa menghitung berapa sawah, tanah, dan kontrakan yang dimilikinya. Rasa-rasanya ialah yang paling kaya di antara tetanggaku yang menjadi perantau, sekaligus paling dihormati oleh mereka.

Aku mendengar bahwa Pakde Parjolah yang pertama kali merantau. Setelah terhitung sukses, ia mengajak warga yang lain untuk ikut ke tanah rantau bersamanya. Mungkin istilah keren saat ini Pakde Parjo adalah mentor untuk warga yang lain. Terbukti, warga yang ikut dengannya ketularan sukses. Satu tahun di tanah rantau, mereka pulang ke kampung tiap lebaran. Petentang-petenteng menampakkan keberhasilan mereka. Begitu konon katanya, dan kabar itu pun menyebar begitu saja. Warga perantau pun menjelma menjadi koloni di tanah rantau saking banyaknya.

Kesuksesan Pakde Parjo dan warga lainnyalah yang memotivasi diriku pergi ke tanah rantau. Percakapanku sore itu dengan Pakde Parjo mengalir begitu saja. Semakin menambah api dalam diriku untuk segera pergi ke tanah rantau. Pakde Parjo bilang aku tak perlu khawatir, ialah yang akan menjamin diriku di sana. Sontak perkataannya membuat diriku semakin terlena.

Aku segera pulang ke rumah. Kutemui Bapak dan Ibu yang saat itu sedang bersantai di teras rumah. Secangkir teh yang masih mengepul terhidang di meja. Mungkin mereka sedang melepas penat selepas bekerja di sawah. Tanpa basa-basi, kuutarakan keinginanku. Kata-kata meluncur dari mulutku.

”Pak, Bu, aku ingin ikut Pakde Parjo ke Jakarta.”

”Maksud kamu itu apa Ji?” Bapak tampak kebingungan dengan perkataanku yang tiba-tiba.

”Aji akan merantau Pak, seperti Pakde Parjo dan tetangga yang lain.”

”Apa kamu sudah yakin? Mau kerja apa kamu di sana?” Ibu ikut memastikan.

”Aji belum tahu mau kerja apa Bu, namun Pakde Parjo sudah janji. Ia akan menjamin Aji di sana.”

”Memang benar dia orang baik, walau begitu tetap saja Bapak khawatir. Sampai sekarang saja Bapak tak pernah tahu dia kerja apa di sana. Bapak hanya takut kamu kena masalah di sana.”

”Yang dibilang Bapakmu ada benarnya, kita tak punya sanak saudara di sana. Nanti kalau ada apa-apa denganmu bagaimana?”

”Tenang saja Bu, Aji sudah besar, sudah dewasa. Ibu dan Bapak tak perlu khawatir.”Perbincanganku dengan Bapak dan Ibu belum menemui titik terang. Kedua orangtuaku masih belum rela melepasku pergi ke tanah rantau. Saat ditanya alasannya, mereka selalu bilang kalau di sana belum tentu seindah yang kubayangkan. Walau demikian, aku tetap kukuh pada pilihan dan pendirianku. Berkali-kali kulontarkan bujuk dan rayu kepada mereka. Seperti batu yang terus ditetesi air, akhirnya keduanya pun luluh.

”Ingat, izin dari Bapak dan Ibu bukan keputusan akhir. Ibu mohon pikirkan kembali pilihan kamu Ji. Mantapkan hatimu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari,” ibuku mengingatkanku kembali.

”Tenang saja Bu, Aji yakin dengan pilihan ini. Anakmu ini yakin bisa sukses di sana,” ucapku dengan optimis dan berapi-api.

”Iya, Bapak paham dengan cita-citamu itu. Namun, yang terlihat indah tak selamanya benar-benar indah Ji. Terkadang tak sesuai dengan nuranimu.”

”Sungguh, anakmu ini sudah yakin Pak,” ucapku dengan yakin.

Restu telah kudapatkan, selepas Lebaran aku pun berangkat menuju tanah rantau di ibu kota Jakarta. Bersama dengan Pakde Parjo dan warga yang lain, aku pun menumpang rombongan mereka. Berbekal restu orangtua dan beberapa lembar uang dan pakaian aku memantapkan diri untuk mengadu nasib ke Ibu Kota. Masih teringat pesan Bapak di kepalaku dan terus teringang-ingang di sepanjang jalan.

”Tolong, jaga diri di sana. Cari kerja yang baik-baik, hasil sedikit tak apa asal dari sumber yang baik. Karena yang banyak belum tentu baik. Ingat pesan Bapak ini.”

Itulah pesan Bapak, tentu saja aku akan cari kerja yang baik. Pasti Pakde Parjo punya kenalan banyak di sana. Ia sudah janji kepadaku. Kalaupun belum dapat kerja, aku bisa kerja di tempatnya. Bukankah ia punya usaha yang mapan dan sukses.**

Perbincanganku dengan Bapak dan Ibu belum menemui titik terang. Kedua orangtuaku masih belum rela melepasku pergi ke tanah rantau. Saat ditanya alasannya, mereka selalu bilang kalau di sana belum tentu seindah yang kubayangkan.

Tampaknya harapan dan anganku mulai terkikis. Begitu sampai di Ibu Kota, aku mendapatkan kenyataan yang berbeda. Setiba di sini, aku digiring menuju permukiman kumuh. Tempatnya tak jauh dari pinggiran sungai yang mengaliri Ibu Kota. Aku kebingungan dalam diam, tempat ini beda jauh dengan kondisi kampungku. Sudah jelas, begitu Pakde Parjo dan warga lain membawaku ke permukiman ini, maka di sinilah aku akan tinggal dan singgah. Tiba-tiba aku teringat dengan suasana kampungku. Baru saja sampai, aku sudah rindu dengan suasananya.

Di kampung aku biasa menghirup udara segar dengan bebas. Namun, aku kesulitan menemukan hal yang sama di tempat ini. Rumah-rumah saling berdempetan, hanya sedikit yang punya ventilasi. Bahkan, jalan yang kulalui menuju tempat singgahku kurang dari 2 meter lebarnya. Kendaraan seperti motor dan sepeda pun akan kesulitan saat melewati permukiman ini.

Kuamati beberapa warganya sibuk mengumpulkan barang-barang bekas di depan rumah. Tak satu pun kutemui rumah dengan kondisi yang lebih layak. Kulihat rata-rata rumah di sini adalah bangunan semipermanen. Rumahku di kampung rasanya lebih layak dihuni daripada rumah-rumah yang ada di sini.

Aku semakin bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Namun, tak berani keluar sepatah kata pun dari mulutku. Aku hanya bisa mengikuti rombongan Pakde Parjo dan warga yang lain dalam diam. Kusimpan pertanyaanku menunggu saat yang tepat untuk kulontarkan.

Rombongan kami pun berhenti, beberapa warga dari rombongan segera membubarkan diri. Mereka berpencar menuju petak-petak rumah milik mereka. Mungkin ini saatnya. Pertanyaan yang sedari tadi kusimpan mulai keluar dari mulutku.

”Pakde, tempat apa ini?”

”Tempat yang akan kamu tinggali selama di sini. Rumah di ujung sana, itu tempatmu.” jawab Pakde Parjo sambil menyulut rokok di mulutnya. Ia tampak santai menjawab pertanyaanku, awalnya kupikir ia akan tersinggung.

”Aku harus bayar sewa berapa Pakde?” tanyaku spontan begitu mendengar bahwa aku akan ikut tinggal di salah satu petak rumah yang ada di sini.

”Ha…, ha…, ha…, tak perlu memikirkan biaya sewa Ji. Tanah dan rumah yang ada di sini tak ada pemiliknya. Rumah yang kamu tinggali, dulu ditempati Aryo. Sekarang dia tak mau balik ke sini. Katanya mau pensiun saja dan tinggal di kampung.”

”Memang Mas Aryo kerja apa Pakde? Bagaimana bisa pensiun di usia muda?”

”Lucu sekali kamu ini Ji, besok kamu sendiri akan paham kerjanya apa. Kamu sendiri akan kerja seperti Aryo. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Besok Pakde jelaskan apa pekerjaanmu,” jawab Pakde Parjo dengan misterius seraya meninggalkanku yang masih bertanya-tanya.

Jawaban Pakde Parjo semakin membuatku bingung, apalagi rumah yang kutinggali kini ternyata dulunya ditinggali Mas Aryo. Salah seorang warga kampungku yang dulunya ikut merantau bersama Pakde Parjo dan warga lainnya. Mas Aryo sendiri sudah beberapa tahun tak ikut kembali ke sini. Tiap ditanya ia selalu beralasan kalau tak bisa jauh dengan anak istrinya di kampung. Ketika disinggung tentang pekerjaannya di Jakarta, tak ada jawaban gamblang yang keluar dari mulutnya. Ia selalu menjawab jika usaha kecil-kecilan di kampung lebih baik daripada kerja di Jakarta walau penghasilannya lebih sedikit. Hingga saat ini pun, ia selalu mengalihkan pembicaraan saat ditanya tentang pengalaman kerjanya selama di Jakarta.

Ha…, ha…, ha…, tak perlu memikirkan biaya sewa Ji. Tanah dan rumah yang ada di sini tak ada pemiliknya. Rumah yang kamu tinggali, dulu ditempati Aryo. Sekarang dia tak mau balik ke sini. Katanya mau pensiun saja dan tinggal di kampung.

Mungkin inilah salah satu alasannya. Sekarang aku sedikit mengerti kegundahan Bapak dan Ibu. Bayangan indah yang awalnya kudamba perlahan mulai terkikis bersama diriku yang terlelap dalam rumah atau bisa saja kusebut dengan gubuk.

Keesokan harinya, begitu bangun aku langsung bersiap. Pakaian terbaik kukenakan, setelan kemeja biru dan celana hitam lengkap dengan sepatu kantoran menghias penampilanku pagi ini. Kusisir rambut sedemikian rupa agar nampak rapi. Tak lupa kusemprotkan minyak wangi di sekujur badan. Tampilanku pagi ini bak perlente.Saat asyik bersolek ria, terdengar ketukan pintu dari luar.

”Ji, sudah siap belum,” teriak Pakde Parjo dari luar.

”Sudah Pakde,” jawabku sambil membuka daun pintu rumah.

Pakde Parjo menatapku dengan penuh tanya. Matanya seolah menyelidik, mengamati diriku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia pun tiba-tiba menanyakan hal yang membuatku semakin bingung.

”Kamu mau ke mana Ji? Rapi sekali.”

”Bukankah Pakde menyuruhku bersiap untuk kerja.”

”Ah…, rupanya begitu. Sepertinya aku lupa memberi tahumu ya. Pakaianmu ini tidak cocok untukmu. Coba ganti dengan ini. Kutunggu di luar saja.” ujar Pakde Parjo seraya menyerahkan sebungkus plastik hitam lalu keluar begitu saja tanpa penjelasan sambil menutup pintu rumah.

Begitu pintu tertutup, langsung kubuka saja bungkusan plastik hitam yang ada di tanganku. Aku terkejut dengan apa yang ada di dalamnya, sepotong kaus dan celana pendek yang tampak lusuh dan compang-camping. Aku semakin tidak mengerti dengan maksud Pakde Parjo. Walaupun begitu, tetap saja kukenakan pakaian pemberiannya karena aku ingin memastikan apa yang selama ini mengganjal di pikiranku. Semoga saja prasangka burukku tak menjadi kenyataan.

Selepas berganti pakaian, aku menemui Pakde Parjo yang sudah menungguku di depan. Ia tampak puas dengan penampilanku. Tanpa banyak penjelasan ia membawaku ke tempat kerja yang ia janjikan sedari awal. Kuturuti saja ke mana pun ia membawaku pergi. Sudah telanjur banyak hal yang mengganjal di hati dan pikiranku semenjak tiba di Ibu Kota. Aku akan memastikan semua prasangka dan hal yang mengganjal terjawab hari ini.

Ia membawaku dengan mengendarai mobil bak terbuka bersama warga lainnya. Sontak aku kembali dibuat berpikir keras dengan kenyataan yang ada. Warga lainnya berpakaian sama denganku. Pakaian lusuh dan compang-camping tampak melekat di tubuh mereka. Setelah memastikan semuanya lengkap, aku dan warga lainnya dibawa ke beberapa tempat. Satu demi satu diturunkan di tempat-tempat yang ramai, seperti taman, pasar, perempatan jalan, dan sejenisnya. Aku mulai menemukan jawaban yang kucari dari semua tanyaku.

Tersisa aku dan Pakde Parjo di mobil yang kutumpangi. Kebetulan aku duduk di bagian depan, terpisah dengan warga lainnya yang duduk di bagian belakang mobil. Sambil mengendarai mobil menuju tempat yang entah di mana, ia menyeletuk dalam hening.

”Melihat warga tadi, harusnya kau sudah menebak apa pekerjaanmu nanti.”

”Haruskah aku jadi peminta-minta dan mengemis seperti itu?” jawabku setengah menyindir.

”Ha…, ha…, ha…. Tenang saja, mengemis dan meminta-minta tidak akan membuatmu jadi kriminal dan penjahat. Kamu tidak akan dipenjara jika tertangkap petugas. Paling hanya diberi pembinaan, setelah itu ya bebas. Tidak akan ada hukuman.”

”Jadi, selama ini semua warga yang ikut Pakde kerja seperti ini?”

”Tentu saja, semua harta yang mereka hasilkan ya dari ini. Tidak perlu modal, artinya mereka tidak akan pernah menanggung rugi.”

Astaga, aku tidak akan mengira akan seperti ini. Seketika wajah Bapak dan Ibu di kampung membayangi diriku. Bagaimana bisa aku kerja dengan cara seperti ini. Sama saja aku membohongi orang lain. Rasanya aku tak sanggup memperkaya diri dengan cara yang memalukan. Aku teringat dengan perkataan Bapak sebelum pergi ke kota ini. Benar kata Bapak, yang tampak indah di luar tak selamanya benar-benar indah dan sesuai dengan nuraniku.

***

Ratna Nisrina Puspitasari, penulis asal Kauman, Blora, sekaligus pengajar Bahasa Indonesia di SMPN 1 Doplang, Kabupaten Blora. Pernah menulis antologi puisi bersama dengan judul Abra Katabra dan Pada Suatu Pagi yang Purba, Aku Melihat Dadamu Penuh dengan Puisi-Puisi yang Saling Berkejaran.

sumber : kompas.id, 07 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme