Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pieter Akan Mati Hari Ini oleh Denny Prabowo

Posted on Ming, 14 Jun 2009

 

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia1, aku tahu, hidup Pieter tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke tiap penjuru Jacatraweg.

De Malcontent2 memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh seorang budak kepada istri Reijkert Heere.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter. Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan, usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan. Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek, dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis3. Aku hanya bisa memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta. Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?

Sejarah memang harus dituliskan.

***

Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden. Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.

”Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?” kata Pieter memeram bara, ”mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana kita dilahirkan?”

Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga Erberveld.

”Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige4 di Het College van Heemraden?” tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.

”Benar, Raden!” ujar Pieter, “mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi.”

”Hmm… tiga ribu tiga ratus ikat padi?” gumam Ateng Kartadriya, ”mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?”

Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya… untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?

Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.

***

Sejak usaha leerlooierij5 Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung Peca’ Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu, Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College van Heemraden.

Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu. Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang Selam6.

Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui kesalahannya. Landdrost7 selalu memiliki cara untuk membuat orang mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.

Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.

Dan sejarah memang harus dituliskan.

***

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.

”Selamat siang, Tuan!” sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap keluar jendela kantornya.

”Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?” tanya Henricus Zwaardecroon tanpa menoleh.

”Saya ada membawa kabar, Tuan!”

”Kabar baik?”

”Tentu, Tuan!” kata Reikert, ”kami sudah menemukan biang keladi kekacauan selama ini.”

Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, ”Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?”

”Benar, Tuan,” ujarnya, ”Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?”

”Mandor di leerlooierij milik Pieter?”

”Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini beredar di masyarakat.”

”Jadi, dia pelakunya?”

Reijkert tersenyum, ”Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?”

”Pieter?”

”Benar, Tuan!”

Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, ”Kau tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?”

Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama kematian.

***

Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi. Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu, hidup suaminya tak akan lama lagi.

Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang pengacara pun mendampingi mereka.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni. Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya.

Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.

Sejarah memang harus dituliskan, bukan?

***

Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak mau membuka suara.

”Potong habis rambutnya!” perintah Reijkert, ”kita lihat, apakah ia masih sanggup tutup mulut!”

”Baik, Meneer!”

Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga tak sehelai pun tersisa di kepalanya.

Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya. Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.

”Masukan dia ke dalam sel!” perintah Reijkert, ”seret yang lainnya!”

Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.

”Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!” bujuk Reijkert.

”Fuih!” Layeek meludahi wajah Reijkert.

”Kurang ajar!” Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu langsung tumbang, ”Angkat dia!”

Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank8. Kedua tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.

”Baik… baik, Tuan… saya akan ceritakan!”

***

Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon, Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim surat kepada putra Surapati.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya di lapangan sebelah selatan kasteel.

Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.

Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld memang dikenal luas di Batavia.

”Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!” ujar seorang lelaki dengan destar merah melilit kepalanya, ”sebelum kompeni menyadari pelarian Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah milik Tuan di Sontar.”

”Kartadriya….”

”Kita tak mungkin membawanya serta.”

”Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?”

”Pergilah!” jawabku, ”aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu soneta ini.”

Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan ceritaku menghampiri, ”Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka itu Pieter Erbeveld?”

”Bukan!” kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, ”Pieter akan mati hari ini!”

Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku.

Depok, 09/11/2008

Catatan:

1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil Orang Betawi–Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8. Bangku penyiksa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme