Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Naomi oleh Berto Tukan

Posted on Ming, 12 Jul 2009

Naomi. Telah bertahun-tahun ia hilang dari keseharian desa kami. Kabar terakhir yang terekam di memori kami adalah tenggelamnya seorang remaja pria belasan tahun bersama perahu ayahnya.

Seperti anak-anak lelaki lain di desa ini, Naomi pun sering mencuri waktu memilah ombak dengan sampan ayahnya. Laut sepi perahu sedangkan angin dan gelombang tengah di puncak senggama mereka. Entah penunggu laut mana yang menjarah pikirannya waktu itu, Naomi berjibaku sendirian menyiangi ombak.

Sebenarnya tak satu penduduk desa pun melihat kepergian Naomi. Namun kenyataan ia menghilang selama dua hari dan tak tertambatkannya perahu ayahnya di pantai, menyebabkan cerita seperti itulah yang berkembang. Ada pula berpikir, Naomi bosan dengan keseharian di desa sehingga memutuskan pergi ke kota dan perahu ayahnya dicuri orang atau digunakan penjahat untuk menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Tetapi, kemungkinan-kemungkinan itu tak pernah mampu melebihi dominasi kemungkinan tenggelamnya Naomi.

Selama itu pula, bahkan lebih awet lagi, Eta terus menangis tersedu-sedu. Betapa tidak. Naomi selalu menantang ayahnya berkelahi di pasir putih, bila lelaki itu pulang dari pesta tuak-arak sembari memaki dan meninju Eta. Ibu tua itu lupa akan air, makan, apalagi mengurus suami. Mengurung diri di kamar dan di senja hari menyisir pantai sembari memunguti apa saja yang ada di sana menjadi keseharian Eta. Desa pesisir pantai kami pun mendapat topik baru dalam sela-sela rutinitasnya yang membosankan; Eta yang menimbun sedih, stres lantas gila.

Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan tiga empat tahun, spekulasi tentang Naomi yang menjadi hamba Nitu Ari—gurita raksasa dengan tiga jari—Naomi mempersunting Peri Laut, dan Naomi melebur masuk ke perut bumi dihisap Golo Maranggele menjadi perbincangan tak putus-putus di bibir pantai, di atas sampan nelayan ketika menanti kail dimamah ikan, di penjemuran-penjemuran ikan, di warung-warung kebutuhan sehari-hari, di sela-sela permainan kanak-kanak, pula di ranjang sehabis suami istri bercinta.

Tak ketinggalan, Wujo dan Danti yang tengah beradu cinta di ceruk pasir kecil, di bawah akar-akar serabut kelapa, dihalau dari mata-mata tak diundang oleh dedaunan waru, lamtoro, menyematkan kisah Naomi dan ibunya di antara cumbuan-cumbuan penuh gelora mereka. Tak peduli kepiting-kepiting kecil yang sesekali melatai kaki, siput-siput yang tak henti curi pandang dari bawah rumah siput mereka, kedua anak Hawa itu asyik berbagi cerita. Banyak kisah yang bercampur antara acungan jempol dan isapan jempol tak putus-putus keluar dari mulut mereka. Yah, cinta memang mampu mengubah manusia menjadi pencerita yang andal. Bahkan, kisah Naomi dan ibunya yang telah sering mereka dengar menjadi indah dan baru ketika itu.

Jangan kira cerita itu dongeng. Ini benar-benar terjadi. Di bawah air sana, dunia indah penuh istana dan cinta itu benar-benar ada. Naomi pastinya salah satu perwira Nitu Ari di sana. Atau ia menjadi perantara antara dunia sana dan dunia kita.

Anak yang berbakti pada orangtuanya pasti akan selalu menghormati orangtua itu. Tak seperti Malin Kundang, Naomi menjemput ibunya. Ah, semoga anakku nanti seperti itu.

Ketika itu, Eta tengah menyulam pantai seperti biasanya. Tiba-tiba, dari tengah laut pasang senja yang tenang penuh plankton, muncul perahu itu. Penuh lumut, teripang, dan karang di kiri kanannya. Perahu tua namun kokoh itu mendatangi pantai, tepat di depan Eta. Perempuan gila itu sekejap tersenyum penuh bahagia. Inilah senyum pertama Eta dalam sepuluh tahun itu. Dilihatnya Naomi yang telah tumbuh jadi pemuda perkasa duduk di belakang mengayuh sampannya, menciptakan gelombang-gelombang kecil di permukaan air selicin kaca.

Setibanya di tepian, Naomi pun turun lantas menggandeng ibunya. Dituntunnya naik ke sampan. Mereka pun kembali ke tengah lautan dan menghilang ke bawah Golo Maranggele, pintu gerbang ke Kerajaan Nitu Ari.

Tak ada sesiapa pun menyadari hilangnya Eta dari desa. Hingga pada suatu hari ketika beberapa nelayan tengah melaut di bawah langit yang kelam tanpa bulan, beberapa dari mereka melihat dua sosok manusia menari-nari di atas Golo Maranggele. Dua sosok manusia itu menari-nari diiringi lompatan-lompatan lumba-lumba di tengah pusaran air. Setelah cerita itu menjadi buah bibir di desa, orang-orang lantas mulai menyadari ketak-hadiran Eta di desa itu. Rumahnya didatangi dan penduduk desa menemukan rumah yang kosong.

Tidak setiap hari memang nelayan melihat dua sosok manusia itu (yang tanpa kata terucap disetujui warga desa sebagai sosok Naomi dan ibunya). Bahkan, ada cerita yang lebih menggetarkan lagi, yang diceritakan Sinyo, seorang nelayan muda yang baru beberapa minggu melaut. Pada suatu dini hari, ia, entah karena alasan apa, kembali dari laut lebih dini. Saat tiba di pantai, dari arah Golo Maranggele dilihatnya sebuah sampan melaju menuju pantai. Sambil membereskan peralatan memancingnya, ia pun menunggu, jangan-jangan itu salah satu nelayan sejawatnya. Semakin dekat, tampak olehnya dua orang di sampan itu. Sedangkan untuk nelayan-nelayan di desa kami, sangat jarang satu sampan dinaiki dua orang. Sebab, hampir semua nelayan di kampung kami memiliki sampan. Dan memang tak biasanya orang melaut di malam hari berdua. Kalaupun ada, itu pasti salah satu orang kota yang berkunjung ke kampung dan ingin menaikkan adrenalin mereka dengan menuruti salah satu nelayan melaut. Tapi setahu Sinyo, hari ini dan dalam minggu ini tak ada satu pun orang asing yang datang ke kampung. Lagi pula sekarang pun bukan musim liburan, sehingga sanak saudara yang telah lama merantau mungkin saja datang berlibur. Ia pun tak mendengar kabar bahwa ada orang jauh yang kembali.

Sampan yang diperhatikannya itu ternyata tak mendarat di pantai tetapi hanya melingkar-lingkar, mengelilingi pantai dan lantas bertolak lagi ke tengah laut, ke arah Golo Maranggele.

Gemparlah desa keesokan harinya. Cerita itu berkembang menjadi cerita baru, Naomi dan ibunya kadang-kadang kembali mengunjungi desa tepatnya pantai desa. Mungkin saja di kala rindu atau mungkin ada petanda lain dari alam bawah sana untuk kampung mereka. Apalagi seminggu setelah Sinyo melihat sampan dari Golo Maranggele itu, Sipa—orang tertua di desa itu yang berumur 150 tahun—meninggal.

Wujo dan Danti semakin hanyut dalam cerita dan cinta. Lupa segalanya. Hari beranjak petang dan pantai sepi di bawah sinar matahari yang memudar. Tak ada nelayan yang siap melaut sebab bulan tengah asyik-asyiknya mandi sinar matahari.

Cinta itu buta mungkin memang benar. Danti dan Wujo begitu asyiknya berbagi kisah di pantai itu. Udara yang berubah kelam dan alam yang menghitam malam pun tak disadari mereka. Berbagai hal dari masa kecil, kisah-kisah konyol, pengukuhan cinta mereka hingga cita-cita atau lebih tepatnya mimpi masa depan diutarakan dan dimamah tanpa henti di sana. Keinginan untuk pulang selalu ditimpa lima menit lagi berbagi cerita yang lantas melipat berlipat jadi lima jam.

Malam terus beranjak cepat karena dunia selalu dikejar keresahan sang waktu. Danti dan Wujo terus lupa bahwa waktu tak memberi banyak kesempatan bagi manusia untuk bermimpi. Burung malam terdengar perlahan dari kejauhan. Tanpa Danti dan Wujo sadari, dari Golo Maranggele meluncur cepat sebuah sampan. Sampan itu perlahan-lahan mendekati pantai dan mendarat di sana.

Ada baiknya malam ini kubawa Danti pergi dari desa ini, pikir Wujo. Kami bisa saja berjalan menelusuri pantai pasir putih ini, berjalan terus sejauh mungkin dari kampung ini. Atau, bisa saja aku mencari sebuah sampan yang lupa dibawa pulang kayuhnya. Berlama-lama di desa ini, segala cinta tak’kan bisa berakhir bahagia, segala mimpi dan cita-cita akan masuk ke bubuh adat. Sukuku tak bisa menikahi perempuan sukunya. Dan Danti tengah beriming-iming tentang cinta yang akan berlanjut pada altar gereja dengan gaun putih bagaikan bidadarinya.

Lantas mereka menyaksikan semburat putih dari pinggir pantai. Danti tiba-tiba menjelma putri bergaun putih laksana bidadari. Wujo menjelma nelayan kekar dengan pakaian seadanya. Wujo menggandeng Danti keluar dari ceruk pantai itu. Dibawanya ke pinggir pantai. Di sana, dilihatnya sebuah sampan berkilau emas, dengan lelampu warna-warni, menerangi air sekelilingnya. Di kiri-kanan sampan itu pun menari-nari ikan-ikan kecil beraneka warna dan rupa.

Depok, Juni 2007

Keterangan:
– Golo adalah pusaran air di laut.
– Maranggele berarti setan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme