Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Aku Memberinya Nama Mick Jagger oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita

Posted on Sab, 20 Agu 2022

Lelaki berjubah hitam itu berada di ruanganku begitu saja tanpa kuketahui dari mana dia masuk. Pintu kukunci dari dalam, jendela seluruhnya tertutup rapat. Ruanganku benar-benar gelap. Tidak ada satu pun cahaya kubiarkan masuk. Tetapi aku bisa melihat lelaki berjubah hitam itu, mungkin karena aku sudah terbiasa menatap dalam kegelapan. Lelaki berjubah hitam itu bergerak menuju meja kerjaku, melihat kertas-kertas yang berserakan di sana. Dia mengambil satu lembar, melihatnya sejenak (rupanya dia juga bisa mengatasi kegelapan), dan, setelah menatap kertas itu untuk beberapa saat, dia meletakkannya lagi di atas meja.

Aku masih berbaring di ranjangku, tidak bergerak sedikit pun, tetapi mataku terus tertuju kepadanya. Sebenarnya, aku sedikit ketakutan. Aku sempat berpikir bahwa lelaki berjubah hitam itu adalah malaikat maut. Dia pasti datang untuk menjemputku. Aku sudah siap sejak lama untuk menghadapi kematian. Aku sudah tidak memiliki apa pun, tidak begitu menyakitkan ketika harus pergi sekarang. Tetapi begitu melihat sosok seperti itu, kesiapanku yang dulu sekokoh benteng termasyhur di dunia hancur begitu saja.

Lelaki itu mendekatiku. Bulu kudukku berdiri, tubuhku mengejang, dan aku hampir lupa untuk menghirup udara. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku bisa melihatnya samar-samar. Wajahnya, bagaimana menyebutnya, tidak memiliki daya kehidupan sama sekali. Rambutnya pendek dan bagian depannya naik. Dia juga bercambang. Pendek kata, dia mengingatkanku pada foto Elvis Presley yang pernah kujumpai di internet.

”Aku bisa membantumu,” katanya. Napasnya dingin.

Aku diam. Bukan lagi karena takut, ketakutanku sudah hilang begitu saja ketika mendengar suaranya yang terdengar seperti orang tua bijak. Aku hanya sedang menerka-nerka maksudnya. ”Apa yang bisa dia bantu?” tanyaku dalam hati.

”Siapa kau?” Akhirnya pertanyaan itu yang meluncur dari lidahku.

”Dulu namaku Mephisto. Namun, kau boleh memanggilku apa saja sesukamu setelah kita membuat kontrak. Maksudku, nama itu sudah kuno. Aku ingin dipanggil dengan nama lain.”

”Kontrak?”

”Perjanjian di antara dua orang atau lebih, secara resmi. Tapi kita tidak perlu repot-repot membeli meterai. Mungkin, sekarang toko-toko sudah kehabisan meterai karena banyak yang memborongnya untuk membuat surat kuasa palsu guna mencarikan dana bantuan sosial.”

”Apa yang kautawarkan?”

”Terserah padamu. Apa yang kauinginkan? Tapi, melihat kertas-kertas di meja tadi, kurasa kau ingin menjadi seorang sehebat Goethe atau minimal seperti Scott Fitzgerald.”

Aku mulai mengerti maksudnya. Astaga, apa ini mimpi? Mustahil ada hal semacam ini di dunia nyata. Aku pernah melihat sebuah film tentang seorang lelaki yang membuat kontrak dengan seorang misterius sehingga dia menjadi hantu pengendara dengan kepala terbakar. Apa aku akan menjadi seperti itu juga?

”Apa yang harus kuserahkan kepadamu sebagai gantinya? Jiwaku?”

”Itu sudah ketinggalan zaman. Siapa peduli soal jiwa hari ini? Aku ingin wujud, sebuah kehidupan. Tubuh yang kugunakan ini sudah usang. Aku mendapatkannya seabad yang lalu. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kau mestinya tahu tentang hal sederhana seperti itu. Jadi, aku hanya ingin memiliki tubuh baru untuk membantuku agar tetap hidup. Kautahu maksudku, kan?”

”Hidupku mungkin tidak akan lama lagi. Hidupku tidak bisa dikatakan sebagai hidup yang sehat. Aku mengurung diriku di kamar ini terlalu lama. Keluar hanya untuk menyetok makanan instan. Penyakit yang mengerikan sedang menggerogotiku. Aku yakin itu. Sesuatu yang berbahaya sedang berkembang biak di dalam diriku. Seperti bom waktu, ketika sudah mencapai waktu yang ditentukan, ia akan meledak. Kau masih ingin tubuhku?”

Lelaki berjubah hitam itu menggeleng beberapa kali. ”Aku tidak perlu mengkhawatirkan itu. Separah apa pun kondisi fisikmu, itu tidak akan berpengaruh kepadaku. Begini, tubuh yang akan kauberikan kepadaku hanya akan berfungsi seperti pakaian yang kaupakai. Hanya seperti wadah. Aku akan tetap baik-baik saja. Hanya saja, suatu saat, tubuh itu akan hancur. Seperti pakaian yang robek dan tidak bisa diperbaiki lagi sehingga tidak bisa dipakai lagi. Bahkan, jika kau membawanya ke tukang jahit, tukang jahit itu akan menggelengkan kepala dan menyarankan agar beli baru daripada memperbaikinya. Setelah itu terjadi, aku akan membuang tubuhmu. Atau, kalau mau, kau bisa memintaku untuk menguburnya di sebuah permakaman atau membakarnya. Banyak orang yang melakukan hal itu juga, bukan? Setelah itu, aku tinggal mencari tubuh baru.”

”Lalu, apa yang akan terjadi kepadaku?”

”Sederhana, kau akan mendapatkan apa yang kauinginkan.”

Aku terdiam, coba untuk memikirkan tawarannya.

”Jadi,” desaknya, ”Apa kau setuju?”

”Ada yang belum kumengerti. Jika kau menggunakan tubuhku, apa yang terjadi padaku kemudian?”

Lelaki berjubah hitam itu menyeringai dalam kegelapan. Aku bisa memperhatikan gerak garis bibirnya yang datar menjadi sedikit melengkung. Dia kemudian mendekatiku lagi, ”Bisa kauputar lagu The Rolling Stones yang berjudul ’Sympathy For the Devil’?”

Aku meraih telepon genggamku. Membuka aplikasi layanan streaming musik, mengetikkan judul lagu tersebut. Ada banyak daftar yang muncul. Kupilih salah satu dan kutekan tombol putar. Lelaki berjubah hitam itu tersenyum lagi. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang kuputar sesuai permintaannya tadi.

”Lalu, bagaimana aku bisa mendapatkan ketenaran dalam dunia sastra?”

”Apa kau bodoh? Begitu kontrak ditandatangani, tubuhmu tidak akan langsung kuambil. Kau akan kubiarkan untuk berkarya dan di sana aku akan membantumu agar karyamu meledak di pasar. Minimal menjadi best seller. Sekarang label itu di atas segala-galanya, bukan? Jangan kaupikir aku tidak mengikuti perkembangan zaman. Tapi masa-masa itu tidak akan berlangsung lama. Dalam kurun waktu tertentu, kau masih bisa menikmati kemasyhuranmu. Setelah itu, aku akan datang untuk menagih kompensasinya. Tidak. Istilah datang tidak tepat digunakan. Aku akan selalu berada di sampingmu. Ke mana pun kau pergi, aku akan menyertaimu. Sebagai bayangan. Kau tidak perlu ragu. Setelah kau tiada, kau akan tetap dikenang sebagai seorang penulis yang hebat. Bukankah orang lebih bisa menghormati orang yang sudah mati?”

Aku melihat ke bawah, tetapi mustahil ada bayangan tanpa ada cahaya.

”Ketika aku meminta tubuhmu kelak, kau akan menjadi bayanganku. Itu harus terjadi karena aku sendiri tidak punya bayangan. Ini simbiosis mutualisme. Anak SD saja tahu hal ini.”

”Terserah kau saja.”

Lagi-lagi, aku bisa melihat caranya menyeringai.

***

Begitu bangun tidur, rasa sakit yang hebat menyerang kepalaku. Di saat yang bersamaan, telepon berdering. Aku mengangkatnya. Nomor tidak dikenal.

”Dengan Tuan F?” itu adalah suara seorang lelaki yang menyebalkan. Aku masih ingat ketika dia mencaci maki naskahku pada pertengahan bulan Juli lima tahun lalu. Aku terpuruk setelah mendapatkan caci maki itu.

”Benar. Ada apa?”

”Kami dari Penerbit Z. Kami hendak menginformasikan bahwa naskah Anda akan kami terbitkan. Saya yang menjadi editornya sungguh terpukau membaca cerita itu. Saya masih tidak percaya bahwa lima tahun yang lalu Anda pernah menyodori saya naskah yang sangat buruk sehingga saya harus berhenti membaca pada halaman pertama atau, jika saya putuskan untuk terus membaca, maka pinggul saya mungkin harus dirawat secara rutin di sebuah klinik. Maaf. Hanya bercanda. Yang jelas, naskah Anda yang berjudul Kematian Seorang Penulis Kecil akan kami terbitkan. Informasi lebih lanjut akan saya berikan dalam waktu dekat. Tunggu saja telepon atau surel dari saya.”

Telepon ditutup tanpa salam atau hal semacam itu. Aku tidak peduli. Aku bahkan belum begitu yakin dengan telepon tadi, kepalaku benar-benar pening.

Kurasa aku tadi mendapatkan mimpi aneh. Sulit mengingat mimpi ketika kau sudah melupakannya. Butuh sebuah pemantik yang berhubungan dengan mimpi itu jika kau ingin mengingatnya kembali. Sebenarnya, jika sudah seperti ini, biasanya orang tidak akan mengingat mimpinya lagi sampai kapan pun. Aku pernah mengalami hal semacam ini berkali-kali.

Aku menuju kamar mandi. Menyalakan lampu. Menghadap ke cermin. Syukurlah wajahku tidak berubah. Setelah mengalami malam yang aneh, aku sering memastikan wajahku, takut ada yang berubah, takut yang kulihat kemudian adalah bukan wajahku. Aku membuka celanaku, mengeluarkan zat sisa melalui benda yang tidak pernah kugunakan fungsi lainnya ini. Lalu aku mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah menyelesaikan ritual pagi itu, aku keluar dari kamar mandi. Mendekati jendela. Aku hendak membukanya, membiarkan cahaya masuk ke ruangan yang pengap ini. Tapi kupikir sebaiknya kubiarkan saja. Aku kembali duduk. Kepalaku masih sangat pening. Aku tidak ingin minum obat. Obat-obat itu, karena saking seringnya kukomsumsi, sudah tidak memiliki efek apa pun.

Kunyalakan lampu belajar. Kertas-kertas berserakan di meja. Tidak ada hasrat sedikit pun untuk membereskannya. Itu adalah naskah novel terbaruku. Berbicara tentang novel, mimpi tadi samar-samar mulai kuingat lagi: aku telah menjual tubuhku untuk sebuah kemasyhuran. Tapi, kurasa hal itu terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi. Barangkali secara perlahan aku telah mulai kehilangan kewarasan sehingga aku tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Apa ini efek samping dari penolakan-penolakan yang telah kuterima selama ini? Entahlah.

***

Baca juga:Haruskah Kami Potong Tangan Ibu?

Sebulan berikutnya, novelku terbit. Karya itu langsung meledak di pasaran. Aku tidak begitu merasa senang. Rasa-rasanya mimpiku malam itu benar-benar menjadi kenyataan. Aku telah mengingat seluruh mimpiku pada malam itu. Aku selalu memperhatikan bayanganku dalam berbagai kesempatan. Bayangan itu seolah-olah menatap balik kepadaku. Perlahan aku mulai merasa sangat takut ketika berada di tempat yang begitu terang. Di tempat yang sangat terang, bayanganku akan semakin jelas. Aku menghubungi editorku dan mengatakan kepadanya, ”Kita akan lakukan segala pembicaraan melalui telepon atau semacamnya. Jangan paksa aku keluar dari kamarku. Aku… emm… hendak menulis lebih serius dan lebih bagus daripada karya sebelumnya. Aku belum puas.” Dia setuju-setuju saja. Dengan begitu semangat, dia akhirnya memberiku tenggat waktu sampai dua bulan lagi untuk menghasilkan karya baru yang lebih spektakuler daripada karyaku yang sebelumnya.

Sebagai seorang pengecut, tekanan seperti itu benar-benar menggangguku. Di dalam ruanganku aku tidak pernah menyalakan lampu. Jika harus terpaksa menyalakannya untuk keperluan menulis, aku menyalakan lampu belajar. Kuatur agar seredup mungkin sehingga bayangan yang ditimbulkan tidak terlalu jelas.

Sesekali pada waktu-waktu acak, aku mendengar suara-suara aneh. Dia bertanya kepadaku, ”Kau beri aku nama apa?” Karena begitu mengganggu, kujawab, ”Mick Jagger!” Sejak saat itu, aku tidak pernah memutar lagu The Rolling Stones lagi. Ada perasaan mengerikan ketika aku melihat daftar putar band itu pada aplikasi layanan streaming musik di telepon genggamku. Lagi pula, lagu-lagu The Rolling Stones tidak cocok untuk menemaniku menulis. Aku juga menghindari musik klasik. Aku tidak begitu tahu alasanya. Rasanya, musik klasik rasanya dekat sekali dengan hal-hal seperti itu.

Kami dari Penerbit Z. Kami hendak menginformasikan bahwa naskah Anda akan kami terbitkan. Saya yang menjadi editornya sungguh terpukau membaca cerita itu. Saya masih tidak percaya bahwa lima tahun yang lalu Anda pernah menyodori saya naskah yang sangat buruk. Naskah Anda yang berjudul Kematian Seorang Penulis Kecil akan kami terbitkan. Informasi lebih lanjut akan saya berikan dalam waktu dekat. Tunggu saja telepon atau surel dari saya.

Waktu terus berlalu (cara ungkap yang klise, bukan?) dan novel-novel yang kukirimkan ke editorku terus diterbitkan. Sesekali memang tidak begitu menggebrak, tetapi cukup diminati. Ketika mengeceknya di media sosial, banyak anak-anak muda membuat ulasan singkat tentangnya. Aku menggunakan akun anonim sehingga tidak perlu repot-repot untuk menanggapi ungkapan terima kasih atau bahkan hujatan dari mereka. Aku lebih senang dengan kehidupanku yang biasanya, tertutup dan rahasia. Sudah lima tahun sejak mimpi itu datang ke tidur malamku. Sejak saat itu juga aku mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap bayanganku sendiri. Hingga pada suatu malam, sosok yang berada dalam mimpiku itu benar-benar muncul.

Malam itu sangat gerah. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku terpanggang di sini. Akhirnya kuputuskan untuk membuka tirai dan jendela. Perlahan-lahan, sesuatu muncul dari lantai. Sesuatu itu pertama-tama menyembul dari lantai, seperti tunas pohon pisang di kebun tetanggaku dulu di desa. Kemudian, secara perlahan semakin tinggi. Tentu saja tidak mungkin sesuatu itu adalah pohon pisang. Sesuatu itu adalah seorang lelaki yang memiliki tinggi seukuran tubuhku. Dia memakai jubah serba hitam. Akhirnya aku menyadari bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi dan bukan mimpi. Wajahnya masih sama seperti dulu. Dia memiliki aspek-aspek yang menjadi ciri khas Elvis Presley di kepalanya. Namanya kali ini bukan lagi Mephisto, tetapi Mick Jagger. Aku yang telah memberinya nama itu.

”Sudah waktunya,” kata Mick.

”Aku tidak mengerti maksudmu,” elakku.

”Lihatlah, inilah sifat manusia.”

”Jangan samakan aku dengan orang-orang di luar sana,” kataku sambil menunjuk ke luar jendela.

”Benar. Kau tidak sama dengan mereka, melainkan lebih buruk dari mereka.” Dia mulai mendekatiku. Tapi dia kemudian berhenti, kemudian menoleh ke meja kerjaku. Dia sepertinya tertarik dengan kertas-kertas yang ada di sana. Dia mengambil satu lembar kemudian membacanya dengan keras. ”… Dalam kegelapan ruangan itu, F memberikan tubuhnya. Dia sempat berpikir, mengapa Malaikat Terusir itu tidak lagi meminta jiwa korbannya?” Dia masih termenung menatapi lembaran-lembaran itu. Kemudian, dia menatapku dengan tanpa ekspresi. ”Cerita yang membuatku terhibur.”

Aku tidak menjawabnya.

”Tapi sudah waktunya. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menikmati kesuksesanmu. Tidak seperti jabatan presiden, tidak ada periode kedua, apalagi ketiga, untukmu.”

”Apa maksudnya?”

Dia tidak menjawab.

”Aku mencapai kesuksesan ini dengan tenagaku sendiri.”

”Yang kaumaksud dengan tenagamu sendiri itu apakah juga termasuk dengan bayangan tangan yang ada di bawahmu, ah maaf, bayanganmu sudah tidak ada. Akulah bayanganmu. Sekarang sudah waktunya berganti tempat.”

”Tunggu… beri aku sedikit waktu lagi. Aku harus menyelesaikan naskah ini. Tinggal sedikit lagi.”

”Kau pernah mendengar sebuah cerita tentang seseorang yang diberi kesempatan hidup sekali lagi dalam waktu tertentu hanya untuk mengunjungi seseorang yang dicintainya dan dia kemudian enggan kembali ketika waktu yang telah ditentukan tiba?”

”Aku tidak seperti orang itu. Aku jamin. Percayalah, aku harus menyelesaikan novel itu dan… kupikir aku akan menulis pesan terakhir, seolah-olah aku bunuh diri. Bagaimana nasib tubuhku nanti?”

”Tenang saja. Wajahmu bisa diubah dengan sedikit sentuhan. Ilmu pengetahuan di zaman ini sudah memungkinkan untuk melakukan hal itu.”

”Baik, aku tinggal menentukan akhir cerita ini. Apa kau setuju? Mungkin sampai tengah malam nanti.” Aku menyesal mengatakan itu, ternyata jam digital telah menunjukkan angka 23.00.

Mick Jagger tersenyum mendengar hal itu.

”Aku sangat suka ketika seseorang menentukan kapan diri mereka akan berakhir. Kebanyakan mereka akan mengkhianati kata-katanya. Aku suka melihat manusia yang mudah goyah seperti itu.”

Kau pernah mendengar sebuah cerita tentang seseorang yang diberi kesempatan hidup sekali lagi dalam waktu tertentu hanya untuk mengunjungi seseorang yang dicintainya dan dia kemudian enggan kembali ketika waktu yang telah ditentukan tiba?

Karena kesal, aku tidak memedulikan kata-katanya lagi. Aku duduk lagi dan memegang penaku. Biasanya, aku akan mengetiknya setelah menulisnya secara manual dengan tangan. Tapi, sepertinya, aku tidak akan sempat untuk yang terakhir ini. Aku mulai menulis baris-baris terakhir karya ini. Aku belum memberinya judul, entah, sulit untuk menentukannya.

”Kau tahu judul yang tepat, Mick?”

Aku tidak menoleh ke arahnya. Dia tidak menjawabku.

Ketika jam digital menunjukkan angka 23.31, aku telah selesai menulis. Aku memutuskan untuk tidak memberinya judul, tetapi membubuhkan keterangan: cerita ini telah selesai. Untuk judulnya, terserah kalian. Selanjutnya, kutata kertas-kertas yang berserakan itu dan memasang klip di ujungnya agar tidak berantakan lagi. Kemudian, aku memasukkannya ke map. Aku mengatur sebuah pesan otomatis yang akan terkirim besok pagi kepada editorku. Aku menyuruhnya datang ke tempatku untuk mengambil naskah ini.

Lalu, aku menulis catatan pada secarik kertas: sedang berlibur bersama Mephisto.

Setelah itu, aku menyerahkan diriku pada Mick. Dia tersenyum sekali lagi. Dia kemudian meletakkan telapak tangan kanannya pada kepalaku, kemudian melakukan gerakan seolah dia sedang menarik sesuatu. Rasanya tidak menyakitkan, tidak seperti cerita orang-orang dewasa tentang betapa sakitnya ketika nyawa terpisah dari jasad. Setelah dia mencabutku sepenuhnya, kini tubuhku menjadi cangkang kosong. Mick keluar dari jasadnya dan jasad itu segera menjadi tumpukan pasir. Dia masuk ke tubuhku dan aku menjadi bayangannya. Setelah mengambil napas lega, dia kemudian keluar dari ruangan dan pergi ke suatu tempat yang jauh.

19 November 2020-13 Agustus 2022

****

Mochamad Bayu Ari Sasmita. Lahir di Mojokerto pada HUT Ke-53 RI. Menyelesaikan studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (2021). Cerpen-cerpennya telah dimuat di media daring dan luring. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Dapat dihubungi di Instagram @sasmita.maruta.

sumber : kompas.id, 20 Agt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme