Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dua Beranak Temurun oleh Benny Arnas

Posted on Ming, 07 Des 2008

Bada ditinggalkan pinangan hatinya, lelaki paruh baya itu sangat suka mendongeng. Semua dongengannya pun memiliki potongan cerita menarik. Tak heran bila putranya sangat suka menajamkan telinga di sela-sela desauan angin yang memapas kisah dari bibir hitam yang berkerut merut itu.

Entah, yang didongengi pun tak tahu mengapa lelaki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya tersebut sangat suka melakukannya. Dalam setiap dongengannya, entah itu melankolis, romantis, atau epik; entah itu surealis atau absurd; entah juga itu tentang gadis, bujang, janda, duda, atau manusia-manusia yang hampir berbau liat; lakon-lakon yang baik-baik sifat, perilaku, dan tutur bahasanya, adalah seseorang bernama Jarun.

”Agar hidupmu tidak menggelambir noktah kelam, Nak.” Itulah yang diucapkan lelaki itu ketika anaknya bertanya mengapa ia sangat sering bercerita.

Wajar bukan kalau putranya tak pernah mengerti alasan mengapa lelaki itu senang mendongeng. Mana cepat mengerti putranya dengan jawabannya itu. Memang sejatinya tak penting bagi sang putra memahami leliku bahasa-bahasa tingkat tinggi yang kerap dibunyikan lelaki itu. Baginya yang utama adalah setelah mendengarkan dongengan sang ayah ia bisa memintal angan dalam mimpi yang terbilik oleh purnama-purnama yang indah.

Yah, ketika angin diam-diam menghembuskan hawa hampanya, manusia-manusia kerap menutup kelopak matanya, maka masing-masing tetiduran pun memekarkan bunga-bunga malamnya. Tak terkecuali untuk seorang bocah delapan tahun yang sangat senang mendengarkan kisah-kisah kehidupan bernuansa merah muda dari ayahnya. Oleh sang putra, semua kerap—dan memang diharapkan—tidak hanya terjelma dalam mimpi belaka, tetapi suatu hari akan menguap menjadi kenyataan yang jelas berupa-rupa.

”Mengapa tidak Jarun saja namaku, Yah?”

”Tak penting nama itu, Nak. Yang penting, segala kebaikan Jarun itu hadir dalam kehidupanmu.”

”Tetapi, aku mau Ayah juga memanggilku seperti itu!”

Lelaki legam itu tak memerhatikan, apalagi memedulikan, permintaan putranya barusan.

”Tidurlah, Nak. Besok kau harus sekolah.”

Putranya mengangguk.

”Jangan lupa berdoa agar tidur berkat, dan sebangun kau darinya pun juga bisa berkat. Dan yang terpenting adalah semoga doa-doa itu turut membantu agar dirimu tidak diboyong ke pusat kota suatu hari.”

Lagi-lagi Jarun tak mengerti kata-kata ayahnya. Lelaki itu memang tak panjang jalan pikirannya. Apa ia kira anaknya itu setua dirinya sampai kata-katanya harus selalu berumpama-umpama dan memilih bahasa-bahasa yang tidak biasa.

Putranya sudah menguap. Tidur. Tidur. Mimpi jadi Jarun….

”Besok tolong Mami ya, Dre? Ambilkan uang yang baru dikirim papimu dari desa.”

Andre hanya mengangguk. Lucu, masak tinggal di kota, tetapi dikirimi uang oleh orang yang tinggal di desa.

”Halooo! Kau dengar, kan?!”

”Eeeh iya, Bu… eh salah, Mi.”

”Sekalian kau belilah perlengkapan keelokan fisikmu. Deodorant, parfum, t-shirt, jeans, dan lainnya. Engkau lebih pahamlah apa yang kiranya serasi untukmu. Setelah itu pergilah nge-gym ke tempat fitness-nya Om Andi, biar kau bisa membantu Mami mencari uang kelak.”

Apa hubungannya?

”O ya, nanti kalau ada gadis-gadis itu, jangan sedikit pun kau tergoda. Ingat, kau masih 16 tahun, Dre. Mami tak mau kau justru melampiaskan hasrat birahimu kepada mereka. Kau masih mau bermewah-mewah, bukan? Ha ha ha…,” Mami menutup kalimatnya dengan tawa panjang.

Tak lama berselang, rumah itu dipenuhi para penjual yang barang bawaannya tak kunjung habis. Berkurang tantangan dan rupa kepuasan saja yang membedakannya dari hari ke hari.

Bordir, bordir! Andre menggerutu sebelum meninggalkan rumah yang penuh dengan cekakak-cekikik puluhan pasangan haram itu.

”Aku harus jadi anak baik seperti pesan orangtuaku dulu,” hati kecilnya bertekad.

”Bukankah Mami adalah orangtuamu juga? Lagi pula kalau kau lari, apa kau tak takut dimarahinya?” belahan jiwanya yang lain berujar.

”Mami? Hueekh! Siapa peduli!” hati kecilnya bertahan.

Sebagaimana layaknya hari Kamis, Ahmad harus melakukan persiapan ekstra di An-Nur, masjid yang dia huni. Maklum esok salat Zuhur absen dari ritualitas manusia-manusia masjid. Salat dua rakaat yang bernama sama dengan hari dilaksanakannya ibadah tengah hari tersebut memaksa pemuda 25 tahun itu membentangkan sajadah panjang-panjang hingga memenuhi ruangan masjid; memastikan kotak wakaf berjumlah delapan agar ia tak terlalu lama melewati saf-saf yang kian Jumat kian memendek dan berkurang; mengecek soundsystem tua agar suara Kiai Anam tak memarau dan putus-putus olehnya hingga mengganggu jamaah yang hendak tidur siang selama ia membusa mulut dengan khotbahnya; serta mengamplopkan beberapa puluh ribuan untuk Kiai Anam, Wak Jamil, dan Mang Marlis.

Uh, Mang Marlis. Jumat lalu lelaki yang menderita radang tenggorokan akut itu mencak-mencak di hadapan Ahmad. Perihalnya sepele-pele rumit, sudah beberapa hari belakangan becaknya sepi.

”Orang lebih suka naik ojek, lebih cepat katanya,” jawab dia waktu itu ketika Ahmad bertanya mengapa tiba-tiba ia mengeluhkan, bahkan terkesan menyalahkan dirinya, setelah salat Jumat hari itu.

Yah, wajar kalau Ahmad awalnya bingung dengan tuturan-tuturan Mang Marlis. Baru saja salat Jumat berakhir, lelaki itu langsung menyeracau hingga Ahmad terkejut sejenak sebelum mencoba memahami semuanya.

”Apa hubungannya denganku, Mang?” respons Ahmad saat itu.

”Kau kan garin masjid. Kau sampaikanlah kepada Haji Dullah, ketua pengurus masjid, kalau aku juga pandai berazan. Muazin dapat 25 ribu, kan? Itu lebih besar dari tarikanku sehari. Biar Jumat nanti aku bisa rehat sejenak untuk persiapan enam hari ke depan. Tolong usahakan ya, Mad. Nanti kuberi uang rokok untukmu.”

”Aku tak merokok, Mang,” Ahmad masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.

Mang Marlis hanya nyengir kuda sebelum menepuk bahu Ahmad dan berlalu dengan penuh harap.

Sejak saat itu Ahmad tidak pernah melihat Mang Marlis dengan becaknya lagi. Dan dua hari lalu, tiba-tiba saja lelaki 40 tahun-an tersebut tak henti-hentinya mengumbar terima kasih ketika tahu ia diizinkan menjadi muazin salat Jumat esok. Hari itu juga, Ahmad baru tahu becak lelaki itu ditarik juragan Marwan karena ia sudah satu minggu tidak pernah setor.

”Dooor!”

”Eeh… iya.” Ahmad tersentak mendapati tangan yang baru saja menepuk bahunya.

”Pagi-pagi udah ngelamun, Mad,” Harun tetangganya, sudah berdiri di belakang. ”Tolong umumkan ini di masjid, biar aku yang beduk.” Harun memberikan kepalan kertas lusuh. Ahmad terkesiap melihat tulisan yang tergores di sana.

”Meninggalnya jam dua subuh tadi.”

Ahmad masih melongo.

”Entah lucu juga kalau kau dengar musabab kematiannya. Kata Bi Anis, istrinya, dari pagi hingga tengah malam, ia seharian di kamar, membuka-buka buku bacaan salat. Berteriak-teriak sendiri di kamar seperti orang melagu-lagu arab tak jelas rupa bunyinya. Lewat tengah malam tenggorokannya tersekat, tak ada air pula dijerang Bi Anis. Akhirnya mati….”

Ahmad menelan air ludah. Ia melangkah menuju mikrofon yang mesti disambungkan dulu kabelnya ke equalizer murahan di balik mimbar.

”Oya aku baru ingat, Mad. Matinya karena belajar berazan….”

Sudah kuduga.

”…ada-ada saja cara Tuhan mencabut nyawa orang…,” lanjut Harun.

Tak lama berselang. Beduk dipukul dengan ritmis sumbang. Penduduk menajamkan telinga.

”Innalillahi wa innalillahi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Marlis bin Ajip Makmun….”

”Mengapa kau bisa sampai di sini?”

”Untuk apa kau tahu?”

”Banyak yang masuk ke sini hanya karena salah tangkap, tak ada uang, salah paham, dan…”

”Apa peduliku? Penjara ya penjara, tempat orang-orang berwatak dan berperi laku bejat dikandangkan.”

”Tidak denganku, anak muda.”

”Maling mana mau mengaku maling!”

Paaak.

”Mengapa kau menamparku?”

Paaak.

”Nah kau puaskan? Sekarang kau yang balas menampar wajahku yang memang sudah remuk ini?”

Beberapa jam kemudian dua lelaki senjang usia tersebut sudah akrab. Entah api dari mana yang mengasapkan kehangatan hubungan mereka. Tiba-tiba saja, tamparan, rasa skeptis, dan caci-maki yang kerap mewarnai awal jumpa mereka di lembaga pemasyarakatan sore tadi mulai berkurang—bukan hilang sama sekali.

”Itulah leliku hidupku, Pak,” lelaki yang lebih muda menutup cerita hidupnya pada malam yang memekat. ”Sekarang giliranmu.”

”Istriku selalu meminta kiriman uang dariku.”

”Wajar, bukan?” sela yang lebih muda.

”Iya. Sebelum semuanya terungkap bahwa ia berprofesi sama dengan ibumu yang baru kau ceritakan tadi. Aku murka setelah mengetahui semuanya. Aku datangi tempatnya, kuacak-acak sarang setan yang dia buat. Ia pun membawa kasus ini ke meja hijau. Aku tak cukup beruang lagi saat itu. Ia menang. Tetapi, aku tak heran. Seorang mucikari seperti dia pasti memiliki bekingan berlapis, tak mengenal profesi, tanggung jawab, dan sumpah jabatan yang menyertainya. Wajahku saja, seperti kaulihat saat ini, lebam mengungu, sampai hampir tak berupa.”

”Jadi?”

”Jadi, ya aku dipenjara,” lelaki tua itu menerawang, ”salahku juga yang belum sempat menceraikannya. Sakit hatinya aku adalah ketika di pengadilan terungkap bahwa ternyata kirimanku selama ini sudah beberapa tahun belakangan tak pernah dia terima. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Katanya anak bujang kami yang melarikannya karena memang atas nama ia buku tabungan tersebut ditandatangani. Kalau penegak hukum itu mau adil, seharusnya mereka berlogika, mana tahu aku perkara diterima atau tidaknya uang itu. Lagi pula wanita iblis itu tak pernah mengabariku.”

”Jadi tepatnya, apa pasal hingga Bapak mendekam di sini?”

”Sangkaan terhadapku sangat berlapis. Selain masalah tak pernah menafkahi istri dan anak, juga tindakan anarkis terhadap rumah pelacuran istriku. Tetapi…”

”Tetapi apa, Pak?”

”…aku tak rela ditangkap, maka melarikan dirilah aku ke suatu daerah yang kuyakini bisa menumpang teduh pada adikku. Walaupun aku tak dapat menemukannya dan akhirnya aku tertangkap juga,” lelaki itu menyebut nama suatu tempat.

”Aku sempat tinggal di sana.”

“Hah? Benarkah? Kau kenal adikku?”

”Siapa namanya?” tanya yang lebih muda sok peduli.

”Marlis. Ya hanya Marlis tok! Kau kenal?”

Deg!

Air muka lelaki yang lebih muda memerah. Tetapi, raut itu belum sempat ditangkap mata tua lelaki di hadapannya. Ah, aku tak mau memanjangkan cerita, cukup membosankan juga nanti berbalas omong dengan lelaki tua ini. Paling ia akan menerorku dengan tanya ini-tanya itu perihal Marlis miskin buta agama itu. Kasihan kalian, dua beradik yang tak mujur dua-duanya!

”Kau kenal?” lelaki tua mendesak.

”Huaaap…,” lelaki yang lebih muda menggeleng sambil pura-pura menguap. ”aku ngantuk, Pak. Tidur dulu, ya. Nanti kalau ada sipir yang mengantar makanan, bangunkan aku!”

”Ya sudah kalu begitu. O ya, tadi kau bercerita panjang lebar tentang dirimu, tetapi kau belum menyebutkan namamu?

”Huh! Banyak bacot pula, kau! Baiklah, biarkan aku istirahat setelah kau dengar semuanya!”

Lelaki tua mengangguk ragu. Keder juga dia melihat ekspresi kesal lelaki 27 tahun-an di hadapannya itu.

”Namaku macam-macam. Saat aku dimasukkan ke sini perihal kucuri semua uang wakaf masjid yang telah kutunggui lebih dari lima tahun, namaku Ahmad. Sebelumnya namaku Andre, semasa kecil namaku Amrul.”

”Amrul?” lelaki tua membelalak, serasa tak percaya.

”Iya. Tidak ada pertanyaan lagi, kan?” Ahmad tak memedulikan ekspresi rekan sekamarnya. Ia langsung berbalik, membaringkan tubuhnya

Senyap. Hanya angin penjara yang berseliweran mengisi ekspresi murung, sedih, pedih, dan kacau para penghuninya.

”Semasa kecil, kau sangat suka didongengi, bukan?” suara lelaki tua memecah hening. Ia telah membelakangi Ahmad, menghadap ke jeruji, memegangi bilah-bilah besinya.

Ahmad membuka kelopak matanya yang baru saja menutup.

”Umur delapan tahun kau dibawa ibumu ke kota. Aku baru tahu beberapa tahun lalu, tepat pada usiamu ke-17 kau akan digigolokannya. Untung kau melarikan diri satu tahun sebelumnya.”

Ahmad bangkit dari pembaringannya. Mukanya memerah.

”Jarun… Jarun… kau hanya manusia impian. Percuma saja kisah-kisah rekaan tentangmu kuhembuskan ke telinga putraku. Semua tak membekas. Ia tak jadi jua seperti yang diharapkan.”

”Kau… kau…?” Ahmad terbata-bata.

”Tak usah berharap. Aku sudah lupa dongeng-dongeng tua itu. Aku tak akan mendongeng lagi.” lelaki tua itu menyeringai kecil. ”Lagi pula, pemilik pusat kebugaran itu sudah menjadi papi tirimu.”

Ahmad bangun. Perlahan, mendudukkan tubuhnya yang layu di dinding penjara.

”Mungkin sudah takdirnya pula, dua beranak mati di jeruji ini,” lelaki tua itu membalikkan tubuhnya menghadap Ahmad yang meremas-remas rambut kusutnya.

Jeruji besi berbunyi seperti dipukul-pukul. Makanan anjing telah datang. Tampaknya malam itu akan menjadi lebih panjang dari biasa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme