Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kota Kehilangan oleh Radja Sinaga

Posted on Sab, 21 Mei 2022

Jika kau sedang merasa kehilangan dan tak menemukan tempat yang bisa membuatmu pulih atau kau merasa kebahagiaan adalah kebohongan paling nyata dibandingkan ucapan-ucapan politikus, maka bacalah cerita ini.

Bila kau merasa kehilangan, pergilah ke Kota Kehilangan. Kota itu tak pernah terdaftar di peta, jadi jangan pernah cari kota itu melalui telepon genggammu meski secanggih apapun dan semahal apapun harga telepon genggammu. Kota itu tak seperti kota-kota yang telah kau kunjungi atau seperti kota-kota yang kau pelajari sewaktu kau sekolah.

Mungkin kau pernah menyambangi kota-kota yang terkenal dari belahan dunia. Atau kau pernah membaca ulasan suatu kota; kota-kota dengan lampu gemerlapan hingga tak memerlukan bulan untuk menerangi malam. Atau kota-kota yang bila kau ke sana maka memerlukan uang yang banyak, sebab tanpa sadar tanganmu telah menenteng berbagai macam benda.

Tidak. Kota Kehilangan adalah kota yang hanya mengenal kemurungan. Di sana uang tak diperlukan. Di sana tak ada lampu-lampu. Di sana hanya ada bintang-bintang yang bila kau hitung maka jumlahnya melebihi dengan jumlah kehilanganmu.

Di kota itu, tak pernah mengenal namanya politikus dan orang-orang pemerintahan. Kota tak dibangun dengan pajak melainkan dibangun dengan kemurungan yang terpanggul selama bertahun-tahun di pundak orang-orang. Warga di sana hidup mandiri dengan kesendiriannya dan kehilangannya. Di kota itu, hanya memiliki satu musim, yaitu musim penghujan. Awan-awan di kota itu selalu gelap seperti sedang mendung. Gerimis turun. Lalu tiba-tiba hujan akan turun. Dan mendung lagi. Seperti itu setiap hari. Tetapi rintik-rintik hujan itu sangat hangat, sehangat pelukan mantan kekasihmu atau ibumu yang kini mengendap menjadi masa lalu.

Meskipun di kota itu hanya ada musim penghujan tetapi di sana tak pernah terjadi banjir. Tentu kau sedikit protes mendengar hal itu, tetapi kau harus tahu di kota itu aliran air sangat sempurna, seperti kehilanganmu. Selokan-selokannya bersih dan ujung seluruh selokan yang ada di kota itu akan bermuara ke satu-satunya sungai di kota itu. Sungai itu pun juga bersih, airnya mengalir tenang dan di ujung sungai itu terdapat satu tanjakan yang membuat air naik ke atas awan. Bila kau hendak melihat wajahmu yang muram, pergilah ke tepi sungai. Dan setiap sore di bibir sungai, orang-orang akan membersihkan dirinya di dalam sungai untuk sekadar membersihkan tubuh dari rasa kehilangan meskipun sebenarnya tanpa sadar kehilangan itu adalah dirinya sendiri yang tak dapat mati bila ia juga tak mati.

Di sana kau tak akan pernah melihat matahari dan juga bulan. Sebab, katanya, matahari telah meledakkan bulan di masa silam. Itu terjadi di masa lampau sekali, di saat orang-orang begitu angkuh akan sekitarnya. Saat itu perputaran bumi pada porosnya lama-lama semakin berkurang; disebabkan oleh angin dan pasang-surut air laut. Sehingga bulan terdorong dari porosnya karena bumi tak dapat lagi mengimbangi perputaran itu dan bulan mendekati matahari, tetapi malang, matahari malah meledakkannya. Dan ledakan itu menjadikan matahari pun murung; panasnya tak lagi menusuk-nusuk planet sekitar; dan matahari tak lagi memancarkan sinarnya ke Kota Kehilangan.

Orang-orang yang berada di Kota Kehilangan tak ubahnya denganmu. Orang yang merasa dirinya dilahirkan hanya untuk kehilangan dan selalu bersyukur untuk setiap kehilangan meski dirinya tak bisa menampung lebih banyak lagi kehilangan. Tentu, orang-orang di sana tampak lusuh seperti orang-orang Kota Rejkjavik yang tengah berpuasa.

Kau akan temukan bapak-bapak yang ternyata dulunya ia seorang sintua, yang selalu tabah ketika malam sebelum tahun baru tak ada jemaat yang datang untuk beribadah di gereja. Atau kau juga akan menjumpai ibu-ibu, yang sampai ajal hidupnya tak akan pernah mengambil uang kiriman dari anaknya yang bekerja di luar negeri dan juga tak pernah sempat mengatakan ia kangen. Atau kau akan mendapati anak, yang umurnya terbilang masih belia namun telah putus sekolah dan menyaksikan ayahnya lari menikahi perempuan lain.

Dan kini kau harus tentukan, apakah kau benar-benar ingin pergi ke Kota Kehilangan? Bila benar, maka sekarang adalah waktu yang tepat. Tak perlu kau kemasi barang-barang. Tak perlu membawa perhiasanmu, sebab di sana emas seketika akan luntur. Juga tak perlu kau bawa jam tangan, atau telepon genggam. Dulu sekali, seseorang membawa jam tangan dan telepon genggam sekadar memastikan telah berapa lama ia tinggal di sana. Tapi ketika langkah pertama keluar dari gerbong kereta, ia memandang jamnya, dan seketika angka-angkanya jatuh, dentang-dentang jam membatu. Lalu ia ambil teleponnya, tetapi layarnya hanya garis-garis hitam-biru-hijau-kuning yang tipis-tipis.

Bila hendak ke sana, pergilah dengan pakaian yang melekat saat ini di badanmu. Pergilah ke Stasiun Kereta Api Medan. Bawa uang yang hanya cukup membeli satu tiket kelas ekonomi. Tapi sebelum itu, kau harus menemukan lelaki itu, lelaki yang rambutnya memutih dan wajahnya lebih tua dari usianya. Lelaki yang berdiri di dekat tangga di Titi Gantung. Lelaki itu mengenakan celana keper, jaket hitam, dan sandal jepit yang seharga limabelas ribu. Lelaki itu selalu di sana, sambil menjajakan dagangannya. Ia sering menawarkan air mineral yang ia bopong dengan plastik keresek hitam kepada orang yang berlalu-lalang di jembatan Titi Gantung.

Katakan kepada lelaki itu bahwa kau hendak pergi ke Kota Kehilangan. Katakan itu ketika pukul setengah lima sore, saat orang-orang masih dirundung kemacetan yang tak sudah-sudah. Ketika kau telah mengatakan kepergianmu, maka kau akan diberi satu botol air mineral yang ia jajakan. Terima dan bayarlah, jika bisa bayar lebih dari harga normalnya.

Dan kemudian belilah sebuah tiket kereta kelas ekonomi. Kau bebas menentukan tujuan pemberhentiannya ke mana, entah itu berhenti di Stasiun Batang Kuis, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Bandar Tinggi, Perlanaan, Tanjung Balai, Rantau Parapat. Tapi sebelum sampai ke pemberhentian itu, segeralah kau cari dia. Lelaki yang akan mengantarkanmu ke Kota Kehilangan. Cari di setiap gerbong kereta. Lelaki itu mengenakan celana keper dan jaket hitam seperti lelaki yang di jembatan tadi. Lelaki itu selalu duduk sendiri di satu baris. Ia selalu duduk dengan payung hitamnya yang tegak berdiri. Lelaki itu memiliki bekas goresan wajah besar yang membelah matanya dan jika kau lihat dengan jelas bahwa lelaki itu selalu menutupkan matanya.

Jika telah kau temukan lelaki itu. Katakan kau hendak pergi ke Kota Kehilangan dan jangan lupa beri air mineral yang diberi lelaki yang di jembatan tadi. Dan kau akan di beri penutup mata; kenakanlah penutup mata tersebut sebab akan membawamu tertidur dan ketika kau bangun kakimu sudah berada di sana, di Kota Kehilangan. Saat kedua kakimu telah meninggalkan gerbong maka kereta itu menghilang di balik kabut yang tebal. Di depan stasiun, burung-burung gagak akan mengucapkan selamat datang layaknya gagak-gagak dalam Kimetsu no Yaiba. Tetapi itu semua bukan mimpi, bila tak percaya tamparlah pipimu atau gigit lidahmu. Atau juga benamkan kepalamu ke dalam air seperti Denzel Washington yang memerankan Tobin Frost saat disiksa agen CIA dalam Safe House. Dan ingatlah, jika kau sudah berada di sana, jangan pernah berbalik menyusuri kereta yang lindap di dalam kabut itu, gagak-gagak itu akan memakanmu hidup-hidup.

—-

Raja Malo Sinaga,lahir 20 Januari 2000. Menulis cerpen, esai, dan puisi. Sejumlah tulisannya tersiar di banyak media lokal dan nasional, diadaptasi menjadi naskah teater, dan dijadikan bahan pembelajaran FIB Sastra Indonesia UNIMED. Mahasiswa PBSI, Universitas HKBP Nommensen Medan. Kini bekerja untuk PetaRumah sebagaiĀ copywriter.

sumber : kompas.id, 21 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme