Sudah lebih satu jam aku dan Margi duduk di rumpun melati ini. Rombongan nyamuk berdenging di dekat telinga kami. Krim pengusir nyamuk yang kami oleskan di kulit rupanya tak becus mengusir mereka dan mereka tetap rakus menghisap darah kami kuat-kuat.
Kak Surya dan Yudi Cebol yang duduk di rumpun melati seberang sana belum memberi isyarat apa-apa pada aku dan Margi. Apa mungkin mereka tertidur? Ah, kurang ajar sekali jika memang mereka sanggup tidur di situasi genting seperti ini. Aku mulai khawatir, seperti yang dituturkan bapak, jika bulan purnama kian mengembang pucat, angin bertambah kencang, dan cericip kelelawar di pohon mulai bersahutan, maka ritual ganjil akan segera dimulai dan kami akan menyaksikan ribuan kunang-kunang beterbangan menjelma gadis berparas menawan.
***
Aku tak sengaja mendengar kisah ini dari bapak. Kisah yang bapak ceritakan kepada Amah, kakak perempuanku, ketika mereka berdua duduk di beranda rumah. Konon, dulu, di Pungguk Lama, kampungku, ada seorang gadis cantik bernama Mariana yang bernasib nahas dan memiliki dendam kesumat kepada setiap lelaki.
Jika tak salah dengar, bapakku berkata bahwa gadis jelita itu memiliki kulit putih langsat, bibir mungil penuh seperti buah delima, mata belok, hidung bangir, tubuh sintal, dan rambut pekat bergelombang menyentuh pantat. Konon, kata bapak, kecantikan itulah yang membuat setiap lelaki jatuh hati dan rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Kabar keelokan paras dan tubuh Mariana telah sampai ke segala penjuru kampung kami.
***
Suatu ketika di hari Rabu, tepat sebelum azan magrib berkumandang, aku bersama Yudi Cebol, Margi, dan Kak Surya pergi ke surau untuk mengaji. Biasanya tepat sebelum petang kami sudah berangkat melewati perkebunan jagung dan karet berbatang tua yang cukup rimbun. Jarak antara kampungku menuju surau memang lumayan jauh. Biasanya kami berjalan keroyokan.
Sambil berjalan itulah kami bertukar cerita satu sama lain. Bahkan, pernah beberapa kali kami membuat jadwal untuk bercerita. Mengapa kami membuat jadwal? Ya biar adil, karena biasanya Margi tak pernah kebagian membagi cerita. Oleh karena itu, atas usul Kak Surya, kami memutuskan untuk membuat jadwal. Kak Surya adalah orang yang paling tua di antara kami, umurnya terpaut hampir tujuh tahun dengan kami.
Jika tak salah dengar, bapakku berkata bahwa gadis jelita itu memiliki kulit putih langsat, bibir mungil penuh seperti buah delima, mata belok, hidung bangir, tubuh sintal, dan rambut pekat bergelombang menyentuh pantat.
Sore itu, adalah giliranku bercerita. Angin yang tenang tiba-tiba bertiup kencang. Dedaunan kering berputar-putar di udara, lalu kembali jatuh ke tanah. Kawanan gagak seketika riuh. Suasana itu seolah jadi pembuka kisahku. Kuperhatikan wajah teman-temanku yang tampak tak sabar dan penasaran.
”Kalian tahu gubuk tua di seberang sungai dekat kampung Bungursari?” tanyaku dengan suara pelan.
”Rumah angker dekat kebun sayur Mang Isa?” jawab Kak Surya dengan suara yang pelannya sama denganku. Aku mengangguk, sedangkan yang lain bergantian memandangi aku dan Kak Surya dengan heran.
”Lanjutkan ceritamu, Mid,” kata Yudi Cebol tak sabar. Ia selalu antusias dengan kisah-kisah misteri. Apalagi yang berhubungan dengan kampung kami.
”Konon, dulu, rumah itu ditempati gadis cantik yang bernasib buruk. Warga yakin betul perempuan yang tinggal sendirian itu membawa petaka bagi kampung kita, juga bagi hubungan pernikahan para pasutri saat itu. Karena dulu ada seorang lelaki yang sudah beristri nekat mendatangi si gadis dan menyetubuhinya. Dan apa kalian tahu kalau kejadian itu diketahui oleh istri si lelaki? Namun si lelaki malah menuduh si gadis telah menggodanya. Peristiwa itu terjadi berulangkali. Hingga akhirnya para istri di kampung itu mendatangi si gadis dan membakarnya bersama gubuk itu,” kataku setengah berbisik, karena takut ada yang mendengar percakapan kami.
”Bahkan, gadis itu konon masih ada sampai sekarang. Katanya ia kerap muncul di halaman gubuk tua itu ketika purnama pucat mengembang. Ketika garis yang memisahkan kita dan dunia gaib hanya setipis rambut manusia,” sambungku.
”Ah, aku tahu rumah itu angker. Tapi apa kisahmu itu tidak terlalu berlebihan?” kata Kak Surya melengos. Ia mengendurkan otot-otot wajahnya dan menatapku penuh ejekan.
Melihat respons Kak Surya, Yudi Cebol dan Margi menjadi seperti menyepelekanku juga. Bahkan, Yudi Cebol menertawaiku dengan berkata bahwa aku terlalu banyak menonton cerita misteri ilahi dan bergaul dengan orang tua. Namun, aku tak terlalu ambil hati. Terserah saja, pikirku. Justru hal ini menambah semangatku untuk mengajak mereka membuktikannya bersama-sama.
Kami sampai di pertigaan. Bangunan bercat putih hijau dan beratap genting itu telah terlihat. Di halamannya yang tak terlalu luas, terlihat beberapa anak bermain dan berlari mencari persembunyian terbaik. Sementara itu, salah seorang lainnya menutup mata di balik batang kelapa yang bersebelahan dengan pohon kuweni yang telah hidup belasan tahun. Di sekeliling bangunan itu terdapat surau berpagar besi yang mulai berkarat di ujung-ujungnya.
Beberapa temanku langsung masuk menuju surau, sedangkan aku dan Yudi Cebol mampir ke kakus untuk membuang hajat kecil sekaligus berwudhu. Kami masuk bergantian karena kamar kecil itu hanya tersedia dua bilik. Setelah selesai, kami langsung masuk ke dalam surau.
”Mid, kisah yang kau ceritakan tadi sungguhan?” tanya Yudi Cebol setengah berbisik. Rupanya ia masih penasaran dengan kisah yang tadi kututurkan. Aku hanya tersenyum kecil sembari menatapnya.
”Aku serius, Mid. Bagaimana jika kita membuktikannya? Kau bilang gadis itu akan muncul saat purnama kan? Kurasa lusa adalah waktu yang tepat, malam ke-15 bulan Hijriah! Tepat malam Jumat!” kata bocah berambut keriting dan berkulit gelap itu kepadaku. Matanya berbinar seperti sedang membayangkan malam petualangan yang asyik tapi menegangkan.
Aku turut membayangkan keseruan yang akan kami lakukan. Aku dan Yudi langsung bergegas memasuki surau untuk melaksanakan kewajiban, bersamaan dengan itu Mang Isa pun mulai memanggili anak-anak yang masih asyik bermain di halaman.
***
Seolah direstui semesta, kami berempat; aku, Yudi Cebol, Kak Surya, dan Margi benar-benar mewujudkan rencana kami. Kondisi cuaca sangat mendukung, padahal sekarang bulan penghujan. Namun, tak seperti malam-malam biasanya, kali ini langit nampak tenang. Bulan purnama yang semula tak terlihat, mulai muncul malu-malu di balik awan.
Dari awal sebenarnya aku hanya berniat bercerita saja pada mereka perihal kisah ini. Tapi karena mereka menyepelekanku, aku jadi penasaran juga. Aku pun tak paham apakah gadis jelita yang dimaksud itu benar adanya. Pernah aku ingin menanyakan hal tersebut pada bapak, tapi lagi-lagi kuurungkan dengan berbagai alasan. Apalagi kisah ini kuketahui dari hasil menguping obrolan bapak dengan Amah. Lalu dengan perangai bapakku yang galak itu, pasti ia melarangku mendatangi gubuk itu.”Kau ingat cerita Kak Surya?” bisik Margi kepadaku. Aku mengangguk sembari menahan kencing yang tiba-tiba hendak keluar. ”Konon gadis itu akan muncul pukul delapan lewat dua puluh menit, bersama kunang-kunang,” lanjutnya lagi.
Aku terdiam ketika Margi melanjutkan ceritanya. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Tak lama kemudian, terlihat Yudi Cebol dan Kak Surya memberi isyarat yang mengarah pada gubuk tersebut.
”Kunang-kunang …” Desis suara Margi yang terbata-bata menyadarkanku. Aku terperanjat. Mata kami terbelalak. Satu-dua-tiga kunang-kunang terlihat mulai terbang. Lalu bertambah menjadi puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Di belakangnya, terlihat gadis bertubuh sintal dengan wajah menawan dan bibir merah merekah tersenyum bahagia. Gadis itu menari menghampiri sosok lelaki yang berada di tengah perkebunan.
”Ya Tuhan …” kataku lirih sebelum menggigit jari, ”Mang Isa?”
Aku dan Margi tak bisa berkata-kata lagi, kami berdua diam seperti mumi. Tak kusangka Mang Isa, tukang sayur sekaligus marbot surau itu, berhubungan badan dengan arwah Mariana. Mang Isa tampak bahagia menyambut dan mencumbunya, lalu menari di tengah pekatnya malam. Aku dan Margi beradu pandang. Kami terbang dan berubah menjadi kunang-kunang.
Bandarlampung, 2022*****
Mingke Mala-Mala, lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 10 April 1999. Selain suka menulis cerita dan esai, ia juga suka menyanyi dan terlibat menjadi vokalis dalam grup Orkes Bada Isya. Salah satu esainya tentang musik termaktub dalam buku Estetika Kaum Tertindas, terbitan Lampung Literature, 2021. Hingga sekarang ia aktif bergiat di UKMBS Unila & Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung.
sumber : kompas.id, 14 Jul 2022.