Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian oleh Avianti Armand

Posted on Ming, 15 Feb 2009

Langit jadi merah. Seekor naga menukik, menyapu bintang-bintang dan matahari. Pucuk-pucuk sayapnya memercik bara. Api bertebaran. Angin berputing. Ketakutan disemprotkan ke udara seperti tinta gurita. Para satria berbaju zirah itu bergelimpangan. Jerit putus asa menyesaki ruang. Makhluk itu marah luar biasa. Rumah-rumah, pohon-pohon, pucuk gunung di kejauhan, jadi remuk tak jelas bentuk. Rata tanah. Semua. Kecuali satu anak yang berdiri tegak tak bergerak. Tangannya menggenggam busur yang selesai teregang. Wajahnya segelap batu, namun matanya seterang kilat. Dari busurnyalah panah besar yang menghunjam di dada sang naga.

Naga itu pasti akan mati, Ibu, bisiknya. Lalu matanya terpejam. Mungkin tertidur. Atau mencoba tidur. Gambar di atas kertas besar itu kini didekap di dadanya. Gambar yang sesak dengan coretan dan garis tebal patah-patah yang diguratkan penuh emosi. Gambar yang cuma punya tiga warna: merah, hitam, dan kelabu.

Aku melayang. Mungkin tertidur. Tanpa mimpi, hanya gelap–dan terbangun karena kesunyian, sangat aneh untuk subuh yang biasanya riuh. Tak ada azan. Tak ada kokok ayam atau saling sahut teriakan penjual sayur dan radio tukang susu. Tempat Radian kosong, tapi masih hangat. Ia belum lama bangun. Aku tertatih keluar kamar dan mendapati anak itu di depan pintu kamar mandi yang separuh terbuka. Ia berdiri, terlalu kaku. Seperti sebuah gerakan yang tertahan di udara. Sinar yang sayu menyapu wajah kecilnya.

Rasa dingin tiba-tiba merayapi punggungku. Wajah itu terlalu putih, bahkan untuk pagi yang masih biru. Aku segera mendekat. Dan di sana, di balik pintu yang separuh terbuka, tubuh suamiku tergeletak. Sebilah pisau menancap di dada. Darah membual dari lukanya. Lantai yang putih kini berkubang merah. Duniaku seketika hitam.

Binatang itu pernah hidup. Sekarang pun terlihat masih sangat hidup. Hanya jika disentuh, terasa kalau dagingnya dingin. Matinya hamster itu mengakibatkan kehebohan di kelas. Radian membunuhnya. Di hadapan teman-temannya yang menjerit-jerit ketakutan, dia mencekik binatang itu hingga kehabisan napas. Anak itu kini tergugu, menolak untuk duduk. Punggungnya menempel ke dinding di sudut ruang guru. Cuma ada kami bertiga: Bu Tina–kepala sekolah—aku, dan Radian. Pelan ia mendekat, memelukku, lalu kembali berdiri dengan punggung menempel ke dinding. Ia kelihatan lebih tenang–tidak takut, cuma sedih.

Kami menatapnya, Bu Tina dan aku, lalu kembali ke bangkai hamster di atas meja. Jika nasib berkata lain, pagi ini aku yang tergeletak mati. Masih terasa tangan suamiku mencengkeram leherku kuat-kuat. Seperti hamster itu, aku meronta. Melawan. Tapi lelaki itu lebih kuat. Aku bisa mencium kemarahan lewat napasnya yang berbau alkohol. Kematian menjalari tulang belakangku pelan-pelan. Leherku bergemeletuk. Kepalaku nyaris pecah. Saat kesadaran hampir hilang, tiba-tiba ia mencampakkanku–teronggok di lantai, menggapai-gapai udara yang tak sudi kembali. Dia pergi begitu saja. Dan ketika mataku pulih, hatiku terpuruk. Radian menatap dari sudut yang gelap, tanpa suara. Wajah itu pekat dengan rasa takut. Air mata deras menggambari pipinya. Aku menatapnya lagi. Mungkin ia cuma ingin tahu, apa jadinya jika dicekik kuat-kuat. Hamster itu telah menjelaskan, betapa kematian pernah begitu dekat merengkuh ibunya.

Malam itu kami tidur bersisian, tidak berpelukan. Kedekatan ini selalu cukup, tidak pernah berlebih. Bohlam 25 watt itu redup, tapi masih cukup untuk membaca gambar yang dibuat Radian sebelum berbaring.

Sebuah pohon besar. Sebuah rumah besar. Semuanya hitam. Seorang lelaki berbaju hitam tergantung-gantung di pohon itu. Seutas tali besar melilit lehernya. Kepalanya terkulai. Terlalu miring, seolah patah. Ada dua paku hitam besar menancap pada tempat yang seharusnya berisi mata. Waktu kutanya siapa dia, Radian hanya bilang: Penjahat. Seorang anak lelaki berdiri di bawahnya, menggendong kantong raksasa. Popcorn, katanya, menunjuk pada gumpalan-gumpalan kecil serupa kapas yang membual dari kantong itu. Dihujani daun-daun yang meluruh, anak itu menyaksikan tubuh lelaki tadi bergoyang-goyang tertiup angin. Pipinya menggembung, mungkin ia sedang mengunyah popcornnya dengan asyik. Sinar lampu menembus kertas yang dipegang Radian, membentuk lingkaran cahaya di kepala anak lelaki dalam gambar, juga di kepala anak lelakiku. Ia tersenyum, tapi matanya tidak.

Malam terasa berat, tapi sinar bulan cukup untuk meremangkan ruang. Perempuan dalam cermin itu diam, meski tahun-tahun yang tertoreh di wajahnya, di tubuhnya, bertutur. Aku tidak mengenalinya. Wajah itu bukan wajahku. Mata itu bukan mataku. Tubuh itu terlalu kering untukku. Ia sembab dan biru. Mungkin lelah. Atau putus asa. Tapi jelas ia marah. Kemarahan membayang seperti sayap-sayap hitam seekor gagak, menyambar dan mencakar-cakar wajah itu, meninggalkan kerut-kerut yang dalam.

Sebuah tangan kecil menyentuh punggungnya. Perempuan dalam cermin mencoba tersenyum. Ia berbisik lembut, kamu lapar? Anak lelaki itu mengangguk. Mereka bergandengan menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin, menerawang sejenak, lalu mulai mengeluarkan isinya satu per satu: telur, jamur, tahu, sosis, daging, bawang, keju, cabai, selada, spageti, susu cair, …. Ia meletakkan semuanya dengan rapi di atas meja. Tanpa bicara ia mengambil panci, mengisinya dengan air, meletakkannya di atas kompor, lalu menyalakan api besar-besar. Tanpa bicara ia memecahkan telur, memasukkan isinya–juga kulitnya–ke dalam panci. Ia mematahkan tongkat-tongkat kecil spageti, dan memasukkannya ke dalam panci. Ia membuka kotak susu, dan menuang seluruh isinya ke dalam panci. Ia mengambil pisau 25 sentimeter, lalu merajang bawang jadi potongan-potongan kecil, selada jadi cacahan-cacahan kecil, sosis jadi patahan-patahan kecil. Uap air mulai memenuhi dapur. Ia memangkas jamur, tahu, daging, cabai. Semakin lama semakin cepat. Keringat menetes berbulir-bulir dari dahinya. Air menetes berbulir-bulir dari matanya. Tak lama, semua tercampur aduk. Tak bersisa satu pun yang bisa dipotong lagi. Tak bersisa satu pun yang masih bisa dikenali.

Perempuan itu berhenti. Tersengal-sengal. Tersengguk-sengguk. Ia memandangi pisau di tangannya. Ia memandangi anak lelaki yang berdiri diam di sebelahnya. Anak itu beringsut, menjumput campuran cacahan di atas meja, dan memakannya pelan. Matanya tak lepas menatapi ibunya. Mata yang pilu.

Pisau itu jatuh terlepas dari genggaman. Perempuan itu jatuh terduduk di lantai dapur. Tenaga telah dikuras keluar. Habis. Air mata telah dikuras keluar. Habis. Kini ia terlongong kosong. Anak lelaki itu mendekat, lalu duduk merapat padanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu. Ibu, bisiknya.

Kalau kita mati, kita pergi ke mana? Aku mengangkat bahu. Tak tahu. Radian kembali menekuri gambarnya. Apakah kamu mencintai ayah? Aku mengangkat bahu lagi. Tak tahu. Yang kutahu, aku mencintaimu. Radian tersenyum tanpa mengangkat kepala. Apakah aku mencintainya? Aku tidak ingat.

Yang aku ingat, kami sepasang anak muda yang senang. Aku senang. Dia senang. Kami senang dengan kehadiran satu sama lain. Dengan senang, kami pergi ke sebuah pulau di mana langit dan laut beradu biru. Dengan senang kami saling menjelajahi tubuh di pantai itu. Aku tak tahu mengapa kami melakukannya–bersetubuh di pantai, yang cuma membuat kami lekat dengan bau laut, dan bau dosa–yang tak bisa hilang begitu saja.

Dia tidak pernah bilang cinta padaku. Aku tak pernah bilang cinta padanya. Tapi aku mengandung benihnya. Kami harus menikah bagaimanapun juga. Orangtuanya ingin menyelamatkan muka. Orangtuaku ingin menyelamatkan muka. Aku ingin lari. Dia ingin lari. Orangtua kami melarang kami berpisah. Tuhan melarang kami berpisah. Tapi kenapa Tuhan tidak melarangnya memukuliku kapan saja dia mau? Satu kali aku melawan. Kutinju hidungnya hingga berdarah. Tapi binatang itu menyakiti anakku. Aku lari dari rumah. Sebuah serangan jantung melumpuhkan ayahku. Dan mengembalikanku ke suamiku. Tuhan rupanya menghendakiku bertahan. Ini tubuhku, ini darahku, makan dan minumlah. Aku domba korban, entah untuk apa. Apakah aku mencintainya?

Senja menjatuhkan sinar ke atas meja. Radian telah selesai menggambar. Ia membalik kertasnya dan menunjukkannya padaku.

Sebuah pulau kecil di tengah lautan dan sebuah perahu kecil yang meninggalkan pulau itu. Ada dua orang di dalamnya: perempuan dan anak lelakinya. Mereka tersenyum. Ada satu rumah di atas pulau, berbentuk kotak dengan jendela-jendela kotak. Di baliknya, ada seseorang dengan tangan terentang ke atas. Di atas rumah itu beterbangan burung-burung hitam. Dua belas jumlahnya. Rumah itu diliputi lidah-lidah merah. Terbakar, kata Radian. Orang itu jelas terkurung. Ia berteriak dalam gelembung kecil dan tanda seru yang banyak: tolong!!!! Kalau dia mati, burung-burung itu akan membawanya pergi, katanya. Kenapa dia ditinggal, tanyaku. Karena dia jahat, jawabnya.

Aku seperti hidup dalam sinetron bertokohkan perempuan yang menangis mengiba-iba karena disiksa tak berkeputusan. Bedanya, perempuan yang ini tak menangis.

Awalnya sederhana. Sebuah pesta barbeque. Langit hijau. Kupu-kupu sebesar payung terbang melayang-layang. Rumput jingga. Rumah besar di atas awan. Gadis-gadis dengan sayap di punggung dan bunga di kepala. Anak-anak lelaki bertanduk warna-warni, berkerumun di sekeliling pemanggang. Ada yang memegang piring, ada yang memegang garpu, juga gelas berisi limun ungu. Semua biasa saja, kecuali barbeque itu. Empat bola mata. Potongan daun telinga dan tiga buah hidung. Telapak kaki dan tangan, lengkap dengan jari-jarinya. Segumpal besar daging merah dengan tanda panah mengarah padanya: jantung. Lalu, sepenggal kepala binatang dengan mata masih membelalak dan lidah terjulur keluar. Radian bilang, itu kepala naga.

Perempuan itu menunjukkan gambar tadi pada suaminya saat makan malam. Kepala sekolah menunjukkan gambar itu padanya tadi pagi. Gambar Radian. Lelaki itu tak berkata sepatah pun. Ia hanya menggebrak meja, mengambil piring, dan melemparkannya. Tepat ke muka. Ia tercekat. Rasa sakit nyaris meledakkan kepala. Ia menelannya. Kemarahan menyergap seketika. Ia menelannya. Suara piring yang pecah memekakkan telinga. Anak lelakinya keluar dari kamar dan terdiam di pintu, tidak lagi heran ketika ayahnya pergi.

Jendela kaca memantulkan gambar-gambar suram itu. Perempuan ringkih dan anak rapuh. Anak itu masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sepotong handuk. Perlahan ia menggeret kursi untuk ibunya. Dengan lembut, diusapnya luka di wajah perempuan itu.

Aku berdiri dalam sudut gelap, menyirami kebencian dengan kemarahan. Aku bisa merasakan benihnya mengakar. Cabang-cabangnya yang kuat mencari jalan keluar lewat tiap pembuluh darah. Semakin kuat. Tidak, aku tak sanggup menelannya.

Aku tidak lapar, Ibu. Anak lelaki itu ketakutan. Tapi perempuan itu tetap berjalan ke dapur. Ia tidak membuka lemari pendingin, tidak meletakkan panci di atas api. Ia cuma mengambil pisau dan berdiri di depan meja. Begitu saja. Lama sekali. Matanya menatap ke depan. Kosong. Kemudian tangannya mulai bergerak, dengan gerakan memotong-motong sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu yang mungkin hanya ada di kepalanya. Pelan awalnya. Lalu makin cepat. Keringat turun berbulir-bulir dari dahinya. Air turun berbulir-bulir dari matanya. Anak lelaki itu tak berani mendekat. Ia cuma menatap punggung ibunya yang berguncang keras. Sesuatu dari dalam telah merusak perempuan itu, sedikit demi sedikit. Ia tak mengenalinya lagi. Aku tak mengenalinya lagi.

Siang itu, kami berbaring bersisian di lantai, di depan kamar mandi yang kini berkubang merah, melingkupi tubuh lelaki itu yang pernah hidup. Matahari kuning membanjiri. Terang. Terlalu benderang untuk melihat gambar yang dibuat Radian, dalam menit-menit–entah berapa lama–aku berdiam dalam gelap. Aku menatap matanya, tapi ia menghindar. Direntangkannya gambarnya di depan wajahku. Aku memicing.

Hujan. Perempuan dan anak lelaki itu berjalan bergandengan. Mata mereka berkilau. Bibir mereka tersenyum di wajah yang abu-abu. Tak ada matahari. Hanya awan hitam yang bergumpal-gumpal. Satu yang paling besar melayang rendah di atas anak lelaki itu. Di bahunya bertengger seekor burung. Sayapnya terentang, siap terbang. Perempuan itu menggenggam sebilah pisau. Besar. Ujungnya tertutup sesuatu yang menetes merah. Mereka bergandengan di jalan yang berasal dari satu titik hilang yang membesar ke ujung bawah kertas. Di kiri-kanannya, deretan pohon raksasa merunduk ke tengah, menyusun kanopi yang meneduhi jalan dan membuatnya kian kelam. Ada burung-burung hitam bertengger di cabang-cabangnya. Gagak, kata Radian. Di batas paling bawah dari kertas, tertulis dengan huruf-huruf besar yang mencang-mencong :

PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN.

Cuma kita berdua, Ibu.

Jakarta 13 November 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme