Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dia yang Kembali oleh Daisy Rahmi

Posted on Sab, 28 Mei 2022

”Apa Mama meninggalkan pesan?”

Diana menggeleng.

”Tidak. Mama sudah tak sadar waktu dibawa ke rumah sakit.”

Tiana terdiam. Tatapan matanya menerawang. Tangannya meremas sapu tangan yang sejak tadi digenggam. Kedua gadis kembar tersebut duduk berdampingan di lorong rumah sakit. Tiana mengerjapkan matanya yang berembun. Tiana tak sempat melepas kepergian sang ibu. Ia masih di tempat kerja ketika keadaan ibu mereka memburuk dan harus dirawat di rumah sakit. Meski berusaha datang secepatnya, si gadis tetap terlambat.

Setitik air bergulir dari sudut mata Tiana. Ia kembali menangis.

”Seharusnya aku tidak berangkat tadi pagi,” sedunya.

Diana menghela napas. Sesak di dadanya tidak berkurang. Diana limbung. Ia belum siap menerima perpisahan yang begitu tiba-tiba. Tapi, hidup terus berjalan. Mereka tak bisa berlarut-larut dalam duka. Ada yang harus dikerjakan.

”Jangan pikirkan itu lagi. Kita tinggal berdua. Ada pemakaman Mama yang harus diurus besok. Aku tak mungkin melakukannya seorang diri,” desah Diana.

Tiana menyusut air mata. Dibalasnya tatapan Diana sambil tersenyum lemah.

”Kau benar.”

Diana bangkit dari duduk.

”Aku bereskan urusan rumah sakit. Susul aku kalau kau sudah lebih tenang.”

Saudara kembarnya mengangguk.

Pemakaman berlangsung secara sederhana. Tidak terlalu banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Tak ada percakapan antara dua gadis itu selama perjalanan pulang. Matahari mulai tergelincir ke barat ketika mereka tiba di rumah. Gelombang kesedihan melanda Tiana begitu masuk rumah dan melihat foto berpigura ibunya di atas bufet. Kesedihan yang membuatnya sulit bernapas.

”Aku istirahat dulu,” ucap Tiana memecah kebekuan.

Diana tak menanggapi. Ia menatap kembarannya pergi menjauh, meninggalkannya berdiri termangu di ruangan yang terasa sunyi tanpa kehadiran seorang ibu.

***

Enam bulan kemudian….

Pagi datang menghalau gelap yang dibawa malam. Penghuni rumah di sisi kiri jalan raya telah beraktivitas seusai shalat Subuh. Dua saudara kembar, Tiana dan Diana, sibuk bekerja di dapur, menjerang air dan menyiapkan sarapan. Terdengar ketukan di pintu depan beberapa menit sebelum pukul tujuh. Diana yang baru selesai menata meja berpandangan dengan Tiana. Mereka terheran-heran.

Pemakaman berlangsung secara sederhana. Tidak terlalu banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Tak ada percakapan antara dua gadis itu selama perjalanan pulang. Matahari mulai tergelincir ke barat ketika mereka tiba di rumah. Gelombang kesedihan melanda Tiana begitu masuk rumah dan melihat foto berpigura ibunya di atas bufet. Kesedihan yang membuatnya sulit bernapas.

”Siapa bertamu sepagi ini?” gumam Diana.

Diana berjalan ke depan dan membuka pintu. Mendadak ia membeku. Matanya terbelalak menatap sosok di hadapannya. Seseorang yang tak disangkanya akan bertemu lagi.

”Aku baru dengar tentang Mama,” kata tamu itu lirih.

Diana tak bereaksi. Gadis itu belum pulih dari rasa kaget. Terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Tiana datang. Sama seperti Diana, ia terpaku melihat pemuda yang berdiri di depan pintu. Ferdi melirik Tiana, kemudian mengalihkan pandangan kembali pada Diana.

”Boleh masuk?”

Diana menepi, membiarkan Ferdi masuk. Pemuda itu langsung duduk. Kedua gadis masih berdiri, mengawasi dalam diam. Ferdi memandang mereka.

”Aku ingin ziarah ke makam Mama. Bisa mengantarku ke sana?”

Hening sesaat sebelum akhirnya Diana membuka mulut.

”Sebaiknya sarapan dulu.”

Ketiganya makan sambil membisu, hanya denting sendok dan garpu beradu piring yang terdengar. Diam-diam kedua gadis memperhatikan Ferdi. Pemuda tersebut tampak berbeda dari terakhir kali mereka lihat. Rambut yang lebih panjang dan tubuh yang lebih kurus. Masa tiga tahun telah mengubah penampilannya.

Diana masuk ke kamar selesai makan. Tak lama ia keluar dengan setumpuk pakaian di tangan yang diulurkannya pada Ferdi.

”Mandilah. Ini baju-bajumu. Mama masih menyimpannya.”

Sekilas si gadis melihat keharuan di mata Ferdi.

”Terima kasih,” ucapnya pelan.

Jarum arloji yang dipakai Diana menunjukkan pukul 10.21. Sinar matahari menyapu areal pemakaman. Ferdi dan kedua gadis melangkah menyusuri deretan nisan. Sesampainya di makam yang dituju, ketiganya bersimpuh. Tiana mengganti rangkaian bunga layu dengan bunga segar sebelum berdoa. Ferdi memanjatkan doa dengan khusyuk, sesekali terdengar isaknya.

Ferdi langsung masuk kamar setiba di rumah. Tiana menggamit saudara kembarnya. Diana mendekat. Mereka menjauh dari jangkauan pendengaran pemuda itu.

”Bagaimana sekarang?” bisik Tiana.

”Bagaimana lagi?” balas Diana pelan, ”Kita tak mungkin mengusirnya. Dia berhak tinggal di sini.”

Tiana tak menjawab. Ia memandang tanaman di belakang rumah.

”Bagaimanapun dia kakak tiri kita,” sambung Diana.

”Aku tidak pernah merasa seperti itu. Dia selalu membuat masalah.”

Diana tak menyangkal. Ingatannya melayang ke tahun-tahun sebelumnya. Sebagai orangtua tunggal, ibu mereka sering kewalahan menghadapi tabiat putranya. Ferdi kerap berulah, beberapa di antaranya bahkan nyaris berurusan dengan hukum. Para tetangga mulai kasak-kusuk, mencibir keluarga mereka. Gunjingan baru menghilang setelah pemuda tersebut pergi dari rumah. Tanpa pamit, tanpa pernah berkabar.

”Mungkin dia sudah berubah,” kata Diana.

”Karena dia menangis di kuburan Mama hari ini?”

”Setidaknya beri dia kesempatan.”

Keengganan mengikuti usul Diana tergambar jelas di wajah Tiana.

”Baiklah. Akan kucoba,” ucap Tiana setelah lama diam.

Diana tersenyum.

”Mama pasti melakukan hal yang sama seandainya masih hidup.”

***

Tiana terbatuk dan terjaga. Tenggorokannya kering. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, si gadis memandang jam. Pukul 01.45. Diana tidur pulas di ranjang sebelah. Tiana bangkit. Ia keluar dari kamar tanpa alas kaki. Lampu ruang tengah dimatikan. Terdengar gumaman dari kamar Ferdi. Melalui celah kecil pintu yang tak tertutup rapat, Tiana mengintip ke dalam. Ferdi duduk di pinggir tempat tidur dengan ponsel menempel di telinga.

”Belum bisa. Waktunya belum tepat,” gumamnya.

Ia diam, mendengarkan perkataan lawan bicara di seberang telepon.

”Ya, aku tahu….”

Tiba-tiba Ferdi berpaling menatap pintu, seperti merasa sedang diamati. Tiana terkesiap. Gadis itu mundur, sembunyi di sudut gelap. Jantungnya berdebar tegang. Ferdi menutup pintu. Terdengar bunyi kunci diputar. Tiana bergegas kembali ke kamar. Mendadak rasa hausnya hilang.

Waktu sarapan pagi harinya Tiana mengamati Ferdi secara sembunyi-sembunyi. Pemuda itu lebih banyak melamun. Selesai makan, ia pamit untuk berziarah ke makam ibu mereka. Mata Diana mengikuti langkahnya keluar rumah. Kening gadis itu berkerut.

”Dia hampir tidak makan apa-apa tadi.”

Tiana tak mendengar perkataan saudara kembarnya. Pikirannya melayang ke kata-kata Ferdi tadi malam yang mengisyaratkan pemuda itu menyembunyikan sesuatu. Usai mencuci piring, Tiana masuk ke kamar Ferdi. Ia bertekad mencari tahu. Lima menit kemudian gadis itu menemukan jawaban di sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit yang ditemukan di dalam ransel.

”Diana, cepat ke sini!”

Mendengar seruan saudara kembarnya, Diana bergegas datang. Dilihatnya Tiana duduk di kasur dengan secarik kertas di tangan. Di sekitarnya berserakan barang-barang milik Ferdi.

”Ada apa?”” tanyanya heran, ”Kenapa menggeledah barang-barangnya?”

Tiana mengulurkan kertas yang dipegang ke arah Diana.

”Dia sakit. Sakit parah.”

***

Pemuda tersebut duduk dekat makam dengan mata terpejam. Tak dihiraukannya kehadiran para peziarah lain dan keadaan sekitar, tenggelam dalam kekhusyukan berdoa. Mata Ferdi baru terbuka ketika sebuah suara mengusiknya.

”Kenapa tak memberi tahu kami tentang penyakitmu?”

Pemuda itu tersenyum melihat dua gadis kembar berdiri tak jauh darinya.

”Ternyata kalian sudah tahu.”

”Kudengar pembicaraanmu di telepon kemarin malam,” jawab Tiana, ”Aku curiga, lalu memeriksa barang-barangmu. Maaf.”

”Tak apa.”

Diana menyela.

”Sejak kapan?”

”Kemungkinan besar sudah lama.”

”Apa bisa disembuhkan?”

”Entahlah.”

Tatapan mata Ferdi beralih ke pusara di hadapannya. Tangannya merapikan letak karangan bunga.

”Penyakit ini anugerah meski menakutkan. Belum tentu aku bisa berubah seandainya tidak mengidapnya. Setelah mendengar vonis dokter, hal pertama yang kupikirkan adalah Mama. Aku ingin kembali, berbakti pada beliau di sisa hidupku. Begitu tahu Mama telah tiada, walau ragu kuputuskan untuk tetap pulang. Aku sudah sangat bersyukur kalian masih mau menerimaku, mana mungkin kubebani kalian dengan penyakitku?”

Diana mendekat, berjongkok di samping Ferdi. Ditangkupkannya telapak tangannya di atas tangan si pemuda.

”Mama pasti senang kau pulang.”

***

Daisy Rahmi, kelahiran Manado. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta.

sumber : kompas.id, 28 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme