Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hantaran Gulai Ayam oleh Puspa Seruni

Posted on Kam, 21 Jul 2022

Aku memandangi mangkuk melamin putih berukuran jumbo yang berisi potongan ayam disertai kuah santan kental berwarna kuning kemerahan dengan taburan bawang goreng di atasnya. Asap tipis yang menguar membawa aromanya menggelitik penciuman dan membangkitkan rasa laparku. Kata suamiku, gulai ayam buatanku mengalahkan gulai ayam di rumah makan Padang mana pun. Dan hari ini, aku memasaknya khusus untuk keluarga Lego, tetangga sebelah kanan, yang beberapa waktu lalu sempat ribut denganku. Setelah berpikir berulang kali, kurasa hantaran gulai ayam ini akan menjadi senjata pamungkas menyelesaikan kemelut di antara kami.

Segera kubergegas mencuci muka, mengganti daster dengan pakaian pantas, dan sedikit menggunakan bedak serta menyemprotkan parfum supaya bau bawang tidak tercium menyengat dariku. Aku yakin, aroma gulai ini sudah sampai di cuping hidung Bu Lego yang sering kembang kempis saat melirikku dengan sinis.

Sebagai tetangga yang baik, aku tidak akan membiarkan tetangga menghidu aroma masakan tanpa mencicipinya. Membayangkan mulut Bu Lego penuh dengan kuah gulai, membuatku terkikik-kikik. Aku segera mengambil mangkok kemudian berjalan keluar rumah. Untuk sementara kuabaikan pot-pot bunga yang bergelimpangan di teras yang tanahnya menyebar di lantai tercampur dengan kotoran-kotoran ayam. Aku acuh dan memilih segera bertemu Bu Lego.

Aku mendorong pintu besi rumah Bu Lego, seketika hamparan halaman yang bersih dan tertata rapi terlihat. Di sudut pelataran, anggrek-anggrek beraneka rupa di gantung dan sebagian disusun di rak kayu, sementara di teras terlihat pot-pot bunga di tata artistik pada rak besi. Tampak sangat berbeda dengan halamanku yang rumput-rumputnya gundul dan tanaman yang habis daunnya. Apalagi, pagi ini hampir semua pot jatuh bergelimpangan. Aku menarik napas panjang, satu per satu peristiwa beberapa bulan belakangan berserakan di dalam labirin ingatan.

Aku bukan warga baru di desa ini, rumah ini adalah rumah orang tuaku. Sejak kecil aku lahir dan tumbuh di sini. Sejak menikah lima tahun lalu, aku ikut bersama suami di rumah orang tuanya di luar kota. Tahun kemarin, setelah ibu mulai sakit-sakitan, kami memutuskan untuk kembali ke kota ini dan menetap disini untuk merawat ibu yang tinggal sendirian sejak bapak meninggal dua tahun lalu.

Bu Lego, perempuan berusia lebih dari lima puluh tahun, adalah tetangga sebelah kanan. Dia tinggal bersama suaminya yang seorang pensiunan. Beberapa kali aku sempat melihat ketiga anak beserta keluarganya datang berkunjung. Mereka adalah keluarga besar yang hangat. Jika anak-anaknya datang, suasana rumah Bu Lego selalu ramai. Mereka akan berkumpul di halaman depan sambil menggelar berbeku. Tentu saja aku hanya bisa menghirup aroma hidangan panggang itu.

Aku dan Bu Lego tidak terlalu sering berinteraksi. Akan tetapi beberapa bulan terakhir, rasanya aku tidak bisa lagi menahan diri untuk tak mendatangi rumahnya. Bukan karena aku tertarik ikut barbeku bersama keluarga Bu Lego tentu saja, kedatanganku justru mau menyampaikan keberatanku. Mendengar protes yang kusampaikan, Bu Lego biasanya hanya melirik dengan tajam. Salah satu sudut bibirnya akan ditarik ke arah pipi, kemudian megalirlah kicauan sinis ala Bu Lego. Bahkan, setelah aku berkali-kali mengunjunginya, dia tetap abai pada keluhanku. Aku sebenarnya sudah lelah, itulah kenapa akhirnya aku memutuskan untuk memberi gulai ayam ini kepadanya.

Aku baru saja hendak mengetuk pintu rumah Bu Lego saat tiba-tiba pintu terbuka. Bu Lego, dengan rambut keritingnya yang sedikit mengembang, muncul di pintu. Dia terkejut melihatku datang. Matanya langsung menatap mangkuk melamin putih berisi gulai ayam dengan kuah kental kemerahan.

”Wah, ada apa, nih?” tanya Bu Lego dengan mimik wajah bingung.

”Kebetulan saya masak banyak, Bu. Saya khawatir ibu mencium aroma masakan saya, akan jadi bersalah kalau saya tidak membaginya dengan ibu,” jawabku sambil tersenyum, sambil sedikit menyindir Bu Lego.

”Iya, nih. Dari tadi nyium aroma masakan, bikin perut lapar.” Bu Lego masih menatap dengan penuh selidik. Mungkin dia berpikir, kok tumben aku datang bukan untuk protes.

”Iya, Bu. Silakan dinikmati, khusus buat Bu Lego dan Pak Lego.”

Tangan Bu lego antusias menerima mangkuk yang kusodorkan. Matanya tak lepas terus menatap gulai ayam.

”Tetangga memang seharusnya begini, saling menghormati, saling menghargai dan berbagi.”

Sebagai tetangga yang baik, aku tidak akan membiarkan tetangga menghidu aroma masakan tanpa mencicipinya. Membayangkan mulut Bu Lego penuh dengan kuah gulai, membuatku terkikik-kikik. Aku segera mengambil mangkok kemudian berjalan keluar rumah. Untuk sementara kuabaikan pot-pot bunga yang bergelimpangan di teras yang tanahnya menyebar di lantai tercampur dengan kotoran-kotoran ayam. Aku acuh dan memilih segera bertemu Bu Lego.

Aku mengangguk dan tersenyum. Setelah berpamitan, aku berbalik badan. Tanpa sadar sudut bibirku tertarik ke arah pipi. Aku mencoba menahan diri untuk tidak tertawa sinis. Aku terus melangkah keluar halaman dengan tenang. Kudengar di belakangku Bu Lego sudah menutup pintu rumah. Sebelum menutup pintu pagar rumah Bu Lego yang tinggi, kusempatkan melihat deretan tanaman anggrek yang kutaksir berharga mahal itu.

Rumahku dan Bu Lego memang sangat berbeda. Rumahku adalah rumah tua, yang ditempati turun temurun dari kakek nenekku. Bangunan sedang dengan model yang sudah kuno, halaman depan dan belakang cukup. Pagar rumahku terbuat dari bambu dengan tinggi kurang lebih satu meter dan tanpa pintu yang kokoh. Ibuku memiliki banyak tanaman di halaman depan. Tidak semahal anggrek-anggrek Bu Lego tentu saja, hanya tanaman biasa yang dirawat ibu untuk mengisi waktu di masa tuanya setelah bapak tiada. Mungkin karena itu, Bu Lego tak pernah mau mendengarkan teguranku. Dia menganggap, tidak ada sesuatu di halaman rumahku yang harus dijaga sehingga dia membiarkan saja ayam jago peliharaan suaminya mengacak-acak halamanku.

Pak Lego sangat hobi memelihara binatang, mulai dari burung, ayam jago, kucing hingga anjing. Sudah bukan rahasia lagi, kalau ayam-ayam Pak Lego suka berkeliaran ke halaman rumah tetangga. Pak Lego memang sengaja melepaskan ayam-ayam itu di luar pagar rumahnya dengan alasan agar ayam-ayam kampung itu bebas seperti di habitat aslinya. Tidak hanya itu, anjing Pak Lego sering mengorek-ngorek tempat sampah di depan rumah warga dan membuat isinya berhamburan. Dan, tentu saja yang paling sering kedatangan ayam-ayam dan anjing Pak Lego adalah rumahku.

Aku tidak tahu bagaimana selama ini ibuku menghadapinya. Ibu sama sekali tidak pernah mengeluhkan ayam dan anjing peliharaan Pak Lego yang bertandang ke rumah. Akan tetapi sejak aku tinggal di rumah ini, aku melihat Pak Lego dan Bu Lego dengan seenaknya saja melepas liarkan peliharaan mereka yang ujung-ujungnya mengganggu, setidaknya untukku. Ayam-ayam itu sering terlihat mematuk rumput atau daun-daun bunga milik ibu, belum lagi tak jarang meninggalkan kotoran di teras rumah dan halaman. Sedangkan anjing itu, acapkali membuat sampah di depan rumah berantakan dan sering tanpa permisi duduk di bangku di teras rumahku.

Awalnya, aku menyampaikan keberatanku kepada Pak Lego dan Bu Lego dengan cara yang baik, tetapi tidak pernah ada tindak lanjut. Bahkan, setelah aku cukup menahan diri untuk tidak marah, aku kembali datang ke rumah mereka untuk menyampaikan bahwa selama ini ayam-ayam mereka sudah menggangguku.

”Ya, salah sendiri nggak di pagar. Emangnya ayam-ayam itu tahu bunga-bunga itu nggak boleh di makan. Kita mana bisa mengatur kemana ayam itu mau berkeliaran,” Bu Lego menjawab dengan sinis.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membuat pintu pagar. Anjing Bu Lego memang tidak lagi masuk halaman meskipun masih terus membuat tempat sampahku berantakan. Sedangkan ayam-ayam itu tetap saja datang, melompati pagar yang memang tidak terlalu tinggi.

“Bikin pagar yang tinggi. Warga lain nggak ada yang protes, loh. Mbak Ririn aja, nih, yang bolak-balik protes. Lagian, bunga apa sih yang dimakan ayam-ayam saya? Mahal?”

Masih dengan nada sinis Bu Lego menanggapi keluhanku karena ayam-ayamnya tetap masuk ke halaman rumah meski sudah di pagar.

“Tolonglah, Bu. Kita saling menghargai. Usahakan ayam ibu tidak masuk ke rumah saya. Kalau ibu mau melepaskan ayam-ayamnya, di halaman sendiri saja. Tanaman ibu saya sudah habis, Bu.”

“Masak urusan ayam saja dibesar-besarkan.”

Bu Lego dan Pak Lego tak pernah menggubris keluhanku. Malah tak lama setelah itu, kulihat ayam-ayam peliharaannya bertambah menjadi lima ekor. Mereka seolah sengaja membuatku semakin geram. Aku pernah berusaha mengadukan ketidaknyamananku kepada Pak RT, tetapi Pak RT tampaknya juga enggan menegur.

”Nggak enak, Mbak. Pak Lego itu rajin nyumbang kalau ada acara RT dan desa. Sabar, Mbak, Akan lebih nyaman bertetangga kalau saling tepa selira.”

Aku mendengkus kasar mendengar jawaban Pak RT. Saat kubicarakan dengan ibu perihal ayam-ayam Bu Lego, ibu hanya tersenyum sambil mengusap-usap punggungku.

”Kadang memang ada orang yang tipe seperti itu. Merasa bahwa dia boleh saja memasuki halaman rumah orang lain tanpa ijin, bahkan mungkin mengacak dan mengotori. Tapi saat yang punya rumah marah, malah bersikap seolah teraniaya dan mengatakan kita tidak toleran terhadap mereka.”

Aku sudah hampir putus asa, karena setiap hari harus membersihkan kotoran ayam dari teras dan harus merapikan tanaman-tanaman ibu yang diacak-acak ayam. Setelah hampir satu tahun berkutat dengan ayam-ayam Bu Lego yang melanggar batas teritori, hari ini aku memutuskan untuk mengakhiri kemelut itu. Aku tidak mungkin merubah pagar bambu pendek rumahku dengan pagar besi tinggi seperti milik Bu Lego, aku tidak punya dana untuk itu. Maka salah satu cara termudah adalah mengembalikan ayam-ayam itu ke rumah Bu Lego.

Langit sudah memerah saat tiba-tiba pintu rumahku diketuk. Aku bergegas keluar untuk membuka pintu. Kulihat Pak Lego berdiri dengan wajah cemas.

”Mbak, lihat ayam-ayam saya? Ada dua ekor belum kembali.” Pak Lego bertanya dengan dahi berkerut.

”Tadi lihat, Pak. Itu pot-pot saya masih bergelimpangan karena ayam-ayam Bapak. Dan ini tai-tainya juga masih ada di teras bahkan, nih, di meja.”

Aku menunjuk kondisi terasku yang berantakan. Pak Lego tampak menelan ludah dan bergidik jijik.

”Ayam saya nggak pulang, biasanya kalau sudah gelap begini mereka pulang sendiri.” Pak Lego terlihat cemas.

”Oh, tadi sore saya liat ayamnya sudah kembali ke rumah Pak Lego. Coba tanya Bu Lego, sepertinya ibu yang menyambut ayamnya tadi.”

Aku menahan diri untuk tidak tersenyum. Pak Lego mengangguk kemudian berbalik. Aku menatap punggung Pak Lego dengan dada lega. Jembrana, 27 Juni 2022

***

Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo, Jawa Timur, yang saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

sumber : kompas.id, 21 Jul 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme