Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dari Tungku Perapian, Ibu dan Aku Melipat Kenangan oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 17 Jul 2022

Ibu duduk menjongkok di depan tungku perapian yang di susun dari batu bata usang, sedikit berlumut hijau dan kehitaman. Ibu sedang memasak nasi di atas tungku itu dengan menggunakan kayu dan daun kelapa yang sudah mengering. Periuk tua yang bagian bawahnya sudah sangat menghitam dan sedikit peot itu mengepulkan asap putih kehitaman. Sesekali penutup periuk nasi terlihat melompat-lompat ketika air mendidih.

Dari tangga rumah kayu yang turun ke dapur ini, aku juga melihat dua mata ibu berair. Lalu perlahan menetes ke pipi. Itu pasti bukan karena asap dari tungku yang membuat mata ibu perih. Tetapi sesungguhnya, karena ibu memikirkan Abang Usman. Jadi, ini tidak ada hubungannya, antara berairnya mata ibu dengan asap dari tungku perapian itu.

Asap dari tungku perapian itu sesekali juga berlari ke wajahku. Membuatku terbatuk dan sedikit sesak napas. Juga membuat bingkai foto ayah yang terpajang tepat di atas dinding puncak tangga tempat aku duduk sesekali seperti diselimuti kabut. Kabut yang berputar-putar. Dan bila begitu, maka aku akan rindu sosok ayah.

Ayah kami meninggal puluhan tahun silam. Pada masa perang antara gerilyawan pemberontak dengan tentara pusat. Ketika itu aku masih sangat kecil. Kabarnya, ayah mati tertembak oleh tentara. Ayah kami dulu seorang gerilyawan. Sehabis ayah meninggal, ibu bekerja menghidupi kami dari hasil pertanian dan berladang Sawah kami tidak terlalu luas. Hanya tiga petak. Tapi ibu bilang cukuplah untuk kebutuhan hidup kami saat itu.

Sekarang aku sudah duduk di bangku SMA kelas dua, dan kakak laki-lakiku yang bernama Usman, yang usianya satu tahun lebih tua dariku, putus sekolah satu tahun yang lalu. Entah mengapa dia malas sekali sekolah. Padahal ibu sudah sering membujuknya, tapi dia tetap saja bersikeras hati tidak mau lagi sekolah.

”Untuk apa sekolah, nanti jadi petani atau peladang juga. Kampung ini tak ada gunanya ijazah. Apa pergi ke hutan perlu ijazah?” Gugatnya pada ibu suatu hari.

”Tapi pendidikan itu perlu supaya kau jangan bodoh.”

”Aku tidak bodoh bu. Aku sudah bisa mencari uang.”

”Tapi…”

Belum tuntas ibu berbicara, ia sudah pergi.

Sejak putus sekolah, ia jarang pulang ke rumah. Sekali seminggu ia baru kembali sembari membawa uang untuk ibu. Jumlahnya lumayan besar, yang membuat ibu tentu senang. Tapi, setiap ia kembali pergi, ibu merasa uang yang diberikannya seperti menyiksa ibu. Ibuku sebenarnya lebih senang ia setiap hari ada di rumah kami mengurus ladang..

”Ia seperti bapakmu, keras kepala. Kemauannya tak bisa dicegah,” keluh ibu suatu hari.

Pada suatu hari yang lain, entah hari apa, kami baru tahu jika Abang Usman bekerja sebagai kernet mobil pengangkut kayu di kampung seberang. Katanya, kerjanya mengangkat kayu-kayu ke atas truk.

Bulan-bulan berikutnya tubuh Abang Usman semakin membesar. Otot-otot lengannya nampak kekar dan bidang dadanya menonjol ke depan. Mungkin itu akibat pekerjaanya mengangkat beban berat setiap hari. Selain itu, Abang Usman memiliki postur tubuh yang lebih dari laki-laki seusianya. Ia juga mulai terlihat gagah meski kulitnya semakin hitam.

***

Sekolah SMA-ku berada di kampung seberang. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumahku. Murid-murid di sana berasal dari berbagai kampung dari satu kecamatan. Di kelasku yang siswanya berjumlah dua puluh orang itu, tidak ada satu pun yang satu kampung denganku. Mereka berasal dari kampung lain. Dan, kebetulan dari mereka berasal dari kampung yang sama. Misalnya, Puhan, Sakti dan Mariam, mereka bertiga berasal dari Kampung Atek. Salim, Dika, dan Burhan berasal dari kampung Pulau, kemudian Johan, Sukri dan Saidah berasal dari kampung Lambada, tempat Abang Usman selama ini tinggal. Dan dari mulut mereka pula, aku sering mendengar kabar yang kurang baik tentang Abang Usman.

”Aku tidak menyangka jika kakak laki-lakinya seorang preman,” bisik Mariam suatu pagi di dalam kelas kami.

”Aku tidak berani mengganggu adiknya itu,” seru Puhan pula.

”Kudengar abangnya suka membentak orang di hutan. Ia suka menebang kayu milik orang. Orang-orang tidak berani karena ayahnya dulu seorang gerilyawan,” tambah Sakti.

”Berarti, adiknya itu jajan dengan uang haram,” balas Mariam lagi.

Sejak mendapat cerita yang tidak baik tentang Abang Usman di kelas, membuatku muram dan kurang percaya diri di sekolah. Apalagi semakin hari berita perihal Abang Usman juga menyebar pada siswa di kelas lain.

Ibu murka padanya suatu hari setelah kuceritaan pada beliau. Dan ketika Abang Usman pulang, beliau mencercanya.

”Aku tidak suka anakku mencari uang dengan merugikan orang lain. Kudapat kabar kau suka membentak orang di hutan. Suka mengambil kayu dari pohon orang,” seru ibu.

”Aku tidak menebang pohon. Aku hanya megambil dahan-dahan kayu. Lagian, di hutan pohon-pohon tak terurus. Bahkan, aku tak yakin jika pohon-pohon itu mereka yang menanam. Itu hutan bu, orang bisa saja mengaku-ngaku miliknya,” balasnya.

”Ayahmu mati dibunuh orang karena perang. Aku juga tidak mau kau mati dibacok orang karena kau telah menebarkan permusuhan dengan orang,” ujar ibu dengan wajah pucat.

”Ibu tidak usah kuatir. Badanku kekar. Tubuhku besar. Sampai hari ini tidak ada yang berani denganku. Di pinggangku bu, selalu tergantung parang dari baja. Aku juga merasa sungguh beruntung, mereka mengenal ayah. Nampaknya ayah orang disegani dulunya,” jawabnya sedikit tersenyum.

Ibu memantulkan wajah pucat padaku. Ibuku juga semakin kehabisan kata-kata berbicaranya dengannya. Tapi diakhir pembicaraan itu, ibu masih sempat berujar pelan, ”Ayahmu dulu memang disegani, tapi ia tidak menjahati orang kampung. Jangan kau salah gunakan namanya,” ujar ibu dengan bibir bergetar.

Abang Usman tidak menyahut ibu, ia pergi dengan gegas meninggalkan rumah.

Kebencian orang kampung seberang pada Abang Usman semakin deras mengalir di telingaku di sekolah.

”Abangnya semakin berani di kampungku. Ia mulai berani memukul orang.”

”Banyak orang yang benci pada abangnya.”

”Sssst, kudengar sudah ada yang bersekongkol untuk menghabisinya.”

Aku sungguh ketakutan jika sesuatu yang buruk menimpa Abang Usman. Dan pada hari-hari selanjutnya, aku dan ibu lebih sering dibalut kecemasan padanya. Ibu sungguh tidak ingin, jika Abang Usman mengalami kejadian yang buruk. Dan selalu, setiap ia pulang ke rumah, ibu merasa tenang.

