Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ratu Kecantikan oleh Danthy Margareth

Posted on Ming, 29 Mei 2022

Aku melihatnya di diskotek dekat Alun-Alun Kota Bandung. Ia melenggak-lenggok di atas catwalk, di antara asap rokok dan goyangan dangdut koplo. Tangannya memainkan selendang bulu dengan gemulai. Sesekali ia menyibakkan rambut pirang yang menjuntai hingga ke pinggang. Wajahnya cantik sempurna. Tubuhnya dibalut gaun mini perak bertabur batu-batu mengilat. Malam itu mahkota ratu kecantikan seibu kota jatuh ke dalam genggamannya.

—

NAMANYA Rara, ratu kecantikan itu. Usianya dua puluh satu. Perkenalanku dengannya terjadi secara kebetulan. Aku ditugaskan kantor untuk meliput kontes kecantikan tersebut. Ini tugas pertamaku sebagai reporter pemula yang baru lulus kuliah.

Lewat tengah malam, perhelatan itu usai. Saat aku hendak meninggalkan diskotek itu, kulihat Rara berdiri di pinggir jalan sendirian dengan penampilannya yang mencolok mata. Tak berapa lama sebuah mobil patroli berhenti. Beberapa pria berseragam gelap turun menghampirinya. Tampak percekcokan kecil terjadi. Kuperhatikan orang-orang itu berupaya membawanya pergi.

Tergerak rasa kasihan, kuberanikan diri menolongnya. Kujelaskan diriku kepada petugas dan kukatakan bahwa ia bersamaku. Setelah perdebatan panjang, mereka setuju melepasnya. Kartu identitasku menjadi jaminannya.

”Terima kasih, Teteh,” ujarnya dengan suara berat namun lembut.

”Panggil saja aku Dian.” Kuulurkan tangan memperkenalkan diri.

”Rara.” Ia menjabat tanganku.

”Sedang apa di pinggir jalan? Kok, belum pulang?” tanyaku heran.

”Aku ditinggal teman-teman. Sekarang aku bingung pulang naik apa,” jawabnya sedih.

Aku merasa iba. Kutawarkan tumpangan dan ia menyambutnya. Rara tinggal di kontrakan kecil di gang sempit belakang stasiun kereta. Aku cukup kaget saat tahu ia mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka. Tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, kusodorkan kartu namaku saat ia turun dari jip tuaku.

”Aku tinggal di seberang kampusmu. Mampirlah, nanti kutraktir makan siang.”

”Terima kasih,” katanya sambil tersenyum, lalu berjalan ditelan kegelapan malam.

***

Aku mengerutkan kening saat menemuinya di ruang tamu siang itu. Kucoba menerka-nerka siapa pemuda berambut pendek dengan tubuh tinggi kurus dan berkulit putih di hadapanku. Wajahnya tampan dihiasi kacamata. Sebuah tahi lalat bertengger di ujung dagunya. Kedua tangannya memeluk setumpuk buku.

”Ini aku, Rara,” suara beratnya yang lembut membangunkan ingatanku.

Kuperhatikan penampilannya. Kaus putih, celana belel, ransel hitam, dan sneakers merah.

”Jadi, inikah wujud asli Cinderella semalam?” tanyaku takjub.

”Kalau siang namaku Rama. Pangling, ya?”

”Pasti banyak gadis di kampusmu yang naksir,” godaku.

Tawanya pecah. ”Masak naksir sesama gadis? Hahaha!”

Aku ikut terkekeh mendengar candanya.

”Ngomong-ngomong, aku lapar,” katanya lagi tanpa basa-basi sambil menepuk perutnya.

Aku tersenyum. ”Kebetulan aku juga hendak cari makan. Ayolah!” Lalu kuajak ia makan siang di restoran Padang terdekat.

Kami menikmati gulai tunjang dan berbincang-bincang seolah kami adalah teman akrab. Aku pun heran mengapa suasana bisa terjalin hangat dengan cepat. Mungkin karena kami hampir sebaya dan ia sosok yang ramah. Kutanyakan kepadanya perihal keluarganya.

”Saudaraku satu, laki-laki. Ia bekerja di Jakarta. Sementara bapak dan ibu kelola warung nasi di Jawa,” cerita Rara.

”Apakah mereka tahu tentang kau yang…anu…” Tak kulanjutkan kalimatku karena merasa tak enak.

”Cukuplah mereka tahu aku rajin kuliah. Sisanya biar jadi rahasia. Yang penting aku tak minta-minta uang.”

”Lalu, dari mana kau dapat uang untuk makan dan kuliah?” tanyaku heran.

”Ikutlah denganku nanti malam. Kau akan tahu sendiri,” ajaknya.

***

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat kami tiba di sebuah kawasan di jantung ibu kota. Tempat itu telah melegenda dengan cerita-cerita nakalnya. Aku belum pernah menginjakkan kaki di sana. Aku hanya tahu lokasi itu menjadi pusat penyaluran hawa nafsu lelaki hidung belang, yang mencari kepuasan dengan orientasi berbeda.

Kuhentikan jipku di dekat warung kopi remang-remang di pinggir jalan. Rara bilang, di warung itulah ia biasa mangkal. Diajaknya aku turun dan mengenalkanku kepada teman-temannya. Mereka berdandan seperti Rara. Namun di antara semua, Rara paling menawan rupanya.

Rara memakai rok mini merah dan blus hitam menerawang yang memamerkan sepasang titik kembar di dadanya. Rambutnya ditutupi wig model bob pendek warna cokelat. Wajahnya dirias sedemikian rupa bak seorang wanita. Tak tersisa sedikit pun jejak ketampanannya.

Sebuah sedan mewah warna hitam berhenti di depan warung. Rara berjalan mendekatinya dengan anggun. Kaca jendela diturunkan. Aku tak dapat melihat rupa pengemudinya karena terhalang tubuh Rara. Kuperhatikan Rara berbisik-bisik. Sesekali ia tertawa genit dan mesra. Tak berapa lama mobil itu pergi. Rara menghampiriku kembali.

”Itu pelangganku. Dia mengajakku main nanti setelah ia selesai dari diskotek. Orangnya masih muda dan gagah, lho!” ujarnya bangga.

”Tapi mengapa kau melakukannya? Apakah demi uang?” tanyaku penasaran.

Ia tersenyum. ”Tak selalu uang. Di sini aku dicintai, seperti yang dilakukan pemuda tadi.”

”Cinta? Maksudmu…” belum selesai pertanyaanku tiba-tiba sebuah teriakan memotongnya.

”Razia!”

Kulihat seseorang berlari menuju ke arah kami. Tangannya mengangkat rok dan menenteng sepatu hak tinggi. Ia berseru, ”Cepat lari!”

Situasi menjadi kacau. Aku bergegas ke mobil. Rara mengikutiku bersama teman-temannya. Mereka berebutan masuk dan duduk bertumpuk-tumpuk di jok belakang.

”Ayo, cepat. Nanti kita tertangkap!” desak Rara.

Tanganku bergetar memasukkan kunci mobil. Beberapa kali aku menjatuhkannya sebelum berhasil menyalakan mesin. Dari kaca spion tampak mobil petugas mendekat ke arah kami.

Kuinjak gas dalam-dalam hingga ban mobil menjerit di atas aspal. Kupacu jip tuaku macam kesetanan. Teman-teman Rara ketakutan. Mereka menyebut nama-nama kelamin dan binatang.

Dalam hati aku berdoa agar lolos dari kejaran petugas. Tak berapa lama kulihat mobil patroli tertinggal di belakang dan semakin hilang dari pandangan. Aku pun bernapas lega. Kuseka keringatku dengan lengan baju. Rara tergelak melihatku. Ditepuknya bahuku dan berujar,

”Selamat datang di dunia Rara, hahaha!”

***

Matahari merayap lamban di langit Kota Kembang saat aku mewawancarai Rara di sebuah kedai kopi yang berdiri di trotoar jalan. Kedai itu bertetangga dengan kampusnya sehingga dipenuhi mahasiswa. Rara menikmati segelas kapucino dingin sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk bahan tulisanku. Sesekali ia menyelipkan gurauan dan aku tertawa.

”Kau punya sahabat?” tanyaku.

Raut wajahnya berubah serius. Ia menatapku. Jari telunjuknya memainkan permukaan gelas kaca yang basah. ”Kau,” jawabnya pendek, lalu mengalihkan pandangan ke jalan. Aku tertegun mendengar jawaban itu. Tak kulanjutkan pertanyaanku. Untuk sesaat kami berdua membisu.

Hingga tiba-tiba, kami dikejutkan oleh bebatuan kerikil yang melayang dan mendarat di atas meja. Sontak aku melompat dan memandang ke sekeliling, mencari asal usul batu-batu itu. Di seberang jalan, tiga pemuda sedang tertawa-tawa sambil terus melempari kami dengan batu.

Salah satu di antara mereka mengacungkan jari tengahnya dan berteriak, ”Mampus!” Pemuda itu lalu masuk ke dalam sedan mewah warna hitam yang terparkir di dekatnya. Aku hendak mengejarnya, namun Rara mencegahku.

”Biarkan saja.”

”Kau kenal mereka?”

”Namanya Jaki, teman kampusku. Dia sering mengusikku.”

”Tapi mengapa?”

”Menurutnya aku sakit.”

”Sakit? Karena kau suka berdandan?”

”Ia tak tahu saat aku berdandan.”

”Lalu apa alasannya?”

”Karena aku menyukainya dan ia merasa jijik.”

”Apa?” Aku tercengang.

”Sudahlah. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya. Ayo, kita pergi saja,” ajaknya tanpa memedulikan rasa ingin tahuku. Ditariknya lenganku untuk beranjak meninggalkan tempat itu.

***

Siang itu aku disibukkan dengan urusan deadline tulisan. Namun bunyi ketukan terus-menerus di pintu kamar telah mengacaukan isi kepalaku yang sedang berusaha mengimbangi kecepatan jari-jariku di atas keyboard komputer. Ketukan itu semakin nyaring, bersahut-sahutan dengan suara berat yang memanggil namaku. Aku tak asing lagi dengan pemilik suara itu.

Di muka pintu, kudapati Rara berdiri sambil mendekap buku-buku. Ia terlihat kacau. Rambutnya bak gumpalan benang kusut. Matanya sembap, membengkak, dan dilingkari warna ungu kehitam-hitaman sehingga terlihat gelap. Sementara pelipisnya meneteskan cairan merah.

”Apa yang terjadi padamu?” tanyaku dengan panik.

Kutuntun Rara masuk ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur. Kubongkar kotak obat, lalu buru-buru ke dapur. Aku mengeluarkan es batu dari kulkas dan membungkusnya dengan kain. Dengan hati-hati, kuletakkan di atas permukaan matanya yang lebam. Ia merintih.

”Tahanlah sedikit,” kataku. ”Kau belum menjawabku tadi. Apa yang terjadi?” tanyaku kembali sambil membersihkan darah di pelipisnya.

”Dia menghajarku di kampus gara-gara aku kencing di toilet laki-laki. Katanya tempatku bukan bercampur dengan orang normal seperti dia.”

”Dia?” Kukerutkan kening dan memandangi Rara. Seolah dapat membaca pikirannya, aku pun menebaknya. ”Aku paham. Dia lagi, bukan?” Rara tak menjawab.

”Ini sudah keterlaluan. Akan kulaporkan dia,” ujarku geram.

”Jangan!” Mata Rara mulai berkaca-kaca.

”Mengapa engkau terus membiarkannya? Dia membencimu!” Aku sangat gemas.

Air matanya berlinang. ”Tidak. Kami saling mencintai. Dia hanya belum menyadari.”

Mataku membesar, tak percaya mendengar ucapannya. ”Apa kau sudah gila?”

”Kau takkan mengerti. Tolonglah, jangan dipermasalahkan lagi. Akan kuselesaikan sendiri,” pintanya memelas. Tangisnya semakin keras.

Aku menarik napas dalam-dalam sambil menatapnya tajam. Ia menundukkan kepala, sementara hatiku terus dipenuhi tanda tanya.

***

Warung remang-remang tempat Rara mangkal tampak sepi sewaktu kami tiba tengah malam itu. Tak tampak satu pun batang hidung teman-temannya. Rara bilang, jika sudah larut malam mereka sedang melayani para pelanggannya.

Kupesan bandrek, lalu duduk di sudut warung yang gelap dan membelakangi jalan. Aku tak ingin terlihat orang-orang karena sebenarnya aku risi berada di tempat itu. Saat aku sedang menyeruput minuman, sebuah sedan mewah warna hitam menepi.

”Pelangganku yang tempo hari datang lagi,” bisik Rara di telingaku. Ia membetulkan penampilannya. ”Bagaimana rupaku? Sudah tak kelihatan lagi kan memarnya?” Ia bertanya sambil menunjuk matanya.

Kuacungkan jempol seraya menjawab, ”Kau sempurna seperti biasanya.”

Rara tersenyum manis, lalu mendekati mobil hitam itu. Kaca mobil yang gelap diturunkan. Keduanya tampak terlibat percakapan. Sejenak kemudian Rara menemuiku dengan tergesa-gesa.

”Aku harus pergi, ada yang harus kuselesaikan dengannya. Kebetulan ia mengajakku short time,” katanya.

”Tapi…” Rara tak mengindahkan perkataanku. Ia pun berlalu bersama mobil itu.

***

Subuh itu aku terbangun oleh dering telepon. Aku meloncat dari tempat tidur dan bergegas pergi ke rumah sakit saat mendengar kabarnya. Setibanya di sana, seorang petugas mengarahkanku ke sebuah ruangan tempat ia dibaringkan.

Aku masuk ke dalam ruangan. Namun tak kutemukan sosok tinggi kurus yang berkacamata itu. Yang kutemukan sepasang kaki terbujur kaku dengan kuku-kuku yang mulai membiru.

Jantungku berdegup kencang saat tanganku menarik kain putih penutup tubuhnya. Betapa terperanjat aku saat menyaksikan keadaannya. Tak kukenali lagi wajah yang selalu tertawa itu karena penuh dengan luka. Hanya tahi lalat di ujung dagu itu yang kukenal sebagai ciri khasnya.

Kukuatkan hati agar tetap sadar di samping jasadnya, namun kedua lututku goyah dan tak mampu lagi berdiri. Bayang-bayang wajah yang rusak itu terus menari-nari. Di atas lantai rumah sakit yang dingin aku pun terkulai. Aku teringat perkataan petugas tadi.

”Dia dihabisi pelanggannya setelah mereka berkencan di dalam sedan mewah warna hitam. Pelanggannya itu menjadi gelap mata saat tahu siapa orang yang dikencaninya selama ini. Namanya Jaki.”

Dalam kenangan

Bandung, 2001

—

DANTHY MARGARETH : Merupakan praktisi komunikasi dan alumnus Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

sumber  : JAWAPOS, Minggu, 29 Mei 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme