Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Setidaknya Ada Anjing yang Berkaing-kaing oleh Teguh Affandi

Posted on Ming, 26 Jun 2022

Kali pertama lelaki tua itu terlihat di bangku taman sambil mengupas sebuah delima. Tangannya yang keriput menyibak kulit delima yang mulus. Dengan pisau yang mulai berkarat, bulir-bulir merah itu terburai dan lelaki tua itu menampungnya dalam cangkir plastik bekas kopi merek S.

—

SEEKOR anjing duduk tak jauh dari lelaki tua itu. Lelaki tua tersenyum memperlihatkan giginya yang sedikit kuning, pun senyum Joana. Agak khawatir. Pukul enam, sebagaimana kebiasaan yang belakangan Joana lakukan, dia sudah mengikat tali sepatu lari, memakai kaus dan celana pendek khusus lari, memasang airbud dan playlist untuk joging pagi. Sirene kereta api dari Stasiun Cawang masih terdengar, belum tertimpa polusi suara dan polusi udara. Langit belum sempurna terang, matahari masih berselimut kabut, tapi pengap dalam pikirannya harus lekas dia gusah agar harinya tidak suram. Lari pagi satu jam, mengelilingi kompleks menjadi katalis terbarunya. Terlebih tak jauh dari kompleksnya, sebuah taman dengan rerimbunan lebat sudah boleh dikunjungi.

”Mungkin dia pembunuh?!”

Kota besar ini sering membuat gila banyak orang, hingga pembunuhan lebih sering terdengar dari kegembiraan. Sepagi ini lelaki tua itu membawa senjata tajam! Joana berhenti, mengamati sebentar, menarik napas lebih panjang, dan berniat putar balik pulang.

Udara taman yang bersih dan kaya oksigen mengisi paru-parunya. Meski hatinya belakangan rumpang, dia tidak mau mati oleh sakit hati. Sudah dua bulan ini rumahnya menjadi neraka kecil yang andai tidak diikat oleh peraturan agama, Joana akan mudah mengajukan cerai dan pergi dari suaminya. Agama selalu merepotkan, batin Joana. Sebab untuk berpisah saja, sedemikian runyam. Bilapun dia harus mengajukan cerai, di mana keluarganya tampak tanpa cela, harmonis dan sempurna, yang tampak seperti cadik di tengah danau tenang tanpa ombang-ambing, dia pun akan diserang pertanyaan.

”Gila kamu, Joana! Mau cari apa lagi!”

”Redian itu 1 dari 1.000 lelaki sempurna di dunia ini!”

”Tampan! Karier mapan!”

”Kamu lepaskan Redian, semuanya akan mendekati!”

Rasanya rumah bukan lagi tempatnya pulang. Tempat Joana bisa melepaskan semua keluh seharian bekerja. Rumah kini menjadi sekadar toilet dan hotel kapsul, Joana hanya butuh tidur dan mandi di sana. Tidak lagi peduli bila Redian masih hidup dan tinggal seatap dengannya. ”Silakan diambil kalau kalian merasa Redian itu lelaki sempurna!”

Joana sejenak berhenti, mengencangkan ikatan tali sepatu yang kendur. Lelaki tua itu masih mengumpulkan bulir delima yang terjatuh dekat kaki. Lelaki tua itu mungkin sudah sedemikian lama hidup di jalan, berkawan debu dan polusi, sehingga makanan terbuka yang terjatuh dan mungkin saja tersentuh kuman-virus tampak tak mempan pada tubuh sepuh itu. Beberapa kali lelaki tua itu mengusap debu dan menyorongkan bulir delima ke mulutnya. ”Tuhan memang adil!” batin Joana. Tubuh yang terlalu dimanja memang menjadi bumerang, sekali kena kuman bisa langsung ambruk.

Menjadi istri di tengah keluarga tenang adalah sebuah kebahagiaan. Ternyata, tidak. Kesempurnaan membuatnya sadar dia bukan lagi manusia, melainkan sebuah boneka pajangan. Redian dengan statusnya dan Joana dengan segala kesempurnaan. Redian dan Joana seperti dua yang kebetulan menginap satu kamar dalam sebuah love motel. Bila butuh mendekat. Bila tidak, diam mengerjakan kebutuhan masing-masing. Redian bukanlah lelaki di depan Joana.

”Aku hanya guling temannya tidur! Bukan istri!” Joana kerap mengumpati Redian.

”Minta pisah saja!”

”Sudah! Tapi tidak mungkin bercerai!”

Selalu demikian. Dan dua bulan yang lalu mereka memutuskan untuk memisah kamar. Tinggal seatap tanpa harus merecoki kamar masing-masing. Entah sampai kapan, Joana pun tidak memutuskan.

”Mumpung masih pagi, ya!” lelaki tua itu menyapa Joana yang tidak begitu jauh.

Joana hanya mengangguk.

***

Dua hari kemudian Joana menyaksikan lelaki tua itu duduk lebih pagi dari kemarin. Selain si anjing, kini ditemani perempuan yang sama tuanya. Lelaki tua dengan kemeja biru tua tak cukup cerlang, sedangkan si perempuan tua duduk dengan blus merah terang. Cukup mencolok dengan selilit kalung emas di lehernya. Sungguh pemandangan pagi yang cukup ganjil, batin Joana. Mereka berdua berbagi bangku. Menjadi tua tidak menghalangi keduanya untuk berkasih laiknya pasangan muda. Bahkan rasanya Joana tidak pernah menyaksikan pasangan muda berkencan di taman, seperti mereka. Kalaupun ada, Joana lebih sering duduk berdekatan dengan wajah yang terjerat layar masing-masing. Dekat, tapi begitu jauh. Sejatinya jauh, meski tubuhnya rapat. Perempuan tua menguliti jagung rebus dan lelaki tua itu menumpukan kaki kanan pada kaki kirinya. Seolah dia menantikan jagung rebus itu sempurna terkupas. Joana tersenyum kecil, delima kemarin pastilah untuk perempuan tua itu. Ah, betapa bahagianya hidup sampai tua berdua demikian.

Joana kerap membayangkan hal senada: hidup sampai tua menyerang, tetapi cinta dan setia tetap bermuara kepada Redian tanpa surut sesenti pun. Bila kaya sudah dicapai, Joana dan Redian termasuk keluarga kaya, maka cinta sampai tua adalah cita-cita. Meski Joana tahu, setia sama kilasnya dengan kabut. Ketika matahari sudah sedemikian naik, kabut gegas kabur. Dan tidak ada yang abadi di kota besar, kabut, setia, cinta…. Semua selalu dalam konsep.

Joana pagi itu lari delapan putaran. Tiap melewati bangku di mana lelaki tua dan perempuan tua itu berbisik banyak hal. Termasuk jagung rebus yang sempurna dikupas, tapi sudah mulai kecut dan basi.

”Jagung semalam,” jawab perempuan tua.

”Kalau sayangku ke kamu bisa awet, kenapa jagung ini tidak!”

Joana berhenti, ingin menuntaskan tawa. Joging bisa kacau bila diteruskan dengan pingkal di perut. Namun Joana merasa itu tidaklah sopan. Meski bukan kali pertama bertatapan dengan lelaki tua, tetaplah mereka asing bagi Joana. Kebetulan saja taman baru ini menyatukan mereka. Perempuan tua itu menimpali dengan pukulan kecil di bahu lelaki tua.

Taman pagi itu dipenuhi wangi. Oleh kemesraan yang disepuh mentari pagi. Juga benar-benar wangi oleh kembang yang semarak mekar. Teratai di kolam mulai rekah. Rimbun kenikir juga melingkari tiang-tiang merah bangunan jembatan berbentuk angka delapan. Kumbang-kumbang kecil merubung. Got di sekitar taman yang sejadinya akan diresmikan oleh gubernur tepat di hari ulang tahun kota ini, pun masih jernih. Belum menghitam oleh sampah. Belum busuk oleh kuah bakso. Mungkin warga pun mulai sadar, taman kecil tak jauh dari stasiun commuter line ini bisa dijadikan obat mata di tengah serangan monoksida. Dan Joana (tentu orang lain pun) bisa dengan mudah menyeret badannya untuk lari pagi dan menyiapkan hari tanpa emosi.

Pukul tujuh, Joana akan memasukkan dua lembar roti tawar gandum pada liang toaster. Ditinggalkan sambil menuju kulkas. Kulkas setinggi badan Joana dua pintu itu kini diisi ala kadarnya. Joana memilih mengisinya dengan roti tawar gandum, telur, dan sayur untuknya sendiri. Dan dia tidak peduli, Redian hendak mengisinya dengan apa. Kaleng bir, set makan malam yang kadang cepat basi, atau minuman-minuman soda aneka merek. Klak! Dua lembar roti tawar mencelat keluar. Dan pintu kamar bawah, tempat Redian tidur terpisah, terbuka.

”Berapa kali hari ini?” Redian penuh basa-basi.

”Delapan! Ada meeting pagi!” tukas Joana.

Joana lekas meraih dua lembar roti tawar yang sedikit gosong. Dan membawanya ke kamar bersama sebutir apel. Sarapannya menjadi kurang sedap bila kebetulan Redian bangun pagi. Kadang Joana ingin sekali menjadi kelelawar. Ketika siang, Redian bekerja dan Joana tertidur. Tapi mereka masih tetap dua manusia dengan jam kerja tak jauh berbeda.

***

Joana masih terus joging pagi hari. Redian masih seperti itu. Entah sudah berapa bulan mereka menjadi demikian. Joana dan Redian sama-sama irit bicara. Hanya sekali sapa kalau kebetulan bersipongang tatapan. Pernikahan dan janji suci mereka rasanya sudah hampir kedaluwarsa. Rumah tangga mereka tetap tampak sempurna dari luar. Ibarat istana pasir, yang sejatinya renggang dan bila ombak datang, berhamburanlah semuanya! Semua tetap sama, kecuali taman itu yang kini mulai ditandai oleh banyak orang sebagai tempat joging yang asri dan sepi. Bila semua orang menganggap taman itu sepi, dan oleh sebab itu ke sana untuk lari pagi, maka tidak ada kata sepi. Sepi kembali sembunyi dalam konsep di kepala. Berkali-kali Joana harus mengganti rute lari sebab taman itu begitu riuh, meski pagi masih begitu keruh.

”Lelaki tua itu sudah tidak terlihat lagi!”

Joana suatu pagi menyadarinya. Rasanya ganjil sebab joging paginya tidak lagi ditemani oleh lelaki tua yang tidak diketahui namanya itu. Taman yang di awal begitu wangi pun mulai menjadi bekas aktivitas manusia kota. Beberapa botol minuman terserak di bawah bangku. Bekas jajanan. Jalan setapak yang muncul tidak pada tempatnya, seolah manusia itu begitu susah diatur untuk setia pada paving bata yang dibuat sebagai trek lari.

Joana tersenyum pahit. Pagi itu larinya sepuluh kali memutari taman. Hari ini dia tidak ada meeting pagi dan bisa pukul sepuluh sampai kantor. Sambil mengusap keringat di dahi dan lehernya, Joana menjauhi taman yang semakin siang semakin banyak orang datang. Yang lari, juga yang menggelar dagangan berupa minuman dan sarapan, juga yang sekadar memotret.

Tak jauh dari taman, di kelokan sebelum dia menuju gerbang perumahan, Joana mendengar suara anjing kaing-kaing. Begitu keras. Orang-orang mengerumuni mulut gang yang begitu sempit. Andai tidak ada keriuhan pagi, Joana pastilah tidak sadar ada gang sempit di sana. Joana mendekat sambil melihat jam tangannya.

”Seorang lelaki tua mati di rumahnya sendirian,” seorang menjelaskan tanpa diminta. ”Anjingnya yang menemani di akhir hidupnya!”

Benar saja! Itu adalah lelaki tua yang kerap duduk di taman, di kala Joana lari pagi. Lelaki itu mati sendirian di rumah petak tak seberapa luas, tak ada keluarga yang menemani. Dan diperkirakan meninggal semalam. Tetangga yang terganggu oleh kaing-kaing anjing yang kemudian menemukannya. Kaing-kaing itu yang mengabarkan kematian lelaki tua.

”Pantas sejak semalam, si anjing itu berisik sekali. Kukira mau kawin!”

Joana mencoba melongokkan kepala. Bukankah ada perempuan tua yang beberapa kali Joana saksikan!? Apakah keduanya mati di saat bersamaan? Atau perempuan tua itu diserang pikun hebat, hingga lupa kalau suaminya meninggal? Sejurus kemudian seorang perempuan tua tergopoh-gopoh mendekat dengan tangisan juga teriakan histeris.

”Ooooh! Kukira mereka pasangan suami istri,” Joana tak bisa menahan kalimatnya.

”Bukan! Mereka sama-sama duda dan janda tua!” seorang menjawab. ”Kami berharap mereka menikah saja. Tapi katanya mana ada pernikahan untuk lelaki dan perempuan tua.”

”Ahhhh!”

”Mereka rukun. Meski tidak disatukan pernikahan! Sayang, perempuan itu tidak ada di sisi lelaki tua untuk kali terakhir!”

”Setidaknya ada anjingnya! Lelaki tua itu tidak harus mati di tengah sepi.”

Joana tertunduk sebentar. Memanjatkan doa untuk lelaki tua agar lapang jalan ke surga, dan perempuan tua juga anjing itu diberi penghiburan yang besar. Di tengah-tengah rapalan doa, wajah Redian samar terbayang. (*)

—

TEGUH AFFANDI : Sehari-hari bekerja sebagai editor di salah satu penerbit di Jakarta. Pernah menjadi pemenang sayembara cerpen majalah Femina, Green Pen Award Perhutani, dan Pena Emas Program Pemberdayaan SDM Strategis Nurul Fikri. Kumpulan cerpen pedananya, Arum Manis, terbit pada Mei 2022 di Gramedia Pustaka Utama.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 26 Juni 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme