Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Riwayat Tanah Poyang oleh Muhammad Syukry

Posted on Sab, 23 Jul 2022

Sewaktu kecil, aku sering diajak Datuk pergi memancing di sebuah sungai kecil tak jauh dari kampung kami, bernama Sungai Jering. Dari sanalah aku tahu bahwa saat sedang memancing, Datuk tak suka ada suara-suara bising. Nanti ikannya kabur, bisiknya tiap kali kami memancing dan aku sibuk mengocehkan hal-hal yang tak penting.

Namun, sore itu, sesaat setelah melempar mata pancingnya ke tengah lubuk, Datuk tiba-tiba berkata kepadaku: ”Tanah seberang itu dulu punya poyangmu.”

Aku ingat, saat itu umurku baru tiga belas tahun dan topik seputar tanah masih sama sekali asing bagiku. Tambah pula, perubahan sikap Datuk yang begitu tiba-tiba tak urung membuatku terpana. Maka, alih-alih bicara, aku hanya mengalihkan pandangan dari pelampung pancing di permukaan sungai yang keruh, ke rerimbun belukar dan pepohonan di seberang.

”Dari pohon sialang itu…,” Datuk menunjuk ke sebatang pohon tinggi, besar, bercecabang nun di hilir sungai, ”…sampailah ke lubuk di depan kita ini.”

Aku masih diam.

”Kau mau dengar cerita?” tanya Datuk. Dan, tanpa menunggu persetujuanku, ia pun mulai bercerita.

***

Puluhan tahun lalu, saat datuk kira-kira seusiamu sekarang, ayah datuk—poyangmu—pernah membabat tanah seberang untuk dijadikan ladang. Sebelum dibabat poyangmu, pohon-pohon raksasa masih banyak di situ. Ada meranti, terap, merbau, kulim, beringin, semuanya tinggi-tinggi dan besar-besar.

Waktu itu, banyak yang menasihati poyangmu untuk tak membuka ladang di situ. Kata mereka, pohon-pohon itu berhantu. Tapi poyangmu tak peduli. Berbekal sebilah beliung, ia babat semua pohon itu, lalu ia jual sebagiannya ke orang-orang yang membutuhkan. Sebagian yang lain ia buat menjadi pondok.

Singkat cerita, setelah pondok dibangun, pindahlah kami ke ladang. Lihat pohon terap yang sebagian dahannya meranggas itu? Nah, di situlah pondok kami dulu. Lima meter persegi besarnya. Tujuh anak tangga tingginya. Dari atasnya terlihat semua sudut ladang, juga cemetek* poyangmu kalau bingkas.

Di awal-awal kami tinggal di ladang, semua baik-baik saja. Bibit-bibit padi tumbuh subur, badan datuk tambah gepuk. Sampai di penghujung bulan ketiga tinggal di ladang, sepulang dari mengambil ikan tapah selebar sepuluh jari yang kena cemetek poyangmu suatu hari, tiba-tiba datuk jatuh demam. Mendadak saja.

Tiga hari tak sembuh-sembuh—walaupun poyangmu sudah berusaha mengobati, datuk dibawa balik ke dusun. Di dusun, datuk ganti berobat dengan mantri. Tak kurang lima belas mantri yang dipanggil poyangmu waktu itu. Beberapa berasal dari luar kecamatan, satu-dua bahkan berasal dari luar kabupaten. Tapi tak satu pun dari mereka berhasil mengobati datuk.

Hari berganti hari, bulan bertukar bulan, kondisi datuk tak juga kunjung membaik. Sepanjang hari, datuk yang sudah serupa mayat hidup—tinggal kulit membungkus tulang—cuma bisa terbaring di tempat tidur. Siang demam menggigil. Malam mimpi buruk. Terkadang, kata poyangmu, datuk juga kejang-kejang dan menceracau.

Tapi anehnya, walaupun sakit parah, nafsu makan datuk tak sedikit pun menurun, malah meningkat. Lima piring belunjung setiap kali makan! Bayangkanlah! Dan itu tak pernah bersisa.

Kalau dilihat dari nafsu makan yang gila itu, badan datuk seharusnya tambah gepuk. Tapi nyatanya tidak. Hari ke hari malah kian mengurus. Ke mana perginya makanan yang banyak itu? Wallahualam.

Setelah kurang lebih setahun kondisi datuk begitu, tersiarlah kabar bahwa ada seorang kiai yang mampu mengobati orang-orang yang sakit macam datuk. Kiai Abdullah namanya, bertempat tinggal di Jambi.

Setelah mendapat kabar itu, kau tahu apa yang poyangmu lakukan? Ya, dia berangkat ke Jambi.

Ah, masa-masa itu bukan perkara mudah berangkat ke Jambi. Jalan darat banyak begal, jalan air banyak buaya. Tapi poyangmu yang memang keras kepala tetap memaksa berangkat. Enam hari enam malam ia terkatung-katung di atas perahu. Menghilir, dari lubuk di depan kita ini—ya, lubuk ini—sampai ke Batanghari. Enam hari enam malam lamanya.

Tapi untunglah usahanya tak sia-sia. Setelah beberapa kali berobat dengan Kiai Abdullah, kondisi datuk perlahan-lahan membaik dan akhirnya sembuh total.

***

Sampai di situ, Datuk sekonyong-konyong diam sehingga kupikir ceritanya sudah sampai dipengakhir. Namun, begitu aku hendak bicara, ia tiba-tiba mengangkat telunjuk kirinya. Datuk belum selesai, kira-kira begitulah artinya. Maka kembali kupasang telinga.

”Ini bagian terpenting dari cerita tadi,” ungkapnya.

Bagian terpenting? Aku mengernyitkan dahi. Apa lagi yang lebih penting dari kesembuhannya dari penyakit aneh itu, pikirku.

Dengan suara yang agak berat, Datuk lalu kembali bercerita: ”Di bulan ketujuh datuk sakit waktu itu, tabungan poyangmu terkuras untuk biaya pengobatan datuk. Tapi ia tak menyerah. Tanpa berpanjang-panjang pikir, ia lalu meminjam banyak uang dari seorang tauke getah di kecamatan sebelah. Dari situlah musibah bermula.”

Sejenak Datuk diam, menarik napas panjang, lalu melanjutkan: ”Poyangmu yang buta huruf,” sambungnya, “Ditipu oleh tauke itu. Entah macam mana ceritanya, ia berhasil membuat poyangmu menyetujui surat pinjaman dengan bunga yang sangat tinggi. Begitu tahu soal itu, poyangmu tentu saja marah. Tapi ia sudah tak bisa berbuat apa-apa. Si tauke sudah mengatur semuanya. Dan akhirnya, karena utang itu tak kunjung terlunasi, jadilah tanah seberang sebagai gantinya.”

Di bulan ketujuh datuk sakit waktu itu, tabungan poyangmu terkuras untuk biaya pengobatan datuk. Tapi ia tak menyerah. Tanpa berpanjang-panjang pikir, ia lalu meminjam banyak uang dari seorang tauke getah di kecamatan sebelah. Dari situlah musibah bermula.

Aku masih berusaha mencerna ketika Datuk beralih menatapku. ”Nah,” katanya, ”Sekarang, apa kau sudah mengerti?”

Aku refleks menggeleng. Mengerti apa?

Datuk tersenyum, lalu, dengan kesabaran seorang pemancing, ia kembali menjelaskan: ”Poyangmu itu,” tuturnya, ”terkenal keras dan berani semasa hidupnya. Semua orang tahu itu. Bahkan sampai hari ini, masih ada satu-dua orang yang membicarakannya. Tapi tengoklah, sekeras dan seberani apa pun dia, tetap juga ditipu orang. Kau tahu kenapa? Tak lain karena poyangmu buta huruf.”

Datuk lantas menatapku dalam. Semula aku tak mengerti apa maksudnya. Baru setelah ia memiringkan kepala dan menaikkan satu alis, aku mengerti. Ia ternyata sedang menyindirku!

Hari itu, Ibu marah besar kepadaku karena tak mau melanjutkan sekolah. Sudah kucoba memberi penjelasan—dengan membawa-bawa nama beberapa sepupu dan temanku yang setamat SD langsung bekerja alih-alih melanjutkan sekolah, Ibu malah makin marah.

Maka, untuk ”menyelamatkan diri”, aku lantas lari ke rumah Datuk. Dalam pikiranku, Datuk pasti akan mengerti dan memihakku.

Sesampai di rumah Datuk, kudapati lelaki tua itu tengah bersiap-siap hendak pergi memancing. Maka aku pun ikut pergi memancing. Dalam perjalanan ke sungai yang memakan waktu kurang lebih sepuluh menit, kuceritakanlah semuanya.

Sepanjang ceritaku, tak sekali pun Datuk menyela, apalagi membantah. Itu membuatku berpikir bahwa ia benar-benar mengerti dan memihakku. Sampai kemudian ia menyindirku di ujung cerita itu, barulah aku sadar.

Sebagaimana Ibu, Datuk ternyata juga menginginkanku melanjutkan sekolah. Dan lewat kisah poyang yang ia ceritakan waktu itu, ia berusaha membuat pendirianku berubah.

”Tapi aku kan dak buta huruf, Tuk,” kelitku waktu itu. ”Aku bisa membaca, lancar menulis.”

”Betul,” timpal Datuk sambil tersenyum. ”Tapi membaca dan menulisnya lulusan SD, beda dengan membaca dan menulisnya seorang sarjana.”

Aku tak tahu harus menjawab apa, maka aku diam saja. Kondisi itu lantas dimanfaatkan Datuk untuk berlama-lama menasihatiku. Beberapa nasihatnya masih kuingat sampai hari ini, beberapa lainnya tidak. Namun yang pasti: ia berhasil membujukku untuk melanjutkan sekolah sore itu.

Dan, di sinilah aku sekarang: menerima gelar sarjana dan menjadi lulusan terbaik dari sebuah kampus ternama. Terima kasih, Datuk. Semoga tenang dan bahagia di alam sana.Bungo, 2022

Keterangan: *Cemetek (dengan e yang tak penuh pada suku kata tek): alat penangkap ikan tradisional serupa pancing, tapi dengan joran yang jauh lebih besar dan panjang, dipasang serupa memasang jerat ayam hutan. Lazimnya dikhususkan untuk menangkap ikan besar.***

Muhammad Syukry, lahir di Muara Bungo, Oktober 1995. Cerpen-cerpennya pernah dimuat oleh Media Indonesia, Kompas.id, Magrib.id, Cendana News, Lensasastra.id, Haluan, dan Medan Pos.

sumber : kompas.id, 23 Jul 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme