Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kerbau Terakhir Kakek Is oleh Muhammad Nanda Fauzan

Posted on Ming, 03 Jul 2022

Kusaksikan segalanya semakin memburuk, dari waktu ke waktu. Sepuluh hari yang lalu, kerbau terakhir yang dimiliki Kakek Is terjual dengan harga rendah. Kini laki-laki tua itu lenyap berikut dengan nisan penanda makam kerbau kesayangannya –seolah, keduanya disedot oleh langit yang lapang.

—

BLEKI, seekor kerbau bertubuh sintal, dengan kulit bercorak belang yang didominasi warna putih gading, adalah sebuah anomali yang memesona. Tak ayal, ketika baru saja dilahirkan, seorang belantik pernah menaruh harga setara dua belas sepeda motor untuknya. Tapi, Kakek Is saat itu menolak dengan alasan yang akan kujelaskan secara perlahan.

Pada dasarnya, Kakek Is lahir dari keluarga peternak, bukan pedagang. Itu harus kujelaskan lebih awal agar semuanya menjadi lebih jelas. Tak syak bila para tetangga menganggapnya kelewat tolol setelah menolak tawaran belantik yang dikenal sadis ketika menaksir harga. Namun, kupikir, semua orang akan mengambil keputusan serupa jika ia menjadi Kakek Is.

Seluruh deskripsi fisik ihwal tedong saleko, kerbau belang yang menjadi prasyarat dalam ritual rambu solo di Toraja, bisa kita dapati pada tubuh Bleki. Di samping itu, ketahanannya dalam menghadapi penyakit juga terbilang ajaib. Ketika sembilan ekor kerbau milik Kakek Is mati serentak terserang septicaemia epizootica –atau ngorok, istilah yang digunakan awam– Bleki masih tampak bugar. Padahal, mereka hidup berdampingan di kandang yang sama. Tapi, yang lebih menarik minatku ialah bagaimana Bleki, berbeda dari kerbau kebanyakan, kehilangan perangai liarnya sehingga ia tak memerlukan seorang gembala; ia dibebas-lepaskan di Dusun Wanatirta, dan tak pernah sekali pun membuat kegaduhan dengan merusak perkebunan atau menubruk sembarang orang; ia akan pulang ke kandang menjelang senja hari tanpa harus digiring.

Namun, pada akhirnya, kerbau dengan spesifikasi seistimewa Bleki harus terjual dengan banderol yang disesuaikan berdasar bobot tubuh belaka. Ia menjadi setara dengan kerbau gelondongan di Pasar Rau. Meski jika dilihat dari sisi berbeda, itu adalah sejenis keberuntungan juga. Maksudku, siapa yang berminat menebus jasad seekor kerbau yang mati dalam keadaan hangus tersengat listrik di kubangan sawah dengan harga mahal?

Ya, Bleki yang legendaris itu mati dengan cara yang kelewat mengenaskan. Sulur-sulur kabel yang menghantarkan listrik dari gardu menuju perusahaan tambang sedang galat, separonya rebah ke tanah yang digenangi oleh air, menciptakan kolam kematian bertegangan tinggi. Pada hari yang nahas itu, Bleki melintas dan sepertinya tak mampu menahan godaan untuk sekadar bergenang di kubangannya.

Kabar kematian Bleki sampai pada telingaku melalui Salikin, cucu pertama Kakek Is, yang menjadi pendamping selama aku ditugaskan menulis laporan untuk Majalah Sains tempatku bekerja dulu, tiga tahun lalu. ”Pihak perusahaan tidak mau bertanggung jawab, Bang,” kata Salikin di ujung telepon setelah menceritakan semuanya secara mendetail. ”Mereka bilang ini semua karena keteledoran semata. Aku khawatir Kakek Is justru akan dituntut balik karena membuat kegaduhan.”

Saat itu, sepuluh hari yang lalu, aku tiba di Dusun Wanatirta sekitar pukul tiga sore, tepat ketika berlangsung mediasi ulang antara pihak perwakilan perusahaan tambang dan Kakek Is. Di beranda balai dusun, kulihat sejumlah preman suruhan duduk berjajar memasang wajah ganas, tapi para pemuda –yang berdiri di pihak Kakek Is– juga tampil siaga dan menakutkan. Seumpama senjata, keduanya adalah mesiu yang siap meledak terkena percik api.

Negosiasi berlangsung alot. Sebentar-sebentar terdengar gemuruh, kemudian berganti hening. Dalam situasi ini, pertikaian rawan pecah meski dipicu oleh hal-hal tak terduga. Salikin, seperti membaca gelagat risi dalam wajahku, melontarkan gagasan untuk menengok jasad Bleki.

Tentu ajakan itu kusambut dengan riang. Maka, kami melangkah santai meniti jalan setapak, membelah pematang sawah, melintasi kebun-kebun milik penduduk yang kini tampak gersang tak terawat. Pohon-pohon rindang kian menyusut kuyu, membuat burung-burung enggan menciptakan sarangnya. Pemandangan semacam itu menemani perjalanan selama lima belas menit, hingga akhirnya kami tiba di perbatasan antara ruang hijau yang membentang dan area pertambangan yang disesaki oleh debu.

Jasad Bleki yang malang masih terbujur kaku di dalam kubangan yang belum kering sempurna. Aku memperhatikannya dari jarak dekat meski aroma tak sedap telah menguar sejak puluhan meter. Lalat dan aneka serangga mengerubungi tubuh Bleki yang kini gosong menyedihkan.

”Dua hari sebelum mati, belang-belang di tubuhnya menghilang, Bang.”

”Maksudmu?” Aku berusaha memastikan ucapan Salikin.

”Ya, tiba-tiba saja semua bercak hitam itu lenyap, Bang. Tubuh Bleki menjadi sepenuhnya putih sebagaimana kebanyakan kerbau bule yang pernah kulihat.”

Aku menjauh ke arah gubuk, berusaha mengurai ucapan Salikin menjadi kalimat yang lebih bisa diterima. Kubakar sebatang rokok, lalu memutar-mutar batangnya dia antara jemari –suatu gerakan yang didorong oleh alam bawah sadar ketika merasa bingung. Salikin menyusul kemudian, mencomot sebatang tanpa meminta izin, menandakan keakraban yang terjalin di antara kami.

Dulu, ketika editor memintaku meliput kisah Kakek Is dan Bleki, aku menulis kesimpulan serampangan bahwa kelahirannya semacam anomali, yakni kelainan genetika seperti yang terjadi pada seekor kucing jantan dengan belang berjumlah tiga alias jenis calico, di mana mereka beroleh kelebihan kromosom seksual, yang lazimnya X pada pejantan, menjadi XXY. Atau semacam itu. Aku tak ingat kalimat persisnya karena editorku merombaknya menjadi lebih rasional guna mengakali kecenderungan kalangan pembaca majalah kami.

Tentu saja itu kesimpulan buruk dan sok tahu dan tergesa-gesa. Aku menutup satu misteri semata agar tak menjadi objek olok-olok. Ialah nubuat dari Nenek Tri, yang pada malam terakhirku di Wanatirta, diceritakan secara gamblang oleh Kakek Is. Semuanya terhubung secara langsung dengan Bleki, si kerbau ajaib.

”Di detik-detik akhir hidupnya, di atas ranjang lapuk tempatnya berpulang, ia menanyakan ihwal perselingkuhanku. Aku mengelak, tentu saja. Tapi, istriku tahu terlalu banyak hal,” kata Kakek Is sembari memilin-milin ujung rokok yang ia linting sendiri.

”Tak ada cara lain selain berpasrah diri dan mengkui kesalahan,” aku menimpali, tanpa berusaha memberi penghakiman.

”Kau salah,” Kakek is kini menundukkan kepala, ”Aku berkeras bahwa aku tak pernah bermain serong. Ia tersenyum, lalu membuat semacam nubuat. Katanya, akan tumbuh satu belang hitam pada salah satu kerbau kami yang lahir untuk setiap dosa rahasia yang pernah diperbuat olehku.”

”Lalu, ada berapa bercak hitam pada tubuh Bleki?”

”Awalnya tujuh, kini tersisa lima,” kata Kakek Is sembari mengangkat semua jari tangan kanannya, bermaksud menunjukkan jumlah. ”Dan aku hafal lima dosa yang pernah, dan masih, kulakukan. Menurut istriku, belang itu akan lenyap bersamaan dengan luruh tabiat buruk dalam diriku.”

”Dan kau memercayai itu?”

”Percaya atau tidak, itu urusan lain. Yang pasti, aku akan terus merawat Bleki hingga bercak hitam di tubuhnya hilang. Aku tak akan mati sebelum itu terjadi.”

Bersamaan dengan itu, Kakek Is bercerita tentang orang-orang yang datang padanya dengan sejumlah uang demi menebus Bleki –termasuk belantik yang kuceritakan di awal. Tapi, pikiranku saat itu menjadi terbelah, aku menduga bahwa Kakek Is sedang berusaha memberi olok-olok atau tipuan sederhana agar aku mendapatkan dongeng bagus untuk dituliskan di majalah.

Salikin bangkit dari duduknya, menyadarkan lamunanku. Di kejauhan gerombolan orang berduyun-duyun menyesaki jasad Bleki. Mereka berpindah dari ruang mediasi di balai dusun menuju lokasi kejadian dengan kebisingan yang tak berkesudahan. Dalam waktu singkat tercipta kerumunan membentuk lingkaran seperti tengah menyaksikan pertarungan tinju. Aku dan Salikin segera menyusul untuk bergabung, tak mau menyesal karena melewatkun satu kejadian penting.

Delapan orang mengikat tubuh kerbau malang itu, lalu menyelipkan sebatang besi panjang di antara gugusan temali yang telah dirangkai demikian rupa. Dalam hitungan yang telah disepakati sebelumnya, mereka serempak mengangkat tubuh Bleki ke atas timbangan mahabesar yang sudah tersedia. Semuanya memasang mata teliti. Lalu muncullah angka 258 kilogram –setelah dikurangi bobot besi penyangga dan tali tambang.

Perwakilan dari perusahaan tambang menghitung uang di tempat, lalu menyerahkan seluruhnya kepada Kakek Is dalam jumlah yang akurat. Orang-orang yang datang bertepuk tangan. Meski begitu, kepuasan tak terpancar di wajah Kakek Is sebagaimana semestinya hadir ketika seorang peternak menjual hewan yang ia miliki. Kakek Is hanya berseloroh, ”Jangan lupa makamkan Bleki dengan layak, seperti yang kuminta, seperti perjanjian kita,” yang disambut dengan anggukan kepala.

Semua selesai begitu cepat, begitu terburu-buru. Barisan seketika bubar. Semua kembali asyik masyuk pada kesibukan masing-masing, kecuali petugas yang dikerahkan untuk mengubur jasad Bleki oleh pihak perusahaan. Aku sendiri, setelah berpamitan pada Salikin, segera pulang. Aku mengurungkan niat untuk sejenak berbincang dengan Kakek Is karena merasa ia sedang tak ingin diganggu.

Semuanya berjalan baik-baik saja pada mulanya. Namun, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ternyata segalanya telah berubah menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu. Setelah Bleki terjual dengan harga rendah, sepuluh hari yang lalu, hari ini aku kembali dibuat termenung oleh pesan singkat yang dikirimkan oleh Salikin. Katanya, Kakek Is tiba-tiba menghilang dan nisan yang menjadi penanda kubur Bleki turut lenyap bersamanya.

Pada mulanya aku hendak menyusul ke Wanatirta. Tapi, niat itu surut setelah aku menyadari bahwa segalanya harus berakhir seperti itu. (*)

MUHAMMAD NANDA FAUZAN : Cerpenis dan esais. Kumpulan cerita pertamanya, Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein (2022). Kini berdomisili di Serang, Banten.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 3 Juli 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme