Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Maling oleh Sungeb Sangaji

Posted on Ming, 17 Mei 2009

“Ma… maling! Maling!”
Aku berteriak tertahan. Kerongkongan
terasa kelu. Dadaku berdegup
kencang. Aku melangkah patah-patah
mengikuti segerombolan orang yang
terus berteriak.
“Maling! Maling!”
“Telanjangin!”
“Hajar aja!”
“Bakar!”

Beberapa lelaki mencekal, memukul, menendang, dan menginjak lalu melemparkan tubuh lunglai si tertuduh maling. Beberapa yang lain menimpukkan bebatuan ke sekujur tubuh kerempeng pasrah itu. Mirip segerombolan anjing berebut tulang, mulut-mutut mereka terbuka menghirup-embuskan udara maam dengan buas. Jumlah mereka semakin banyak laki-laki, permepuan, tua dan muda, berkeluaran dari rumah-rumah yang berjejer rapi. Beberapa hanya menonton saja. Mulut mereka juga terbuka. Yang perempuan menutup mulut terbukanya dengan tangan.

Wajah si tertuduh maling berkilat-kilat karena darah segar memanulkan cahaya bulan yang sedang pumama. Di sebagian kepalanya menempel debu dan butir-butir kerikil. Beberapa gigi depannya copot dengan paksa. Ada yang patah lalu jatuh ke aspal dan hancur terinjak-injak. Memar biru di dadanya menandakan ada tulang iga yang telah patah. Di tubuhnya Mnggal menempel cawat kotor menghitam compang-camping. Pakaiannya teiah lepas tercabik-cabik. Lenguhan-lenguhan kecil dari mulutnya menunjukkan ia masih bemyawa, walaupun mungkin tinggal separuh.

Lelaki malang si tertuduh maling itu bemama Kemin. Kemin bin Rawin. Aku tahu orang ini, bahkan kenal baik.

***

Kemin adalah tetanggaku. Rumah kamu di perkampungan miskin yang letaknya agak jauh dari perumahan terawat ini. Aku dan Kemin sudah berkawan sejak kecil. Kami selalu duduk di sekolah yang sama. Sama-sama pemah tidak naik kelas saat SD. Tahun pertama di SMP, kami juga kompak tinggal kelas.

Untuk membiayai keperluan sekolah di SMP, kami mengasong barang apa saja yang laku dijual di terminal. Lontong tahu, kacang bawang, air mineral, dan lain-lain. Pekerjaan ini tidak membutuhkan modal uang. Mula-mula kami hanya memohon kepada Bu Par, tetangga kami pemilik kios di terminal, untuk mengasong barang dagangannya. Lama-kelamaan para pemilik barang dagangan lain di terminal dan sekitamya mengenal kami. Mereka juga bersedia menitipkan barang pada kami.

Akhirnya kami lulus SMP setelah mengulang ujian di tahun berikutnya. Kami Tidak melanjulkan ke SMA karena tak mampu. Kami capek sekolah dan tahu diri. Mencoba peruntungan, kami melamar bekerja menjadi buruh di beberapa pabrik di dekat kampung. Tetapi, belum pemah satu pun lamaran kami mendapatkan balasan. Mungkin karena tulisan di surat lamaran kami seperti cakar ayam, atau para pelamar lain, yang kebanyakan dari luar kota, jauh lebih pintar. Mereka berijazah SMA. Bahkan, katanya, ada juga yang lulusan universitas. Beberapa lama kemudian, baru kami menyadari bahwa kami melamar dengan cara yang salah. Untuk melamar menjadi buruh di pabrik-pabrik itu tak perlu tulisan bagus atau ijazah tinggi. Cukup menghubungi Pak Dul dari kampung sebelah, menitipkan lamaran, dan menyerahkan uang jaminan sekian juta. Setelah itu tinggal menunggu panggilan kerja. Mengetahui hal itu, kami menutup rapat-rapat keinginan bekerja di pabrik. Sekian juta dari mana?

Begitulah kami. Enam tahun tetap berstatus pedagang asongan. Tak pernah berpikiran pindah profesi lain. Menjadi centeng terminal, misalnya. Padahal, penghasilan centeng terminal lebih banyak dari penghasilan pengasong. Tubuh kami yang kecil, kurus, dan lemah tidak memungkinkan untuk itu. Dengar-dengar, jadi centeng juga harus punya jimat yang didapat dari tempat-tempat jauh. Sedangkan kami tidak memiliki uang untuk pergi-perrgi jauh. Bagi kami lebih aman menjadi pengasong saja.

Di terminal ini. Kemin jatuh cinta pada Nur, sesama pengasong sebaya kami. Lalu mereka pacaran. Sebenamya, aku juga naksir Nur. Tapi aku terima saja saat akhirnya Nur menjatuhkan cintanya untuk Kemin. Wajah Kemin lebih lumayan dibanding wajahku, walaupun secara umum, kami sama-sama jelek. Wajah Nur juga tidak cantik.

Kurang dari setahun pacaran, saat sebuah Yayasan mengadakan program pernikahan massal lengkap dengan bantuan maskawin, mereka sepakat menikah. Kemin dan Nur tenlihat sangat bahagia. Aku pun merasa bahagia. Aku menyumbangkan seluruh uang hasil kerjaku selama sebuIan untuk mereka. Saat itu, sempat terbersit di dalam pikiranku, kedekatanku dengan Kemin akan berkurang. Apalagi, Kemin tinggal bersama orangtua Nur di kampung sebelah terminal.

Ternyata kekhawatiranku tidak terjadi. Kami berdua tetap dekat. Bahkan, aku sering menumpang istirahat di rumah mertua Kemin. Kami juga mempunyal bahan obrolan baru, yaltu pengalaman berumah tangga Kemin. Pengalaman yang tak tahu kapan bisa aku alami sendiri.

Kehadiran Nur sebagal istri Kemin membawa peshabatan kami menjadi lebih berwarna. Kadang-kadang Nur bertanya kepadaku tentang perempuan-perempuan yang naksir Kemin. Walaupun Kemin pernah bercerita bahwa Milah si penjual jeruk naksir padanya, aku tutup mulut saja, demi membuat hati Nur tenang. Aku berpikir, jika mereka ribut, aku juga yang repot.

Tiga bulan kemudian, Nur hamil. Wajah Nur terlihat lebih berseri. Wajah Kemin? Awalnya terlihat bahagia. Tetapi seiring berjalannya bulan, wajah itu menjadi berubah-uhah. Kadang bahagia, kadang murung. Tentu ia bahagia menjelang kedatangan sang buah hati. Pada saat yang sama, kami merasakan bekerja mengasong di terminal semakin berat. Jumlah pengasong bertambah banyak. Bahkan, yang berbadan kuat pun nimbrung menjadi pengasohg. Kami sering kalah berebut untuk masuk bus. Pendapatan kami menurun. Mungkin ini yang membuat Kemin murung.

Kemin pernah berkeluh-kesah tentang biaya melahirkan anak yang sangat mahal. Ia bertekad untuk bekerja lebih keras mengumpulkan uang banyak Aku termangu-mangu mendengar ceritanya saat itu. Bagaimana caranyu Kemin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu? Penghasilan jadi pengasong hanya cukup menutup kebutuhan satu-dua hari saja? Aku mungkin bisa membantunya. Tetapi berapa banyak uangku? Utang? Bukannya itu malah menambah masalah? Orangtua mereka? Ahhh… lupakan saja.

***

Dua han yang lalu, saat aku istirahat di rumah mertua Kemin, Kemin mengutarakan sebuah rencana. Dia hendak mencuri barang elektronik di sebuah rumah di kompleks perumahan. Barang elektronik bagus, walaupun curian, bisa dijual lagi dengan harga yang tinggi. Ujang tetangga Kemin yang suka mencuri pemah memberitahukan padanya bahwa perumahan ini keamanannya lemah. Petugas satpamnya sudah tua dan sering bolos sakit. Kemin juga bercerita bahwa ayah mertuanya mendukung rencana ini. Nur dan ibu mertuanya tidak diberitahu. Kemin memintaku untuk tutup mulut dan membantunya. Aku tak kuasa menolak.

Kemarin saat istirahat slang, kami mencoba mengamati kompleks perumahan ini. Meski sebelumnya kami sudah beberapa kali ke sini, tetapi kemarin tempat ini terasa lebih asing. Aku disergap rasa waswas dan takut. Aku merasa semua orang sedang mencurigai gerak-gerik kami. Aku tidak mampu berpikir untuk membuat strategi. Aku hanya pasrah kepada Kemin, apa yang akan kami lakukan malam ini.

Ternyata Kemin sudah mempunyai rencina yang menurutnya matang. Mungkin Ujang telah memberi masukan kepadanya. Ia sudah menentukan rumah mana yang akan dimasuki, jalur untuk menyusup dan melarikan diri dan apa tugasku. Tugasku adalah berjaga-jaga di dekat tiang listrik yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah sasaran. Di bawah tiang listrik ada semak yang lumayan tinggi sehingga sepintas orang tidak akan melihatku. Aku diminta memberikan kode dengan memukulkan batu pada tang listrik. Jangan terlalu keras yang penting kedengaran. Satu kali tanda aman. Dua kali tanda bahaya.

Sejam yang lalu, aku berdiri tegang dekat tiang listrik itu. Mataku membelalak mengamati Kemin berjalan di keremangan mendekati rumah sasaran. Keringat dingin menggigit tengkukku yang kurus. Tangan terasa kesemutan mencengkeram sebongkah batu yang kulekatkan ke dada. Sesaat kemudian, Kemin menaiki sebuah pohon untuk masuk melalui pagar belakang rumah. Ia telah hilang dari pandangan. Aku tak tahu apa yang sedang dikerjakannya. Tugasku sekareng menghitung kira-kira lima menit setelah Kemin berjalan, lalu memukulkan batu sebagai tanda aman atau sebaliknva. Mataku jelalatan mengamati keadaan sekitar. Aku rasa sudah lima menit.

“Aman!” aku mendesah.
Batu dingin menggigit telapak tangan berpeluh. Bergetar lengan saat kutarik menjauhi tiang. Aku merasa sangat sulit mengontrol gerakan ini. Aku empaskan saja tanganku.
“Tang!”
Mendengung.
Sesaat kemudian….
“Maaaaaaaaliiiiing, maaaaliiiiing!”
Aku terkesiap. Teriakan itu datang dan rumah sasaran. Terus mengumandang. Dadaku herdegup lebih kencang lagi. Napasku semakin memburu. Aku merangsek keluar dari semak kudengar ayunan langkah kaki di belakangku.
“Bukk!” orang menepuk pundakku.
“Mana malingnya, Bang?”
“Di sana”
“Maaaaaaaaliiiiing, maaaaliiiiing!”

***

Aku tidak tahu, di langit bulan tengah meronta atau tertawa. Orang-orang masih berpesta menggelandang Kemin. Mulut-mulut itu masih terbuka. Napas-napas terus mendengus kencang. Seolah ada alunan gaib yang membuat mereka bergerak seirama, ditimpali histeria yang memecah kebekuan malam.
Aku menari mengikuti atunan itu dengan perasaan menrintih.
Kulihat di kejauhan polisi-polisi berjalan pelan.

Jogja, 1999

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme