Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tragedi Cinta Amangkurat oleh Ade Mulyono

Posted on Ming, 31 Jul 2022

Sudah hampir tiga bulan Prabu Amangkurat tak menyentuh tubuh istrinya maupun garwa ampeyan yang jumlahnya puluhan. Kabar sang prabu kehilangan kejantanannya sempat mencuat menjadi kasak-kusuk di antara para garwa ampeyan. Namun, kabar itu ditepis oleh Ratu Kulon. Dari mulut sang ratu barulah diketahui bahwa Prabu Amangkurat sedang kesengsem oleh kecantikan seorang sinden bernama Retno Gumilang sejak pertama kali bertemu.

Kini sang prabu sudah memantapkan hatinya untuk memboyong Retno Gumilang ke istana untuk dijadikan garwa padmi. Keinginan tersebut menjadi polemik di lingkungan istana. Bagi masyarakat Jawa, menikahi wanita yang sudah bersuami tidaklah lazim. Sang prabu tidak kehilangan cara. Ia segera mengutus senopatinya untuk membunuh suami Retno Gumilang.

Kabar keinginan Prabu Amangkurat yang ingin memperistri Retno Gumilang membuat hati Diyah Wulansari resah. Ia pun bergegas menemui Kebo Garang—iparnya.

”Kebo Garang, apa kamu tahu jika Prabu Amangkurat akan memperistri Retno Gumilang? Sebelum itu terjadi aku ingin kamu membunuh perempuan itu. Sungguh aku khawatir Kakanda Prabu Amangkurat akan mengalihkan cintanya. Sebab, setelah Ratu Kulon, akulah garwa ampeyan kesayangan sang prabu. Aku juga khawatir dari rahim Retno Gumilang akan lahir putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan Adipati Anom—putra Ratu Kulon,” kata Diyah Wulansari sambil berjalan mondar-mandir yang menunjukkan kegelisahan hatinya.

”Jujur, hati hamba bergetar hebat mendapat perintah dari Kanjeng untuk menentang keinginan sang prabu. Selama ini tidak ada yang berani melawan Prabu Amangkurat,” balas Kebo Garang.

”Apa yang kamu takuti? Di tanah Jawa ini siapa yang tidak mengenal pendekar Kebo Garang orang kepercayaan Pangeran Pekik? Prajurit-prajurit Mataram pun segan jika mendengar namamu.”

”Benar, Kanjeng, tetapi tetap saja hamba hanya manusia yang pasti tidak akan mampu jika harus menghadapi puluhan senopati Mataram.”

”Itu bedanya pendekar dengan prajurit. Kamu bertarung hanya menggunakan tenagamu, bukan pikiranmu.”

”Maksudnya?”

”Kamu bisa menculik Retno Gumilang tanpa seorang pun tahu siapa yang melakukannya. Terserah ingin kamu apakan setelahnya. Asalkan habisi nyawanya. Aku sangat khawatir Prabu Amangkurat terbunuh oleh kecantikan Retno Gumilang yang begitu gemilang.”

Baca juga : Mata Harimau

Kebo Garang diam usai menerima sebundel emas dari Diyah Wulansari. Dia masih termenung menenangkan hatinya. Sebagai seorang pendekar, dia tahu kesaktian Prabu Amangkurat dan para senopatinya. Terlebih kekejamannya tiada tandingannya.

Prabu Amangkurat kali ini gegabah mencintai wanita yang sudah bersuami. Pastilah Dewata akan murka. Begitulah Kebo Garang berbincang dengan dirinya sendiri. Menghibur suasana hatinya.

Sebagai seorang pendekar, pantang menyembunyikan keris yang sudah keluar dari sarungnya. Segera saja Kebo Garang mengumpulkan anak buahnya. Telik sandi segera dikirim ke Pasundan untuk memata-matai keberadaan Retno Gumilang.

Sial bagi Kebo Garang, belum juga memandikan kerisnya dengan tujuh rupa bunga, dia sudah harus berhadapan dengan senopati Prabu Amangkurat.

”Keluar kau Kebo Garang. Jangan bersembunyi di bilik istrimu. Aku Senopati Aji Saka menantangmu bertarung sekarang juga,” katanya dengan setengah berteriak.

Mendengar keributan di depan rumahnya, segera saja Kebo Garang keluar. ”Banyak sekali Tuan Senopati membawa tamu, padahal rumah hamba begitu kecil,” kata Kebo Garang dengan tenang.

”Jangan pura-pura bodoh. Kau mengirim telik sandi untuk memata-matai Retno Gumilang, bukan? Para telik sandimu sudah aku ringkus.”

”Biar aku jelaskan. Aku hanya menjalankan tugas dari junjunganku.”

”Siapa junjunganmu? Siapa yang berani melawan Prabu Amangkurat?”

”Itu tidak penting. Tetapi keberadaanmu di Pasundan justru membuatku curiga. Misi apa yang kau bawa?”

”Analisismu bagus juga Kebo Garang. Kita sama-sama menjalankan tugas. Dan tugasmu mengacaukan tugasku.”

”Jangan berbelit-belit, katakan yang sebenarnya atau keris lekuk pituku yang akan memaksa mulutmu untuk bicara!” kata Kebo Garang yang mulai habis kesabarannya.

”Aku juga mempunyai keris. Apa kau penasaran ingin menguji kerisku?”

”Kalau begitu lekas katakan!”

”Aku diperintah untuk membunuh Ki Dalem, suami Retno Gumilang.”

”Bedebah. Berarti kau musuhku. Cabut kerismu. Kita buktikan kulit mana yang lebih keras. Kulitmu atau kulitku.”

Pertarungan pun terjadi dengan sengitnya. Setelah mengeluarkan jurus pamungkasnya masing-masing, Kebo Garang berhasil merobek perut Senopati Aji Saka meski dia mengalami luka cukup parah di lengan tangannya.

Kematian Senopati Aji Saka berhasil menggemparkan Istana Mataram. Prabu Amangkurat sangat marah menyaksikan salah satu senopati terbaiknya telentang di hadapannya dengan luka mengerikan. Sang prabu menuding Ki Dalem dan orang-orangnya telah membunuhnya. Segera saja sang prabu memberi titah kepada panglima perang Mataram untuk mengepung pedepokan Ki Dalam beserta pengikutnya dan meringkusnya hidup atau mati.

Kabar penyerbuan pasukan Mataram ke pedepokan Ki Dalem yang dipimpin langsung oleh panglima perangnya terdengar ke seluruh pelosok negeri. Kebo Garang bersyukur Prabu Amangkurat tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, nalurinya berkata lain, bagaimanapun juga dirinya harus menemui Ki Dalem untuk memberi tahu penyerbuan pasukan Mataram.

Kurang dari setengah hari perjalanan, Kebo Garang sudah sampai di pedepokan Ki Dalem. Tanpa tedeng aling-aling, dia langsung memberi tahu rencana Prabu Amangkurat yang akan menghancurkan pedepokan dan membunuh Ki Dalem. Itu disampaikan oleh Kebo Garang seusai istri Ki Dalem, Retno Gumilang, mengobati luka di lengannya yang menganga.

Detik itu juga ia terpesona oleh kecantikan Retno Gumilang. ”Inikah perempuan yang membuat Prabu Amangkurat kehilangan akal warasnya,” ujarnya dalam hati.

”Lebih baik Ki Dalem tinggalkan pedepokan ini. Jumlah pasukan Mataram yang diturunkan begitu banyak dengan persenjataan lengkap,” ujar Kebo Garang seusai menguasai hatinya yang tiba-tiba bergejolak melihat kecantikan Retno Gumilang.

”Tidak. Sekalipun harus mati, aku akan mempertahankan tanah leluhur buyut kami,” balasnya tanpa ragu-ragu.

”Bagaimana dengan Retno Gumilang? Terlebih istrimu itu sedang mengandung.”

Ki Dalem diam sebelum berujar pada istrinya, ”Bagaimana Dinda?”

”Aku terserah Kang Mas saja. Asal aku tetap bersama Kang Mas.”

”Itu bukan pilihan yang bijak,” sergah Kebo Garang.

”Lalu?”

”Jika Ki Dalem tidak keberatan, aku akan membawa istrimu menyingkir dari pedepokan sambil mengawasi situasi.”

”Apakah aku turuti saja keinginan Prabu Amangkurat. Karena akulah biang kerok dari semua ini. Dari awal Prabu Amangkurat menginginkanku untuk menjadi istrinya,” sela Retno Gumilang sambil menangis.

”Tidak, Dinda. Di mana letak kehormatan seorang suami jika menyerahkan istrinya kepada lelaki lain untuk dinikmati biliknya. Biar aku hadapi pasukan Mataram. Kisanak, bawa istriku menjauh dari pedepokan.”

”Baik,” balas Kebo Garang dengan hati girang.

Segera saja Kebo Garang membawa Retno Gumilang ke rumahnya. Kedatangan Retno Gumilang disambut baik oleh istri Kebo Garang. Namun, setelah beberapa hari sang istri mulai cemburu lantaran suaminya tidak lagi memperhatikan dirinya.

”Sedang apa Kang Mas?” tanya sang istri suatu malam di kamarnya.

”Menulis syair,” jawab Kebo Garang ringkas.

”Tumben. Sudah lama sekali Kang Mas tidak menulis syair untukku.”

”Ini bukan untukmu. Ini untuk menghibur hati Retno Gumilang yang sedang gelisah.”

Mendengar jawaban suaminya, sang istri murka. Ia pun memberi tahu keberadaan Retno Gumilang kepada Diyah Wulansari.

Segera saja Diyah Wulansari menuju rumah Kebo Garang. Sesampainya, Diyah Wulansari meminta Kebo Garang untuk menyerahkan Retno Gumilang. Namun, permintaan itu ditolaknya dengan alasan jika dirinya akan memperistrinya. Diyah Wulansari sangat marah mendengar jawaban itu. Tanpa menunggu lama, Diyah Wulansari mengambil sebilah pisau untuk menghabisi Retno Gumilang. Kebo Garang tidak tinggal diam. Hanya dengan sekali gerakan, pisau tersebut telah menancap ke perut Diyah Wulansari.

Istri Kebo Garang begitu sedih melihat kakaknya tewas di tangan suaminya. Tanpa pikir panjang, dia mencabut keris suaminya dan menusuknya dari belakang. Seketika Kebo Garang tewas oleh kerisnya sendiri. Kemudian istri Kebo Garang memerintahkan para pengawal untuk membawa Retno Gumilang ke istana.

Kini sudah setahun Retno Gumilang tinggal di istana dan menjadi istri kesayangan Prabu Amangkurat yang telah memberinya gelar Ratu Wetan. Seiring bergulirnya waktu, Retno Gumilang akhirnya mengetahui bahwa suaminya sudah lama tewas saat penyerbuan pasukan Mataram. Sejak saat itu dia mulai sakit-sakitan. Sementara keberadaan Retno Gumilang di keputren membuat istri dan para garwa ampeyan terbakar api cemburu.

Pada suatu malam salah satu garwa ampeyan menyuruh dayangnya untuk meracuni makanan Retno Gumilang. Seketika Retno Gumilang tewas dengan mulut berbusa. Kematian wanita yang terkenal dengan kecantikannya itu membuat hati Prabu Amangkurat terpukul. Sang prabu yang mengetahui penyebab kematian istri tercintanya langsung memerintahkan prajuritnya untuk mengurung semua garwa ampeyan dan dayang-dayangnya ke penjara tanpa diberi makan hingga semuanya tewas.

Dalam kesedihannya, sang prabu memutuskan meninggalkan kerajaan untuk menemani mayat istri tercintanya di atas bukit Gunung Sentana. Di samping mayat istrinya, sang prabu berujar, ”Kecantikan adalah kutukan bagi seorang wanita. Dan cintaku padamu adalah korban dari kutukan itu.”

Jakarta, Juni 2022

Ade Mulyono, lahir di Tegal. Prosais dan esais. Tulisannya dimuat di sejumlah media. Novel terbarunya Namaku Bunga (2022).

Yeyet Dewi Koryeti, lahir di Bandung 1965. Belajar sketsa dan drawing di Pasir Layung Bandung dari pelukis Jeihan Soekmantoro, Maman Noor, dan Agoes Noegroho tahun 1984-1985. Kuliah Jurusan Seni Murni FSRD ITB, 1985-1992. Sekarang mengajar pendidikan TPB DKV Itenas sejak 2007. Beberapa kali menggelar pameran tunggal ataupun bersama di dalam dan luar negeri. Yang terakhir adalah Pameran Self-Portrait 2022 di Sanggar Olah Seni Bandung.

sumber : kompas.id, 31 Jul 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme