Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bujang Kurap oleh Benny Arnas

Posted on Ming, 26 Jul 2009

 

Bila suatu waktu nanti, Tuhan berketetapan bahwa kalian harus berada di Lubuklinggau atau Musirawas (entah karena bus kalian yang transit, atau kunjungan khusus, atau memang akan tinggal menetap), maka perlu rasanya dirobohkan sebuah pohon cerita yang sudah sedemikian lama dipelihara oleh masyarakatnya sendiri.

Hanya berjaga-jaga: mungkin saja, kalian akan mendengar sebuah nama atau julukan atau juga olok-olokan yang berbunyi ”Bujang Kurap”. Tentu saja kalian akan membayangkan semacam penyakit kulit menular yang diidap seorang pemuda, seorang bujang. Mungkin juga kalian akan langsung memaklumi bagaimana si pemuda dipanggil ”Bujang” atau belum menikah: siapa yang sudi disunting lanang kurap? Dan sangatlah mungkin bila pikiran kalian pun melukiskan parasnya dengan sangat buruk dan menyeramkan—walaupun sebenarnya belum tentu juga orang yang terkena kurap itu adalah ia yang tak elok rupanya!

Mengapa perlu berjaga-jaga?

”Bujang Kurap” kadang jua dipakai untuk berolok-olok sesama kawan—atau juga terhadap orang lain—dengan berbagai dalih: satu/beberapa orang yang memang kurap—walaupun sedikit saja bercak itu terdapat di bagian tubuh tertentu; atau orang tak disenangi itu jauh dari rupawan wajahnya; atau sekadar mengolok-olok tanpa harus memikirkan tersambung atau tidaknya kata yang mereka gunakan untuk berolok-olok; atau juga ada alasan lain….

Sebenarnya, tak ada yang perlu diluruskan sehingga cerita ini harus dituliskan, apabila ”Bujang Kurap” yang dimaksud itu berada dalam pengertian bahasa Indonesia yang setakzimnya. Perkaranya adalah olok-olokan itu diambil dari sebuah cerita yang melegenda di Bumi Silampari, tentang seorang laki-laki yang berjuluk ”Bujang Kurap”.

Ini bukan perkara bahwa kampung kami tak ingin diturun-derajatkan dengan penggunaan julukan pemuda itu. Artinya, bila pun Bujang Kurap dicerita-legendakan sebagai bujang yang kurap saja, maka tak apa-apalah. Namun, Bujang Kurap kami adalah pemuda yang sifat dan tabiatnya sangatlah bertentangan dengan penilaian orang terhadap parasnya. Bujang Kurap kami adalah pemuda yang elok perangainya. Entah, apakah orang-orang kampung kami yang berolok-olokan tersebut tahu atau tiada mengindahkan cerita si Bujang Kurap, namun disilakanlah kiranya kami merayu, mengajak ikut serta merobohkan batang yang mungkin saja lebih besar dari derum itu.

Mungkin kalian akan mencela, ”Takkah terlebih dahulu, diberi tahu dan diajak dengan bijak, orang-orang kampung ini untuk merobohkan pohon itu?” Alamak jan, ini bukan perkara tak menganggap orang sekampung. Tapi sudah kapalan mulut kami berkisah dan berseru. Tetap saja telinga mereka jangak, pikiran mereka bebal, hati mereka kajat…. Sebagian mereka tak pandai memperlakukan cerita rakyat itu dengan hikmah.

Maka, telah cukupkah kiranya alasan untuk membentang cerita tentang si Bujang Kurap?

Adalah Datuk Saribijaya, laki-laki gagah nan rupawan: satu dari dua depati yang mengawal kepergian sang raja, Datuk Ketemenggungan sekeluarga, dari kerajaannya, Pagarruyung. 1

Setelah sekian lama mengikuti pengembaraan sang raja, singgahlah Datuk Saribijaya di Titiang Dalam, salah satu kampung di Sorulangun Jambi. 2 Di sana, ia menaut hati seorang gadis dari keluarga kerajaan Melayu Bangko. Putri Sari Banilai, demikian hikayat menceritakan namanya. Alahai, siapa yang tak ingin disunting laki-laki gagah serupa Datuk Saribijaya. Ya, walaupun ia tiada jemawa dengan ketinggian derajat yang disandang semasa di Minangkabau, namun kilau air muka, pembawaan, dan tindak-tanduknya tak urung memikat sesiapa, tak terkecuali bagi gadis-gadis Jambi, tak terkecuali bagi seorang Putri Sari Banilai.

Kain panjang dikebat. Perayaan besar pun dihelat. Betangkup dua hati, berjatuhanlah kelapa muda, bernyanyilah murai-murai Batanghari Sembilan…. Datuk Saribijaya dan Putri Sari Banilai memadu kasih secara adat dan kepercayaan. Mereka pun beranak pinak.

Keturunan dari Datuk Saribijaya dan Putri Sari Banilai ini pun merajut keluarga-keluarga kecil pula. Nah, salah satu keturunan dari keluarga-keluarga dari silsilah itu rupanya dititipkan Tuhan seorang bayi laki-laki yang kelak termasyhur namanya di seantero Musirawas dan sekitarnya.

Entah bagaimana, orangtuanya 3 yakin saja bahwa suatu saat nanti, putranya akan menjadi pemuda yang berhati mulia. Keyakinan itu tiada jua goyah meskipun beberapa tahun setelah itu, lahir seorang bayi perempuan 4 dalam keluarga mereka. Ya, walaupun dalam tumbuh-kembangnya, si sulung kerap mengidap penyakit gatal di sekujur tubuhnya, namun tak pernah mereka berpilih kasih dalam mencurahkan kasih pada kedua buah hatinya. Sang putra tetap diurus sebagaimana anak yang sakit mesti diperhatikan. Bahkan banyak tabib dan orang pintar yang dimintai bantuan untuk mengobatinya, namun tetap, tak kunjung sembuh penyakit anak bujang mereka.

Singkat cerita, putra mereka tumbuh sebagai pemuda kurap, hingga orang-orang menjulukinya ”Bujang Kurap”. Dan… terbuktilah peribahasa lama itu: Tiadalah Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berkekurangan saja. Ya, sebagaimana dahulu orangtuanya berkeyakinan, Bujang Kurap juga tumbuh sebagai pemuda yang berbudi.

Walaupun orang-orang tahu bahwa Bujang Kurap adalah pemuda yang bersahaja, menghormati orang yang lebih tua, bahkan—ini yang lebih terperhatikan kala itu—tak jarang meringkus perampok yang masuk kampung, namun mereka masih saja menjulukinya seperti itu. Nah inilah yang perlu didudukkan: julukan yang disematkan pada si pemuda, tak lain tak bukan, demi memudahkan penjelasan tentang siapa orang berhati baik yang dimaksud. Ya, tak ada niat untuk berolok-olok dengan julukannya itu.

Dan… itulah mulianya orangtua. Tiadalah mereka merasa malu dengan apa-apa yang mendera anak bujangnya itu. Maka, Bujang Kurap merasa sedih yang tak alang kepalang ketika ibunya meninggal. Tak lama berkelang, Bujang Kurap pamit pada ayahnya untuk merantau, mengembara mencari kesaktian-sebagaimana cara orang-orang dahululah.

Dalam kisah yang sudah dipersingkat, setelah memperoleh kesaktian dari sebuah pertapaan, Bujang Kurap melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah aliran air bernama Sungai Rawas. Aliran itu hulunya bermula dari celah gugusan bukit di sebelah timur Bukit Barisan. Dari sini, mengalir ke arah timur: panjang dan berliku-liku. Akhirnya bermuaralah di daerah yang kini bernama Musi Banyuasin, namun masih berdekatan dengan perbatasan Musirawas. Maka, Bujang Kurap pun melalui dusun-dusun di sepanjang sungai: Kota Tanjung, Napal Licin, Muara Kulam, Muara Kuis, Pulau Kidak, dan banyak lagi, berakhirnya di Dusun Pauh, dan bermuara di daerah dekat Sungai Musi yang bernama Muara Rawas.

Bujang Kurap membantu penduduk dusun-dusun yang dilaluinya. Membantu menaikkan bubungan rumah, mengangkut batu jelapang untuk memirik rempah, membuka ladang, menyadap karet, memanen kopi, dan tentu saja dengan semua kesaktian yang dimiliki, ia mengamankan kampung dari sekawanan penyamun, perampok, dan kelompok pembuat onar lainnya.

Nama Bujang Kurap pun termasyhur di bantaran Sungai Rawas. Orang-orang menaruh hormat padanya. ”Bujang Kurap” bukan lagi julukan yang memerudukkan keburukan seseorang. ”Bujang Kurap” dipakai untuk melukiskan betapa baiknya hati seorang pemuda; betapa rupa bukanlah tiang untuk mengukur tabiat.

Bujang Kurap menghabiskan hayat di sebuah kampung di Lubuklinggau, Ulak Lebar. 5 Di sana, ia mengajarkan silat dan kuntau-bela diri Sumatera, dan ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada penduduk setempat dan datangan.

Bujang Kurap dikebumikan di kaki Bukit Sulap, daerah yang dibentuk oleh tiga aliran sungai: Sungai Kasie, Sungai Ketue, dan Sungai Kelingi.

Sebenarnya apa-apa yang baru saja diceritakan dapatlah dikatakan sebagai sebuah ringkasan yang tak sempurna dari sebuah kisah yang utuh. 6

Bujang Kurap juga manusia. Pastilah ada kekurangan, kekhilafan, dan keburukan sifat dan tabiatnya. Namun, tanpa bermaksud mencari alibi, apa-apa yang hitam dalam perjalanan hidupnya tiba-tiba menguap saja, bila disandingkan dengan keelokkan budi pekertinya.

Hingga kini, di tepi Sungai Kelingi, sebelah selatan Benteng Kuto Ulak Lebar, tempat Bujang Kurap tidur berbungkus kain putih murah, masih ada saja orang-orang yang mengadakan reritual demi sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri tak sepenuhnya yakin dapat diraih.

Artinya, bila kalian tak hakkul percaya pada cerita yang diringkas ini, setidaknya lihatlah orang-orang yang belum tegak imannya itu. Mereka mungkin tak paham beragama, namun mereka paham sekali bahwa tiadalah akan ”berkah”—menurut mereka—sesembahan yang dijaban, bila arwah yang diharapkan membubung itu bukan orang baik-baik semasa hidupnya.

Oh, malu sebenarnya mengatakan ini:

Bila tak bisa diajak bersekutu orang-orang kampung demi merobohkan batang yang besar itu, maka tak ada salahnya bukan, kami mengait tangan kalian untuk mengabar kebaikan yang tak dimunculkan?

Ya, Bujang Kurap kami bukan serupa Malin Kundang di Minangkabau. Namun, uda-uni di barat Sumatera dapat dengan layak menempatkan cerita anak durhaka itu sebagai pembelajaran akhlak dan budi pekerti. Ini perkara salah bungkus! Kami pun kadang-kadang membersit tanya: Mengapa sampul cerita ini harus bertulis ”Bujang Kurap”. Mengapa tak mengambil judul lain?

O bukan hanya itu, Kawan! Cerita ini tak pernah dibukukan sebagaimana layaknya buku bacaan (jadi, jangan berharap kalian akan menemukan semacam buku cerita rakyat Musirawas-Lubuklinggau di toko-toko buku di kampung kami). Bahkan dicetak sebagai buku cerita ringan—yang disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah daerah kami, juga tidak!

Kantong buah karet sudah meletus. Biji-bijinya berhamburan di tanah yang berselimut daun-daun kering yang berwarna abu. Hanya menghitung hari, semua telah tumbuh. Dan kini, sudah berabad kiranya cerita itu disiram, dipupuk, dan dijaga. Menjadi batang. Semakin besar. Sukar sekali dirobohkan, Kawan!

Jadi, bila suatu waktu nanti, Tuhan berketetapan bahwa kalian harus berada di Lubuklinggau atau Musirawas (entah karena bus kalian yang transit, atau kunjungan khusus, atau memang akan tinggal menetap), kami berharap; kalaupun kalian tak mampu merobohkan pohon itu, paling tidak, janganlah kalian indahkan olok-olokan orang kampung kami yang menjadikan seorang pemuda kurap sebagai senjata olokannya.

Lubuklinggau, 13-16 Mei 2009

Catatan:

  1. Bersama bala tentara dalam jumlah besar, Adityawarman datang ke Pagarruyung. Tentulah maksudnya tiada lain-tiada bukan: menguasai kerajaan yang dipimpin oleh Datuk Ketemenggungan itu. Demi mengetahui bala prajurit yang dimiliki kerajaan tiadalah mungkin menandingi kekuatan yang dibawa oleh Adityawarman, maka bersama dua depatinya (salah satunya Datuk Saribijaya), Datuk Ketemenggungan meninggalkan Istana, pergi ke selatan.
  2. Dalam sejarah Minangkabau disebutkan bahwa Datuk Ketemenggungan pergi meninggalkan istana Pagarruyung. Ia pergi bersama istrinya, Ratu Masturi, dua orang putrinya yang masih sangat muda bernama Putri Cindai Kusuma dan Putri Megasari, serta dua orang depati sebagai pengikutnya yang setia. Setelah tiba di wilayah perbatasan Pagarruyung dan Melayu, Datuk Ketemenggungan memberi tanda pada sebatang pohon durian besar serupa tekukan pada cabang yang paling tinggi menggunakan pedangnya (maksudnya agar mudah dilihat dari jauh). Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Durian Batakuk Rajo. Dari sini mereka meneruskan perjalanan ke Selatan; melalui negeri Melayu, daerah Rawas, Rupit, dan sampailah di Muara Rawas. Setelah dibuatkan pesanggrahan, istri dan kedua anaknya ditinggalkan di Muara Rawas. Datuk Ketemenggungan meneruskan perjalanannya ke Bukit Siguntang. Di kemudian hari, kedua pengikutnya kembali ke Durian Batakuk Rajo, lalu mengembara masuk hutan, menjadi cikal bakal suku anak dalam.
  3. Dalam berbagai sumber yang telah diupayakan hingga saat ini, tiadalah didapat kabar (bahkan semacam kabar-kabari sekalipun), siapa nama kedua orangtuanya.
  4. Sang adik bernama Putri Nilam Sari. Kelak tumbuh sebagai seorang gadis yang berparas elok-sebagaimana Putri Melayu digambarkan. Adik satu-satunya ini kemudian menikah dengan Lemang Batu, putra ketiga dari Ratu Agung, raja dari Kerajaan Sungai Serut, Bengkulu.
  5. Inilah takdir anak manusia. Ulak Lebar adalah satu-satunya kampung di mana penduduknya mencegah Bujang Kurap untuk mengembara ke tempat lain. Tentulah hal ini membuat Bujang Kurap tersanjung: mereka dapat menerima kehadiran seorang kurap seperti ia, terlebih tak lama kemudian ia diangkat sebagai hulubalang.
  6. ”Kisah yang utuh” itu terdapat dari naskah-naskah (bakal buku) yang ditulis budayawan Sumsel, Drs Suwandi, sejak 1983.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme