Sebenarnya dari awal kau sudah tahu jenis kelamin jabang bayi yang sekarang ada dalam rahimmu. Namun, kau masih saja takut berkata jujur. Beberapa waktu lalu kau mencoba memeriksa kandunganmu tanpa memberitahukan suamimu. Takut jika jawabanmu nanti malah mengecewakannya.
Dan ketika kau berdiri di antara hikmatnya para hadirin, perlahan, gending yang memuji kekuatan cinta Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih telah mengambang di awang-awang. Merambat ke telinga lalu merasuk ke jiwamu. Mereka semua terpukau saat dua cengkir hijau yang telah dilukis dua simbol tokoh yang mewakili keabadian cinta itu menyusur ke bawah jarik motif keris yang kau pakai menutupi tubuhmu. Suamimu berlutut di antara dua betismu. Dalam raut wajahnya, ada perasaan bahagia yang tak tergambar dengan kata-kata. Tetapi entah kenapa hatimu berbeda merasakannya.
”Jika ia laki-laki, aku ingin kekuatan dan ketampanannya mewarisi Batara Kamajaya. Jika ia perempuan, aku ingin kesetiaan dan cinta pada suaminya nanti seperti keagungan cinta Batari Kamaratih. Duh Gusti Sangkan Paraning Dumadi (1), kabulkan permintaan kami.”
Dengan bendo, suamimu yang masih berjongkok di depanmu, gegas membelah salah satu cengkir tadi di depan para hadirin yang penasaran. Mata mereka semua nyalang, seperti sedang menunggu hasil undian. Kau tahu sejak dulu suamimu ingin sekali bayi laki-laki. Tak usah kau memintanya ia pasti akan membelah cengkir yang bergambar Batara Kamajaya terlebih dulu. Namun, ternyata pecahan cengkir itu tidak terbelah sempurna.
”Bukankah laki-laki dan perempuan sama saja?”
”Bagiku tidak. Ia lambang kekuatan yang utama. Ini yang pertama bukan?”
”Aku pernah bercerita padamu tentang kisah enam anak perempuan yang menghalangi ayahnya masuk neraka bukan?”
”Ini bukan tentang surga dan neraka. Ini tentang kewibawaan.”
Bibirmu langsung menutup. Di depan para tamu undangan, rasanya tak patut kalian terlihat berdebat. Kau tahu, dari kelima bersaudara, suamimu anak ketiga yang diapit oleh dua anak perempuan lainnya. Dalam kepercayaan keluarga mereka, beban berat akan diletakkan di pundakknya. Menjadi lebih cepat dewasa. Dalam hal apa pun. Pemikiran, perbuatan, dan tuntutan untuk menyelesaikan masalah keluarga bersama. Menjadi penengah jika ada pertikaian. Dari kecil, ia sudah terbiasa hidup susah dan dituntut bekerja keras untuk adik dan kakak-kakak perempuannya.
Tetapi bagimu, tetap saja, bukankah laki-laki dan perempuan sama saja?
Waktu begitu cepat berlalu hingga hadirin berangsur-angsur pergi, menimbulkan keriuhan ketika mereka ingin pamit pulang. Acara mitoni (2) telah usai. Dan di depan pintu keluar, kau melihat seseorang yang begitu kau kenal. Memberikannya segelas rujak tebu pada temanmu itu setelah ia menyerahkan kreweng (3) untuk syarat membelinya. Ia teman SMA yang sebenarnya dulu mencintai suamimu. Namun, kalian tetap bersahabat seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, setelah ia dikaruniai tiga anak laki-laki yang lucu-lucu, kau baru saja ingin menyusul kebahagiaannya.
”Kau tampak pucat. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah. Itu tak baik untuk bayimu nanti.”
”Terima kasih.”
Sejujurnya pun untuk acara ini, kau seakan tak rela mengikuti semua prosesnya. Suamimu terus berkata jika tak ada yang melestarikan budaya dan tradisi kita sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah tak salah melakukan upacara syukur kepada Tuhan? Tetapi kata-kata ayahmu membuatmu bingung. Ayahmu membesarkanmu dalam lingkungan pesantren dan ajaran agama yang kuat. Sesuatu yang tak ada dalam tuntunan syariat agama tentu saja melanggar ketentuan. Tetapi sejujurnya kau lebih tahu kenapa beliau tak hadir dalam acara tadi. Sesuatu yang sengaja kau sembunyikan rapat-rapat.
Kau tak pernah menyalahkan keyakinan bapak. Kau juga tak ingin membuat suamimu kecewa. Hanya saja kau terlalu berat berkata jujur jika kau tahu dalam rahimmu telah tertanam benih yang akan mewarisi kecantikan Batari Kamaratih. Entah bagaimana cara menjelaskan pada suamimu tanpa melukai perasaannya. Barangkali benar jika dulu ia akan lebih bahagia jika hidup bersama karibnya. Tak pernah bertemu denganmu dan tak pernah menikahimu.
Kau memandang keluar jendela. Langit telah menggelap. Dari dalam kamar, orang-orang terlihat berkemas merapikan kursi dan tenda. Dengkuran suamimu di tepi ranjang membuatmu menoleh. Ia tak sekurus saat awal bertemu dan menikah dulu. Mendadak lehernya mulai menyatu dengan dagu. Perutnya tak lagi tipis, sedikit menggembung dan terus kembang kempis. Kata orang, setelah menikah jika tubuh laki-laki mendadak lebih berisi itu artinya istrinya telah sukses mendampinginya. ”Susunya cocok”, begitu kata teman-teman yang sering meledekmu.
Tetapi sekarang malah tubuhmu yang mendadak berkurang timbangannya. Kata dokter, kau terlalu alergi protein susu. Ia menyarankan asupan nutrisi pengganti. Kasihan bayi itu jika ia lahir dengan berat timbangan di bawah rata-rata. Kau malah menyuruh janin itu tak pernah ada.
***
Ada kalanya Tuhan memberikan jawaban doamu saat itu juga ketika kau meminta. Bukan tanpa alasan, agar kau belajar dari ucapan yang sering kau lontarkan tanpa sadar. Hal itu pula yang membuatmu tiba-tiba berteriak histeris di tengah malam mengagetkan seisi kamar. Berkali-kali kauelus perutmu dengan lelehan bening terus mengucur dari sudut matamu.
”Duh Gusti Kang Karya Jagat (4)!”
”Kenapa Nduk (5)?”
Antara terkejut dan kecewa, suamimu terbangun dan melihat perutmu dengan sangat tak percaya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Perutmu kini telah rata. Tak ada lagi perut buncit yang sering kauelus dan dibawa ke mana-mana.
Suamimu memerhatikan sekitar. Mengelilingi setiap sudut dengan saksama. Melihat jika ada cairan atau apa pun di sekitar seprai tempat tidur. Tetapi semua bersih seolah tak terjadi apa-apa. Hingga tatap mata suamimu memandang curiga.
”Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku bukan?”
Kau peluk suamimu dengan gemetar dan ragu. Kau jelaskan semuanya. Dari situ ia paham kau terlalu memendam ketakutan. Suamimu mengerti dan ia malah meminta maaf padamu berkali-kali. Padahal saat itu suamimu hanya ingin kau selalu menjaga kandunganmu. Ia hanya ingin anak laki-laki bukan berarti bersikap keras untuk bisa mendapatkannya. Ia hanya ingin sejarah keluarganya dulu tak akan menimpa pula pada anak-anakmu. Dalam keyakinan keluarganya, anak laki-laki ditakdirkan jadi pemimpin.
Namun, mendadak kau ingat sesuatu. Penyebab yang menimpa dirimu. Entah kenapa suamimu beranjak dengan gegas. Memakai pakaian dan berkemas. Kau memandangnya heran.
”Mas, ini malam. Mau ke mana?”
”Kamu tunggu saja di sini. Mau selesaikan urusanku. Sialan!”
”Tidak bisa besok?”
Suamimu tak menjawab. Ia malah mengambil golok yang terselip di belakang pintu. Tubuhmu gigil melihatnya. Bahkan untuk mengejar dan menghentikannya kau seakan tak mampu. Tubuhmu begitu lemas. Heran, sedih, kecewa bercampur jadi satu setelah melihat keadaan kosong dalam perutmu.
***
Ndari terkenal sebagai perias pengantin di kampungnya. Ia sering dipanggil ke berbagai daerah di selatan hingga kadang sampai melewati perbatasan Jogja. Kelihaiannya merias merupakan bakat yang katanya telah diturunkan dari moyangnya. Tak hanya itu, di usianya yang melewati batas angka empat puluhan, ia masih kelihatan cantik bak gadis belia umur belasan. Tentu saja, orang beranggapan karena dia perias, tentu ia juga pandai merias dirinya sendiri.
”Ada telur?”
”Untuk apa Mba?”
”Sebelum merias saya harus makan dua telur yang telah digambari Kamajaya dan Kamaratih. Saya jamin kecantikanmu akan menyaingi bidadari surgaloka itu. Hanya ini syarat mutlaknya. Ini hanya syarat. Saya yang akan melukis telur itu. Tak ada kaitannya dengan apa-apa dan merupakan tradisi turun-temurun dari moyang kami.”
Belakangan tersiar kabar jika ada perias pengantin yang sedang jadi gunjingan. Sejujurnya kau tak begitu paham dengan apa yang terjadi. Tetapi, orang-orang berkata jika mereka juga bernasib sama denganmu setelah dirias olehnya.
Kau masih ingat bagaimana dokter berkata jika ada yang aneh dengan kandunganmu. Bahkan, rahimmu seakan didesain hanya untuk menyimpan benih sekali dalam hidupmu. Ada kelainan. Dan acara mitoni kemarin adalah yang pertama dan terakhir untukmu.
Tubuhmu tiba-tiba bergetar. Kau ingat wajah seseorang yang telah kau kecewakan. Lelehan bening tiba-tiba keluar dari sudut matamu. Menyesali segala keculasanmu.
”Ndari, maafkan aku.”
Di depan kaca lemari, tanpa beranjak dari ranjang, kau lihat wajahmu yang kuyu. Kau ingat bagaimana dulu demi merebut hati suamimu dari karibmu, kau sering memasukkan serpihan kukumu dalam minumannya bersama senandung mantra. Dulu, kau tak begitu percaya karma, tetapi sekarang kau sadar dari mana semua itu berasal dan ke mana akan kembali. Sekarang, Tuhan seakan sedang menuntut balas semuanya.
Keterangan:
(1) Gusti Sangkan Paraning Dumadi: pujian untuk Tuhan bahwa manusia menyadari dari mana segala sesuatu berasal dan ke mana akan kembali
(2) Mitoni: acara selamatan tujuh bulan usia kandungan
(3) Kreweng: pecahan genting untuk syarat membeli rujak dalam tradisi mitoni
(4) Gusti Kang Karya Jagat: pujian untuk Tuhan yang telah mencipta semesta
(5) Nduk, Genduk: panggilan untuk gadis di Jawa Tengah dan Jawa Timur
***
Dody Widianto lahir di Surabaya. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional seperti koran Tempo, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Fajar Makassar, Solo Pos, dll. Buku kumpulan cerpen terbarunya, ”Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021). Akun IG: @pa_lurah.
sumber : kompas.id, 25 Jun 2022.