Suatu hari, ibu sangat memohon pada Abang Usman. ”Aku ingin ini adalah hari terakhirmu untuk tidak lagi pergi meninggalkan rumah. Tidak usahlah kau lagi bekerja di hutan mengumpulkan kayu,” bujuk ibu.

”Tidak bu, ini kerjaku. Hanya ini yang bisa mendapatkan uang dengan mudah. Dahan-dahan kayu masih mudah di dapatkan di hutan. Satu hari bisa dapat dua truk kayu. Abang Karim, yang memiliki truk, sekaligus sopir truk sangat senang padaku,” jawabnya.

”Kita punya sawah, itu saja sudah cukup.”

”Aku anak laki-laki bu.”

Seperti dahulu-dahulu, ia tetap pergi meninggalkan rumah tanpa rasa cemas dan rasa was-was. Ia tidak pernah peduli, jika aku dan ibu sangat mencemaskannya.

Suatu petang ibu terjatuh di sumur belakang rumah. Meski tidak terlalu parah, tapi jalan ibu sedikit pincang. Lutut ibu berdarah karena tergores oleh lantai semen yang kasar. Untungnya, dua piring kaca yang pecah tidak melukai ibu.

”Kejadian buruk sedang terjadi. Aku cemas pada abangmu,” kata ibu dengan wajah pucat.

Aku, entah mengapa tidak percaya dengan dugaan ibu. Aku tidak percaya antara jatuhnya ibu di sumur dengan nasib Abang Usman.

Menjelang magrib, ibu masih menanggung perih terkilir dipergelangan kakinya. Aku berjanji esok pagi akan membawa ibu ke tukang urut di kampung seberang. Namun, niat itu terpaksa tidak dapat aku wujudkan, karena tidak lama setelah waktu salat magrib usai, seseorang mengedor pintu rumah kami dengan keras.

”Buka pintu, buka pintu,” katanya.

Dengan gegas dan penuh tanya di kepala aku membuka pintu rumah. Aku lalu mendapatkan seseorang dengan wajah asing menatapku dengan kecemsan.

”Usman, abangmu, mati dikeroyok orang,” katanya.

Mendengar kabar itu lututku bergetar. Ibu beringsut menuju ke arah pintu dengan sangat tergesa.

”Usman, dikeroyok orang?” tanya Ibu.

”Ya bu, Usman meninggal,” jelasnya lagi.

Ibuku setengah berteriak memanggil nama Abang Usman, namun begitu cepat ibuku sudah terkapar dan pingsan.

Proses pemakaman Abang Usman berjalan esok paginya. Tidak banyak pelayat. Hanya tetangga dekat. Teman-teman sekolahku pun tidak ada yang datang. Ibu menangis tidak henti-henti di pemakaman itu di sampingku. Usai pemakaman, di sepanjang malam, ibu sering menyebut nama Abang Usman di rumah kami.

***

Dan hari ini, dari atas tangga kayu yang menjulur ke dapur, aku melihat ibu mengusap dua matanya yang berair. Aku yakin, itu bukan karena asap dari tungku perapian. Tapi karena kematian Abang Usman satu minggu yang lalu, yang masih menyiksa ibu.

(Banda Aceh 2022)

Farizal Sikumbang lahir di Padang dan menetap di Banda Aceh. Perajin Prosa Fiksi. Buku Kumcernya adalah Kupu-Kupu Orang Mati (Basabasi, Yogyakarta 2017).

Setiyoko Hadi lahir di Solo. Mulai belajar melukis di Himpunan Budaya Surakarta (HBS), dibimbing oleh pelukis Soemitro. Bergabung dengan Studio Seni Rupa Bandung asuhan pelukis Jeihan. Belajar di FSRD ITB. Masih aktif berkarya dan berpameran hingga sekarang.

sumber : harian Kompas edisi 17 Juli 2022 di halaman 9 dengan judul ” Dari Tungku Perapian, Ibu dan Aku Melipat Kenangan”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme