Tak terhitung lagi berapa kali kulewati jalan beraspal lurus sejauh mata memandang ini. Sejak truk dan bus antarkota antarprovinsi belum sebanyak sekarang, sejak pom bensin dan pusat oleh-oleh belum tegak berdiri di sana. Yang pasti, nama Mas Mono selalu muncul setiap aku di sana. Aku ingat betul nama itu.
Mas Mono bukanlah saudaraku, bukan pula orang yang sering kusapa. Tapi, namanya tersohor pada masanya di desaku, tahun 1980-an. Ukuran tubuhnya tanggung, berkulit terang, rambut ikal, sedangkan rata-rata warga desaku berambut lurus berkulit sawo matang, khas desa agraris.
Ketidaklaziman lain Mas Mono saat itu, lengan atas kanannya bertato, seni rajah yang saat itu asing dan identik berandalan. Ia sering berkaus putung, nongkrong di tugu kampung. Bagi kami, anak-anak, sosoknya jagoan lokal pelindung.
Di seberang rumah besar orangtuanya yang berpagar semen dengan pohon sawo besar di halaman luas—simbol keluarga kaya di desa—terhampar kebun tebu. Mengekor kakak-kakakku, aku terbiasa ”memanen” tebu. Aman. Takkan ditegur atau dikejar mandor atau sinder, pengawas kebun tebu. ”Bilang, kamu sedulurku,” kata Mas Mono.
Kami girang bukan kepalang. Misi menyesap manisnya sari tebu segar selama dolan bakal selalu aman. Pak mandor yang suka mengancam dan galak pasti ciut mendengar nama itu.
Sepak terjang Mas Mono ternyata berkaitan dengan misteri besar hingga sekarang: petrus alias penembakan misterius. Atas nama keamanan, ketertiban, dan ketenangan sosial, tahun 1983, pemerintah memberi wewenang aparat menembak mati siapa saja yang dianggap biang onar.
Selepas tahun itu, tak pernah lagi kami lihat sosok jagoan murah senyum itu. Hilang tiada kabar. Beberapa tahun kemudian aku baru paham, petrus bukanlah misteri bagiku saja, tapi juga bagi seantero negeri. Terlebih bagi Mbak Ling. Nanti kuceritakan.
***
Desaku kecil saja. Namanya Argoharjo, yang berarti gunung sejahtera. Namun, desaku bukan di pegunungan; di sisi selatan jalan beraspal jalur selatan menuju Kota Yogyakarta dari arah Purwokerto.
Meskipun bernama argo, desaku di antara hamparan sawah subur. Gambaran desa gemah ripah loh jinawi. Air irigasi mengalir sepanjang tahun, berikut ikan wader dan lele sumber protein warga desa. Sawah-sawah panen tiga kali setahun jika tak sedang disewa untuk perkebunan tebu. Tak kenal episode kekeringan di sana.
Mas Mono bukanlah saudaraku, bukan pula orang yang sering kusapa. Tapi, namanya tersohor pada masanya di desaku, tahun 1980-an. Ukuran tubuhnya tanggung, berkulit terang, rambut ikal, sedangkan rata-rata warga desaku berambut lurus berkulit sawo matang, khas desa agraris.
Sampai awal tahun 1980-an, hanya segelintir keluarga di desaku yang tergolong mampu. Hasil sawah tak cukup bagi sebagian besar petani gurem untuk memiliki sumber hiburan modern kala itu, televisi hitam putih. Aki masih jadi sumber energi, menghidupkan teve yang populasinya kurang dari jumlah jari satu tangan. Keluargaku termasuk yang memilikinya.
Setiap pukul 18.00, apalagi akhir pekan, para tetangga berkerumun di halaman rumahku. Saatnya numpang nonton teve. Tayangan wayang orang dan ketoprak yang paling dinanti.
Jika hari itu tiba, ibuku sewot. Itu waktunya anak-anak belajar. Sebaliknya, aku senang karena rumah ramai. Seru sekali jika adegan ketoprak perang tanding. Seru, itu yang selalu terkenang. Teve dan siaran radio menjadi sumber informasi tepercaya. Tidak seperti sekarang yang begitu banyak sumber informasi, semua bisa menjadi sumber berita. Susah menentukan mana benar mana salah.
Hingga sebuah malam, pembicaraan di kampungku tak lagi soal lakon ketoprak, wayang orang, atau film laga Charles Bronson yang epik dan heroik itu. Ini tentang Mas Mono!
”Kabare dicemplungke ning luweng,” kata Paklik Tuki.
”Hah, yang benerlho Paklik?” sahut Pakde Wanto.
”Gunungkidul, nggih Lek?” timpal mbah Atmo.
Yang lain hanya menumpang dengar sambil menyedot rokok kretek.
Saling lempar tanya itu dijawab dengan ketidakpastian. Lebih banyak ”katanya” ketimbang sumber meyakinkan. Belakangan, aku tahu, itulah tujuan pemerintah dengan petrus, menyebar ketidakpastian dan ketakutan dengan harapan muncul ketertiban dengan sendirinya.
Malam itu, bincang-bincang di teras rumah seusai nonton siaran berita seputar perkembangan petrus itu tak selepas biasanya. Cenderung bisik-bisik kecemasan. Berita-berita di media mengabarkan ratusan bahkan lebih dari seribu orang dikabarkan meninggal atau hilang tanpa kabar. Mereka para pembuat onar, info yang berkembang.
Tetanggaku membicarakan berita di koran tentang Operasi Clurit di Jakarta, operasi tumpas gali di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Atas nama demi ketenangan masyarakat, menembak mati mereka yang tergolong gali, garong, penjahat, ataupun bandit disahkan negara. Gali, diutak-atik sebagai ”gabungan anak liar”. Stigmanya bertato, rambut gondrong, pengangguran, suka nongkrong dan berkelahi.
Malam itu, aku yang masih SD kelas I tak cukup mengerti. Juga karena mengantuk setelah seharian berlarian di sawah mengejar layangan putus. Yang kuingat, mereka menyebut-nyebut Mas Mono, pelindung anak-anak pemburu tebu sepertiku. Aku terlelap tidur.
***
Sore sepulang kerja, ayahku yang masih berseragam dinas membawa kabar. Ada mayat bertato dengan tangan terikat tergeletak di tepi jalan lurus beraspal yang membelah hamparan kebun tebu sewaan pabrik. Konon, di sanalah para begal dan perampok menunggu mangsa. Lokasinya sekitar 20 menit bersepeda motor dari desaku.
Saat itu, Mas Mono sudah sekian lama hilang. Kasak-kusuknya, dikategorikan gali dan ditangkap aparat, lalu ditembak dan dibuang di luweng di bukit kapur Gunungkidul. Luweng merupakan lubang yang terhubung sungai bawah tanah dan bermuara di Laut Selatan. Luweng dan petrus memang tak bisa dipisahkan.
”Ada kaitan dengan Mas Mono, Pak?” tanya ibuku, membahas mayat terikat.
”Ah, embuh,” bapakku melepas sepatu dinas hariannya.
Yang pasti, mayat terikat itu bukanlah jasad Mas Mono. Kabarnya masih gelap.
Saat itu, Mas Mono sudah sekian lama hilang. Kasak-kusuknya, ia dikategorikan gali dan ditangkap aparat, lalu ditembak dan dibuang di luweng di bukit kapur Gunungkidul. Luweng merupakan lubang yang terhubung sungai bawah tanah dan bermuara di Laut Selatan. Luweng dan petrus memang tak bisa dipisahkan.
Aku kembali teringat pada obrolan di teras rumah malam itu. Mas Mono hilang tanpa kabar. Selama apa pun keluarganya yang kaya itu menelusuri, selama itu pula tak tersingkap. Hingga kini.
Lebih dari sepuluh tahun terakhir, di jalan lurus lokasi mayat korban petrus ditemukan itu berdiri tegak pom bensin besar dan pusat oleh-oleh yang terang benderang setiap malam. Bus wisatawan, truk tangki, dan mobil-mobil pelat luar kota Yogyakarta rutin singgah. Tak jauh dari kantor pos polisi yang lebih sering sepi daripada terisi.
***
”Monggo, Mbak Ling,” sapa ibuku di boncengan motorku. Perempuan itu menyahut dan melambaikan tangan, sambil menyapu halaman pendopo rumahnya. Bu Tondo, ibu Mbak Ling, adalah orang kaya di desaku, pemilik sawah luas.
”Kamu eling Mbak Ling tadi?” tanya ibuku, sambil membuka bungkusan bakmi jowo yang masih mengepul.
”Mbak Lingnya Mas Mono?”
”Lho, masih ingat, tho,” respons ibuku.
Aku masih cukup ingat Mbak Ling meskipun sejak zaman petrus itu aku yang masih SD meninggalkan desa, pindah rumah ke tangsi militer di kota. Sesekali pulang mengunjungi nenek dan saudara, hingga lanjut merantau ke luar Jawa setamat kuliah.
Mbak Ling kala itu adalah kembang desa. Perempuan Jawa ayu dan kalem itu tunangan Mas Mono. Keduanya kerap melintas berboncengan menunggang Vespa, simbol kemakmuran kala itu.
Hingga kini, 30 tahun berlalu sejak operasi petrus dihentikan, Mbak Ling masih lajang, memomong keponakannya sejak kecil hingga lulus kuliah. Beberapa jejaka dan duda mendekatinya, tapi tak ada yang ia terima. Aku tak tahu alasannya. Yang kutahu, Mas Mono hilang sebelum keduanya menikah.
Seperti halnya pertanyaan warga desaku, aku pun bertanya apakah Mas Mono korban petrus? Lagi-lagi gelap. Yang kutahu, pemerintah mengakui bahwa petrus memang kebijakan pemerintah waktu itu. Keberatan masyarakat sipil dan dunia internasional tak digubris.
Pemerintah merasa kebijakannya efektif menumpas biang keresahan sosial dengan teror petrus. Tapi, bagi Mbak Ling, Mas Mono tetaplah hidup. Tak tergantikan. Ingatanku pun selalu hidup setiap melintasi jalan lurus beraspal itu.
Sambil mengunyah bakmi jowo, kutanya ibuku, sebenarnya bagaimana sosok Mas Mono kala ”wabah” petrus. Apakah sebangsa penjahat kejam begal jalanan sadis sehingga patut diculik dan dibunuh? Dimusnahkan?
”Ngertine ibu ya apik-apik wae. Ramah, supel. Grapyak-lah,” terang ibuku. ”Tapi, ya, enggak tahu kalau di luar desa.”
Di desaku, bayang-bayang Mas Mono adalah rumah besar yang kini kosong setelah orangtua dan keluarga besarnya pindah. Tentu juga Mbak Ling yang telaten mengurus keponakan dan rumah warisan orangtuanya.
Tangerang Selatan, Maret 2022.
Catatan: Sinder = pengawas kebun, di atas mandor Gemah ripah loh jinawi = subur makmur tenteram Dicemplungke = diceburkan, dijatuhkan ke air Grapyak = ramah, mudah bergaul.
Gesit Ariyanto, pekerja media yang tinggal di Tangerang Selatan.
sumber : kompas.id, 04 Agt 2022.