Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap oleh Timbul Nadeak

Posted on Ming, 31 Jan 2010

Di Kedai Tuak Martohap selalu ada beberapa orang lelaki—biasanya 4 sampai 5 orang—yang bercakap-cakap sambil minum tuak. Selalu ada cerita yang mereka percakapkan. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Karena mereka bercakap-cakap dengan suara tinggi, maka semua tamu di kedai tuak itu tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi ada pula cerita yang mereka percakapkan dengan suara rendah. Kalau bercakap-cakap seperti itu, mereka pasti menggeser gelas dan botol tuak masing-masing ke tengah meja agar dapat menyimak sambil melipat kedua tangan di atas meja.

Dua jam sebelum tengah malam, biasanya Pita mulai sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Membersihkan dan merapikan kursi-kursi merupakan isyarat bahwa dia sedang bersiap-siap untuk menutup kedai tuaknya. Satu atau dua orang tamu yang masih berada di kedainya harus bersiap-siap pula untuk pulang. Tapi pada malam itu, ada seorang lelaki beruban yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari kursinya.

Pita tersenyum ramah ketika mengamati sosok lelaki itu. Tak lama kemudian, senyumnya hilang seketika. Dia terkesima. Sekujur tubuhnya sempat bergetar ketika lelaki beruban itu membalas tatapannya.

Pita merasa pernah mengenali wajah lelaki itu. Bahkan pernah mengenali tatapannya. Dia ingin segera berlari ke kamarnya untuk membuka album masa mudanya. Dia ingin memastikan bahwa wajah lelaki beruban itu adalah wajah tua milik seorang pemuda yang pernah dikenalnya. Wajah yang sesekali masih mampu menggelorakan rindunya.

Pita tetap melanjutkan pekerjaannya dengan kepala tertunduk. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyergap dirinya sehingga dia segan melirik lelaki itu, tapi nalurinya memberitahukan bahwa mata lelaki itu sedang mengamati wajahnya, rambutnya, dan sekujur tubuhnya.

”Aku pernah mengenal seseorang yang mirip kau.”

Pita menoleh. Tanpa disadarinya, ternyata lelaki itu telah berdiri di dekatnya.

”Sekarang aku hanya bisa mengenangnya.”

Pita membisu, tetapi dadanya bergemuruh.

”Maaf, aku telah mengganggu pekerjaanmu. Agar kau tak terganggu, aku akan menunggu hingga kau menyelesaikan pekerjaanmu. Setelah itu, berilah aku kesempatan untuk bicara.”

Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita menguatkan hatinya untuk duduk di hadapan lelaki itu.

”Apa yang ingin kau bicarakan?”

”Tentang seorang perempuan di masa mudaku, dulu.”

”Apakah kau merasa aku pernah mengenalmu?”

Lelaki itu mengangguk, lalu bertanya, ”Apakah suamimu bernama Martohap?”

Pita membisu.

”Atau anakmu yang memiliki nama itu?”

Pita menggeleng.

Lelaki itu menarik napas panjang. Ada kelegaan terbias di wajahnya. Lalu dia berkata dengan santun, ”Aku tidak suka minum tuak. Aku mampir karena membaca papan nama di depan kedai tuakmu ini. Nama siapa yang kau gunakan?”

Pita menunduk. Walau telah berhasil memendam cintanya, dia tetap merasa malu untuk menjawab pertanyaan itu.

”Apakah itu nama seorang lelaki yang pernah kau cintai?”

”Apakah kau pernah mencintai seorang perempuan?”

Lelaki itu terdiam sejenak. Dahinya berkerut. Lalu dia berkata, ”Maaf karena aku sangat lancang bertanya. Mengapa kau namai Martohap? Bukankah nama Songgop lebih berarti untukmu?”

Sekujur tubuh Pita mulai menggigil.

”Apakah kau pulang untuk perempuan yang kau cintai itu?”

”Aku tidak pulang. Aku datang!” jawab lelaki itu. Matanya menatap tajam.

”Aku yakin bahwa kau mengenal perempuan yang kumaksud. Kira-kira dua puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu diperistri oleh anak Kepala Kampung ini,” sambungnya.

Pita membisu kembali. Napasnya tersendat.

”Namaku Martohap.”

Pita bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu.

Di dalam kamarnya yang terletak di belakang kedai tuaknya, dia tak mampu menahan air matanya walaupun tak tahu pasti apa sesungguhnya yang dia tangisi. Apakah dia menangis karena terharu akan pertemuan itu atau menangis karena menyesal telah memberikan hatinya kepada lelaki itu. Gara-gara lelaki itu, tak ada lagi hati yang tersisa untuk dia berikan kepada lelaki lain.

Tahun demi tahun telah dilaluinya dalam kesendirian. Dinikmatinya kesendirian itu sambil menunggu lelaki itu pulang untuk mengembalikan hatinya. Nama lelaki itu digunakannya menjadi nama kedai tuaknya. Setiap orang yang melewati kedai tuaknya dapat membaca nama itu dengan jelas. Dia memang ingin menyapa dan mengundang lelaki yang memiliki nama yang sama untuk singgah di kedai tuaknya.

Di dalam hatinya, Pita berkali-kali menyebut nama Tuhannya. ”Tuhan, akhirnya kau kirimkan lelaki itu untuk menemuiku. Terima kasih Tuhan, mendekati usia senja aku masih sempat melihat wajahnya.”

***

Dua puluh lima tahun yang lalu, Pita sering termenung menimbang-nimbang perasaannya. Rencana pernikahan itu membuatnya resah dan marah. Berulang-ulang kali pula dia bertanya dalam hati, apakah aku benar-benar tega menistakan kehormatan yang telah berada dalam genggaman orangtuaku?

Seminggu sebelum pesta pernikahannya dilaksanakan, terjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut agar sebuah pabrik bubur kertas ditutup. Masyarakat dari empat kampung di sekitar lokasi pabrik bubur kertas itu bergerak serentak menebangi pohon-pohon di hutan tanaman industri. Batang-batang pohon itu diseret untuk memalang jalan. Dahan-dahannya dibiarkan berserakan di tengah jalan. Pohon besar di pinggir jalan, yang batangnya berdiameter setengah meter, turut ditebang untuk memalang jalan. Bahkan batu gunung dilinggis beramai-ramai hingga menggelinding ke tengah jalan. Ribuan masyarakat berdiri di pinggir jalan sambil membawa spanduk-spanduk tuntutan mereka, ”Jangan biarkan bau busuk merusak kehidupan kami”. ”Stop menebar racun di Tanah Toba!”.

Truk-truk pengangkut kayu terpaksa berhenti. Terjadi antrean panjang lebih dari 10 jam. Penumpang-penumpang bus lintas Sumatera terpaksa turun untuk membantu aparat kepolisian dan TNI. Mereka bekerja sama menyingkirkan batang-batang pohon yang menghalangi jalan.

Dua hari setelah demonstrasi itu, orang-orang asing berseragam dan berbaju preman terlihat hilir-mudik ke luar-masuk kampung. Masyarakat saling berbisik. ”Kepala Kampung dituduh sebagai penggerak demo.”

”Beberapa anggota masyarakat sedang dicari.”

”Yang dicap sebagai tokoh harus segera bersembunyi!” Dan calon mertuanya sempat menghilang beberapa hari. Ada yang mengatakan sedang ditahan, tapi berita-berita di televisi mengatakan sedang diinterogasi. Beberapa hari kemudian, Kepala Kampung kembali terlihat sibuk mengadakan rapat dengan masyarakatnya.

Hari pernikahan itu tentu urung dilaksanakan, tapi tepat pada hari itu tersiar kabar pengangkatan kepala kampung yang baru. Masyarakat kembali berbisik-bisik.

”Kepala kampung yang baru itu langsung ditunjuk oleh pemerintah.” Pada saat yang sama, calon mertua Pita menyatakan tak akan mundur dari jabatannya. Sejak saat itu demonstrasi yang dilaksanakan terpecah dua. Ada kubu yang mendukung. Ada kubu yang menolak. Dan sejak saat itu pula, Songgop, pemuda yang akan menikahinya menghilang. Dia dicap sebagai salah seorang aktivis yang membantu bapaknya mempersiapkan demonstrasi besar-besaran itu.

Martohap juga menghilang. Masyarakat di kampungnya menganggap dia melarikan diri karena kalah memperebutkan Pita, si perempuan kampung yang cantik dan cerdas. Tapi Pita menganggap Martohap yang menjadi pemenang. Dia telah mencicipi manisnya bibir pemuda itu.

Bibir Martohap memang telah membuat kuncup bunga di hati Pita mekar bersamaan waktunya dengan sukaria pemuda dan pemudi sekampungnya. Pada malam itu, mereka sedang menghias sebuah pohon cemara menjadi pohon Natal. Beberapa pemuda-pemudi sibuk menyelipkan kabel lampu-lampu kecil di antara daun-daun di sekeliling pohon. Tapi Pita memilih untuk membantu Martohap menyangkutkan hiasan-hiasan salib dan serpihan-serpihan kapas. Ketika pekerjaan mereka selesai, semua lampu gereja dimatikan. Kegelapan menyelimuti mereka. Di balik rimbunnya pohon Natal, Martohap segera merengkuh dan mendekap tubuh Pita erat-erat. Sebelum seseorang mencolokkan kabel ke stop kontak di dekat altar gereja, pemuda itu telah selesai menciumnya. Ketika lampu-lampu pohon Natal itu menyala indah berkelap-kelip, Pita dan Martohap saling tatap penuh makna. Dan Songgop menatap curiga!

Dua tahun setelah demonstrasi besar-besaran itu, Songgop kembali ke kampungnya. Dia pulang bersama seorang bayi berumur beberapa bulan. Bayi itu berada dalam gendongan seorang perempuan yang telah dinikahinya di Tanah Karo.

***

Sebelum tengah hari Pita membuka kedai tuaknya. Tak lama kemudian dua orang lelaki masuk dan segera membuka papan catur yang selalu tersedia di atas sebuah meja. Tapi sebelum menyusun buah caturya, salah seorang menyapa.

”Tadi malam kulihat kau bercakap-cakap dengan seseorang. Siapa dia?”

Pita sempat tergagap sebelum menjawab, ”Dia pendatang yang sedang mencari seseorang.”

”Siapa yang dicarinya?”

”Katanya adiknya,” jawab Pita sekenanya.

”Ah, kok bisa dia kehilangan adik? Sudah berapa lama dia merantau?”

”Aku tak tahu!”

Lelaki itu terdiam sejenak. ”Aneh juga. Kau lama bercakap-cakap dengan dia, tetapi tak tahu berapa lama dia sudah merantau.” Dahinya berkerut. ”Sudah kau suruh bertanya ke Kepala Kampung?” sambungnya.

”Sudah. Kupikir, sekarang dia sedang menemui Kepala Kampung.”

Lelaki itu berpaling dan mulai melangkahkan buah caturnya.

Di dapur kedai tuaknya, Pita termenung. Dia menyesal telah berbohong, tapi kalau berkata jujur, dia mungkin akan lebih menyesal. Mereka akan bertanya, dan bertanya… hingga bisa merangkai sebuah cerita. Lalu dia akan selalu curiga bila gelas-gelas dan botol-botol tuak terkumpul di tengah meja. Akan semakin curiga bila mereka bercakap-cakap dengan suara rendah. Akhirnya terusik ketika mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia akan ditertawai di kedai tuaknya sendiri. Kalau merasa sungkan, mungkin mereka akan pergi ke kedai tuak orang lain dan terbahak-bahak di sana!

Pita pernah menegur. Dia tahu, saat itu mereka sedang mempercakapkan seorang perempuan yang sudah berumur, tetapi belum pernah dinikahi. Walaupun bukan dirinya yang sedang mereka percakapkan, tetapi hatinya cemas. Sebelum mereka tertawa, dengan lantang dia menegur, ”Sudahlah! Jangan mempercakapkan cerita seperti itu. Apa kalian tak ingin menjaga perasaanku?!”

Tegurannya membuat cerita yang sedang mereka percakapkan dianggap telah selesai. Biasanya, cerita baru dianggap selesai beberapa menit sebelum kedai tuak itu tutup. Tapi kadang-kadang ada juga cerita yang bersambung ke malam berikutnya. Bila terjadi seperti itu, biasanya seseorang dari malam sebelumnya dituntut untuk mengulang apa yang telah dipercakapkan. Jadi selalu ada cerita yang dipercakapkan karena orang-orang yang bercakap-cakap pada malam berikutnya, belum tentu semua sama dengan orang-orang yang bercakap-cakap pada malam sebelumnya.

***

Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita kembali menguatkan hatinya untuk duduk di hadapan lelaki beruban itu.

”Mengapa kau datang lagi?”

”Untuk melihat siapa yang membantumu menutup kedai tuak ini.”

”Aku sendiri yang melakukannya.”

”Mengapa suami atau anakmu tak ikut membantu?”

”Aku belum pernah menikah.”

Martohap terkejut. Matanya sempat berbinar. Dia baru tahu kalau pernikahan itu tak pernah dilaksanakan, padahal rencana pernikahan itu yang membuat dia mempertaruhkan nasibnya di perantauan dan selama dua puluh tahun membuatnya takut untuk pulang.

Walau membisu, Martohap tetap mengamati wajah yang dulu sangat dikaguminya. Dulu? Tidak! Tidak! Bantah hatinya seketika. Sekarang pun dia masih tetap mengaguminya. Dia memang sangat mengagumi perempuan yang tulus dan tegar. Apalagi bila perempuan itu telah membuktikan dirinya tulus menikmati kesendiriannya. Tegar mengikuti perjalanan hidupnya.

”Aku pun belum pernah menikah.”

Pita terbelalak. Untuk apa dia mengatakan itu? Tentu dia tidak sedang merayu, katanya dalam hati. Lalu dia tersenyum kecil. Dia tahu, Martohap memang tidak bisa merayu. Lelaki itu lebih suka berpikir dan bertindak.

”Apakah seseorang yang telah menjalani kesendirian selama puluhan tahun berani menjalani kebersamaan di bagian akhir masa hidupnya? Bila mengenang cerita cinta sudah terasa indah, mengapa perlu mempertaruhkan kebersamaan? Bila kebersamaan itu akhirnya ternyata menyakitkan, bukankah nikmatnya kesendirian akan menjadi sia-sia? Padahal kesendirian itu telah dinikmati hingga usia menjelang senja. Tak lama lagi kematian akan datang untuk memisahkan kebersamaan. Mungkin naif bila kusimpulkan, semakin tua menjalani kesendirian, semakin takut menghadapi kebersamaan.”

”Untuk apa kau katakan itu?”

”Karena aku ingin pulang.”

”Pulanglah!” kata Pita ketus. Hatinya meradang. Dengan sigap dia bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu sebelum air matanya sempat menetes.

Martohap terkesima. Matanya nanar menatap atap kedai tuak yang tak berlangit-langit itu. Lalu dia merogoh saku bajunya dan meletakkan sebuah amplop di atas meja. Langkahnya gontai ketika meninggalkan kedai tuak yang telah sepi itu.

***

Seperti biasanya, dua jam sebelum tengah malam, Pita selalu sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Dia masih tetap sendirian membersihkan dan merapikan kursi-kursi kedai tuaknya. Setelah menutup kedai tuaknya, sesekali dia membuka amplop yang ditinggalkan Martohap. Lalu dibacanya surat pendek itu untuk kesekian kalinya, ”Pita, hingga sekarang aku tetap mencintaimu! Aku berbahagia karena tak ada orang yang berhak melarangku untuk berhenti mengenangmu!”

Pita mengangkat kepalanya. Ditatapnya kegelapan malam. Lalu bibirnya tersenyum. Ada segumpal kebahagiaan ketika dia membayangkan seorang lelaki beruban yang tak pernah berani melamarnya.

Menteng Metro, Des 2009.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme