”Apa Mama meninggalkan pesan?”
Diana menggeleng.
”Tidak. Mama sudah tak sadar waktu dibawa ke rumah sakit.”
Tiana terdiam. Tatapan matanya menerawang. Tangannya meremas sapu tangan yang sejak tadi digenggam. Kedua gadis kembar tersebut duduk berdampingan di lorong rumah sakit. Tiana mengerjapkan matanya yang berembun. Tiana tak sempat melepas kepergian sang ibu. Ia masih di tempat kerja ketika keadaan ibu mereka memburuk dan harus dirawat di rumah sakit. Meski berusaha datang secepatnya, si gadis tetap terlambat.
Setitik air bergulir dari sudut mata Tiana. Ia kembali menangis.
”Seharusnya aku tidak berangkat tadi pagi,” sedunya.
Diana menghela napas. Sesak di dadanya tidak berkurang. Diana limbung. Ia belum siap menerima perpisahan yang begitu tiba-tiba. Tapi, hidup terus berjalan. Mereka tak bisa berlarut-larut dalam duka. Ada yang harus dikerjakan.
”Jangan pikirkan itu lagi. Kita tinggal berdua. Ada pemakaman Mama yang harus diurus besok. Aku tak mungkin melakukannya seorang diri,” desah Diana.
Tiana menyusut air mata. Dibalasnya tatapan Diana sambil tersenyum lemah.
”Kau benar.”
Diana bangkit dari duduk.
”Aku bereskan urusan rumah sakit. Susul aku kalau kau sudah lebih tenang.”
Saudara kembarnya mengangguk.
Pemakaman berlangsung secara sederhana. Tidak terlalu banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Tak ada percakapan antara dua gadis itu selama perjalanan pulang. Matahari mulai tergelincir ke barat ketika mereka tiba di rumah. Gelombang kesedihan melanda Tiana begitu masuk rumah dan melihat foto berpigura ibunya di atas bufet. Kesedihan yang membuatnya sulit bernapas.
”Aku istirahat dulu,” ucap Tiana memecah kebekuan.
Diana tak menanggapi. Ia menatap kembarannya pergi menjauh, meninggalkannya berdiri termangu di ruangan yang terasa sunyi tanpa kehadiran seorang ibu.
***
Enam bulan kemudian….
Pagi datang menghalau gelap yang dibawa malam. Penghuni rumah di sisi kiri jalan raya telah beraktivitas seusai shalat Subuh. Dua saudara kembar, Tiana dan Diana, sibuk bekerja di dapur, menjerang air dan menyiapkan sarapan. Terdengar ketukan di pintu depan beberapa menit sebelum pukul tujuh. Diana yang baru selesai menata meja berpandangan dengan Tiana. Mereka terheran-heran.
Pemakaman berlangsung secara sederhana. Tidak terlalu banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Tak ada percakapan antara dua gadis itu selama perjalanan pulang. Matahari mulai tergelincir ke barat ketika mereka tiba di rumah. Gelombang kesedihan melanda Tiana begitu masuk rumah dan melihat foto berpigura ibunya di atas bufet. Kesedihan yang membuatnya sulit bernapas.
”Siapa bertamu sepagi ini?” gumam Diana.
Diana berjalan ke depan dan membuka pintu. Mendadak ia membeku. Matanya terbelalak menatap sosok di hadapannya. Seseorang yang tak disangkanya akan bertemu lagi.
”Aku baru dengar tentang Mama,” kata tamu itu lirih.
Diana tak bereaksi. Gadis itu belum pulih dari rasa kaget. Terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Tiana datang. Sama seperti Diana, ia terpaku melihat pemuda yang berdiri di depan pintu. Ferdi melirik Tiana, kemudian mengalihkan pandangan kembali pada Diana.
”Boleh masuk?”
Diana menepi, membiarkan Ferdi masuk. Pemuda itu langsung duduk. Kedua gadis masih berdiri, mengawasi dalam diam. Ferdi memandang mereka.
”Aku ingin ziarah ke makam Mama. Bisa mengantarku ke sana?”
Hening sesaat sebelum akhirnya Diana membuka mulut.
”Sebaiknya sarapan dulu.”
Ketiganya makan sambil membisu, hanya denting sendok dan garpu beradu piring yang terdengar. Diam-diam kedua gadis memperhatikan Ferdi. Pemuda tersebut tampak berbeda dari terakhir kali mereka lihat. Rambut yang lebih panjang dan tubuh yang lebih kurus. Masa tiga tahun telah mengubah penampilannya.
Diana masuk ke kamar selesai makan. Tak lama ia keluar dengan setumpuk pakaian di tangan yang diulurkannya pada Ferdi.
”Mandilah. Ini baju-bajumu. Mama masih menyimpannya.”
Sekilas si gadis melihat keharuan di mata Ferdi.
”Terima kasih,” ucapnya pelan.
Jarum arloji yang dipakai Diana menunjukkan pukul 10.21. Sinar matahari menyapu areal pemakaman. Ferdi dan kedua gadis melangkah menyusuri deretan nisan. Sesampainya di makam yang dituju, ketiganya bersimpuh. Tiana mengganti rangkaian bunga layu dengan bunga segar sebelum berdoa. Ferdi memanjatkan doa dengan khusyuk, sesekali terdengar isaknya.
Ferdi langsung masuk kamar setiba di rumah. Tiana menggamit saudara kembarnya. Diana mendekat. Mereka menjauh dari jangkauan pendengaran pemuda itu.
”Bagaimana sekarang?” bisik Tiana.
”Bagaimana lagi?” balas Diana pelan, ”Kita tak mungkin mengusirnya. Dia berhak tinggal di sini.”
Tiana tak menjawab. Ia memandang tanaman di belakang rumah.
”Bagaimanapun dia kakak tiri kita,” sambung Diana.
”Aku tidak pernah merasa seperti itu. Dia selalu membuat masalah.”
Diana tak menyangkal. Ingatannya melayang ke tahun-tahun sebelumnya. Sebagai orangtua tunggal, ibu mereka sering kewalahan menghadapi tabiat putranya. Ferdi kerap berulah, beberapa di antaranya bahkan nyaris berurusan dengan hukum. Para tetangga mulai kasak-kusuk, mencibir keluarga mereka. Gunjingan baru menghilang setelah pemuda tersebut pergi dari rumah. Tanpa pamit, tanpa pernah berkabar.
”Mungkin dia sudah berubah,” kata Diana.
”Karena dia menangis di kuburan Mama hari ini?”
”Setidaknya beri dia kesempatan.”
Keengganan mengikuti usul Diana tergambar jelas di wajah Tiana.
”Baiklah. Akan kucoba,” ucap Tiana setelah lama diam.
Diana tersenyum.
”Mama pasti melakukan hal yang sama seandainya masih hidup.”
***
Tiana terbatuk dan terjaga. Tenggorokannya kering. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, si gadis memandang jam. Pukul 01.45. Diana tidur pulas di ranjang sebelah. Tiana bangkit. Ia keluar dari kamar tanpa alas kaki. Lampu ruang tengah dimatikan. Terdengar gumaman dari kamar Ferdi. Melalui celah kecil pintu yang tak tertutup rapat, Tiana mengintip ke dalam. Ferdi duduk di pinggir tempat tidur dengan ponsel menempel di telinga.
”Belum bisa. Waktunya belum tepat,” gumamnya.
Ia diam, mendengarkan perkataan lawan bicara di seberang telepon.
”Ya, aku tahu….”
Tiba-tiba Ferdi berpaling menatap pintu, seperti merasa sedang diamati. Tiana terkesiap. Gadis itu mundur, sembunyi di sudut gelap. Jantungnya berdebar tegang. Ferdi menutup pintu. Terdengar bunyi kunci diputar. Tiana bergegas kembali ke kamar. Mendadak rasa hausnya hilang.
Waktu sarapan pagi harinya Tiana mengamati Ferdi secara sembunyi-sembunyi. Pemuda itu lebih banyak melamun. Selesai makan, ia pamit untuk berziarah ke makam ibu mereka. Mata Diana mengikuti langkahnya keluar rumah. Kening gadis itu berkerut.
”Dia hampir tidak makan apa-apa tadi.”
Tiana tak mendengar perkataan saudara kembarnya. Pikirannya melayang ke kata-kata Ferdi tadi malam yang mengisyaratkan pemuda itu menyembunyikan sesuatu. Usai mencuci piring, Tiana masuk ke kamar Ferdi. Ia bertekad mencari tahu. Lima menit kemudian gadis itu menemukan jawaban di sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit yang ditemukan di dalam ransel.
”Diana, cepat ke sini!”
Mendengar seruan saudara kembarnya, Diana bergegas datang. Dilihatnya Tiana duduk di kasur dengan secarik kertas di tangan. Di sekitarnya berserakan barang-barang milik Ferdi.
”Ada apa?”” tanyanya heran, ”Kenapa menggeledah barang-barangnya?”
Tiana mengulurkan kertas yang dipegang ke arah Diana.
”Dia sakit. Sakit parah.”
***
Pemuda tersebut duduk dekat makam dengan mata terpejam. Tak dihiraukannya kehadiran para peziarah lain dan keadaan sekitar, tenggelam dalam kekhusyukan berdoa. Mata Ferdi baru terbuka ketika sebuah suara mengusiknya.
”Kenapa tak memberi tahu kami tentang penyakitmu?”
Pemuda itu tersenyum melihat dua gadis kembar berdiri tak jauh darinya.
”Ternyata kalian sudah tahu.”
”Kudengar pembicaraanmu di telepon kemarin malam,” jawab Tiana, ”Aku curiga, lalu memeriksa barang-barangmu. Maaf.”
”Tak apa.”
Diana menyela.
”Sejak kapan?”
”Kemungkinan besar sudah lama.”
”Apa bisa disembuhkan?”
”Entahlah.”
Tatapan mata Ferdi beralih ke pusara di hadapannya. Tangannya merapikan letak karangan bunga.
”Penyakit ini anugerah meski menakutkan. Belum tentu aku bisa berubah seandainya tidak mengidapnya. Setelah mendengar vonis dokter, hal pertama yang kupikirkan adalah Mama. Aku ingin kembali, berbakti pada beliau di sisa hidupku. Begitu tahu Mama telah tiada, walau ragu kuputuskan untuk tetap pulang. Aku sudah sangat bersyukur kalian masih mau menerimaku, mana mungkin kubebani kalian dengan penyakitku?”
Diana mendekat, berjongkok di samping Ferdi. Ditangkupkannya telapak tangannya di atas tangan si pemuda.
”Mama pasti senang kau pulang.”
***
Daisy Rahmi, kelahiran Manado. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta.
sumber : kompas.id, 28 Mei 2022.