Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Malam Kunang-Kunang oleh Rama Dira J

Posted on Ming, 02 Agu 2009

 

Malam Kunang-Kunang

Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.

Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.

Untunglah sekumpulan bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini mendapatkan pelajaran ilmu kehewanan di sekolah sehingga mereka tahu bahwa kunang-kunang tak lebih dari sejenis serangga yang bisa mengeluarkan cahaya yang akan tampak jelas jika gelap malam menyungkup dunia. Mengapa kunang-kunang bisa menghasilkan cahaya dan mengapa dengan cahaya itu tubuhnya sendiri tidak kepanasan atau terbakar, tentu juga bukan lagi menjadi rahasia bagi mereka.

Pak Guru Sadirun pernah menguak semua rahasia mengenai makhluk yang bernama kunang-kunang itu. Berdasarkan buku teks pelajaran, Pak Sadirun menjelaskan bahwa di dalam tubuhnya, kunang-kunang memiliki zat kimia lusiferin dan enzim lusiferase. Untuk menghasilkan cahaya, dua zat ini bercampur. Percampuran ini menghasilkan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya itu pun sifatnya dingin, tidak mengandung ultraviolet dan sinar inframerah. Ia memiliki panjang gelombang 510 hingga 670 nanometer dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau. Kunang-kunang termasuk dalam golongan Lampyridae yang merupakan familia dalam ordo kumbang Coleoptera. Ada lebih dari dua ribu spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Spesies ini dapat ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

Maka, dengan berkah pengetahuan itu, bocah-bocah ini menjadi tak pernah khawatir dengan larangan orangtua mereka dan mereka tak pernah takut akan kesialan. Bagaimanapun, mereka tetap berlomba-lomba menangkap kunang-kunang. Siapa yang mendapat paling banyak akan dinobatkan sebagai Raja Kunang-kunang. Kesenangan dan kebahagiaan itu tak tergantikan. Hingga, akhir-akhir ini mereka pun tak lagi mendatangi guru mengaji atau guru silat mereka karena kunang-kunang memiliki lebih banyak pesona.

Untuk menghadirkan kunang-kunang, mereka biasanya mendendangkan berulang-ulang nyanyian kunang-kunang itu:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Kunang-kunang sepertinya sudah begitu akrab dengan suara-suara itu sebab setelah nyanyian itu mengalir, sekumpulan kunang-kunang dari semak, dari pepohonan, dan dari mana pun akan melayang-layang menyatu menyerbu para bocah itu, merelakan diri untuk ditangkap tangan-tangan lugu, tangan-tangan milik makhluk yang tak punya hasrat membunuh, mereka yang hanya ingin bermain dan menikmati permainan masa kanak yang bukanlah lagi menjadi suatu bagian diri jika kelak mereka dewasa. Bagaimanapun, tangan waktu dan zaman akan berperan mengubah mereka.

Kunang-kunang yang tertangkap akan dikumpulkan di dalam botol masing-masing. Jika malam sudah genap dan embusan angin lembah mulai membuat kunang-kunang melayang tak tentu arah, maka mereka akan berhenti dan mulai menghitung hasil tangkapan mereka di pos ronda.

Tak ada yang bisa menyaingi rekor predikat Raja Kunang-kunang yang sudah dibuat oleh Yasser Arafat. Hampir selalu, bocah bertinggi badan melebihi sebayanya ini menjadi pengumpul terbanyak. Bagaimana tidak, dia memiliki jangkauan lompatan tertinggi. Dia juga yang paling kuat berlari. Pernah memang, predikat Raja Kunang-kunang menjadi milik Anhar Alifudin. Itu terjadi semata karena Yasser Arafat yang sakit tidak bisa ikut bermain.

Malam ini, Yasser Arafat berhasil mengumpulkan lima puluh kunang-kunang. Kontras dengan Baraq Syariati yang hanya mendapatkan lima kunang-kunang. Dengan badannya yang kecil, Baraq tak pernah mampu melompat lebih tinggi. Juga tak kuat berlari. Dengan begitu, dialah yang selalu menjadi pecundang sejati dan rutin menjalani hukuman dengan mencabut dan mengambil singkong dari kebun milik orang terkaya di dusun itu: Juragan Hussein Akbar.

Usai dihitung semua dan Raja Kunang-kunang sudah diketahui siapa, maka kunang-kunang kembali dilepas. Bocah-bocah bersorak dan kunang-kunang berkerlap-kerlip riang, merasa bangga sudah bisa menghibur sekaligus terhibur berkat tingkah bocah-bocah lugu itu.

Dingin mulai menusuk. Bocah-bocah mengembangkan sarung dan memakaikannya ke badan. Ranting-ranting kering dikumpulkan dan dibuatlah api unggun pengusir dingin di depan pos ronda. Setibanya Baraq Syariati yang membawa singkong-singkong dari kebun Juragan Hussein Akbar, mulailah mereka memanggang.

Kenyataannya, pos ronda yang sudah menjadi markas mereka itu tak pernah lagi digunakan. Orang-orang tua di lembah itu tak bisa setia menjalankan apa yang sebenarnya sudah mereka rancang sendiri. Jika mengharapkan partisipasi para pemuda, tentu tidak bisa sebab semua pemuda dari dusun itu merantau ke kota-kota. Giliran ronda untuk bapak-bapak memang pernah berjalan. Namun, karena dingin lembah itu tak tertahankan dan wajah istri selalu membayang, serta tak pernah ada peristiwa kemalingan, mereka pun tak lagi setia dengan kewajiban masing-masing. Fakta itu justru membuat bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini senang. Mereka mendapatkan markas untuk rehat usai bermain.

Sehabis menyantap singkong panggang, tentu banyak angin yang harus dibuang. Dan, bocah-bocah itu menjadikannya sebagai bahan permainan selanjutnya, yaitu perang kentut. Kemenangan dan predikat sebagai Raja Kentut sama prestisiusnya dengan Raja Kunang-kunang. Bagaimanapun, penilaian tidak didasarkan semata pada bunyi yang dihasilkan, tapi juga pada bau yang mematikan. Jika kentutnya berbunyi keras dan berbau busuk, tak diragukan lagi dialah sang juara sejati. Untuk urusan yang satu ini, pemegang rekornya adalah Hang Jebad, bocah paling tua di kumpulan itu.

Biasanya, sehabis perang kentut, malam sudah larut sempurna. Bocah-bocah menyadari itu dan pulanglah mereka segera dan tidur lelap setibanya mereka di pembaringan.

Bocah-bocah pencinta kunang-kunang berkumpul seperti biasanya malam ini. Di sekitar tanah lapang, tak jauh dari semak. Mereka melantunkan dendang kunang-kunang, mengundang kunang-kunang untuk datang bermain bersama sebagaimana biasa:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Meski telah diulang-ulang berpuluh-puluh kali, dendang itu tak sanggup mendatangkan kunang-kunang. Mereka menjadi heran. Setahu mereka, semenjak pertama mendendangkan nyanyian sekaligus mantra pemikat itu, ratusan kunang-kunang terindah dari segenap penjuru lembah selalu berdatangan. Namun, malam ini, semuanya terasa lain, tak ada kunang-kunang yang berkerlap-kerlip terbang mendekat. Maka, lembah itu pun benar-benar menjadi mati dan bocah-bocah itu, untuk kali pertama dirasuki kekecewaan. Apa yang terjadi? Apakah ada kumpulan bocah-bocah lain yang membuat kunang-kunang itu lebih tertarik mendekat ke sana? Bocah-bocah itu tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Malam makin pekat dan awan menghitam dan hujan pun tumpah. Bocah-bocah berlari-lari dalam hujan, berupaya menggapai pos ronda. Di pos ronda, dalam hawa yang dinginnya melumat tulang, bocah-bocah itu membuat diri senyaman-nyamannya dalam penantian. Hujan tampaknya tak segera habis dalam waktu dekat. Anak-anak memutuskan untuk tetap bertahan. Percuma juga mereka pulang di malam yang belum genap seperti sekarang karena pintu rumah masih rapat terkunci. Barulah dibuka kuncinya jika malam sudah larut dan orang tua mereka sudah menyelesaikan ritual hiburan ranjang.

Dalam hujan badai dengan angin yang merontokkan dedaunan itu, bocah-bocah itu mendengar derum sebuah truk yang tenggelam dalam tunggal nada hujan. Jauh dari sini, mereka bisa menangkap—meski tak begitu jelas—gerakan lamban truk itu di sana. Awalnya mereka mengira itu truk milik Juragan Hussein Akbar yang biasa pulang malam sehabis menjual hasil pertanian ke kota, tapi nyatanya bukan. Truk milik Juragan Hussein Akbar berwarna kuning. Meski dalam gelap, kuningnya tetap akan terlihat dari kejauhan. Tetapi, truk yang satu itu berwarna gelap dan tertutup tenda di bagian belakangnya. Tak berapa lama kemudian, truk itu berhenti di tepi jurang.

”Mungkin mesinnya mogok.”

”Mungkin bannya terendam lumpur.”

Mereka pun hanya bisa mengira-ngira apa yang melanda truk itu karena gelap kembali berkuasa setelah dua lampu sorot pada truk itu mati. Truk itu berhenti sekitar setengah jam lamanya di sana dan bocah-bocah pencinta kunang-kunang masih juga berteduh menanti hujan berhenti.

Kedua lampu pada truk itu hidup lagi dan truk itu bergerak perlahan meninggalkan tepi jurang kemudian berbelok di pertigaan, mengambil jalan ke arah kecamatan. Bocah-bocah itu hanya melihat kepergian truk itu dari kejauhan.

Beberapa jam sepeninggalan truk itu, hujan pun reda. Malam sudah larut dan bocah-bocah itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, mereka segera membatalkan niat itu setelah melihat kemunculan kerlap-kerlip kunang-kunang di sekitar tepi jurang, di lokasi berhentinya truk tadi.

Maka, bocah-bocah itu pun berlari riang ke arah kunang-kunang itu dengan segera. Semakin banyak kunang-kunang, semakin girang bocah-bocah. Satu hal yang pasti, kunang-kunang itu tampak tak banyak beranjak. Mereka hanya mengambang bertahan di atas jurang. Meski bocah-bocah sudah mendekat, tetap saja kunang-kunang tak terbang.

Setiba mereka di tepi jurang, bocah-bocah itu didekap rasa penasaran menyaksikan kunang-kunang yang semakin banyak bermunculan dari dasar jurang yang gelap. Bocah-bocah itu tak jadi menangkap kunang-kunang itu. Mereka justru turun ke dasar jurang demi memastikan apa yang ada di sana.

”Mungkin di sana ada kerajaan kunang-kunang.”

”Mungkin….”

Pelan-pelan, mereka menapaki jalan kecil menuju jurang yang licin dan basah. Sesampai mereka di dasar jurang, Baraq Syariati terjatuh. Ia tersandung sesuatu. Anhar Alifudin segera menyalakan senter. Gelap sedikit terusir dan mereka kini mengetahui bahwa Baraq terjatuh karena tersandung sesosok tubuh, sesosok mayat.

Serta-merta mereka dilanda kepanikan yang tak tanggung-tanggung karena tak hanya ada satu mayat saja. Di situ menumpuk banyak mayat dan sudah berbau busuk dan kunang-kunang indah pun semakin banyak. Mulanya kuku-kuku yang terlepas dari jari kaki dan tangan mayat-mayat itu mengambang untuk kemudian menjelma titik-titik cahaya, menjadi kunang-kunang yang indah rupa.

Tak bisa tidak, bocah-bocah itu pun berlari ketakutan meninggalkan jurang itu, meninggalkan tumpukan-tumpukan orang mati dengan luka-luka tembak itu, meninggalkan ribuan kunang-kunang dengan keindahan yang memesona, makhluk-makhluk baru yang menjelma dari kuku-kuku mayat-mayat yang dilemparkan begitu saja dari dalam truk tadi.

Maka, malam itu, wajah dusun kecil di lembah tersebut menjadi terang benderang sebab beribu-ribu kunang-kunang yang baru lahir berpesta dan inilah malam terindah milik mereka semata: malam kunang-kunang.

Tarakan, 25-26 Maret 2009

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme