Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gelap, Gelap Sekali oleh Wilson Nadeak

Posted on Ming, 04 Okt 2009

Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh. Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri.

Beberapa menit kami tenggelam dalam hening.

Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama.

Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah.

Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka.

”Ada apa?” kataku.

Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.”

”Oleh siapa?” tanyaku.

”Belum tahu.”

Tangis ibu Saleh tak henti- henti.

Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal.

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun.

”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam.

”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka bersentuhan dengan kakiku.

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari antara mereka yang kukenal.

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan lehermu!”

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka sedikit melegakan rasa sakitku.

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku.

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua orang ingin mencari selamat sendiri.

Bayangan dalam benakku, anak-anak akan telantar, istriku dalam kesetiaannya harus banting tulang memberi makan mereka. Dan cap dalam keluarga, mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini.

Tiba-tiba hatiku menjerit. ”Tuhan, lindungilah mereka!”

Tendangan di pantatku menyadarkan aku. ”Ayo, naik! Naik! Naik!”

Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Kami benar- benar menjadi warga kegelapan. Gelap dalam sel. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Semuanya gelap gulita!

Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Bahasa batin dengan kisah gelap. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang, aku dapat menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Truk berhenti di mulut sebuah jembatan yang besar dan panjang. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan, di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya.

Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Orang yang berada di barisan depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun menebas lehernya. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Selang beberapa menit suara yang sama bergenta, sampai giliranku pun tiba. Dalam kepergian malam, dalam sunyi air yang mengalir, dalam remang gelap, aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Dalam detik yang sama aku membungkuk dan terjun ke dalam sungai. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Di dalam alun arus, aku semakin menepi sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri batu-batu.

Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah, kemudian tali dari kaki. Air yang dingin menambah perihnya goresan tali. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba mendengarkan langkah kaki. Tidak ada. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin lama semakin hilang.

Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam, menyusuri tepi sungai dengan keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah, aku berjalan sejauh-jauh jarak yang dapat kutempuh.

Matahari mulai muncul di celah gunung. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah, merunduk rendah. Buah yang matang tapi ketika kukunyah, banyak batunya. Pisang monyet. Aku menduga, bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet, pastilah manusia pun bisa. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku memanjatnya, dan mengambil buah yang ranum. Aku berterima kasih kepada Tuhan bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan mereguk air dari pinggir sungai, yang tergenang dan bening. Ada mata air di situ. Setelah kekuatanku pulih, aku berjalan dan berjalan, menyongsong matahari yang terbit.

Di kaki gunung, tepatnya sebuah lembah yang landai, aku menemukan sebuah gubuk. Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Kuketuk pintunya. Seorang lelaki tua dan ibu yang sudah berumur membuka pintu. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Aku memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya, dan pelarianku. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus.

Rasanya aku berminggu- minggu bersama mereka. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Akan tetapi, aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Kata orang tua itu, di seberang ada laut.

Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. Siang hari aku tidur dan malam melaut bersama nelayan, atau kalau musim ombak, menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Setelah berbulan-bulan, aku mendapat informasi mengenai alamat mereka, dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan seorang bekas interogatorku. Ia terkejut melihatku. Aku pun terkejut melihatnya. Aku cepat-cepat menghilang. Pergi ke laut, masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan-bulan di laut, menjual ikan ke seberang.

Malam-malam berbintang, aku menghitungnya. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu kapan akan berakhir.

Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan, kukirim upahku, kepada anak-anakku. Tanpa alamat, karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. Mereka hanya peduli pusaran arus laut.

Alam keras membuat mereka hidup. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga.

Sampai berpuluh tahun kemudian, iklim politik pun berubah, sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah.

Bandung, 21 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme