Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perempuan Sinting di Dapur oleh Ugoran Prasad

Posted on Ming, 02 Nov 2008

Dinanti-nanti matinya, Wak Haji Mail malah mulai mengigau. Semula tak seorang pun menangkap apa yang dikatakannya. Kupikir bukan tak bisa. Tak mau, lebih tepatnya. Aku sendiri, begitu diizinkan mendengar langsung segera mencerna, bukan kata, melainkan sepotong nama. Gumam ini berulang di antara tarikan nafasnya yang payah. Saodah.

Dua minggu setelah rumah sakit menyerah dan mengembalikannya ke rumah, Wak Haji Mail belum juga dijemput Izrail. Keempat belas anak dari tiga pernikahannya semakin sulit meredam cemas, silih berganti berjaga di luar kamar, siap untuk memberontak dari pembagian harta waris yang tak adil. Tak mungkin adil.

Lepas maghrib tadi Haji Mail membuka mata dan mulutnya kembali bersuara. Satu jam kemudian semua orang terus berebutan masuk sehingga Wak Misnah naik pitam. Empat belas anak, beserta cucu-cucu, tentulah membuat keadaan bisa cepat berubah menjadi pasar malam. Itulah saatnya Wak Misnah, istri pertama Haji Mail, mengusir semua orang dan memanggilku masuk.

”Kau dengar?” tanya bibiku setengah membentak. Aku diam sebentar. Di depanku, Wak Haji terbaring seperti sepotong kayu. Lamat-lamat, di antara nafasnya yang berat, bisa kudengar suaranya, rendah dan kesakitan. Ke arah Wak Misnah, aku mengangguk.

”Panggilkan dia.” Suara bibiku agak goyah, mengejutkanku. Apa yang dicemaskannya?

Di jalan, kukarang-karang sendiri ihwal sepotong cinta tak sampai Wak Haji Mail pada Mak Saodah. Persis seperti cintaku pada Aminah.

Beberapa menit usai kuajukan permintaan keluarga kami, Mak Saodah tetap bergeming. Sebelumnya, kubayangkan ia akan bergegas, merapikan dirinya dan sebentar kemudian duduk di boncengan motorku. Sekalipun Wak Haji Mail mengamalkan ilmu golok dalam perkara sedekah, semua orang kampung tahu kalau Mak Saodah seperti selalu menyimpan obat kikir di sayur dan lauk masakannya. Tak cukup mendirikan kakus dengan tangki septik, Wak Haji Mail mengirim orang untuk membangun lapak setengah permanen, menyemen lantai bagian depan rumah Mak Saodah, memasangkan listrik, dan menyekolahkan kelima anak Mak Saodah sampai SMA. Terakhir ia menghibahkan kulkas bekas istri keduanya supaya Mak Saodah bisa bikin sendiri es batu dan es lilin.

Di depanku Mak Saodah masih tak bergerak. Matanya mulai berkaca-kaca dan sempat kukira ia terharu. Aminah, putri sulungnya, mendekat. Sejak tadi ia membisu di pojokan, mendengarkan. Kini ia meraba-raba punggung maknya, menenangkan. Kulihat sesaat, sepertinya rahang Mak Saodah bergemeretak. Aku tak yakin.

Aminah menatapku tajam-tajam. Aku mulai gelisah. Tatapannya selalu membuatku merasa telah melakukan kesalahan. Sejak dulu. Mungkin karena pikiran kotor mudah terbaca. Semenjak tiba dari luar negeri, minggu lalu, baru kali ini kulihat dia. Aminah semakin cantik.

”Mak nggak mau. Sebaiknya kamu pulang,” kata Aminah pelan, sungguh-sungguh.

Kalimat ini menusuk ulu hatiku. Perutku mulas. Ia pernah mengatakan kalimat serupa ini padaku. Kata-katanya, susunannya, lagunya, hampir sama. Satu-satunya perbedaan, dulu ia ajukan kalimat ini bukan atas nama maknya, melainkan dirinya sendiri.

Kupaksakan menatap matanya, berusaha keras tak menyerah pada kecantikannya. Dulu, aku gagal, lalu menundukkan kepala, melangkah pulang dengan gontai, menikahi sepupu yang sudah lama dijodohkan untukku supaya lupa, tapi malah mendapati, sepanjang akad nikah, wajahnya menghantuiku. Kini aku bersumpah, dalam hati, tak lagi.

Kubulatkan tekadku. Kali ini, aku tak akan pulang dengan tangan kosong. Sekurang-kurangnya, aku harus mendapatkan alasan. Aminah tersenyum, agak aneh. Sepertinya ia merendahkanku. Ya, ia merendahkanku. Apakah dulu juga ia merendahkanku?

”Alasan, Minah. Sekurang-kurangnya ada alasannya.” Kalimat ini, aku tak yakin sedang kuajukan untuk perkara yang mana.

Entah kenapa, ia menunduk. Ia sepertinya berpikir sebentar sebelum kemudian memutuskan untuk memapah maknya bangkit, lalu menuntunnya ke belakang, ke dapur. Sesaat kemudian, dari dapur itu, kudengar suara meraung. Suara Mak Saodah.

Kukarang-karang penjelasan di dalam kepalaku. Mak Saodah tak mau datang karena tak bisa menerima orang yang begitu berjasa dalam hidupnya sedang menjelang ajal. Ia tak mau terlihat begitu sedih. Tak mau menambah parah kesedihan yang ditanggung keluarga Haji Mail.

Ini pikiran yang aneh, sebenarnya. Semua orang tahu betapa keras Mak Saodah. Keras menghadapi pelanggannya, keras menjaga rahasia dapurnya. Bertahun-tahun membuka warung makan di kampung itu, tak membuatnya pandai beramah tamah. Para pelanggan memanggilnya Mak Galak, tetap kembali ke warungnya semata-mata karena kelezatan masakannya sulit disaingi. Aku mengenalnya hampir seumur hidupku dan tak pernah sekali pun kulihat ia tersenyum. Tidak juga kepada Haji Mail atau orang-orang terpandang di kampung ini. Bocah-bocah kampung kami menjulukinya Nenek Sihir Hutan Larangan karena bila malam datang ia selalu menggerai rambutnya yang panjang dan membuat sosoknya semakin mengerikan.

Pikiranku belum terurai baik ketika Aminah keluar. Matanya merah dan sembab. Aku yakin ia turut menangis. Ia duduk di hadapanku, tapi sempat menoleh ketika mendengar teriakan dari arah dapur. Teriakan ini disusul bunyi piring pecah terbanting. Atau dibanting.

Aminah kembali memandangku, tapi kali ini tenang, setenang suaranya memenuhi permintaanku. Sepotong alasan, sepenggal cerita. Aku masih akan tak paham bahkan jauh sesudah ia menyelesaikan cerita ini. Entah karena ceritanya begitu sulit dan mengerikan atau karena sepanjang bercerita, ditingkahi bebunyi piring pecah terbanting, suaranya tetap setenang kolam.

Ketika aku dipanggil masuk, Wak Misnah sedang duduk di sisi kiri kepala Haji Mail. Itu sisi kuping Haji Mail yang masih mau bekerja. Aku duduk, tapi gagal mengatasi cemas.

Haji Mail bergumam panjang, kepayahan. Wak Misnah mendekatkan telinganya ke mulut Haji Mail. Tak yakin, Wak Misnah bertanya di telinga si kikir. Ia kembali bergumam tak terang, tapi Wak Misnah sepertinya paham. Bibiku itu berdehem dan mengangguk-angguk.

”Apa kata si Saodah?” tanyanya, setengah membentak. Pertanyaan ini tak sedikit pun terasa janggal di mulutnya, padahal setengah jam yang lalu jawabannya sudah ia terima.

Sekalipun sudah kuceritakan sebelumnya, aku tahu ceritaku akan kembali terbata-bata. Bahkan lebih buruk. Begitu panik, kalimatku jadi berantakan dan tak urut, seperti bocah belajar bicara. Untung, Wak Misnah rajin memperbaiki kekacauanku. Ia menyampaikan ulang ceritaku di telinga si kikir dengan lantang, sebagaimana yang selalu dilakukannya 10 tahun terakhir.

”Ada lagi?” sentak bibiku.

Aku tercekat sebentar sebelum menggeleng. Di antara perasaan cekat dan gelengan kepalaku sempat terpikir untuk mengutarakan rahasia yang diceritakan Aminah padaku. Rahasia yang sesungguhnya tak terang karena hanya berupa garis-garis besar. Haji Mail berdosa pada Mak Saodah. Suaminya, ayah Aminah, difitnah murtad, syirik, musyrik, kafir, diasingkan orang sekampung seperti penderita kusta, dibiarkan mati tanpa harga diri.

Kuurungkan pikiran ini ketika kudengar Haji Mail mengerang. Erangnya panjang, kesakitan dan menyakitkan. Aku yakin pilihanku tepat. Tak perlu kuceritakan, Haji Mail ingat.

Lima belas menit kemudian, sesudah menitipkan sepotong pesan yang hanya bisa didengar istrinya, Haji Mail dan sepenggal ingatannya pergi. Aku melihatnya meregang nafas yang terakhir, satu hembusan nafas pelan seperti menghempas hidup yang melelahkan. Bulu kudukku naik. Aku baru saja sekamar dengan Izrail. Wak Misnah masih berusaha memastikan perintah terakhir suaminya, bertanya dengan lantang di telinga yang baru saja ditinggalkan pemiliknya.

Pagi buta, sehabis subuh, aku kembali ke rumah Mak Saodah dengan perasaan tercampur-campur. Menghadapi Mak Saodah membuatku takut, tapi pulang tanpa usaha dan menghadapi Wak Misnah juga sama mengerikannya. Terbata-bata kupaksakan diriku menyampaikan permintaan terakhir Haji Mail.

Mak Saodah mendengarkan permintaan ini dengan tenang. Tak bisa kuceritakan perasaan legaku ketika kulihat ia mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dan tak kutemukan perempuan tua yang perlu dipapah untuk berjalan ke dapur, tadi malam. Mak Saodah penuh kekuatan. Sampai di dapur, sempat ia sibakkan tirai, menutupi pintu. Bayangannya tampak besar di tirai itu.

Aminah masih tinggal bersamaku. Tampaknya Mak Saodah belum mengizinkan Aminah menginjakkan kaki di dapurnya. Bekerja seorang diri untuk memenuhi permintaan almarhum Wak Haji, Mak Saodah harus bergegas menyiapkan masakan untuk ratusan orang yang akan bertahlil malam nanti.

Gelas teh di depanku masih setengah penuh sehingga kuputuskan duduk lebih lama. Lagi pula aku tak tahu mau ke mana. Pemakaman baru akan dilakukan sesudah matahari terbit, kembali ke rumah bibiku cuma akan mengotori pikiran ketimbang membersihkannya. Keempat belas sepupuku sudah lepas kendali, pertengkaran tak mungkin ditunda lagi.

Suasana hati Aminah, entah bagaimana terasa sedikit cerah. Terpikir untuk bertanya apa benar ia bekerja sebagai juru masak di luar negeri dan benarkah, sebagaimana yang dikatakan orang-orang, bahwa ia tak ingin kembali tinggal di kampung ini.

Berdehem-dehem tak pantas, kuputuskan untuk membuka percakapan. ”Kudengar kau suruh Makmu berhenti dagang, Minah?”

Aminah menatapku, tampak senang dengan pertanyaanku, lalu mengangguk. ”Ya, tapi Mak nggak mau.”

”Kenapa?”

Senyum Aminah hilang, tapi matanya masih bulat bening. Ia tampak berpikir sebentar sebelum kemudian berkata, ”Mak bilang, berdagang itu alasannya hidup.”

”Berdagang?”

Aminah tampak memikirkan jawabannya lagi. Sebentar kemudian ia menemukan kata yang lebih tepat. Beberapa kata. ”Bukan, bukan berdagangnya. Memasak untuk orang kampung. Ya, itu yang menyelamatkannya,” kalimat Aminah terputus sebentar. Sorot matanya sempat nyalang ketika dia bergumam, ”itu menyelamatkanku.”

Pernyataan ini, membingungkan. Seluruh kampung ini, jika benar cerita Aminah kemarin, bukankah neraka bagi Mak Saodah?

Aku duduk diam dan berusaha memecahkan kebingunganku. Lama. Sepuluh menit kemudian, Aminah sepertinya mulai kasihan pada wajahku yang merot-perot karena tak paham. Ia memanggilku mendekat. Aku datang dengan sigap, tapi ia cepat menempelkan jari telunjuk di mulutnya, matanya membeliak nakal mengancam. Aku memperhalus langkahku, mendekatinya tanpa suara. Ia membungkuk di dekat tirai dapur, aku mengikutinya. Sesaat kuingat, kami berdua sebagai bocah berumur delapan tahun, 20 tahun yang lalu, berjingkat mengintip Mak Saodah. Dulu, jauh sebelum mencapai tirai dapur Mak Saodah sudah membentak kami. Kini suara bentakan itu tak kunjung datang. Aku menunduk di belakang Aminah. Kami sangat dekat, aku bisa melihat tengkuk di bawah gelung rambutnya, mencium wangi tubuhnya, rambutnya. Lehernya, siap menenggelamkanku. Aku agak mabuk, tak percaya. Sesaat bahkan kegirangan meluap-luap dan jantungku berdebar. Jari-jari Aminah yang cantik menyibak tirai dapur.

Dengan sebelah mata bisa kulihat, Mak Saodah sedang bekerja, memotong-motong bahan masakan, menyiapkan tungku, memasukkan bumbu-bumbu ke dalam panci. Butuh beberapa detik untukku menemukan apa yang ganjil dari semua ini. Mak Saodah terus-menerus meludahi bahan-bahan masakan yang sedang dikerjakannya. Aku sempat tak awas karena Aminah menoleh ke arahku, ia sepertinya merasakan nafasku terlalu dekat, hangat di pipinya. Aku terkejut. Pada saat itulah aku berbisik, kelepasan bertanya. Pertanyaan yang lama kupendam dan kukira sudah tak akan kuajukan lagi.

”Minah, kenapa dulu kau menolak lamaranku?”

Aku tak ingat apakah Aminah sempat menjawab, sebab dari dalam dapur maknya membuatku terperangah.

Mak Saodah sedang mengangkat kainnya tinggi-tinggi, melewati lutut, lalu berdiri setengah jongkok mengangkangi salah satu panci yang isinya mulai mendidih. Raut wajahnya, gabungan yang ganjil antara mengejan dan kebencian, mengerikan. Sedetik kemudian, dari tempatnya berdiri, kudengar suara desing yang akrab dan gemericik air jatuh ke panci. Mak Saodah meludah lagi ke panci, sekali.

Desing dan gemericik itu belum selesai ketika mata Mak Saodah menusuk tajam, menatapku.

Sesudah tahlilan bubar, aku duduk di samping Wak Misnah. Sambil membantunya membagikan besek makanan, aku dipaksanya mendengar petuah lama. Petuah ini tak masuk akal dikatakannya saat ini, tapi tampaknya bibiku sedang ingin mengoceh tak karuan agar pikirannya tak dipusingkan persoalan. Dua anaknya baru saja mau saling bunuh, sore tadi.

Sungguhpun hapal luar kepala, kudapati bahwa tak pernah dua ajaran ini kupahami seperti sekarang. Pertama, bahwa ada 42 jenis gila manusia. ”Jika hendak kau pahami semuanya, ingat-ingat saja tindak-tanduk uwakmu, Haji Ismail almarhum.” Kedua, bahwa tempat gila manusia sudah lama terpisah-pisah. Laki-laki sinting di jalan, perempuan di dapur. ”Itulah kenapa kalian tak pernah paham. Jangan pula kau kira kau lebih pandai dari bibimu ini. Mati kuracun kau nanti.”

Hidup diracun, menurutku, lebih ngeri.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme