Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kunang-kunang Mang Isa oleh Mingke Mala-Mala

Posted on Kam, 14 Jul 2022

Sudah lebih satu jam aku dan Margi duduk di rumpun melati ini. Rombongan nyamuk berdenging di dekat telinga kami. Krim pengusir nyamuk yang kami oleskan di kulit rupanya tak becus mengusir mereka dan mereka tetap rakus menghisap darah kami kuat-kuat.

Kak Surya dan Yudi Cebol yang duduk di rumpun melati seberang sana belum memberi isyarat apa-apa pada aku dan Margi. Apa mungkin mereka tertidur? Ah, kurang ajar sekali jika memang mereka sanggup tidur di situasi genting seperti ini. Aku mulai khawatir, seperti yang dituturkan bapak, jika bulan purnama kian mengembang pucat, angin bertambah kencang, dan cericip kelelawar di pohon mulai bersahutan, maka ritual ganjil akan segera dimulai dan kami akan menyaksikan ribuan kunang-kunang beterbangan menjelma gadis berparas menawan.

***

Aku tak sengaja mendengar kisah ini dari bapak. Kisah yang bapak ceritakan kepada Amah, kakak perempuanku, ketika mereka berdua duduk di beranda rumah. Konon, dulu, di Pungguk Lama, kampungku, ada seorang gadis cantik bernama Mariana yang bernasib nahas dan memiliki dendam kesumat kepada setiap lelaki.

Jika tak salah dengar, bapakku berkata bahwa gadis jelita itu memiliki kulit putih langsat, bibir mungil penuh seperti buah delima, mata belok, hidung bangir, tubuh sintal, dan rambut pekat bergelombang menyentuh pantat. Konon, kata bapak, kecantikan itulah yang membuat setiap lelaki jatuh hati dan rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Kabar keelokan paras dan tubuh Mariana telah sampai ke segala penjuru kampung kami.

***

Suatu ketika di hari Rabu, tepat sebelum azan magrib berkumandang, aku bersama Yudi Cebol, Margi, dan Kak Surya pergi ke surau untuk mengaji. Biasanya tepat sebelum petang kami sudah berangkat melewati perkebunan jagung dan karet berbatang tua yang cukup rimbun. Jarak antara kampungku menuju surau memang lumayan jauh. Biasanya kami berjalan keroyokan.

Sambil berjalan itulah kami bertukar cerita satu sama lain. Bahkan, pernah beberapa kali kami membuat jadwal untuk bercerita. Mengapa kami membuat jadwal? Ya biar adil, karena biasanya Margi tak pernah kebagian membagi cerita. Oleh karena itu, atas usul Kak Surya, kami memutuskan untuk membuat jadwal. Kak Surya adalah orang yang paling tua di antara kami, umurnya terpaut hampir tujuh tahun dengan kami.

Jika tak salah dengar, bapakku berkata bahwa gadis jelita itu memiliki kulit putih langsat, bibir mungil penuh seperti buah delima, mata belok, hidung bangir, tubuh sintal, dan rambut pekat bergelombang menyentuh pantat.

Sore itu, adalah giliranku bercerita. Angin yang tenang tiba-tiba bertiup kencang. Dedaunan kering berputar-putar di udara, lalu kembali jatuh ke tanah. Kawanan gagak seketika riuh. Suasana itu seolah jadi pembuka kisahku. Kuperhatikan wajah teman-temanku yang tampak tak sabar dan penasaran.

”Kalian tahu gubuk tua di seberang sungai dekat kampung Bungursari?” tanyaku dengan suara pelan.

”Rumah angker dekat kebun sayur Mang Isa?” jawab Kak Surya dengan suara yang pelannya sama denganku. Aku mengangguk, sedangkan yang lain bergantian memandangi aku dan Kak Surya dengan heran.

”Lanjutkan ceritamu, Mid,” kata Yudi Cebol tak sabar. Ia selalu antusias dengan kisah-kisah misteri. Apalagi yang berhubungan dengan kampung kami.

”Konon, dulu, rumah itu ditempati gadis cantik yang bernasib buruk. Warga yakin betul perempuan yang tinggal sendirian itu membawa petaka bagi kampung kita, juga bagi hubungan pernikahan para pasutri saat itu. Karena dulu ada seorang lelaki yang sudah beristri nekat mendatangi si gadis dan menyetubuhinya. Dan apa kalian tahu kalau kejadian itu diketahui oleh istri si lelaki? Namun si lelaki malah menuduh si gadis telah menggodanya. Peristiwa itu terjadi berulangkali. Hingga akhirnya para istri di kampung itu mendatangi si gadis dan membakarnya bersama gubuk itu,” kataku setengah berbisik, karena takut ada yang mendengar percakapan kami.

”Bahkan, gadis itu konon masih ada sampai sekarang. Katanya ia kerap muncul di halaman gubuk tua itu ketika purnama pucat mengembang. Ketika garis yang memisahkan kita dan dunia gaib hanya setipis rambut manusia,” sambungku.

”Ah, aku tahu rumah itu angker. Tapi apa kisahmu itu tidak terlalu berlebihan?” kata Kak Surya melengos. Ia mengendurkan otot-otot wajahnya dan menatapku penuh ejekan.

Melihat respons Kak Surya, Yudi Cebol dan Margi menjadi seperti menyepelekanku juga. Bahkan, Yudi Cebol menertawaiku dengan berkata bahwa aku terlalu banyak menonton cerita misteri ilahi dan bergaul dengan orang tua. Namun, aku tak terlalu ambil hati. Terserah saja, pikirku. Justru hal ini menambah semangatku untuk mengajak mereka membuktikannya bersama-sama.

Kami sampai di pertigaan. Bangunan bercat putih hijau dan beratap genting itu telah terlihat. Di halamannya yang tak terlalu luas, terlihat beberapa anak bermain dan berlari mencari persembunyian terbaik. Sementara itu, salah seorang lainnya menutup mata di balik batang kelapa yang bersebelahan dengan pohon kuweni yang telah hidup belasan tahun. Di sekeliling bangunan itu terdapat surau berpagar besi yang mulai berkarat di ujung-ujungnya.

Beberapa temanku langsung masuk menuju surau, sedangkan aku dan Yudi Cebol mampir ke kakus untuk membuang hajat kecil sekaligus berwudhu. Kami masuk bergantian karena kamar kecil itu hanya tersedia dua bilik. Setelah selesai, kami langsung masuk ke dalam surau.

”Mid, kisah yang kau ceritakan tadi sungguhan?” tanya Yudi Cebol setengah berbisik. Rupanya ia masih penasaran dengan kisah yang tadi kututurkan. Aku hanya tersenyum kecil sembari menatapnya.

”Aku serius, Mid. Bagaimana jika kita membuktikannya? Kau bilang gadis itu akan muncul saat purnama kan? Kurasa lusa adalah waktu yang tepat, malam ke-15 bulan Hijriah! Tepat malam Jumat!” kata bocah berambut keriting dan berkulit gelap itu kepadaku. Matanya berbinar seperti sedang membayangkan malam petualangan yang asyik tapi menegangkan.

Aku turut membayangkan keseruan yang akan kami lakukan. Aku dan Yudi langsung bergegas memasuki surau untuk melaksanakan kewajiban, bersamaan dengan itu Mang Isa pun mulai memanggili anak-anak yang masih asyik bermain di halaman.

***

Seolah direstui semesta, kami berempat; aku, Yudi Cebol, Kak Surya, dan Margi benar-benar mewujudkan rencana kami. Kondisi cuaca sangat mendukung, padahal sekarang bulan penghujan. Namun, tak seperti malam-malam biasanya, kali ini langit nampak tenang. Bulan purnama yang semula tak terlihat, mulai muncul malu-malu di balik awan.

Dari awal sebenarnya aku hanya berniat bercerita saja pada mereka perihal kisah ini. Tapi karena mereka menyepelekanku, aku jadi penasaran juga. Aku pun tak paham apakah gadis jelita yang dimaksud itu benar adanya. Pernah aku ingin menanyakan hal tersebut pada bapak, tapi lagi-lagi kuurungkan dengan berbagai alasan. Apalagi kisah ini kuketahui dari hasil menguping obrolan bapak dengan Amah. Lalu dengan perangai bapakku yang galak itu, pasti ia melarangku mendatangi gubuk itu.”Kau ingat cerita Kak Surya?” bisik Margi kepadaku. Aku mengangguk sembari menahan kencing yang tiba-tiba hendak keluar. ”Konon gadis itu akan muncul pukul delapan lewat dua puluh menit, bersama kunang-kunang,” lanjutnya lagi.

Aku terdiam ketika Margi melanjutkan ceritanya. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Tak lama kemudian, terlihat Yudi Cebol dan Kak Surya memberi isyarat yang mengarah pada gubuk tersebut.

”Kunang-kunang …” Desis suara Margi yang terbata-bata menyadarkanku. Aku terperanjat. Mata kami terbelalak. Satu-dua-tiga kunang-kunang terlihat mulai terbang. Lalu bertambah menjadi puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Di belakangnya, terlihat gadis bertubuh sintal dengan wajah menawan dan bibir merah merekah tersenyum bahagia. Gadis itu menari menghampiri sosok lelaki yang berada di tengah perkebunan.

”Ya Tuhan …” kataku lirih sebelum menggigit jari, ”Mang Isa?”

Aku dan Margi tak bisa berkata-kata lagi, kami berdua diam seperti mumi. Tak kusangka Mang Isa, tukang sayur sekaligus marbot surau itu, berhubungan badan dengan arwah Mariana. Mang Isa tampak bahagia menyambut dan mencumbunya, lalu menari di tengah pekatnya malam. Aku dan Margi beradu pandang. Kami terbang dan berubah menjadi kunang-kunang.

Bandarlampung, 2022*****

Mingke Mala-Mala, lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 10 April 1999. Selain suka menulis cerita dan esai, ia juga suka menyanyi dan terlibat menjadi vokalis dalam grup Orkes Bada Isya. Salah satu esainya tentang musik termaktub dalam buku Estetika Kaum Tertindas, terbitan Lampung Literature, 2021. Hingga sekarang ia aktif bergiat di UKMBS Unila & Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung.

sumber : kompas.id, 14 Jul 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme