Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Langgam Urbana oleh Beni Setia

Posted on Ming, 11 Jan 2009

(Atawa Jakarta in Rap)

Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. Di pagar rumah, di pintu halaman, di dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel, di dinding dan kursi-kursi dan meja di ruang tamu, di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga, di layar TV dan monitor komputer, di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum, di pintu, di dinding, di ranjang dan bantal kamar tidur, di dapur, di bak air dan di gayung kamar mandi. Di jalanan, di mobil, di motor, di bundaran lampu lalu lintas, dan di kemengangaan mulut, di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan berteriak.

Jam ada di mana-mana. Berdetak-detik di dalam pendengaran, berpendar-pendar di dalam ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga waktu terengah-engah dan menyerah. Bilang, ”lakukan semuanya semaumu, aku hanya akan jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap, di mana setiap orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda pitstop, masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis, di perut yang hanya diisi kopi, di lembaran kertas, di layar monitor, di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan, lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana, balik ke tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana, dan begitu lepas dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di sepanjang jalan, sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. Jam di mana-mana. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian, tidak bisa memanggil siapa pun, minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus berpacu.

Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak, sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam, anjuran jam—berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal, saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak dan ulah kerja manusia. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil tersenyum dan tersipu-sipu. Lik War menggeleng. Bisakah manusia bebas dari waktu, dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa, yang diam-diam maju terus, agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu, sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu, dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada, bersebelahan, saling kontak-sentuh, berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Manusia selalu berada dalam titik saling ketergantungan, untuk tolong- menolong atau instinktif tebas-menebas—pikirku. Dan setelah itu, pikirku. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited, what ever will be will be, deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik War, yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh bos yang bilang, ”grammar apa tuh?”; dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War juga bilang, ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu, meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh.

Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil, yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi, Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan, yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit untuk membeli mobil—”barang-barang itu,” kata lik War, ”bisa dibeli secara kredit”—tapi karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. ”Terlalu banyak kendaraan, hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya minimal tiga orang, karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja,” kata lik War, ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana, malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam, karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja.” Kami menelan ludah. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung, yang menembus ladang dan sawah, dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubang-lubang, dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit—terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV, dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo, sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor.

”Aku jadi pengen ke Jakarta,” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami, seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung, sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. Lik War pun tersenyum. Ia minta kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong, yang disewa dari juragan yang juga menyediakan mi, bumbu dan yang lainnya, serta tempat kos dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan Jakarta di sepanjang malam. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung, yang mungkin hanya dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. Kami menggeleng. Lik War pun mengajukan usul lain, kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami panggil dengan sebutan No Tit, yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung, dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. ”OK!” kata Marto Pedrosa, ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu, kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu, sekaligus kudu punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek sepeda dulu. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Ia menganjurkan jadi kernet, dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. ”Atau ikut Arpan,” katanya, ”macak dan akting pengemis, memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing.

Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam, dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka, menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang, menjadi rembulan gaib di awal Syawal, dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa saja. Berangkat ke Jakarta, dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung, semodel de Grana, yang selama 15 tahun ini tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus ribu bagi Mbah Rame, ibunya; atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga orang sekampung lainnya yang masih selamat, dan karenanya (kata lik War, Marto Pedrosa dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari kampung sini, dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan, yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti, Lania, Santik dan Kuni, atau penghuni kompleks semodel Tri, Sri, Kimi, Nonik, dan Tyas, atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian, Timpah, dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum, Kasim, Koral dan yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta dan di kampung sini).

Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu melanda desa, untuk segera berpacu sebagai apa saja. Berpacu dengan waktu secara baik-baik dan tak baik-baik, menjadi orang kantoran atau hanya suruhan, atau buronan karena terlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive dengan sesuap nasi. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja, lantas bertemu setahun sekali di kampung, agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi, dan berhamburan lagi di Senen atau Kota, sebagai apa saja di mana saja. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain, selain jadi transmigran yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu.

” Jakarta, here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk.***

Catatan:
untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang
gombal : kain bekas untuk lap, yang biasa lusuh
nunut : ikut, menumpang
kepeksa : terpaksa
nelangsa, sara : sengsara
mandeg : stop, berhenti
kudu apal : harus hapal
motore : sepeda motornya
macak : berdandan
blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri
gembong : tokoh, pentolan, kepala [penjahat]
slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal
mencang-mencong: meliuk-liuk, berliku-liku
mbabat alas: membuka hutan, kolonisasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme