Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rahasia Kue Lebaran Mina oleh Aliurridha

Posted on Ming, 15 Mei 2022

Lebaran bagi Mina adalah membuat berbagai jenis kue kering yang kemudian ia bagikan kepada anak dan cucunya. Ia mengerjakannya siang dan malam, kadang dari pagi sampai tengah malam, demi bisa selesai sebelum Ramadhan habis ditelan Syawal, sebelum ia harus menjamu para tamunya, tapi….

”Ini sudah malam. Besok lanjutkan lagi. Kamu ini tidak kasihan dengan tubuhmu. Sampai kapan mau siksa diri?” kata suaminya dengan nada jengkel. Lelaki itu tidak tahan mendengar istrinya yang terus meringis tersebab kaki dan pinggang tuanya berkedut nyeri. Piroxicam dan Molacort menjadi sahabat setianya sepanjang bulan Ramadhan, sepanjang nyeri-nyeri menggigit sendi.

Mina hanya menyahut seadanya dan suaminya pun kembali terlelap setelah puas ngedumel. Ia melanjutkan pekerjaannya melebihi ketelitian seorang penjinak bom. Baginya tidak ada yang lebih penting di dunia ini dari menjamu para tamunya dengan kue kering buatannya. Ia juga ingin anak-anaknya yang tinggal jauh darinya—anak-anak yang seringnya hanya bisa datang saat momen Lebaran—bisa terpuaskan oleh kue kering yang terkenal akan kelezatannya itu.

Putri salju buatan Mina begitu menyentuh rongga mulut akan lumer di lidah. Dengan rasa gurih-manis, ia akan membuat si empunya mulut terbuai hingga hipokampusnya tenggelam dalam lautan dopamin. Kemudian si empunya mulut akan mengulangi lagi dan lagi lupa kalau ia punya riwayat diabetes. Pun juga nastar buatannya yang tidak pernah ada bandingannya sehingga….

”Kenapa nenek tidak berjualan kue? Pasti laku bukan main,” tanya Dafa kepada ayahnya.

”Kue nenek spesial untuk keluarga saja,” balas ayah Dafa.

Sebenarnya bukan itu saja alasannya. Tetapi karena Mina memang tidak mau, atau tidak mampu memproduksinya dalam jumlah besar. Sudah banyak kali menantu dan anak perempuannya mencoba membuat dengan resep yang sama, tetapi tiada satu pun dari mereka yang mampu membuatnya seperti Mina. Memang tidak ada yang punya ketelitian dan kecintaan kepada kue kering seperti Mina. Dibutuhkan lebih dari sekadar resep, melampaui sekadar keinginan; dibutuhkan kedisiplinan bertahun-tahun, kedisiplinan para peneliti dalam menemukan formula terbaik.

Dafa merasa tidak puas mendengar jawaban ayahnya. Ia pernah mencoba belajar untuk membuat kue pada neneknya, tetapi ayahnya melarang: ”Kamu bukan perempuan, hanya perempuan yang membuat kue!”

Padahal, Dafa punya cita-cita menjadi pengusaha kue kering dan melanjutkan resep rahasia neneknya. Ia satu-satunya yang peduli dan punya keinginan kuat agar resep neneknya tidak hilang begitu saja. Resep itu didapatnya dengan susah payah. Dulu Mina sampai kursus ke seorang keturunan China pemilik toko kue paling terkenal di kota lama. Sekarang, anak dan cucu mentornya itu tidak membuat kue lagi dan meneruskan usaha orangtuanya. Karena itu, Dafa merasa harus belajar pada neneknya, sayang….

”Sudah kubilang kamu itu laki-laki dan laki-laki itu tidak membuat kue!” tegas ayahnya ketika mengetahui Dafa belajar membuat kue. ”Kamu mau dikatain banci?” Rahang laki-laki itu mengeras dan berkedut seperti insang ikan yang sedang mengambil napas. Ayah Dafa dari dulu sudah melihat gejala yang berbeda pada anaknya. Dafa dari kecil lebih suka memainkan mainan perempuan ketimbang mainan laki-laki; ia lebih senang bermain masak-masakan ketimbang bermain bola. Dafa juga berhati lembut dan tidak suka berkelahi seperti kebanyakan teman-teman lelakinya. Ayahnya tidak pernah mendengar cerita Dafa berkelahi. Dafa selalu berusaha menghindari masalah, itu sebabnya ia lebih senang bermain dengan teman-teman perempuannya karena teman-teman perempuannya merasa tidak perlu mendirikan hierarki dengan adu jotos. Hal itu membuat ayahnya cemas sehingga ia pernah mengadu Dafa dengan sepupunya, dan ketika Dafa kalah, ia sangat marah.

Mina selalu memarahi anaknya jika ia mengadu Dafa dengan sepupu-sepupunya. Ia juga selalu membela Dafa ketika diejek oleh sepupu-sepupunya atau ketika Dafa dimarahi oleh ayahnya yang kesal ketika Dafa membantu Mina membuat kue. Mina memperlakukan Dafa seperti kebanyakan nenek yang memanjakan cucunya, karena itu…

”Kamu boleh datang kapan pun ke rumah nenek kalau mau belajar, nenek dengan senang hati mengajarimu,” kata Mina kepada Dafa. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dafa dan berkata, ”Tenang saja, ayahmu tidak akan tahu.”

Dafa tidak mampu menutupi kegirangannya, ia menari-nari seperti para pemandu sorak yang mengisi jeda pertandingan basket.

Setiap liburan sekolah, Dafa akan pergi berlibur ke rumah neneknya, belajar membuat kue kering. Mina sangat senang dengan keseriusan Dafa dan kecakapannya meniru rasa kue buatannya. Mina benar-benar tidak menyangka, dari semua anak dan cucunya, justru Dafa yang memiliki bakat dan ketekunan untuk mewarisi resep turun-temurun itu. Dafa pun sejak itu memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan Tata Boga di kota tempat neneknya tinggal agar selalu dekat dan bisa belajar pada neneknya. Namun, ….

”Sudah kubilang, kamu itu laki-laki, kamu tidak boleh mengambil Tata Boga,” bentak ayahnya.

Dafa ingin membantah. Ingin rasanya ia melawan perkataan ayahnya, tapi air mata lebih dulu bicara ketimbang kata-kata.

”Laki-laki jangan menangis. Kamu memalukan,” kata ayahnya dengan mata melotot.

Garis-garis serabut halus berwarna merah muncul di mata lelaki itu. Jamal hampir saja memukul Dafa seperti ketika Dafa kecil dulu. Tapi diurungkan niatnya itu, ia sadar kalau anaknya sudah kelewat besar untuk dipukul. Jamal memang dari kecil berwatak keras, ia menjadi semakin keras sejak ditinggalkan istrinya. Ibu Dafa pergi meninggalkan Jamal dengan lelaki lain ketika Dafa baru berusia empat tahun, dan sejak saat itu Jamal membesarkan Dafa seorang diri.

Dafa yang tahu tidak mungkin membantah ayahnya, akhirnya mengikuti keinginan ayahnya mengambil jurusan Fisika murni. Ayahnya bangga sekali. Ia tahu sejak kecil otak Dafa memang encer. Dan yang paling membuat lelaki itu semakin bangga adalah karena anaknya itu selalu menjadi paling pandai di bidang yang paling banyak membuat orang frustrasi. Namun, seperti halnya nasib yang mempunyai jalannya sendiri, hasrat yang teramat kuat juga akan meluncur menembus segala halang untuk bertemu dengan medannya. Dafa mengambil kuliah double degree; ia diam-diam berkuliah mengambil Tata Boga. Meski ia tidak jadi berkuliah di kota tempat neneknya tinggal karena ayahnya tidak mengizinkan, itu tidak menjadi halangan untuknya bisa mengejar mimpinya. Setiap liburan ia juga masih mengunjungi neneknya untuk membuat kue bersama. Dafa bahkan lebih sering mengunjungi neneknya ketimbang mengunjungi ayahnya.

Bakat memang seperti benang jahit dalam lubang jarum. Sekecil apa pun lubang itu, ia akan selalu bisa masuk menembusnya. Meski hanya belajar sekali dua, Dafa dengan cepat mampu meniru kue buatan Mina. Ia pun memulai usaha berjualan kue sambil terus melanjutkan kuliah Tata Boga dan membuang kuliahnya yang satunya. Mengetahui hal itu, ayah Dafa marah bukan main. Hubungan keduanya yang dari dulu tidak pernah baik menjadi semakin buruk saja. Ayahnya tidak lagi marah kepadanya, tapi kini laki-laki itu berubah menjadi dingin dan tidak mau bicara dengan Dafa.

Dafa senang ayahnya tidak marah-marah lagi, tetapi di satu sisi dadanya sesak oleh rasa yang tidak ia mengerti. Ia bahkan menginginkan ayahnya seperti dulu, marah dan memukulinya, itu dirasanya lebih baik ketimbang diam seperti ini.

Usaha Dafa berkembang dengan gemilang. Ia kini bisa menyewa ruko dan berhasil memperluas pasar. Ia tidak hanya menjual kue kering, tetapi berbagai jajanan lain. Kue keringnya pun tidak hanya laku saat Lebaran dan hari raya saja, tapi menjadi bagian dari oleh-oleh di kota tempatnya tinggal. Mina benar-benar puas ketika kue kering Dafa yang menggunakan brand namanya itu tiba di rumahnya. Namun, seperti halnya karya, kue punya jiwa, dan kue buatan Mina pun sama; ada sesuatu yang membuat rasa kue buatan Dafa tidak bisa pernah memiliki rasa seperti kue buatan Mina. Dafa sadar akan hal itu. Tetapi, ia tidak tahu apa yang membuat rasanya tidak pernah persis sama rasa kue buatan neneknya. Ia telah melakukan semua seperti yang diajarkan neneknya. Mina tentu saja tahu apa yang kurang dari kue buatan Dafa. Hal itu erat kaitannya dengan alasan mengapa kue itu hanya ia berikan pada keluarganya. Kue buatan Mina mampu membuat anak dan cucunya, yang meski sudah punya kehidupan sendiri-sendiri, akan selalu merindukan momen Lebaran; kue-kue itu seperti lem perekat yang mampu membuat dekat mereka yang berjauhan, seperti benang jahit yang mampu merajut kembali yang cerai-berai. Mina hendak mengungkapkan rahasia itu kepada Dafa, tapi….

”Pulanglah, Nak,” kata suara telepon di seberang. Suara itu serak seperti ada pecahan kaca tersangkut di tenggorokannya. Dafa benar-benar kaget ketika ayahnya yang telah begitu lama tidak menghubunginya, tiba-tiba menelepon. Ketika ia bertanya alasannya, tangis pecah di seberang. ”Nenekmu… nenekmu…” Ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia tidak mampu menyampaikan kabar duka kepada anak yang terus ia halang-halangi untuk bertemu dengan neneknya dulu.

Semalam Mina meninggal setelah mengalami serangan jantung karena kecapekan membuat kue yang ia niatkan akan mampu merajut kembali keluarganya yang tercerai-berai pada momen Lebaran ini. (*)

Blencong, 2021-2022

AliurridhaPenerjemah dan penulis lepas. Ia menulis esai, cerpen, dan puisi. Karyanya tersebar di pelbagai media cetak maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar 1995. Pekerjan sebagai ilustrator, pelukis, dan penato. Juga pemain drum di Virtual Doom, sebuah band hardcore Yogyakarta.

sumber : kompas.id, 15 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme