Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Eksekusi oleh Waluyo Basuki

Posted on Ming, 01 Feb 2009

Sudah tiga hari Boneng ditempatkan di ruang isolasi. Artinya, hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya akan segera dilaksanakan setelah semua upaya hukum yang ditempuh tak membuahkan hasil. Hukuman mati memang layak dijatuhkan karena sudah terlalu banyak kejahatan yang dilakukan. Mulai dari sekadar memalak pedagang pinggir jalan, para pengemudi angkot, sampai mencuri, menodong, merampas, merampok, dan bahkan membunuh sudah pernah dilakoninya. Hanya satu kejahatan yang tidak pernah dilakoninya, memerkosa perempuan!

Tetapi, sejagoan-jagoannya, sejahat-jahatnya, Boneng adalah manusia juga, yang punya nurani dan pada akhirnya punya rasa takut juga, termasuk takut mati.

Pada masa jayanya, ia biasa menyatakan tidak takut mati untuk menunjukkan kejagoannya. Dulu ia merasa dan beranggapan dengan kejagoan dan ’ilmu’ yang dimiliki dapat mengelak dari kematian. Bahkan sebaliknya, dapat dengan mudah menyebabkan kematian orang lain. Dan itu sudah dibuktikan. Berkali-kali ia lolos dari ancaman kematian dan entah sudah berapa nyawa dihabisi dengan tangan kosongnya. Ia pernah dikeroyok beberapa teman sesama preman bersenjata, tetapi bukan dia yang mati, melainkan dua orang pengeroyok mati di tangannya, sebagian babak belur dan sebagian lagi kabur! Ia juga pernah dikejar-kejar petugas keamanan dan diberondong peluru, tetapi berhasil meloloskan diri tanpa luka sedikit pun!

Sekali waktu karena kelalaiannya melanggar salah satu pantangan, Boneng tertangkap petugas yang telah lama memburunya. Akibatnya, tubuhnya babak belur menjadi sasaran pelampiasan kejengkelan para petugas yang telah sekian lama terpendam. Tetapi, setelah berada dalam sel, ketika para petugas meninggalkan begitu saja tubuhnya yang sudah hilang bentuk dan nyaris sekarat, ia segera mengambil posisi duduk bersila di pojok sel sembari membaca mantra. Setelah itu, meskipun bekas-bekas memar dan lukanya masih ada, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya sudah sama sekali hilang. Ketika digebuki, ia memang sengaja tidak menggunakan ilmu kebalnya untuk mengelabui petugas. Jadi, pantaslah ia tidak pernah merasa takut mati. Juga ketika vonis mati dijatuhkan, ia tidak terlalu merasa takut karena yakin masih ada peluang untuk menghindarinya melalui upaya hukum atau kalau perlu melarikan diri.

Tetapi sekarang, ketika kematian sudah berada di depan hidungnya, tak urung hatinya tergetar juga. Siang tadi petugas kesehatan dan rohaniwan lapas (lembaga pemasyarakatan, sebutan terhormat untuk penjara) sudah melakukan pemeriksaan kesehatannya. Dan dinyatakan sehat baik secara fisik maupun mental!

”Ya… saya sudah siap menjalani hukuman ini…,” ujarnya kepada rohaniwan yang datang memberikan bimbingan.

”Ikhlas?” tanya rohaniwan ingin meyakinkan.

”Insya Allah ikhlas…,” jawab Boneng mantap meski dengan nada gemetar.

”Ya… kamu harus ikhlas dan harus yakin bahwa ini adalah bagian dari takdir yang telah digariskan oleh Allah subhana wa taala.”

”Insya Allah, Pak Haji….”

”Jangan lupa, perbanyaklah zikir dan istigfar untuk memohon ampun kepada Allah subhana wa taala. Dengan demikian, mudah-mudahan kamu diberi kekuatan dalam menghadapi eksekusi yang tinggal beberapa jam lagi. Dan mudah-mudahan kamu dapat mengakhiri hidup dalam keadaan husnulkhatimah!”

”Amiiin….”

”Ingatlah, sesungguhnya kematian itu sudah ditentukan waktu dan tempatnya oleh Allah subhana wa taala yang tidak ada satu kekuatan yang dapat menghambat atau mempercepat walau hanya sedetik pun.”

”Tetapi, bukankah kematian saya sepertinya sudah ditentukan oleh pejabat negara yang adalah manusia akan terjadi pada pukul kosong-kosong malam nanti?”

”Ya, secara lahirnya seolah manusia yang menentukan, tetapi hakikatnya Allah juga yang menentukan. Sebab, kalau Allah menghendaki lain, meskipun sudah ditentukan secara hukum, siapa yang bisa menghalangi?”

”Maksud Pak Haji, bisa saja eksekusinya ditunda atau dibatalkan?”

”Ya… kalau memang belum takdir Allah, selalu akan ada alasan untuk menundanya. Tetapi, bisa juga sebaliknya, bisa saja terjadi sebelum waktu yang ditentukan! Yaah… siapa yang berani menjamin bahwa semua akan berlangsung sesuai rencana? Intinya, kapan pun kematian itu bisa datang dan jangan sekali-kali kamu lengah. Jemputlah maut itu dengan penuh keyakinan.”

”Baik… Pak Haji….”

Dalam dunia kriminal, nama Boneng cukup dikenal. Semula hanya preman pasar tukang palak pedagang kecil sekadar untuk memenuhi kebutuhan jajan sehari-hari dan merokok. Namun, berkat kejagoannya ia mampu mengalahkan beberapa preman yang lebih senior dan kemudian menjadi penguasa wilayah di sekitar pasar. Sejak itu ia tidak perlu lagi mendatangi pedagang satu per satu, melainkan tinggal menunggu setoran anak buahnya.

Nama Boneng semakin berkibar dan seiring dengan itu semakin sering pula berurusan dengan petugas keamanan dan beberapa kali meringkuk di lapas. Melalui proses pembelajaran yang sangat intensif di lapas inilah, kualitas dan kuantitas kriminalnya semakin meningkat.

Terakhir, setelah malang melintang di dunia kriminal dan entah berapa kali meringkuk di sel lapas—beberapa di antaranya sempat kabur—Boneng sebenarnya sudah mulai tobat. Meskipun dengan perasaan berat dan agak malu, ia mulai pekerjaan baru pada sebuah proyek bangunan sebagai kenek tukang batu dengan gaji yang sangat minim. Namun, berbekal kesadaran keimanannya yang mulai terbangun, ia berusaha ikhlas menerima keadaan itu.

Sekali waktu, ia merasa gaji yang diterima kurang dari biasa tanpa ada penjelasan dari mandornya. Semula ia berusaha menerima dengan ikhlas, tetapi setelah terjadi beberapa kali dan tahu bahwa bukan ia sendiri yang mengalami, ia tidak dapat menahan amarahnya.

”Bang… saya mau nanya, memang ada penurunan gaji ya?” tanyanya kepada mandor Udin.

”Memang kenapa?” mandor Udin balas tanya dengan sikap angkuh dan nada ketus.

”Yaa… nggak kenapa-napa, cuma pengin tahu saja, berapa kali ini gaji saya kok tidak seperti biasanya?”

”Kalau turun memang kenapa?”

”Ya harus ada penjelasan, kenapa turun.”

”Itu urusan gue, bukan urusan lu. Lu kan cuma kuli! Masih bagus lu gue terima kerja di sini?”

”Ya nggak bisa begitu Baang…,” Boneng mulai meradang, tetapi masih berusaha menahan diri.

”Jadi… lu mau apa? Lu anak baru di sini… jangan belagu….”

”Saya kan cuma nanyain hak saya dan teman-teman Bang….”

”Sudah… jangan banyak bacot lu,” ujar mandor Udin sambil melayangkan tinju ke wajah Boneng.

Dengan cekatan, Boneng mengelak dan pukulan Mandor Udin hanya mengenai angin.

”Ooo… rupanya lu jago juga ya, bisa ngindar dari pukulan gue…,” sergah mandor Udin sambil kembali melayangkan tinjunya.

”Tahan Bang!” ujar Boneng kali ini langsung menangkap tangan mandor Udin. ”Saya cuma mau nanya hak saya, bukan mau ngajak ribut.”

”Waaah… hebat juga ya lu, berani ngladenin permainan gue…,” ujar mandor Udin sambil melepaskan cekalan. ”Rupanya lu belum tahu siapa gue ya…,” sambungnya sambil langsung mencabut pisau belati yang terselip di pinggang dan langsung mengacungkan ke arah Boneng.

”Sabar Baang… sabar… kita nggak perlu ribut-ribut begini…,” Boneng berusaha mencegah.

”Nggak bisa… ini soal harga diri! Lu sudah bikin malu gue di depan anak buah…,” teriak mandor Udin sambil langsung menyerang. Beberapa kali serangannya tidak mengenai sasaran membuat mandor Udin kalap dan terus menyerang dengan semakin membabi buta.

Semula Boneng berusaha menahan diri dengan terus menghindar dan menghindar. Namun, tatkala rasa harga dirinya mulai berbicara, jiwa premannya pun bangkit kembali. Setelah beberapa kali menghindar, dengan cekatan ditangkapnya tangan mandor Udin dan langsung ditelikung, kemudian dengan sekuat tenaga didorong ke depan. Mandor Udin yang sama sekali tidak menyangka akan menghadapi lawan yang tangguh langsung tersungkur dan kepalanya membentur dinding tembok beton dan kemudian jatuh terkapar dengan kepala bersimbah darah.

Boneng tertegun menyaksikan lawannya terkapar tak bernyawa. Dulu kalau menyaksikan lawannya tersungkur dan tak berkutik seperti ini hatinya merasa bangga, tetapi kali ini ia justru menyesalinya. Apalagi manakala disadarinya masih menjalani masa pembebasan bersyarat. Artinya, kalau kejadian ini sampai diketahui oleh aparat hukum, ia harus langsung menjalani masa hukumannya yang lama ditambah tindakan yang baru saja dilakukan! Maka, vonis mati memang layak dijatuhkan kepadanya.

Boneng duduk bersila di pojok ruangan sambil terus melafaskan zikir dan istigfar yang sudah dilakukan sejak seusai shalat isya. Namun, tatkala saat-saat eksekusi semakin mendekat perasaannya mulai dilanda kegelisahan. Tiba-tiba air mata membasah di pipinya dan untuk pertama kali menangis sesenggukan manakala terbayang wajah istri dan anak yang akan ditinggalkan selamanya. Zikir dan istigfar yang terus-menerus dilafaskan seolah tak terasa lagi pengaruhnya. Jantungnya terus berdegup seiring detak-detak waktu yang terus bergulir dan keringat dingin mulai membasah di sekujur tubuhnya. Ia berusaha mengatasi kegelisahan dengan sedikit mengeraskan lafas zikirnya yang mulai terbata-bata.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Boneng menghentikan zikirnya, kemudian bangkit dari sila, merapikan sajadah yang tadi diduduki dan meluruskan arah kiblat dengan niat untuk melaksanakan shalat taubat. Seperti biasa, pada rakaat terakhir ia sengaja melamakan waktu sujudnya untuk berdoa mohon pengampunan atas segala dosa yang telah dilakukan selama hidupnya. Pada saat-saat seperti itulah ia merasa semakin dekat dan dapat berdialog langsung dengan sang Khalik.

Sekitar pukul sebelas, petugas eksekutor bersama dokter dan rohaniwan datang ke sel isolasi untuk menjemput tereksekusi. Diiringi oleh penjaga sel, mereka masuk ke dalam ruangan dan mendapati Boneng sedang bersujud. Mereka pun menahan langkahnya menunggu Boneng selesai shalat. Satu menit, dua menit, tiga menit, sampai lima menit ditunggu tetapi tidak terlihat ada satu gerakan pun. Namun, mereka tidak berani mengganggu orang yang sedang shalat dan meminta kepada rohaniwan membangunkannya karena eksekusi tidak boleh ditunda.

Petugas rohaniwan bergerak mendekati Boneng yang masih tetap saja bersujud.

”Neeng… Boneeng…,” ujarnya sambil mencolek pinggulnya dan tiba-tiba tubuh Boneng terguling dalam posisi tubuh meringkuk seperti orang sujud. Dengan sangat hati-hati dirabanya tubuh Boneng dan dicoba menarik tangannya, kemudian kakinya. Semuanya kaku!

”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…,” ujar petugas rohaniwan sambil membalikkan tubuh ke arah para petugas dari atuan Brimob. Sejenak mereka saling berpandangan seolah tidak percaya. Dokter yang ikut dalam rombongan melakukan pemeriksaan untuk memastikan kematian itu secara medis. Boneng memang sudah mati! Dan kemudian dibuatkan berita acaranya.

Mereka menatap tubuh tak bernyawa itu dengan pandangan penuh haru. Beberapa di antaranya ada yang menitikkan air mata.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme