Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sangkan Paraning Dumadi oleh Dody Widianto

Posted on Sab, 25 Jun 2022

Sebenarnya dari awal kau sudah tahu jenis kelamin jabang bayi yang sekarang ada dalam rahimmu. Namun, kau masih saja takut berkata jujur. Beberapa waktu lalu kau mencoba memeriksa kandunganmu tanpa memberitahukan suamimu. Takut jika jawabanmu nanti malah mengecewakannya.

Dan ketika kau berdiri di antara hikmatnya para hadirin, perlahan, gending yang memuji kekuatan cinta Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih telah mengambang di awang-awang. Merambat ke telinga lalu merasuk ke jiwamu. Mereka semua terpukau saat dua cengkir hijau yang telah dilukis dua simbol tokoh yang mewakili keabadian cinta itu menyusur ke bawah jarik motif keris yang kau pakai menutupi tubuhmu. Suamimu berlutut di antara dua betismu. Dalam raut wajahnya, ada perasaan bahagia yang tak tergambar dengan kata-kata. Tetapi entah kenapa hatimu berbeda merasakannya.

”Jika ia laki-laki, aku ingin kekuatan dan ketampanannya mewarisi Batara Kamajaya. Jika ia perempuan, aku ingin kesetiaan dan cinta pada suaminya nanti seperti keagungan cinta Batari Kamaratih. Duh Gusti Sangkan Paraning Dumadi (1), kabulkan permintaan kami.”

Dengan bendo, suamimu yang masih berjongkok di depanmu, gegas membelah salah satu cengkir tadi di depan para hadirin yang penasaran. Mata mereka semua nyalang, seperti sedang menunggu hasil undian. Kau tahu sejak dulu suamimu ingin sekali bayi laki-laki. Tak usah kau memintanya ia pasti akan membelah cengkir yang bergambar Batara Kamajaya terlebih dulu. Namun, ternyata pecahan cengkir itu tidak terbelah sempurna.

”Bukankah laki-laki dan perempuan sama saja?”

”Bagiku tidak. Ia lambang kekuatan yang utama. Ini yang pertama bukan?”

”Aku pernah bercerita padamu tentang kisah enam anak perempuan yang menghalangi ayahnya masuk neraka bukan?”

”Ini bukan tentang surga dan neraka. Ini tentang kewibawaan.”

Bibirmu langsung menutup. Di depan para tamu undangan, rasanya tak patut kalian terlihat berdebat. Kau tahu, dari kelima bersaudara, suamimu anak ketiga yang diapit oleh dua anak perempuan lainnya. Dalam kepercayaan keluarga mereka, beban berat akan diletakkan di pundakknya. Menjadi lebih cepat dewasa. Dalam hal apa pun. Pemikiran, perbuatan, dan tuntutan untuk menyelesaikan masalah keluarga bersama. Menjadi penengah jika ada pertikaian. Dari kecil, ia sudah terbiasa hidup susah dan dituntut bekerja keras untuk adik dan kakak-kakak perempuannya.

Tetapi bagimu, tetap saja, bukankah laki-laki dan perempuan sama saja?

Waktu begitu cepat berlalu hingga hadirin berangsur-angsur pergi, menimbulkan keriuhan ketika mereka ingin pamit pulang. Acara mitoni (2) telah usai. Dan di depan pintu keluar, kau melihat seseorang yang begitu kau kenal. Memberikannya segelas rujak tebu pada temanmu itu setelah ia menyerahkan kreweng (3) untuk syarat membelinya. Ia teman SMA yang sebenarnya dulu mencintai suamimu. Namun, kalian tetap bersahabat seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, setelah ia dikaruniai tiga anak laki-laki yang lucu-lucu, kau baru saja ingin menyusul kebahagiaannya.

”Kau tampak pucat. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah. Itu tak baik untuk bayimu nanti.”

”Terima kasih.”

Sejujurnya pun untuk acara ini, kau seakan tak rela mengikuti semua prosesnya. Suamimu terus berkata jika tak ada yang melestarikan budaya dan tradisi kita sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah tak salah melakukan upacara syukur kepada Tuhan? Tetapi kata-kata ayahmu membuatmu bingung. Ayahmu membesarkanmu dalam lingkungan pesantren dan ajaran agama yang kuat. Sesuatu yang tak ada dalam tuntunan syariat agama tentu saja melanggar ketentuan. Tetapi sejujurnya kau lebih tahu kenapa beliau tak hadir dalam acara tadi. Sesuatu yang sengaja kau sembunyikan rapat-rapat.

Kau tak pernah menyalahkan keyakinan bapak. Kau juga tak ingin membuat suamimu kecewa. Hanya saja kau terlalu berat berkata jujur jika kau tahu dalam rahimmu telah tertanam benih yang akan mewarisi kecantikan Batari Kamaratih. Entah bagaimana cara menjelaskan pada suamimu tanpa melukai perasaannya. Barangkali benar jika dulu ia akan lebih bahagia jika hidup bersama karibnya. Tak pernah bertemu denganmu dan tak pernah menikahimu.

Kau memandang keluar jendela. Langit telah menggelap. Dari dalam kamar, orang-orang terlihat berkemas merapikan kursi dan tenda. Dengkuran suamimu di tepi ranjang membuatmu menoleh. Ia tak sekurus saat awal bertemu dan menikah dulu. Mendadak lehernya mulai menyatu dengan dagu. Perutnya tak lagi tipis, sedikit menggembung dan terus kembang kempis. Kata orang, setelah menikah jika tubuh laki-laki mendadak lebih berisi itu artinya istrinya telah sukses mendampinginya. ”Susunya cocok”, begitu kata teman-teman yang sering meledekmu.

Tetapi sekarang malah tubuhmu yang mendadak berkurang timbangannya. Kata dokter, kau terlalu alergi protein susu. Ia menyarankan asupan nutrisi pengganti. Kasihan bayi itu jika ia lahir dengan berat timbangan di bawah rata-rata. Kau malah menyuruh janin itu tak pernah ada.

***

Ada kalanya Tuhan memberikan jawaban doamu saat itu juga ketika kau meminta. Bukan tanpa alasan, agar kau belajar dari ucapan yang sering kau lontarkan tanpa sadar. Hal itu pula yang membuatmu tiba-tiba berteriak histeris di tengah malam mengagetkan seisi kamar. Berkali-kali kauelus perutmu dengan lelehan bening terus mengucur dari sudut matamu.

”Duh Gusti Kang Karya Jagat (4)!”

”Kenapa Nduk (5)?”

Antara terkejut dan kecewa, suamimu terbangun dan melihat perutmu dengan sangat tak percaya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Perutmu kini telah rata. Tak ada lagi perut buncit yang sering kauelus dan dibawa ke mana-mana.

Suamimu memerhatikan sekitar. Mengelilingi setiap sudut dengan saksama. Melihat jika ada cairan atau apa pun di sekitar seprai tempat tidur. Tetapi semua bersih seolah tak terjadi apa-apa. Hingga tatap mata suamimu memandang curiga.

”Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku bukan?”

Kau peluk suamimu dengan gemetar dan ragu. Kau jelaskan semuanya. Dari situ ia paham kau terlalu memendam ketakutan. Suamimu mengerti dan ia malah meminta maaf padamu berkali-kali. Padahal saat itu suamimu hanya ingin kau selalu menjaga kandunganmu. Ia hanya ingin anak laki-laki bukan berarti bersikap keras untuk bisa mendapatkannya. Ia hanya ingin sejarah keluarganya dulu tak akan menimpa pula pada anak-anakmu. Dalam keyakinan keluarganya, anak laki-laki ditakdirkan jadi pemimpin.

Namun, mendadak kau ingat sesuatu. Penyebab yang menimpa dirimu. Entah kenapa suamimu beranjak dengan gegas. Memakai pakaian dan berkemas. Kau memandangnya heran.

”Mas, ini malam. Mau ke mana?”

”Kamu tunggu saja di sini. Mau selesaikan urusanku. Sialan!”

”Tidak bisa besok?”

Suamimu tak menjawab. Ia malah mengambil golok yang terselip di belakang pintu. Tubuhmu gigil melihatnya. Bahkan untuk mengejar dan menghentikannya kau seakan tak mampu. Tubuhmu begitu lemas. Heran, sedih, kecewa bercampur jadi satu setelah melihat keadaan kosong dalam perutmu.

***

Ndari terkenal sebagai perias pengantin di kampungnya. Ia sering dipanggil ke berbagai daerah di selatan hingga kadang sampai melewati perbatasan Jogja. Kelihaiannya merias merupakan bakat yang katanya telah diturunkan dari moyangnya. Tak hanya itu, di usianya yang melewati batas angka empat puluhan, ia masih kelihatan cantik bak gadis belia umur belasan. Tentu saja, orang beranggapan karena dia perias, tentu ia juga pandai merias dirinya sendiri.

”Ada telur?”

”Untuk apa Mba?”

”Sebelum merias saya harus makan dua telur yang telah digambari Kamajaya dan Kamaratih. Saya jamin kecantikanmu akan menyaingi bidadari surgaloka itu. Hanya ini syarat mutlaknya. Ini hanya syarat. Saya yang akan melukis telur itu. Tak ada kaitannya dengan apa-apa dan merupakan tradisi turun-temurun dari moyang kami.”

Belakangan tersiar kabar jika ada perias pengantin yang sedang jadi gunjingan. Sejujurnya kau tak begitu paham dengan apa yang terjadi. Tetapi, orang-orang berkata jika mereka juga bernasib sama denganmu setelah dirias olehnya.

Kau masih ingat bagaimana dokter berkata jika ada yang aneh dengan kandunganmu. Bahkan, rahimmu seakan didesain hanya untuk menyimpan benih sekali dalam hidupmu. Ada kelainan. Dan acara mitoni kemarin adalah yang pertama dan terakhir untukmu.

Tubuhmu tiba-tiba bergetar. Kau ingat wajah seseorang yang telah kau kecewakan. Lelehan bening tiba-tiba keluar dari sudut matamu. Menyesali segala keculasanmu.

”Ndari, maafkan aku.”

Di depan kaca lemari, tanpa beranjak dari ranjang, kau lihat wajahmu yang kuyu. Kau ingat bagaimana dulu demi merebut hati suamimu dari karibmu, kau sering memasukkan serpihan kukumu dalam minumannya bersama senandung mantra. Dulu, kau tak begitu percaya karma, tetapi sekarang kau sadar dari mana semua itu berasal dan ke mana akan kembali. Sekarang, Tuhan seakan sedang menuntut balas semuanya.

Keterangan:

(1) Gusti Sangkan Paraning Dumadi: pujian untuk Tuhan bahwa manusia menyadari dari mana segala sesuatu berasal dan ke mana akan kembali

(2) Mitoni: acara selamatan tujuh bulan usia kandungan

(3) Kreweng: pecahan genting untuk syarat membeli rujak dalam tradisi mitoni

(4) Gusti Kang Karya Jagat: pujian untuk Tuhan yang telah mencipta semesta

(5) Nduk, Genduk: panggilan untuk gadis di Jawa Tengah dan Jawa Timur

***

Dody Widianto lahir di Surabaya. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional seperti koran Tempo, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Fajar Makassar, Solo Pos, dll. Buku kumpulan cerpen terbarunya, ”Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021). Akun IG: @pa_lurah.

sumber : kompas.id, 25 Jun 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme