Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tukang Cuci oleh Mardi Luhung

Posted on Ming, 19 Jul 2009

 

Perkenalkan. Namaku Tukang Cuci. Pekerjaanku tukang cuci. Hidupku tukang cuci. Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci. Biar bersih. Biar cling. Tak ada daki. Tak ada kotoran. Dan tak membuat bagi yang memakainya menjadi malu. Lalu membenamkan mukanya ke dalam bak kamar mandi. Mencoba mengusir rasa malunya itu.

Tapi, tunggu, tunggu dulu. Meski aku tukang cuci, aku bukan sembarang mencuci. Aku hanya mencuci pakaian istriku. Istriku yang kini telah menjelma ikan paus yang gemuk. Yang punya mata tajam. Yang saking tajamnya mampu melihat barang-barang renik. Meski dalam kegelapan. Kegelapan yang aku gunakan bercinta dengannya.

”Mas, Mas, apa yang terselip di telingamu itu?”

Begitu katanya saat asyik- asyiknya bercinta. Dan dia meraba telingaku. Terkejut. Sebab, dia menemukan sumpal kecil. Sumpal kecil yang menutup pendengaranku. Akh, dia marah. Matanya yang tajam makin menajam. Dan bruk! Dia membanting aku. Lalu, seperti anak kecil, dia pun menangis tak karuan.

”Mas, Mas, sudah benci pada suaraku, ya? Gila, gila, gila!”

Dan dengan sebat, dia pun membuka lemari pakaian. Dia keluarkan semua pakaiannya. Juga boneka-boneka kecilnya. Lalu menginjak-injaknya. Dalam pandanganku, saat menginjak-injak itu, dia bukan seperti orang marah. Tapi, orang menari-nari. Ya, ya, bayangkan, apa aku tak ketawa, ketika melihat ikan paus yang gemuk menari-nari? Ha, ha, ha, hampir saja aku mencibirnya. Tapi, cepat aku tahan. Aku tak mau berhantam dengan dia malam-malam.

Dan paginya, seluruh pakaian istriku berserakan. Kotor. Lecu dan mengenaskan. Sedangkan istriku, seperti biasa, cuma tidur di atasnya. Telentang. Dan giginya menggerentam. Seperti catutan yang mengkriuk. Dan diam-diam, seperti biasa, aku punguti pakaian-pakaian yang berserakan itu. Dan kembali lagi menjalani hidupku sebagai tukang cuci. Tukang cuci.

”Apa ada yang lebih ganjil dari gajah yang memakai kaus?” Jawabnya: Tak ada! Itu teka-teki gendeng. Segendeng ukuran kaus istriku ini. Dan lihat! Gede sekali ukurannya, bukan? Apa dobel L? Apa tripel L? Apa kuartet L? My God. Barangkali tak akan terukur. Maka tak perlulah untuk dijawab. Yang jelas, kini aku harus mencucinya. Mencuci dengan bersih.

”Mas, Mas, ini kaus kesayanganku. Terutama sulaman kembang merahnya. Jangan rusak, ya?”

Memang, sejak remaja istriku paling suka kembang merah. Dan kesukaannya ini sering membuat aku gelagapan. Bayangkan, semua barang yang ada di rumah (entah milikku atau miliknya) mesti ada kembang merahnya. Walau ukurannya kecil dan tersembunyi. Jadinya, jangan heran jika diam-diam aku membenci kembang merah itu. Masak di kaus singletku ada kembang merahnya. Di kerah bajuku ada. Dan, dan di celana dalamku pun ada.

Letaknya persis di depan. Jadinya, kalau aku berkaca lucu sekali. Celana dalam laki-laki kok ada kembang merahnya? Huh, jika begini aku benar-benar kelihatan konyol. Dan celakanya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak berkutik. Aku hanya dapat meredam marah. Dan takut untuk berkaca dalam kondisi setengah telanjang. Padahal, sejak kecil, aku paling suka memperhatikan lekuk-lekuk tubuhku.

”Mas, Mas, kembang merah itu lambang cinta?”

Cinta? Wau, aneh juga pikiran istriku ini. Kembang merah kok lambang cinta? Apa tak ada lambang lain? Kompor kek? Sepatu kek? Atau duit? Ya, aku lebih setuju jika duit adalah lambang cinta. Sebab, apa sih di dunia yang tak bisa dibeli duit? Semua bisa dibeli! Bahkan, apa saja yang dulunya lebih penting dari duit, kini mesti bertekuk-lutut. Klepek-klepek di depan duit. Klepek-klepek seperti ikan kena oli atau kena sampah.

Oya, ngomong-ngomong tentang sampah; karena banyaknya kembang merah di rumahku, aku merasa itu seperti sampah. Sampah kembang merah. Yang menyumbat saluran got. Lalu, membuat kampung jadi banjir. Dan orang-orang kebingungan. Cuma bisa nangkring di genting. Sambil membayangkan: ”Akh, seandainya punya duit, kami akan membeli rumah di gunung. Biar jauh dari banjir?” Ha, betul kan? Apa aku bilang. Duit itu sangat penting. Dan layak dijadikan sebagai lambang cinta. Termasuk, cinta untuk membeli rumah yang jauh dari banjir dan hidup yang nangkring di genting.

Selanjutnya, aku akan mencuci rok bawahan istriku. Seperti ukuran kausnya yang tak terukur, ukuran rok bawahannya pun begitu. Bahkan, ini adalah ukuran yang tak semua toko membuatnya. Sebab, di samping membutuhkan kain yang panjang. Juga tak semua perempuan gemuk mau membeli rok bawahan hasil toko. Mereka takut membuka kekurangan dirinya di depan pelayan toko.

Tapi, hal di atas tidak terjadi pada istriku. Dengan kepercayaan yang tinggi, dia tetap membeli rok bawahan di toko. Dan meski semua ukuran yang besar dia coba, hasilnya tetap saja. Jarang yang pas. Apakah itu kurang besar pinggangnya. Sempit pahanya. Atau, jika ada, maka kebetulan tak ada gambar kembang merahnya. Jadinya, ketika saat belanja tiba, aku sering malas mengantarnya.

”Mas, mulai malu jalan sama aku, ya? Mas, mau mencari daun muda, ya? Jika begitu, kembalikan aku ke orangtuaku!”

Aduh, aku mau ngomong apa lagi. Mengembalikan ke orangtuanya? Ini soal yang juga makin gila. Sebab, orangtua istriku saat ini mengalami musibah. Rumahnya telah tergenang lumpur panas. Yang keluar dari pengeboran minyak yang gagal. Jadinya, orangtua istriku pun kini hidup di penampungan. Dan tiap hari hanya berencana untuk unjuk rasa. Agar pengeboran minyak yang gagal itu mau mengganti rumah mereka yang tergenang.

Rumah yang dibeli secara nyicil. Nyicil 15 tahun. Dan saat ini, baru berjalan tujuh tahun. Kasihan. Kasihan sekali orangtua istriku. Badan mereka kurus drastis. Dan di mata mereka, selalu terbayang kekesalan. Wah, aku tak tahu, bagaimana tambah susahnya jika istriku yang gemuk itu mesti kembali lagi ke mereka. Jangan-jangan akan tambah kesal. Dan tambah mengutuki keadaan yang tak jelas ini.

”Sudahlah. Ayo, kita berangkat!” selaku pada istriku. Selaan yang aku pikir sangat penting daripada dia kembali ke orangtuanya yang ada di penampungan. Dan istriku ketawa. Memang, meski kini telah menjelma ikan paus yang gemuk, tapi ketawanya tetap manis. Dan ketawa itulah yang dari dulu sampai kini membuat aku jatuh hati padanya. Ketawa yang lebih indah daripada matahari sore.

Lain itu, yang perlu juga aku tambahkan, aku paling tidak suka ketika mencuci rok bawahan istriku ini. Sebab, di samping berat, juga menggunakan bahan yang tebal dan kasar. Dan jika diucek seperti menyentak. Dan bahan yang tebal dan kasar ini sangat tak pantas untuk dipakai perempuan. Hanya pantas digunakan para serdadu. Para serdadu yang menenteng senjata api itu.

Para serdadu, yang belakangan pernah salah menembak. Apakah itu menembak keluarganya. Teman seregunya. Atau orang-orang kampung yang bisanya cuma berladang jagung. Ah, mengapa bisa terjadi seperti ini? Padahal, jika jujur, serdadu kan tugasnya melindungi. Melindungi yang lemah. Dan yang selalu dikalahkan. Tapi, mengapa kini terjadi seperti itu? Seperti tidak memiliki kelurusan pekerti?

Barangkali, apa yang sedang terjadi perlu segera dibicarakan. Dicari sisi masalahnya. Dan jika sudah ketemu, bawalah ke rumahku. Aku bersedia mencucinya sampai bersih. Mencuci dengan namaku. Dengan hidupku. Ya, ya, akulah si tukang cuci. Dan aku mesti mencuci. Khususnya mencuci rok bawahan istriku yang berbahan tebal dan kasar ini. Seperti tebal dan kasarnya seragam para serdadu. Yang belakangan pernah salah menembak.

Dan, aduh, inilah kutang istriku yang aku cuci. Warnanya kuning. Ada gambar kembang merah. Kembang merah kecil-kecil. Yang dari kejauhan, seperti rantai mungil. Dan sebagai kutang orang gemuk, buntalan di kedua sisinya seperti bukan buntalan biasa. Malah seperti sepasang bola basket yang menggantung. Bola basket yang seukuran dua kali lipat dari ukuran yang biasa.

Dan untuk barang yang satu ini istriku memang mencintainya. Bahkan, saking cintanya, dia tak bosan membelinya. Mengumpulkan di lemari. Dan dipajang seperti memajang di gantungan-gantungan toko. Gila. Memang gila. Tapi, apa mau dikata, itulah salah satu hobi istriku. Hobi yang disebutnya: ”Tanda keindahan tubuh perempuan….” Ha, ha, ha, bagaimana mungkin perempuan gemuk begitu percaya jika punya buah dada yang indah.

Tapi, biarlah jika itu maunya. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah ketika mencuci itu kutang, pikiranku melayang. Dan hinggap pada peristiwa yang pernah menghebohkan. Peristiwa tentang sebuah film. Film perselingkuhan dari seorang pemuka rakyat dengan seorang artis belia. Artis belia, yang belakangan mulai hilang dari sorotan media massa.

Dalam film yang berdurasi lima menit itu, si artis belia berdiri di pantai. Mengibar-ngibarkan kutangnya yang berwarna kuning. Dari kejauhan, si pemuka rakyat mendekat. Lalu keduanya berangkulan. Dan kutang si artis belia terlempar ke pasir. Film selesai. Dan kehebohan pun terjadi. Sebab, ternyata, film itu telah beredar dari ponsel ke ponsel. Dan keluarga si pemuka rakyat pun jadi bulan-bulanan gosip.

Akh, anehnya, ternyata model kutang si artis belia itu tiba-tiba jadi terkenal. Banyak kutang keluaran baru yang mengambil contoh modelnya. Dan aku tak tahu, apakah ini model yang baik atau sebaliknya? Yang jelas, istriku pun membeli model kutang itu. Dan setiap aku mencucinya, aku selalu teringat pada film itu. ”Kok bisanya perselingkuhan semacam itu terjadi? Dan kok bisanya rakyat memukakan orang seperti itu? Dan juga dihibur artis belia seperti itu?”

Ya, aku terus saja mencuci kutang kuning istriku ini. Kutang yang besar. Kutang yang jika dapat berbicara akan berbicara seperti ini: ”Aku dibentuk dari keindahan. Semestinya aku tersembunyi. Dan semestinya juga aku hanya terbuka bagi yang memang layak untuk membuka. Tapi, apa mau dikata, roda terus berputar. Yang di atas kini di bawah. Dan yang rapat pun kini tak rapat lagi. Tak ada tempat bersembunyi.”

Dan sampailah aku mencuci pada cucian yang mendebarkan. Yaitu celana dalam! Ahai, celana dalam istriku benar-benar luar biasa. Dan terus terang saja aku malu untuk bercerita. Masak rahasia pribadi dibuka-buka? Dan masak juga aku mesti mengelupasi topeng di muka ini? Topeng hitam. Putih. Ungu. Dan topeng-topeng yang selalu aku rapatkan agar tak menjadi kasak-kusuk yang busuk? Sekali lagi, aku benar-benar malu dan tak mau.

Tapi, meski begitu, dari ukurannya yang luar biasa ini, tentu ada saja yang punya pikiran yang bukan-bukan. Yang inilah. Yang itulah.

”Mas, Mas, jika telah selesai, tolong dijemur di depan rumah. Jangan kena sinar matahari!”

Aduh, kembali istriku berteriak dari dalam rumah. Dan di dalam rumah, seperti biasa, sehabis marah, istriku tak mau bangkit dari ranjangnya. Dia hanya tidur-tiduran sambil bermain dengan boneka-boneka kecilnya. Boneka-boneka yang hampir semuanya berupa binatang laut. Ada ikan. Ada cumi-cumi. Ada kura-kura. Dan semuanya itu diajaknya berbicara. Berteka-teki. Dan bernyanyi.

”Ayo, apa yang jika malam jalannya miring? Kura-kura bodoh sekali, ya? Yang agak pintar itu memang kepiting!”

Ha, ha, ha, siapa yang tidak ketawa melihat itu semua. Melihat perempuan gemuk asyik berceloteh di ranjangnya. Ranjang yang morat-marit. Ranjang yang kini seperti lautan luas tempat dia berkuasa dan bersemayam. Ya, ya, memang, jika sudah begini, istriku memang benar-benar menjelma ikan paus. Si ratu lautan yang gemuk. Si ratu lautan yang selalu dapat memerintah apa dan siapa pun. Termasuk juga memerintah aku. Suaminya. Si tukang cuci. Yang juga dipanggil tukang cuci. Sebab bernama Tukang Cuci. ”Mas, Mas, jika sudah beres kemarilah, temui aku!”

Akh, kembali istriku berteriak. Dan kembali itu pula, sebelum aku menemuinya, aku memasang sumpal kecil di telingaku. Sumpal kecil yang dibencinya itu. Sumpal kecil yang selalu aku sapa begini: ”Sumpal kecil, sumpal kecil, tetaplah berada di telingaku. Sebab, aku membutuhkanmu bukan untuk menutupi suara istriku. Tetapi, agar aku selalu terhindar dari suara-suara. Suara-suara yang tak bosan-bosan mendesakku agar aku segera berhenti dari kerja cuci-mencuci!”

Gresik, 2009

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme