Lelaki berjubah hitam itu berada di ruanganku begitu saja tanpa kuketahui dari mana dia masuk. Pintu kukunci dari dalam, jendela seluruhnya tertutup rapat. Ruanganku benar-benar gelap. Tidak ada satu pun cahaya kubiarkan masuk. Tetapi aku bisa melihat lelaki berjubah hitam itu, mungkin karena aku sudah terbiasa menatap dalam kegelapan. Lelaki berjubah hitam itu bergerak menuju meja kerjaku, melihat kertas-kertas yang berserakan di sana. Dia mengambil satu lembar, melihatnya sejenak (rupanya dia juga bisa mengatasi kegelapan), dan, setelah menatap kertas itu untuk beberapa saat, dia meletakkannya lagi di atas meja.
Aku masih berbaring di ranjangku, tidak bergerak sedikit pun, tetapi mataku terus tertuju kepadanya. Sebenarnya, aku sedikit ketakutan. Aku sempat berpikir bahwa lelaki berjubah hitam itu adalah malaikat maut. Dia pasti datang untuk menjemputku. Aku sudah siap sejak lama untuk menghadapi kematian. Aku sudah tidak memiliki apa pun, tidak begitu menyakitkan ketika harus pergi sekarang. Tetapi begitu melihat sosok seperti itu, kesiapanku yang dulu sekokoh benteng termasyhur di dunia hancur begitu saja.
Lelaki itu mendekatiku. Bulu kudukku berdiri, tubuhku mengejang, dan aku hampir lupa untuk menghirup udara. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku bisa melihatnya samar-samar. Wajahnya, bagaimana menyebutnya, tidak memiliki daya kehidupan sama sekali. Rambutnya pendek dan bagian depannya naik. Dia juga bercambang. Pendek kata, dia mengingatkanku pada foto Elvis Presley yang pernah kujumpai di internet.
”Aku bisa membantumu,” katanya. Napasnya dingin.
Aku diam. Bukan lagi karena takut, ketakutanku sudah hilang begitu saja ketika mendengar suaranya yang terdengar seperti orang tua bijak. Aku hanya sedang menerka-nerka maksudnya. ”Apa yang bisa dia bantu?” tanyaku dalam hati.
”Siapa kau?” Akhirnya pertanyaan itu yang meluncur dari lidahku.
”Dulu namaku Mephisto. Namun, kau boleh memanggilku apa saja sesukamu setelah kita membuat kontrak. Maksudku, nama itu sudah kuno. Aku ingin dipanggil dengan nama lain.”
”Kontrak?”
”Perjanjian di antara dua orang atau lebih, secara resmi. Tapi kita tidak perlu repot-repot membeli meterai. Mungkin, sekarang toko-toko sudah kehabisan meterai karena banyak yang memborongnya untuk membuat surat kuasa palsu guna mencarikan dana bantuan sosial.”
”Apa yang kautawarkan?”
”Terserah padamu. Apa yang kauinginkan? Tapi, melihat kertas-kertas di meja tadi, kurasa kau ingin menjadi seorang sehebat Goethe atau minimal seperti Scott Fitzgerald.”
Aku mulai mengerti maksudnya. Astaga, apa ini mimpi? Mustahil ada hal semacam ini di dunia nyata. Aku pernah melihat sebuah film tentang seorang lelaki yang membuat kontrak dengan seorang misterius sehingga dia menjadi hantu pengendara dengan kepala terbakar. Apa aku akan menjadi seperti itu juga?
”Apa yang harus kuserahkan kepadamu sebagai gantinya? Jiwaku?”
”Itu sudah ketinggalan zaman. Siapa peduli soal jiwa hari ini? Aku ingin wujud, sebuah kehidupan. Tubuh yang kugunakan ini sudah usang. Aku mendapatkannya seabad yang lalu. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kau mestinya tahu tentang hal sederhana seperti itu. Jadi, aku hanya ingin memiliki tubuh baru untuk membantuku agar tetap hidup. Kautahu maksudku, kan?”
”Hidupku mungkin tidak akan lama lagi. Hidupku tidak bisa dikatakan sebagai hidup yang sehat. Aku mengurung diriku di kamar ini terlalu lama. Keluar hanya untuk menyetok makanan instan. Penyakit yang mengerikan sedang menggerogotiku. Aku yakin itu. Sesuatu yang berbahaya sedang berkembang biak di dalam diriku. Seperti bom waktu, ketika sudah mencapai waktu yang ditentukan, ia akan meledak. Kau masih ingin tubuhku?”
Lelaki berjubah hitam itu menggeleng beberapa kali. ”Aku tidak perlu mengkhawatirkan itu. Separah apa pun kondisi fisikmu, itu tidak akan berpengaruh kepadaku. Begini, tubuh yang akan kauberikan kepadaku hanya akan berfungsi seperti pakaian yang kaupakai. Hanya seperti wadah. Aku akan tetap baik-baik saja. Hanya saja, suatu saat, tubuh itu akan hancur. Seperti pakaian yang robek dan tidak bisa diperbaiki lagi sehingga tidak bisa dipakai lagi. Bahkan, jika kau membawanya ke tukang jahit, tukang jahit itu akan menggelengkan kepala dan menyarankan agar beli baru daripada memperbaikinya. Setelah itu terjadi, aku akan membuang tubuhmu. Atau, kalau mau, kau bisa memintaku untuk menguburnya di sebuah permakaman atau membakarnya. Banyak orang yang melakukan hal itu juga, bukan? Setelah itu, aku tinggal mencari tubuh baru.”
”Lalu, apa yang akan terjadi kepadaku?”
”Sederhana, kau akan mendapatkan apa yang kauinginkan.”
Aku terdiam, coba untuk memikirkan tawarannya.
”Jadi,” desaknya, ”Apa kau setuju?”
”Ada yang belum kumengerti. Jika kau menggunakan tubuhku, apa yang terjadi padaku kemudian?”
Lelaki berjubah hitam itu menyeringai dalam kegelapan. Aku bisa memperhatikan gerak garis bibirnya yang datar menjadi sedikit melengkung. Dia kemudian mendekatiku lagi, ”Bisa kauputar lagu The Rolling Stones yang berjudul ’Sympathy For the Devil’?”
Aku meraih telepon genggamku. Membuka aplikasi layanan streaming musik, mengetikkan judul lagu tersebut. Ada banyak daftar yang muncul. Kupilih salah satu dan kutekan tombol putar. Lelaki berjubah hitam itu tersenyum lagi. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang kuputar sesuai permintaannya tadi.
”Lalu, bagaimana aku bisa mendapatkan ketenaran dalam dunia sastra?”
”Apa kau bodoh? Begitu kontrak ditandatangani, tubuhmu tidak akan langsung kuambil. Kau akan kubiarkan untuk berkarya dan di sana aku akan membantumu agar karyamu meledak di pasar. Minimal menjadi best seller. Sekarang label itu di atas segala-galanya, bukan? Jangan kaupikir aku tidak mengikuti perkembangan zaman. Tapi masa-masa itu tidak akan berlangsung lama. Dalam kurun waktu tertentu, kau masih bisa menikmati kemasyhuranmu. Setelah itu, aku akan datang untuk menagih kompensasinya. Tidak. Istilah datang tidak tepat digunakan. Aku akan selalu berada di sampingmu. Ke mana pun kau pergi, aku akan menyertaimu. Sebagai bayangan. Kau tidak perlu ragu. Setelah kau tiada, kau akan tetap dikenang sebagai seorang penulis yang hebat. Bukankah orang lebih bisa menghormati orang yang sudah mati?”
Aku melihat ke bawah, tetapi mustahil ada bayangan tanpa ada cahaya.
”Ketika aku meminta tubuhmu kelak, kau akan menjadi bayanganku. Itu harus terjadi karena aku sendiri tidak punya bayangan. Ini simbiosis mutualisme. Anak SD saja tahu hal ini.”
”Terserah kau saja.”
Lagi-lagi, aku bisa melihat caranya menyeringai.
***
Begitu bangun tidur, rasa sakit yang hebat menyerang kepalaku. Di saat yang bersamaan, telepon berdering. Aku mengangkatnya. Nomor tidak dikenal.
”Dengan Tuan F?” itu adalah suara seorang lelaki yang menyebalkan. Aku masih ingat ketika dia mencaci maki naskahku pada pertengahan bulan Juli lima tahun lalu. Aku terpuruk setelah mendapatkan caci maki itu.
”Benar. Ada apa?”
”Kami dari Penerbit Z. Kami hendak menginformasikan bahwa naskah Anda akan kami terbitkan. Saya yang menjadi editornya sungguh terpukau membaca cerita itu. Saya masih tidak percaya bahwa lima tahun yang lalu Anda pernah menyodori saya naskah yang sangat buruk sehingga saya harus berhenti membaca pada halaman pertama atau, jika saya putuskan untuk terus membaca, maka pinggul saya mungkin harus dirawat secara rutin di sebuah klinik. Maaf. Hanya bercanda. Yang jelas, naskah Anda yang berjudul Kematian Seorang Penulis Kecil akan kami terbitkan. Informasi lebih lanjut akan saya berikan dalam waktu dekat. Tunggu saja telepon atau surel dari saya.”
Telepon ditutup tanpa salam atau hal semacam itu. Aku tidak peduli. Aku bahkan belum begitu yakin dengan telepon tadi, kepalaku benar-benar pening.
Kurasa aku tadi mendapatkan mimpi aneh. Sulit mengingat mimpi ketika kau sudah melupakannya. Butuh sebuah pemantik yang berhubungan dengan mimpi itu jika kau ingin mengingatnya kembali. Sebenarnya, jika sudah seperti ini, biasanya orang tidak akan mengingat mimpinya lagi sampai kapan pun. Aku pernah mengalami hal semacam ini berkali-kali.
Aku menuju kamar mandi. Menyalakan lampu. Menghadap ke cermin. Syukurlah wajahku tidak berubah. Setelah mengalami malam yang aneh, aku sering memastikan wajahku, takut ada yang berubah, takut yang kulihat kemudian adalah bukan wajahku. Aku membuka celanaku, mengeluarkan zat sisa melalui benda yang tidak pernah kugunakan fungsi lainnya ini. Lalu aku mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah menyelesaikan ritual pagi itu, aku keluar dari kamar mandi. Mendekati jendela. Aku hendak membukanya, membiarkan cahaya masuk ke ruangan yang pengap ini. Tapi kupikir sebaiknya kubiarkan saja. Aku kembali duduk. Kepalaku masih sangat pening. Aku tidak ingin minum obat. Obat-obat itu, karena saking seringnya kukomsumsi, sudah tidak memiliki efek apa pun.
Kunyalakan lampu belajar. Kertas-kertas berserakan di meja. Tidak ada hasrat sedikit pun untuk membereskannya. Itu adalah naskah novel terbaruku. Berbicara tentang novel, mimpi tadi samar-samar mulai kuingat lagi: aku telah menjual tubuhku untuk sebuah kemasyhuran. Tapi, kurasa hal itu terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi. Barangkali secara perlahan aku telah mulai kehilangan kewarasan sehingga aku tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Apa ini efek samping dari penolakan-penolakan yang telah kuterima selama ini? Entahlah.
***
Baca juga:Haruskah Kami Potong Tangan Ibu?
Sebulan berikutnya, novelku terbit. Karya itu langsung meledak di pasaran. Aku tidak begitu merasa senang. Rasa-rasanya mimpiku malam itu benar-benar menjadi kenyataan. Aku telah mengingat seluruh mimpiku pada malam itu. Aku selalu memperhatikan bayanganku dalam berbagai kesempatan. Bayangan itu seolah-olah menatap balik kepadaku. Perlahan aku mulai merasa sangat takut ketika berada di tempat yang begitu terang. Di tempat yang sangat terang, bayanganku akan semakin jelas. Aku menghubungi editorku dan mengatakan kepadanya, ”Kita akan lakukan segala pembicaraan melalui telepon atau semacamnya. Jangan paksa aku keluar dari kamarku. Aku… emm… hendak menulis lebih serius dan lebih bagus daripada karya sebelumnya. Aku belum puas.” Dia setuju-setuju saja. Dengan begitu semangat, dia akhirnya memberiku tenggat waktu sampai dua bulan lagi untuk menghasilkan karya baru yang lebih spektakuler daripada karyaku yang sebelumnya.
Sebagai seorang pengecut, tekanan seperti itu benar-benar menggangguku. Di dalam ruanganku aku tidak pernah menyalakan lampu. Jika harus terpaksa menyalakannya untuk keperluan menulis, aku menyalakan lampu belajar. Kuatur agar seredup mungkin sehingga bayangan yang ditimbulkan tidak terlalu jelas.
Sesekali pada waktu-waktu acak, aku mendengar suara-suara aneh. Dia bertanya kepadaku, ”Kau beri aku nama apa?” Karena begitu mengganggu, kujawab, ”Mick Jagger!” Sejak saat itu, aku tidak pernah memutar lagu The Rolling Stones lagi. Ada perasaan mengerikan ketika aku melihat daftar putar band itu pada aplikasi layanan streaming musik di telepon genggamku. Lagi pula, lagu-lagu The Rolling Stones tidak cocok untuk menemaniku menulis. Aku juga menghindari musik klasik. Aku tidak begitu tahu alasanya. Rasanya, musik klasik rasanya dekat sekali dengan hal-hal seperti itu.
Kami dari Penerbit Z. Kami hendak menginformasikan bahwa naskah Anda akan kami terbitkan. Saya yang menjadi editornya sungguh terpukau membaca cerita itu. Saya masih tidak percaya bahwa lima tahun yang lalu Anda pernah menyodori saya naskah yang sangat buruk. Naskah Anda yang berjudul Kematian Seorang Penulis Kecil akan kami terbitkan. Informasi lebih lanjut akan saya berikan dalam waktu dekat. Tunggu saja telepon atau surel dari saya.
Waktu terus berlalu (cara ungkap yang klise, bukan?) dan novel-novel yang kukirimkan ke editorku terus diterbitkan. Sesekali memang tidak begitu menggebrak, tetapi cukup diminati. Ketika mengeceknya di media sosial, banyak anak-anak muda membuat ulasan singkat tentangnya. Aku menggunakan akun anonim sehingga tidak perlu repot-repot untuk menanggapi ungkapan terima kasih atau bahkan hujatan dari mereka. Aku lebih senang dengan kehidupanku yang biasanya, tertutup dan rahasia. Sudah lima tahun sejak mimpi itu datang ke tidur malamku. Sejak saat itu juga aku mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap bayanganku sendiri. Hingga pada suatu malam, sosok yang berada dalam mimpiku itu benar-benar muncul.
Malam itu sangat gerah. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku terpanggang di sini. Akhirnya kuputuskan untuk membuka tirai dan jendela. Perlahan-lahan, sesuatu muncul dari lantai. Sesuatu itu pertama-tama menyembul dari lantai, seperti tunas pohon pisang di kebun tetanggaku dulu di desa. Kemudian, secara perlahan semakin tinggi. Tentu saja tidak mungkin sesuatu itu adalah pohon pisang. Sesuatu itu adalah seorang lelaki yang memiliki tinggi seukuran tubuhku. Dia memakai jubah serba hitam. Akhirnya aku menyadari bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi dan bukan mimpi. Wajahnya masih sama seperti dulu. Dia memiliki aspek-aspek yang menjadi ciri khas Elvis Presley di kepalanya. Namanya kali ini bukan lagi Mephisto, tetapi Mick Jagger. Aku yang telah memberinya nama itu.
”Sudah waktunya,” kata Mick.
”Aku tidak mengerti maksudmu,” elakku.
”Lihatlah, inilah sifat manusia.”
”Jangan samakan aku dengan orang-orang di luar sana,” kataku sambil menunjuk ke luar jendela.
”Benar. Kau tidak sama dengan mereka, melainkan lebih buruk dari mereka.” Dia mulai mendekatiku. Tapi dia kemudian berhenti, kemudian menoleh ke meja kerjaku. Dia sepertinya tertarik dengan kertas-kertas yang ada di sana. Dia mengambil satu lembar kemudian membacanya dengan keras. ”… Dalam kegelapan ruangan itu, F memberikan tubuhnya. Dia sempat berpikir, mengapa Malaikat Terusir itu tidak lagi meminta jiwa korbannya?” Dia masih termenung menatapi lembaran-lembaran itu. Kemudian, dia menatapku dengan tanpa ekspresi. ”Cerita yang membuatku terhibur.”
Aku tidak menjawabnya.
”Tapi sudah waktunya. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menikmati kesuksesanmu. Tidak seperti jabatan presiden, tidak ada periode kedua, apalagi ketiga, untukmu.”
”Apa maksudnya?”
Dia tidak menjawab.
”Aku mencapai kesuksesan ini dengan tenagaku sendiri.”
”Yang kaumaksud dengan tenagamu sendiri itu apakah juga termasuk dengan bayangan tangan yang ada di bawahmu, ah maaf, bayanganmu sudah tidak ada. Akulah bayanganmu. Sekarang sudah waktunya berganti tempat.”
”Tunggu… beri aku sedikit waktu lagi. Aku harus menyelesaikan naskah ini. Tinggal sedikit lagi.”
”Kau pernah mendengar sebuah cerita tentang seseorang yang diberi kesempatan hidup sekali lagi dalam waktu tertentu hanya untuk mengunjungi seseorang yang dicintainya dan dia kemudian enggan kembali ketika waktu yang telah ditentukan tiba?”
”Aku tidak seperti orang itu. Aku jamin. Percayalah, aku harus menyelesaikan novel itu dan… kupikir aku akan menulis pesan terakhir, seolah-olah aku bunuh diri. Bagaimana nasib tubuhku nanti?”
”Tenang saja. Wajahmu bisa diubah dengan sedikit sentuhan. Ilmu pengetahuan di zaman ini sudah memungkinkan untuk melakukan hal itu.”
”Baik, aku tinggal menentukan akhir cerita ini. Apa kau setuju? Mungkin sampai tengah malam nanti.” Aku menyesal mengatakan itu, ternyata jam digital telah menunjukkan angka 23.00.
Mick Jagger tersenyum mendengar hal itu.
”Aku sangat suka ketika seseorang menentukan kapan diri mereka akan berakhir. Kebanyakan mereka akan mengkhianati kata-katanya. Aku suka melihat manusia yang mudah goyah seperti itu.”
Kau pernah mendengar sebuah cerita tentang seseorang yang diberi kesempatan hidup sekali lagi dalam waktu tertentu hanya untuk mengunjungi seseorang yang dicintainya dan dia kemudian enggan kembali ketika waktu yang telah ditentukan tiba?
Karena kesal, aku tidak memedulikan kata-katanya lagi. Aku duduk lagi dan memegang penaku. Biasanya, aku akan mengetiknya setelah menulisnya secara manual dengan tangan. Tapi, sepertinya, aku tidak akan sempat untuk yang terakhir ini. Aku mulai menulis baris-baris terakhir karya ini. Aku belum memberinya judul, entah, sulit untuk menentukannya.
”Kau tahu judul yang tepat, Mick?”
Aku tidak menoleh ke arahnya. Dia tidak menjawabku.
Ketika jam digital menunjukkan angka 23.31, aku telah selesai menulis. Aku memutuskan untuk tidak memberinya judul, tetapi membubuhkan keterangan: cerita ini telah selesai. Untuk judulnya, terserah kalian. Selanjutnya, kutata kertas-kertas yang berserakan itu dan memasang klip di ujungnya agar tidak berantakan lagi. Kemudian, aku memasukkannya ke map. Aku mengatur sebuah pesan otomatis yang akan terkirim besok pagi kepada editorku. Aku menyuruhnya datang ke tempatku untuk mengambil naskah ini.
Lalu, aku menulis catatan pada secarik kertas: sedang berlibur bersama Mephisto.
Setelah itu, aku menyerahkan diriku pada Mick. Dia tersenyum sekali lagi. Dia kemudian meletakkan telapak tangan kanannya pada kepalaku, kemudian melakukan gerakan seolah dia sedang menarik sesuatu. Rasanya tidak menyakitkan, tidak seperti cerita orang-orang dewasa tentang betapa sakitnya ketika nyawa terpisah dari jasad. Setelah dia mencabutku sepenuhnya, kini tubuhku menjadi cangkang kosong. Mick keluar dari jasadnya dan jasad itu segera menjadi tumpukan pasir. Dia masuk ke tubuhku dan aku menjadi bayangannya. Setelah mengambil napas lega, dia kemudian keluar dari ruangan dan pergi ke suatu tempat yang jauh.
19 November 2020-13 Agustus 2022
****
Mochamad Bayu Ari Sasmita. Lahir di Mojokerto pada HUT Ke-53 RI. Menyelesaikan studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (2021). Cerpen-cerpennya telah dimuat di media daring dan luring. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Dapat dihubungi di Instagram @sasmita.maruta.
sumber : kompas.id, 20 Agt 2022.