Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Di Bangku Taman oleh Agus Dwi Putra

Posted on Ming, 28 Jun 2009

 

Taman ini tidak pernah berubah. Daun ketapang yang berserakan di sepanjang trotoar, burung gereja yang terbang menyongsong pagi, sapaan hangat pengunjung pada saat bertemu pandang, masih sama seperti yang pernah kurekam di dalam ingatan.

Aku duduk di bangku kayu lalu merogoh tisu di dalam saku. Ada remah-remah roti yang sengaja kubawa dari hotel untuk kusebarkan di dekat kaki, seperti yang biasa dilakukan Leila dahulu. Lalu kudengarkan sorak gadis itu di dalam kenangan ketika jalak dan merpati satu per satu hinggap ke atas tanah mencucuki remah-remah di antara kaki mungilnya.

Mungkin semalam hujan. Bangku yang kududuki agak lembab sehingga warnanya menjadi semakin gelap. Saat bersandar, aku merasakan titik-titik air di sekitar punggung, yang meresap melalui kaus coklat yang kukenakan. Kepalaku terasa pening. Sejak pesawat tinggal landas, mataku memang tak bisa terpejam.

”Kau harus datang, kau mengerti, Ron?” kata Leila lewat e-mail tempo hari, menutup kabar pernikahannya yang seketika membuat pikiranku tak karuan.

Beberapa pengunjung taman yang melintas di hadapanku melemparkan senyum. Seorang lelaki paruh baya terengah-engah hingga bahunya turun naik dengan cepat. Ia lalu duduk di sampingku.

”Apa kabar?” sapanya sambil mengelap keringat di wajah dan tengkuk lehernya.

”Tidak begitu baik,” kataku, namun tetap berusaha menyembunyikan perasaanku.

Ia terkesiap. Kemudian mengalihkan pandangannya dari wajahku. ”Tentu, cuaca tidak terlalu bagus belakangan ini ya?”

”Bukan, bukan itu. Kekasihku akan menikah.”

Kata-kata itu meluncur saja dari lidahku.

”Benarkah? Ia berkhianat?”

”Tidak, tidak seperti itu.”

Entah mengapa, aku merasa perlu menjelaskan sesuatu kepada lelaki yang baru kukenal itu. Leila tidak pernah mengkhianatiku, kataku sedikit tersinggung. Ia hanya terjebak oleh keadaan, tapi tetap mencintaiku. Maksudku, ibunya menginginkannya menerima pria lain yang datang melamar, sementara aku masih tak dapat memberinya kepastian-kepastian. Kami merentang jarak begitu jauh sehingga timbul keraguan di pihak keluarganya.

Tapi memang sama saja. Semua orang bisa menganggap Leila berkhianat, sedangkan aku tetap bertahan dengan penilaianku sendiri.

Lelaki itu beranjak meninggalkanku. Kulihat seorang wanita tua melambaikan tangan ke arahnya. Aku bergumul lagi dengan kenangan sambil membayangkan Leila di sana, melambaikan tangannya pula seperti wanita itu.

***

Mataku perih sekali. Seperti ada pasir yang bergesekan di antara kelopak dan bola mata. Meskipun sudah lelah, aku tetap tak bisa memaksanya terpejam.

Akhirnya kuputuskan pergi ke luar. Kupakai sweater ungu hadiah dari Leila pada ulang tahunku yang lalu. Ia bangga menuliskan pada secarik kertas yang diselipkan di antara lipatannya, ”Beli di Tanah Abang. Dikirim buat Abang di negeri seberang. Leila.” Dadaku berdesir mengingatnya. Bahan sweater ini tebal. Cukup hangat untuk dipakai ke luar asrama. Modelnya juga aku suka. Teman sekamarku yang sama berasal dari Indonesia berkelakar, ”Embargo, embargo Tanah Abang, ha-ha-ha-ha.”

Tadinya aku hendak kembali ke taman. Namun, kukira jalan menuju ke sana terlalu gelap. Lagi pula malam ini pasti banyak pasangan muda-mudi yang duduk-duduk di situ. Aku hanya akan terjebak dalam kenangan demi kenangan bersama Leila.

Kakiku, tanpa kepastian hendak berjalan ke mana, terasa kian lemah. Tapi aku tak ingin segera kembali ke hotel. Sekonyong- konyong, kuhentikan taksi pertama yang melintas. Aku duduk di depan. Tiba-tiba saja aku ingin diantarkan ke rumah Leila. Saat kami meninggalkan jalan besar aku tersadar, malam sudah begitu larut.

Sepi sekali. Pohon-pohon di sisi jalan membentuk bayangan seram. Sedikit saja cahaya bulan yang jatuh lewat celah-celah dahannya. Suara operator taksi di pangkalan sesekali menyembul keluar lewat radio pemanggil. Seakan-akan hendak mempertegas suasana malam.

Kaca mobil kuturunkan dan angin berembus lembut di keningku. Kamar Leila, yang berada di lantai dua dan langsung menghadap pagar, tampak masih terang. Tirai jendela sudah ditutup. Suara handphone mengagetkan aku.

”Sudah landing? Atau tidak datang? Kau jahat!” Pengirimnya Leila. Belum sempat kubalas, masuk satu pesan lagi. ”Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya. Jemput aku pagi-pagi sekali, Ron! Aku tahu kau akan datang. Kau akan membawaku pergi, kan?”

Dadaku berdeburan rindu. Aku tak tahu bagaimana harus mengatasi diriku. Kucoba memejamkan mata hingga kedua kelopaknya mengerut sambil memerintahkan si sopir untuk membawaku kembali ke hotel.

Rupanya aku tertidur sepanjang perjalanan pulang. Sopir membangunkanku ketika taksi sampai di depan hotel.

Saat itu kusadari, sosok yang sejak tadi duduk di sampingku adalah seorang perempuan.

***

Namanya Dina. Ia bukan wanita yang ramah. Namun, jika kau memerhatikan caranya duduk selama menungguku di lobi hotel, kau akan terkesima. Dina lebih anggun dari siapa pun yang pernah kukenal, kecuali Leila tentunya.

Aku terlambat menemui Dina karena terlampau lelap tertidur. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ia menampakkan mimik geram dan aku segera meminta maaf. Lagi pula aku heran, bagaimana ia bisa datang tepat waktu, padahal semalam masih membawa taksi. Tapi aku tak mau menyinggung masalah itu. Aku cukup memerhatikan matanya yang merah untuk mengerti bahwa Dina, selain anggun dan tidak ramah, adalah tipikal orang yang menepati janji.

Aku mengajaknya sarapan di luar. Ya, kau benar, aku mengajaknya ke taman itu. ”Leila senang bila kuajak makan bubur di sini,” kataku membuka pembicaraan. Dina tak menanggapi sepatah kata pun dan kami berdiam sampai bubur yang kami pesan dicicipinya.

”Rasanya biasa,” ujarnya heran.

”Tidak, bukan soal rasa.”

Aku sengaja berhenti di situ untuk memerhatikan responsnya.

”Leila senang memerhatikan penjualnya,” lanjutku. ”Coba tengok!”

Kutuntun matanya ke arah pasangan tua itu. Dari tempat duduk, kami, setidaknya aku, merasakan hangatnya cinta mereka berdua. Sementara si kakek melayani pembeli, istrinya membersihkan piring, gelas, dan sendok. Sesekali ia menyeka keringat di kening istrinya dengan ibu jarinya, lalu keduanya saling tersenyum.

Dina berdiam diri untuk memberiku kesempatan berbicara.

Kami tumbuh di keluarga yang tidak sempurna, kataku mulai bercerita. Ibuku bukan wanita yang baik. Ia pergi dari rumah demi memilih kesenangan yang dijanjikan pria kaya yang ditemuinya dalam suatu perjalanan. Ayah Leila pun demikian, jatuh ke pelukan perempuan tidak terhormat yang sejak itu menghunjamkan kecemasan di lubuk hatinya. Kami menemukan sebagian diri kami satu sama lain. Sejak menyadarinya, aku merasa ia adalah perempuan yang dapat kupercaya. Demikian pula, barangkali ia merasa nyaman untuk memercayaiku sebagai kekasihnya.

Dina memerhatikan penjual bubur itu lagi. Entah apa yang ia pikirkan ketika kukatakan kepadanya: aku dan Leila senantiasa mendapati bayangan diri kami muncul pada siluet pasangan tua itu.

Sebagian hari itu kami habiskan untuk berbelanja. Aku membelikannya pakaian untuk ia kenakan pada resepsi pernikahan malam harinya. Aku, yang merasa akan kesulitan mengendalikan sikap bila bertemu Leila, membayar Dina untuk pertolongan ini.

Sampai saat itu, aku belum menjawab SMS dari Leila, yang memintaku untuk membawa pergi dirinya. Beberapa telepon darinya juga tidak kuangkat. Atas saran Dina, kuurungkan pula niat untuk menghubunginya sebelum berangkat meski sekadar mengucapkan semacam perkataan, ”Aku akan datang.”

Ya, akhirnya kami datang juga ’kan? Dari pintu masuk kulihat kau berdiri di samping Leila. Menyalami undangan yang datang seraya mengembangkan senyum yang santun. Pakaian kalian bagus sekali. Kau pandai memilihkan Leila gaun pengantin yang baik.

”Selamat ya, Mas,” kata Dina kepadamu setelah memerhatikanku kesulitan mengucapkan sepatah kata pun.

Sebelum meninggalkan pesta, sempat kusaksikan kau merangkul Leila yang berlinang air mata. Tapi kau pun tak perlu cemas. Aku tumbuh di keluarga tak sempurna yang telah jauh-jauh hari mengajarkan sesuatu kepadaku. Aku takkan mengganggumu.

***

Sesuatu telah menuntunku kembali ke taman ini. Aku duduk di bangku seorang diri sambil merogoh tisu di dalam saku. Ada remah makanan yang sengaja kubawa dari acara resepsimu untuk kusebarkan lagi di dekat kakiku, seperti yang biasa dilakukan Leila dahulu. Lalu kudengarkan sorak gadis itu di dalam kenangan ketika burung-burung satu per satu hinggap ke atas tanah mencucuki remah-remah di antara kaki-kakiku. Kubayangkan juga ngilu di hatimu saat membaca kertas- kertas, yang kutinggalkan di bangku taman ini. Itu pula ngilu hatiku.

Jalak dan merpati setia menemaniku hingga pagi nanti sebelum pengunjung taman satu per satu berdatangan lagi dan salah seorang di antara mereka yang hendak duduk-duduk di bangku ini kemudian menjerit, ”Mayat! Ada mayat!”

Sudahkah tulisan ini sampai ke tanganmu?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme